Ads 468x60px

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Friday, October 16, 2015

KEPALSUAN CINTA |part 2

Kepalsuan Cinta | Gus Glory | Penulis
“Gus, seberapa besar sih cinta sampean kepada keluarga?”, pertanyaan kawan itu membuyarkan keasikan saya menikmati bulan purnama. “Ya besar dong, pokoknya ga bisa diukur”, jawabku sekenanya. “Kalau kepada Allah cinta nggak?”, usiknya lagi. Sayapun menjawab singkat: “Pasti”. Belum puas diapun melanjutkan: “Besar mana dengan cinta pada keluarga

Spontan saya ingin jawab besar kepada Allah, tapi nafas saya seolah tercekat. Karena saya rasa itu dusta. Lalu timbul jawaban lain, ya seimbang lah, tapi itupun tertahan, karena bahkan seimbangpun sepertinya belum.

Akhirnya jawaban yang muncul adalah penjelasan-penjelasan saya yang nggak jelas. Kumpulan logika, justifikasi dan penafsiran dangkal dari dalil-dalil, semuanya hanyalah upaya kamuflase saya menutupi kekurangan diri. Sebuah kesimpulan pahit justru saya peroleh dari jawaban jujur saya atas pertanyaan tersebut, setelah kawan itu pulang. Sederet kriteria kitab suci yang saya pakai untuk melakukan fit and proper test atas rasa cinta saya pada Allah. Jawaban jujur itu ternyata saya belum mencintaiNya.

Kira-kira apa yang sampean rasakan saat nama seseorang yang sedang sampean gandrung dan cinta disebut, berdesir ya? Jika saat namanya disebut seperti darah mengalir lebih laju, kala bertemu dengannya degup jantung berpacu tak menentu, waktu lama tak bersua ada perasaan rindu, berarti ada rasa cinta yang sedang bertamu. Kiriman sms dan panggilan telepon adalah hal yang sangat ditunggu dan pertemuan dengan kekasih adalah penyejuk kalbu.

Serindu itukah kita pada Allah? Kala mendengar adzan, apa yang muncul dalam benak kita; trengginas menyahuti ingin segera bertemu yang dirindu atau ogah-ogahan karena terganggu? Di luar bulan puasa saat sedang sibuk atau sedang asik bercengkerama, suara mana yang timbul: “kok belum adzan sih?”, sebuah ungkapan perasaan yang senantiasa menunggu-nunggu datangnya waktu sholat, atau karena waktu sholat dirasakan sebagai pemutus kesenangan atau jeda di waktu yang tak tepat, sehingga yang muncul “kok sudah adzan sih?”

Jika cinta sesama anak Adam dilukiskan dengan adanya getaran saat nama kekasih disebut, maka bergetarkah hati kita saat menyebut atau disebut nama Allah? “Orang-orang yang beriman, ialah mereka, yang apabila disebut Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayatNya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya, dan hanya kepada Tuhan mereka tawakkal” qs. 8:2. Coba jujur pada diri sendiri, itukah yang sampean rasa saat nama Allah disebut, bergetarkah? Katanya cinta?

Percintaan sering digambarkan dengan pelayanan dan kesediaan mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi demi mendapatkan hati yang dicintai. Apapun dilakukan atas nama cinta. Bahkan jika tengah malam ada panggilan dari sang pujaan hati, banyak yang tetap berjuang untuk datang. Kencan tengah malam, siapa yang bisa menolaknya? Itulah cinta, kadang sulit dicerna. Lalu bagaimana jika yang memanggil dan meminta sampean untuk datang dan berkencan tengah malam itu adalah Tuhan kita, Sang Robb, Allah Subhanahuwata’ala?

“Dan waktu malam, salat tahajudlah sebagai (ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat”. 17:79. Bayangkan kita tengah tidur lelap, hujan deras, hawa dingin menusuk tulang, relakah kita memutus tidur, menyibakkan selimut, melawan dinginnya malam bersentuhan air hanya untuk menemui Allah? Tertarikkah kita dengan janji balasan cinta dari-Nya dan pengangkatan derajat yang secara dhohir tidak bisa diukur dan dirasakan?

Pernahkah sampean selingkuh? Semoga tidak. Tapi pernahkah sampean memikirkan hal atau orang lain saat sedang berduaan dengan kekasih atau pasangan? Jika pernah, konon kata orang itu juga tanda-tanda selingkuh hati. Pun demikian halnya ketika kita berduaan dengan Allah dalam sholat. Bisakah kita saat sholat hanya fokus (khusyu) memikirkan dan berdialog dengan-Nya tanpa ingat dan memikirkan yang lain? Karena memang demikianlah semestinya sholat.

Tapi pernahkah kita saat sholat yang harusnya hanya intim dengan Allah, tapi pikiran kita melayang: “waduh, besok deadline kerjaan”, “komporku tadi udah ta matiin belum ya”, “besok presentasi produk?”, “kampanye di dapil sana harus sukses”, dan hal dunia lainnya, pernah? Atau malah sering. Jika itu yang terjadi berarti kita telah selingkuh. Itulah kenapa Allahpun tidak sudi menoleh pada kita. Ujungnya sholat kita tidak pernah memberi dampak pada perilaku sosial kita. Karena sholat yang tidak pernah sampai kepada-Nya. Di mana semestinya sholat bisa memberi perbedaan prilaku sesudah sholat lebih baik dibanding sebelum sholat.

Lagi, Nabi bersabda: Man la yarhamunnas, la yarhamuhullohu, barangsiapa yang tidak mencintai sesama manusia, maka Allahpun tidak mencintainya. Tiap rasa cinta tentu besar harapan berbalas. Demikian juga kalau kita mengaku cinta Allah, mengharap balasan dengan cintaNya. Padahal cinta Allah kepada kita sangat bergantung pada seberapa tulus dan terbuktinya cinta kepada sesama. Mampukah sampean membuktikan cinta dengan menyayangi sesama seperti menyayangi diri sendiri?

Bila sampean sedang berdekatan dengan penjual minyak wangi, tercium bau wangi bahkan tak jarang diolesi minyak wangi. Kalau memang benar-benar kita dekat kepada Allah seperti yang kita gembar-gemborkan, maka pasti kita jiwa kita akan penuh kasih akibat “tertular dan terolesi” sifat Allah Yang Ar Rahman dan Ar Rahim, Pengasih Penyayang. Dan bohong besar mengaku dekat dan cinta kepada Allah tapi jauh dari sifat kasih. Duduk nyaman dalam mobil mewah, cuek melewati sesamanya yang kelaparan.

Cinta Nabi Muhammad pada Allah dibuktikan dengan pengorbanan harta, waktu, pikiran bahkan taruhan nyawa. Sampai saking gandrung dan kedanen Allah, puja-puji pada sang kekasih tertuang dalam 99 nama asmaul husna. Itulah adalah ungkapan cinta sang Nabi menggambarkan sang kekasih. Demikian pula para sahabatnya. Sahabt Bilal memilih cinta Tauhid meski disiksa, Abu Bakar mengorbankan status sosial dan hartanya, Umar, Ali, Usman yang tak terhitung pengorbanannya semua demi cinta.

Gimana sekarang, masih mau dan sanggup mencintai Allah? Masih keukeuh merasa punya rasa cinta pada Allah? Baiklah, coba baca ayat berikut:

Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu atau kerabatmu; kekayaan yang kamu peroleh, peniagaan yang kamu khawatirkan akan mengalami kerugian dan tempat tinggal yang kamu sukai – lebih kamu cintai daripada Allah, atau RasulNya atau berjihad di jalanNya; maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (siksa)Nya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”, qs. 9:24.

Membaca ayat ini, sayapun diam tertunduk lesu, lidahpun kelu. Bak pedang tajam, ayat ini menusuk telak tepat di jantungku. Tidak ada lagi alasan-alasan yang bisa saya buat-buat. Mau bilang apa, lha wong memang saya kerap masih lebih mencintai hal-hal tersebut daripada Allah. Ingatan dan kenyamanan saya lebih banyak pada hal-hal yang diprediksi dalam ayat tersebut daripada Allah. Jawabannya sudah jelas: ternyata cintaku palsu! Bagaimana dengan sampean? Wallahu a’lam. Bismillah.

Penulis: Gus Glory

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Bersihkan Hati | Idul Fitri 1436H di SPMAA

Bersihkan diri, mulai dari hal yg paling kecil hingga urusan hati.
di hari yg fitri ini, mari teguhkan hati dalam barisan SPMAA sampai akhir hayat kita nanti dulurku kabeh. #‎SelamatIdulfitri1436H‬

Tuesday, July 14, 2015

7 Ciri Taqwa

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yg beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yg dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yg dalam perjalanan (musafir) peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yg melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, orang-orang yg menepati janji apabila berjanji, dan orang yg bersabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pad masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yg ‪#‎bertakwa‬. Qs.Al-baqarah 177

Friday, November 28, 2014

Berkebun Bibit Baik


oleh: Gus Adhim

Anak kecil itu biasa dipanggil Al. Nama lengkapnya Alfa Alfin Salvatore. Usianya belum genap 5 tahun. Saat itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Al senormal anak seusianya yang suka bermain dan menjalani dunia kecilnya. Bedanya mungkin pada pilihan Al dalam memaknai kehidupan dan ketika bicara cita-cita.

Misalnya saja pada usia sedini itu, ia sudah memulai puasa sunnah Nabi Dawud (sehari puasa, sehari jeda), puasa Senin-Kamis, dan bahkan puasa terusan. Pada bulan Rajab seperti sekarang ini, Al akan ikut puasa tiga puluh hari penuh. Ramadhan sudah pasti tunai full sebulan tanpa dipaksa-paksa.

Saat saya tanya tentang perilaku uniknya itu, ia menjawab dengan kalimat sepotong-sepotong. Intinya, Al ingin mengikuti jejak sunnah para Nabi sebagaimana dongeng yang ia dengar dari Abi dan Ummi. Juga seperti yang sering ia lihat di film animasi Islami. “Aku mau ikut Nabi Dawud,” katanya dengan wajah berbinar.

Kisah para Nabi, terutama Nabi Dawud yang suka berpuasa ternyata mengilhaminya. Sebagaimana dikisahkan, atas pertolongan Allah, Nabi Dawud yang saat itu anak-anak berhasil mengalahkan raja Jalut yang tubuhnya jauh lebih perkasa.

Selain istiqomah berpuasa sunnah, sholat tahajjud dan dluha juga rutin dilakukannya. Menariknya, tirakat itu ia lakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena disuruh orang tuanya. Saya berfikir pastilah fenemona Salvatore ini karena pola pendidikan yang dikelola oleh keluarga.

Ternyata memang benar. Selama Al masih dalam kandungan, Abi dan Ummi hampir setiap hari berpuasa. Ditambah bacaan rutin Al Quran dan Shirah Nabawiyah. Plus amalan seperti tahajjud, dluha, dan terutama banyak-banyak bersedekah melayani sesama manusia. Masa kandungan Al ini total ditirakati.

Galibnya ibu hamil, umumnya akan diasupi sepenuh-penuhnya gizi ragawi. Supaya bayi yang lahir nanti sehat dan bersalin normal. Tapi ibu Al berbeda. Ummi Nuriyati, demikian beliau dipanggi, justru mempuasai kandungannya. Gerakan “senam hamil” beliau tempuh melalui rutinitas amalan sholat fardlu dan sholat sunnah.

Semua tips hamil sehat yang Ummi Nuriyati pilih, berbalik dari kebanyakan ibu-ibu hamil lainnya. Ummi memilih tirakat yang bagi orang mungkin sangat berat. Ikhtiar Ummi nyatanya sukses. Salvatore kini jadi generasi rabbani. Selain terus menjaga amalamal sunnahnya, prestasi di sekolah juga membersyukurkan. Beberapa waktu lalu ia sudah bisa demo instalasi Linux Sabily duet bersama Onno W. Purbo pada acara Seminar Nasional Madrasah Open Source yang digelar sekolahnya.

Fenomena Al dan ibunya yang memulai proses pembelajaran kehidupan sejak dini seperti berkebun bibit baik. Untuk menghasilkan tanaman bermutu dibutuhkan bibit yang bermutu juga. Prosesnya mesti dijalani dengan teliti, susah dan penuh keprihatinan.

Ummi Nuriyati ingin Al menjadi anak yang baik di tengah anomali dunia saat ini. Ketika pemberitaan kerusakan moral bangsa yang kian mengkhawatirkan, keluarga Al optimis sekuatnya. Diantaranya berikhtiar melalui pembibitan generasi yang waras di tengah dunia yang makin gila.

Salvatore, Ummi Nuriyati dan pola pembibitan keluarganya mungkin aneh dan asing bagi kita. Karena cara yang ditempuhnya tidak umum. Tapi justru saya melihat itu sebagai penyimpangan positif yang perlu ditiru. Maka melalui tulisan ini, saya juga mengajak para keluarga Indonesia mulai ikhtiar berkebun bibit baik. Jadikan rumah sebagai pendidikan madrasah. Keluarga adalah sekolah sesungguhnya.

Namun yang perlu diingat, proses berkebun juga banyak gangguan. Ada ulat, hama, dan tanaman pengganggu lainnya yang berkerumun di sekitar dan bisa merusak bibit itu. Berkebun bibit generasi rabbani yang berciri jujur dan berani, pun beresiko. Bisa jadi di tengah jaman edan sekarang, pilihan berkebun itu dianggap lucu. Karena tidak serupa arus utama.

Bahkan mungkin dalam prosesnya, kita akan diasingkan dan terusir sebagai martir. Sebagaimana kasus yang dialami Ibu Siami dan anaknya, Al, di Surabaya. Keluarga ini membibitkan sikap jujur tapi malah hancur karena anomali masyarakatnya.

Sebagaimana para Nabi yang menjadi agen pembibitan “positive deviance” di tengah umatnya yang rusak total, kita mungkin akan mengalami perlawanan dan resistensi yang menggegiriskan dari arus utama jaman. Mungkin kita yang waras justeru dianggap gila. Di sini konsistensi dan ketahanan fisik mental keluarga kita diuji. Kekuatan doa menjadi penguat semangat sekaligus benteng penahan tekanan.

Inspirasi dari kesuksesan Ummi Nuriyati memproses bibit-bobot-bebet Salvatore, akan menjaga kita tetap berharap. Seburuk apapun kondisi umat saat ini, tetap harus ada usaha yang optimis kita ikhtiari. Pilihan yang ideal adalah melalui pendidikan keluarga.

Jadikanlah keluarga rumah kita sebagai kebun pembibitan anak-anak yang kita persiapkan untuk mengubah peradaban, sesulit apapun tantangannya. Jika dunia masih lama usianya, akan tetap dibutuhkan kehadiran Ummi Nuriyati, Salvatore, Ibu Siami dan Alif yang dapat memupuk asa kebangkitan negeri ini.

Berkebun bibit baik akan jadi asing dan aneh. Kita yang baik mungkin akan terkucil jadi minoritas karena itu berbeda dari pilihan mayoritas yang buruk. Setidaknya itu terbukti kondisi dunia saat ini.

Pesan saya, Bismillaah bertahan dan bersiaplah dari segala intimidasi, tekanan dan perlawanan jaman. Ketika berbuat baik dan kita malah dikucilkan, ingatlah penghiburan sabda Nabi, “beruntung dan berbahagialah wahai orang yang asing”. Fa tuba lil ghurabaa.

I want to be the minority,
I don’t need your authority,
down with the moral majority
cause I want to be the minority
(Minority, Greenday)

Sumber:
http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=2de68a7c5e3db6a836ab8f5f109416b8&jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e

Thursday, October 16, 2014

Bersedekah Tak Perlu Nunggu Kaya ala pesantren di Lamongan | SPMAA


Merdeka.com - Banyak orang berpikir harus punya banyak uang dahulu untuk bersedekah. Akibatnya, sedekah pun tak segera dilaksanakan lantaran belum juga kaya raya.

Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Uniknya, pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai. Bagaimana ceritanya?

"Ini soal prinsip, ideologi. Dulu founding father kami, guru kami mengajarkan kami sedekah jangan kaya dulu. Kemudian apa yang bisa kita sedekahkan kepada orang lain meski kita gak punya," kata Gus Naim, salah satu pengasuh Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Gus Naim bercerita, awalnya para santri di pesantren yang dia asuh memiliki kebiasaan mengotak atik barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak dan akhirnya bisa dihidupkan kembali. Sehingga akhirnya tercetuslah ide untuk memanfaatkan lampu-lampu yang sudah tak terpakai, di otak atik kembali dan akhirnya bisa dimanfaatkan dan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga.

"Di sini semua kerusakan bisa diselesaikan sendiri, misalnya sanyo, lampu dan lain-lain," kata Gus Naim.

"Jadi apa yang bisa kita berikan, termasuk skill ya kita sedekahkan," imbuhnya.

Gus Naim berbagi cerita soal bagaimana menghidupkan kembali lampu yang sudah rusak dan tak terpakai. Lampu-lampu yang didapatkan dari door to door rumah warga dan diambil dari tempat-tempat sampah tersebut dibongkar kembali, kemudian dilihat onderdilnya yang rusak di bagian mana. Jika ada onderdil yang gak bisa dipakai, dibelikan penggantinya dengan harga yang sangat murah, antara Rp 500-700 saja.

"Kalau yang rusak tabungnya, kami belum mampu membuat teknologinya atau pun menyervisnya," ungkap Gus Naim.

Setelah diperbaiki, lampu tersebut dibagikan kepada para warga sekitar yang membutuhkan. Gratis, tis, tis.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya-ala-pesantren-di-lamongan.html

Wednesday, October 15, 2014

Sedekah tidak menunggu kaya, pengasuh ponpes sebut demi NKRI! | Merdeka.com

Santri Pesantren Yayasan SPMAA. ©facebook.com/Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA)

Merdeka.com - Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai.

Menurut Gus Naim, salah satu pengasuh pesantren Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), dari 300 santrinya, para santri putra ditugaskan untuk memperbaiki lampu-lampu yang mati, sementara santri putri yang bertugas membagikannya kepada warga sekitar.

"Jadi ada pembagian tugas," kata Gus Naim kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Tak cuma fokus bagi-bagi lampu saja, yayasan tempat Gus Naim bernaung juga aktif di bidang sosial. Misalnya saat Gunung Kelud meletus beberapa waktu lalu, Gus Naim mengirimkan santrinya untuk membantu para korban letusan Gunung Kelud.

Adapun Yayasan SPMAA menaungi sekolah menengah pertama dan atas, atau di pesantren biasa disebut Madrasah Tsanawiyah (MtS) dan Madrasah Aliyah (MA). Yayasan SPMAA ini juga memiliki puluhan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, baik yang sudah dalam bentuk sekolahan, atau pun misalnya cuma sebatas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saja.

"Santri-santri kami bukan dari nonmuslim saja, bahkan santri kami ada yang pastur, pendeta dan biarawati," ujar pria yang ditugasi untuk mengelola Madrasah Aliyah Ruhul Amin, yang masih berada dalam naungan Yayasan SPMAA ini.

Dia menambahkan, pesantren yang dia kelola ini tidak memiliki afiliasi dengan kekuatan partai mana pun, atau organisasi Islam mana pun.

"Kami tidak berafiliasi dengan partai politik atau organisasi Islam mana pun. Santri kami ada yang NU, Muhammadiyah. Kami ini NKRI," tutupnya.

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT : http://spmaakita.blogspot.com/2014/10/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya.html

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/sedekah-tanpa-menunggu-kaya-pengasuh-ponpes-sebut-demi-nkri.html

Di Share juga di:
http://www.satuislam.org/nasional/ponpes-di-lamongan-ajarkan-santrinya-sedekah-sejak-dini-demi-nkri/

Sunday, September 28, 2014

NAMAKU TARUNA

TARUNA SPMAA
Namaku Taruna, suatu pangkat kebanggaanku dan orang mukmin lainnya, saudara ingin seperti saya? sungguh tidaklah mudah, silahkan saudara mencoba.
Menjalani  karir  yang hitungannya hanya 2-3 tahun pengabdian saja, untuk mengapai misi menuju TPU Sempurna sungguh rasanya  sangat lama dan alangkah banyak coba'annya.
           
Sebelum sukses menggapainya akan tiba kepada saudara cobaan darimana saja, cobaan suka maupun duka, dari orang tua, kelurga, tetangga ataupun teman sebaya. Agar kita segera keluar dari SPMAA.

Dari orang tua atau keluarga, disurunya saya segera pulang kerumah dengan alasan agar menjaga orang tua yang sedang sakit/tua. Atau disuruhnya kerja untuk menafkahi keluarga dirumah ( Tipe anak tulang punggung keluarga ) Ada juga yang disuruh untuk melanjutkan kuliah-sekolahnya ( Tipikal anak mama ).
           
Itu sedikit contoh cobaan dari keluarga, semua Taruna tidaklah sama ada yang lebih ringan ataupun lebih berat dari contoh saya ini.

Sekarang dari tetangga “kamu itu kenapa jadi Taruna, ngak dapat upah, luntang-lantung diasrama!” itu kata pedas mereka untuk saya Taruna, ada juga yang dengan halus, “boleh-boleh saja jadi Taruna, tapi kita juga harus membahagiakan orang tua dengan kuliah/cari kerja, kalau mau ini ada kerjaan untukmu gajinya gede loh”, seolah-olah benar kata tetangga tadi membahagiakan orang tua, padahal itu kata  setan! yang benar membahagiakan orang tua itu tak hanya didunia, tapi Dunia-Akherat. Bagaimana caranya? Jadilah anak yang sholeh / sholikha versi SPMAA itulah kado terindah untuk kedua orang tua.

Setelah ujian susah kini berganti ujian suka, sepanjang perjalanan kisah, yang ada ujian suka lebih berat dibanding ujian susah.

Contohnya ketika datang ujian susah kepada manusia lewat bencana / apa saja, manusia pasti akan kuat - kuat berdo'a, puasa dan ndepe - ndepe kepada Allah, bahkan yang sebelumnya sepanjang hidupnya tidak pernah sholat, apalagi puasa, ketika ada bencana jadi rajin sekali sholat dan puasanya.

Tapi nanti ketika sudah hilang bencananya, berganti ujian suka, maka mereka akan lupa dan mengkhufuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
           
Begitu juga dengak kita, ketika datang ujian suka dari sesama atau siapa saja kepada kita, kebanyakan dari kita akan lupa, dan ironisnya kita masih merasa santri SPMAA.
          
Namaku Taruna, sekali lirik banyak yang suka, hati terpana, senyumnya menggoda, banyak yang cinta kepada saya, suatu pagi si Jo datang menyapa mengaja'ku membuang sampah di sekolah putri dan piket di almakan putra, setibanya disana kulihat wanita cantik didepan mata, tak kusangka, sekali lirik dia terpana, kutambah senyum dia tergoda untuk membalasnya, senyumnya luar biasa, minum kopi pahitpun tak terasa saking manis senyumya.
          
Singkat cerita malampun tiba, entah dari mana selembar surat datang menyatakan cintanya kepada saya, padahal sebelumnya satupun tidak ada wanita di dunia ini yang suka pada saya, apalagi secantik dia.

Ujian suka sayapun lupa, jika saya terima dan melanjutkan hubungan degan dia, berarti saya gagal menjadi Taruna.

Biasanya masih merasa kalau saya Taruna, karena masih tinggal diasrama. Tapi hakekatnya kita gagal (Sudah tidak lagi jadi santri SPMAA) karena tidak bisa  menahan nafsu dunia.
          
Jika saya tolak dan tetap setia dalam garis komando SPMAA sampai akhir hayat saya, maka keberhasilan luar biasa dan syurga menanti kita. Amiiinnn….
          
Ini kisah bukan hanya karangan fiktif belaka, tapi kisah nyata, wanita sungguh mengoda untuk melanggar system SPMAA, kata salah satu Band ternama di Indonesia The Changcuters “ Wanita Racun Dunia ”.
Itu salah satu penggalan lagunya.
          
Tapi saya tidak sepakat dengan dia, bagi saya wanita adalah orang yang sangat mulia (Jika dia bisa menjaganya) sampai-sampai dalam Al-Qur'an ada surat An-nisa' (Wanita) ditambah lagi disebutkan dalam Hadist “Syurga dibawah kaki ibu” ibu tidak lain adalah seorang wanita, sekali lagi “Jika dia bisa menjaganya” kalau tidak bisa, maka dia akan menjadi hina.
  
Makanya disebutkan Nabi Muhammad bahwasanya “Penghuni neraka paling banyak adalah Wanita” kita semua ngak takut ta? Meskipun anda Pria, ibu sampean ngak wanita kah! Apalagi sampean yang statusnya wanita, harusnya prihatin, nangisi dosa-dosa pribadi sebelum mati, outputnya nanti sampean ngak sempat itu nge-gosip, ngerumpi, ngebahas salahnya siapa saja kesana-kemari.

Apalagi menjadi sumber, pencari, penyebar dan pemercaya fitnah.

Untuk itu mari menjadi manusia mulia, wanita-wanita yang mulia, ayo menjauhi hal-hal yang membuat  drajat kita hina, jangan jadi wanita penggoda dan penyebar fitnah.

Ayo jadi Santri, Taruni setia dalam komando SPMAA.
          
Begitu juga santri laki-laki, jangan cenga-ngasan mencari wanita, ayo bersama jadi Taruna yang setia menjalankan komando SPMAA.
          
Namaku Taruna ingin selalu setia dalam bahtera SPMAA sampai ajal tiba.

Keterangan : Kisah cerita diatas tidak hanya dari 1 orang Taruna saja melainkan pengalaman dari beberapa orang Taruna, dan masih banyak kisah yang belum tertuliskan dalam edisi ini,semoga bisa menyambungkan lagi jika allah memberikan kesempatan.
         
Penulis: Gus Arsyis           

Thursday, July 24, 2014

Liburan, Lebaran di Kampung Halaman

@ Gus Arsyis.
Beberapa hari lagi, kita mendapat jatah liburan dari pesantren selama 25 hari. Diberi waktu untuk bertemu keluarga dirumah, setelah sekian lama tak berjumpa.

Tentu sangat bahagia berjumpa bersama keluarga tercinta, rindu, canda, tawa bahkan sampai meneteskan air mata.

Itulah sedikit gambaran suasana liburan waktu Lebaran di kampung halaman, tentu anda sangat pengalaman. Karena tiap lebaran selalu melakukan hal yang demikian, sehingga sudah sejak jauh hari sebelum ramadhan sudah dipersiapkan agenda liburan di kampung halamanya.

Minimal di rembukin dengan teman se-CS kentel / sekampung halaman, “Kapan brangkatnya, naik apa, pulangnya gimana, bla-bla” Ironisnya, biasanya sebagian dari teman-teman kita pada beli kartu perdana. Kemudian saling tukar kartu dengan NON-MUKHRIM, astaqhfirlah... semoga liburan kali ini tidak ada kejadian yang sama / negatif lainya, amin.

Jangan sampai kita jadikan liburan sebagai ajang membebaskan hawa nafsu, yang selama ini dibatasi dipesantren. Seperti dawuh beliau Gus Khosyi’in pada pengajian Ahad kemaren.

Apapun keingin hati, Shopping, HP-An, nonton TV, Puaskan Makan , Kluyuran (jalan-jalan), Rekreasi, FB-An, dipuas-puaskan sesuai keinginan.

Harapan saya, kita bisa menghilangkan kebiasaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak mencerminkan seorang santri, apalagi Santri SPMAA!
              “Yang biasa belum tentu benarnya, yang benar harus     ...........................................dibiasakan”

Kenapa kita tidak membiasakan kegiatan dipondok untuk dipraktekan dirumah? Mulai bangun sholat Malam sampai persiapan tidur.

Begitu juga adanya larangan-larangan untuk kita selama dipondok, knapa kita tidak berusaha untuk membentengi diri kita sendiri selama liburan dirumah? toh itu untuk kebaikan diri kita masing-masing.

Dirumah tapi tetap ngejalanin 8 Rukun Santri, dirumah tapi ngak nonton tipi, dirumah tapi ngak pakai hp,dirumah tapi ngak hura-huri, ngak pakai eF Bi dan menahan nafsu diri.

Masak ngak bisa? Katanya Santri SPMAA? Katanya Santri Sempurna? Katanya Ta’at + Cinta Komandan? Mana buktinya? Katanya Jiwa+Raga?

Jangan hanya berkata “Taat KOMANDO” tapi kerjakan sepenuh hati, jiwa raga ini, meski tanpa ada yang mengawasi.

Baru diuji seperti ini, bagaimana dengan ujian yang dialami  para Nabi, Sahabat dahulu, Bilal contohnya (yang ditindih dengan batu), Ibu Masyitoh (digodok hidup-hidup dengan putranya) hei santri putra-putri!

Seberat, sejenuh, sesuntuk, sengga’enak apapun kita di Pondok ini, tidak ada apa-apanya dengan ujian yang dialami para Nabi-Rasul & Para Sahabat dahulu.

Karena memang “Addunya Sijnul Mu’minin Wa Jannatul Kaffirin” Dunia penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang Kafir.

Sekarang tinggal terserah kita, memilih kenikmatan dan kebebasan di Dunia atau di Akhirat nanti.

Thursday, June 12, 2014

Gelora, Cerita Adu Dogma

by 

Potret karya anak-anak pengungsi yang diterapi psikososial. Pada kertas mereka bercerita tentang tangis derita atas nasib rumah dan keluarga mereka.
Foto & Teks: Gus Adhim
“Perang !” teriak kedua kubu yang berseteru itu. Mereka menyeruput dogma serupa, tentang sejumput kesalahan yang harus dikafirkan. Lupa mengkafirkan dosa dirinya. Katanya semangat jihad, enggan mengaku keliru. Mudah mengintip kuman di seberang lautan, luput melihat gajah yang menempel di dekat jidat.
Pada akhirnya tidak ada yang jadi pemenang, karena keduanya berlumuran tangis derita korban. Tinggallah, musuh ghoib syetan yang kini bertepuktangan karena sukses mengadu nyawa manusia.
Relawan SANTANA-SPMAA menghela terapi trauma untuk survival anak, wanita dan ibu lanjut usia.
Anak, wanita dan ibu lanjut usia adalah survival rentan yang kerap mengundang keprihatinan. Mereka terpaksa menanggung lara trauma akibat pilihan dogma keluarga dan provokasi para cendekia. Pada coretan visual dan gambar mural, mereka tumpahkan unjuk emosional yang sentimental.
Husin ingin bergembira lewat cerita gambarnya
“Namaku Husin,” karya mural anak psikososial
“Namaku Husin,” tulis anak ini yakin. Mungkin ia tidak sekadar menulis, tetapi ia ingin mengurai detil cerita tentang sebuah dogma, tentang keluarganya yang menamainya seperti sang idola. Di sampingnya, merah putih bendera kita melirik penuh tanya, “ada apa dengan nusantara? Kenapa hanya karena beda nama dan hasutan kepentingan, semua saling tawuran?”
Di sudut tangis dan tawa mereka, merah putih tetap hadir menyapa.
Seorang nenek renta mengecap bencana akibat pilihan dogma yang diyakini keluarganya
Di hamparan arena gelanggang olahraga, mereka saling bertindih perih, mengecap resiko madzhab yang dianggap berbeda dengan arus utama. Tertidur membujur, seorang nenek melepaskan kepenatan setelah bertahan dari ancaman pengusiran dan pembunuhan. Di sudut lain, seorang ibu bersama anaknya melamun nasib.
Apakah mereka sengaja diadu dogma kaum cendekia?
Ibu ini, suaminya turut jadi korban meninggal dunia.
Para pengungsi lesehan ini beralaskan kesemrawutan di antara spanduk bertuliskan “Selamat Bertanding”, “Fair Play”, “Junjung Sportifitas”. Seolah nasib mereka memang sedang diadu nyawa, dijadikan alat niaga, diperalat waralaba agama oleh para cendekia.
Bocah kecil setengah bugil membersihkan kotoran di kamp pengungsian.
Prasasti nama & petugas bhayangkara, apakah mereka melindungi hak asasi anak ini?
Nampak bocah kecil setengah bugil berlari menenteng pengeruk sampah. “Ayo nak bersihkan negeri ini dari jelaga politisi dan makelar ideologi,” bisik saya di kupingnya.
Sementara di luar arena, anak kecil lainnya sedang bersandar meraba sebuah prasasti nama yang mestinya bisa mengayominya. Tetapi, ia belum mendapati hak dasarnya ini.
Ibu dan anak, survival rentan dari korban kebencanaan.
Menjadi pengungsi di negeri sendiri, mengiba derma dunia
Guyonan satir sebagian (besar) rekan-rekan cendekia agama (baca: nadliyin) di madura jika ditanya, “Masyarakat madura agamanya apa?”, maka mereka akan jawab, “99 % muslim.” Misalnya kita kejar, “Lha yang 1 % itu agamanya apa?” “Muhammadiyah !” jawab mereka mantap.
anekdot kita bikin tertawa, tetapi buat mereka bisa jadi petaka dan kehilangan nyawa keluarga
Meski anekdot itu bisa membuat
mural warna dan cerita dogma.
kita sejenak tertawa, tapi di tingkat masyarakat bawah sana, ejawantah guyonan itu bisa bikin putus kepala, carok antar keluarga dan tawuran sesama desa. Mirisnya, ini kerap dipicu para cendekia yang harusnya berkompeten menggembala konstituen.
Di rumah Indonesia yang berasas Pancasila dan Berketuhanan Yang Maha Esa, perbedaan bisa memicu perselisihan hingga konflik pertempuran. Sedihnya, semua diatasnamakan membela kebenaran, mempertahankan keimanan. Sementara kita berlaga penuh peluh dan bersimbah darah, di luar sana, media manca negara menertawakan Indonesia. Mereka gunjingkan parodi dan anomali kekerdilan bangsa ini, menyoraki perang saudara serumpun kita.
Rumah Indonesia berkelir bersih merah putih
media mancanegara menggunjing budaya warta kita yang melulu berumus “bad news is good news”.
Sengaja saya menulis “korban bencana”, dan bukan “korban konflik agama”. Karena saya tak berani berspekulasi di sini. Cukuplah saya tahu, bahwa mereka awalnya dari satu bacaan sholawatan, serumpun rukun cara tahlil dan norma sub-kulturnya. “Agama” mereka nyaris serupa. Hanya, karena disulut “sesuatu”, mereka dikondisikan berjibaku. Mereka, adalah korban bencana adu dogma.
Pada tulisan ini, saya berusaha imparsial dan netral sebagai konsekwensi pekerjaan sukarelawan yang saya emban. Saya membela manusia, tidak hanya memihak satu saja diantara mereka. Karena bagi saya, mereka semua adalah serumpun bangsa tanpa sekat sektarian SARA.
Silakan dicatat, “isyhaduu bi anna muslimiin.” Saya warga Indonesia pembelajar muslimNYA yang pasrah menyembah dan berupaya tidak terbelah dikotomi madzhab sunni-syiah. Saya hanya kepingin melihat manusia seluruh dunia –khususnya Indonesia– dalam sebentuk tubuh utuh, bukan ceceran organ yang saling tarik menarik dan mencerai-beraikan.
Akhirnya, memang perlu intensifikasi doa plus pendekatan ProvoKasiH & MotivAsiH kita semua kepada para cendekia supaya mereka tidak loba dalam berbisnis “waralaba agama”.
Sekaligus diprioritaskan aksi pencerdasan kaum bawahan, agar mereka tidak lagi menjadi korban penipuan “pecah belah ibadah” , “undian ganjaran” dan “karapan iman”.
Demikian kilas pengalaman saya dari hasil berdinamika dengan sedulur seIndonesia, plus Rabu (29/8) kemarin sempat “macak relawan+wartawan”, menengok keadaan pengungsi bencana dikotomi syiah-sunni di arena gelanggang olahraga (Gelora) kota Sampang-Madura.
Semoga dogma tidak beralih fungsi menciptakan dikotomi besi yang memecah belah kesatuan beribadah.

Tuesday, June 3, 2014

17 TAHUN HIDUP TANPA UANG

www.spmaakita.blogspot.com - Uang, uang dan uang..(bahagia tanpa uang)
Sebuah benda yang membuat banyak orang ingin memilikinya. Uang bisa membuat manusia jadi tamak. Uang bisa membuat seseorang 'menginjak-injak' orang lain. Bahkan uang bisa membuat seseorang membunuh orang lain. Ya.. itulah sisi gelap uang. Hampir tidak ada yang gratis di dunia ini, semua butuh uang. Kadang uang menekan hidup, karena itulah wanita ini memutuskan untuk hidup tanpa uang.

Aneh memang, di zaman yang serba gila kekayaan dan silau harta, Heidemarie Schwermer yang hampir berusia 70 tahun justru memutuskan untuk meninggalkan hidup mewahnya. Wanita yang berasal dari Jerman ini memulai petualangan saat usianya masih 50 tahun. Heidemarie meninggalkan pekerjaan sebagai psikoterapis dan yakin bisa hidup tanpa uang. Kisahnya bahkan dibuat film dengan judul Living Without Money, dilansir dari situs Business Insider.
Keluargaku Kaya, Tetapi Miskin


Kisah ini bermula saat keluarga Heidemarie mengalami kebangkrutan di Perang Dunia II sekitar tahun 1940. Dengan jerih payah ayahnya yang seorang pengusaha kopi, keluarga mereka kembali berjaya dan kaya raya. Tetapi.. ada pergolakan batin saat keluarga Heidemarie mempertahankan kekayaan sekuatnya. Heidemarie muda berpikir, apakah keluarganya sungguh kaya atau sebenarnya miskin secara batin?

Heidemarie akhirnya meninggalkan kehidupannya yang bergelimang harta, dia bergabung dalam perkumpulan penduduk lokal. Perkumpulan itu akan membuat seseorang bekerja untuk mendapatkan barang, bukan uang. Heidemarie bekerja sebagai pengasuh anak hingga tukang bersih-bersih. Semua dia lakukan dengan gembira. Heidemarie bahkan tidak keberatan memberikan rumahnya secara cuma-cuma pada kerabatnya.
"Saya rasa itulah saat yang tepat, saya memberikan rumah dan semua yang saya miliki," ujar Heidemarie. Semua barang diserahkan, kecuali barang pribadi yang memiliki kenangan, semua dimasukkan dalam koper kecil.

Bahagia Hidup Dalam Kesederhanaan

Walaupun hanya mendapatkan bayaran berupa barang, Heidemarie tidak keberatan menyumbangkan baju yang didapat untuk orang lain. Sementara itu orang lain secara ajaib sering membantu Heidemarie, dia menyebutnya mukjizat, bukan sumbangan semata. "Setiap hari saya melihat banyak keajaiban di dalam hidup saya," ujarnya.
Banyak memberi, banyak menerima, itulah kata-kata yang sering diucapkan Heidemarie. Bertahun-tahun hidup tanpa uang tidak selalu mulus, kadang Heidemarie harus mencari sisa sayur segar di pasar. Walau begitu, Heidemarie tidak mau disebut tunawisma, karena dia bahagia dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Perjuangan hidup Heidemarie membuatnya dipercaya untuk melatih mahasiswa ahli lingkungan BUND Youth dari Muenster. Ada beberapa orang yang mengkritik gaya hidup Heidemarie, tetapi baginya, kritikan itu bisa diterima walaupun menyakitkan. Ada juga yang memberi respon positif bahwa uang tidak selalu memberi kebahagiaan, ada orang yang banyak uang tetapi miskin hati.
Dalam kesederhanaan, selalu ada kebahagiaan. Bagaimana dengan Anda ?

Sumber: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/28387-hidup-tanpa-uang-selama-16-tahun-wanita-ini-bahagia.html

Tuesday, May 27, 2014

Difficult to gain TRUST


Dulu...ketika Q diamanahi sesuatu oleh seseorang, aku menganggapnya mudah. Dari hari ke hari Q selalu berfikir nanti dan nanti...

hingga hari ini tiba tak sedikitpun yang kulakukan... Dan akhirnya penyesalan Q tiba... dan ketakutan itu hadir...hingga mulut Q tak dapat berkata “maaf " karena itu terlalu gampang terucap tak sebanding dengan kesalahanku...

Kini Q kehilangan kepercayaan...
sedang kepercayaan itu sulit tuk didapat...
dan hanya karena “syetan” Q menjadi benda mati
yang mau disuruh apapun yang menyesatkan...

Sekarang...

Aku sadar semua ini menjadi cambukan untuk Q dan semua.
Agar selalu wirai dan bisa menjaga kepercayaan..
dan bisa taat komando meski melawan keinginan...
dan bisa menjadi santri yang siap pakai..
denagan bercita-cita menjadi seorang yang bertubuh agama.

Ayo terus menumbuhkan semangat agar bisa bertahan
Dan setia sampai Akhir Hayat
Bersama Bahtera Keselamatan SPMAA

Go on spirit in a problem because
A problem is a change for you so the best.

By: M2
 

Pengikut