Ads 468x60px

Showing posts with label profesional. Show all posts
Showing posts with label profesional. Show all posts

Thursday, October 13, 2016

SPMAA Laksanakan WORKSOP TK, PAUD dan TPQ Nasional di Bali


Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Pusat Lamongan, Jawa Timur, menggelar Workshop Nasional Taman Kanak-kanan (TK),  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) Cabang SPMAA Se-Indonesia, di Bali, selama lima hari mulai 12 - 17 Oktober 2016.

Pembina Yayasan SPMAA Pusat Hj. Masyrifah Muchtar saat membuka workshop mengata-kan, Usia 2-6 tahun adalah usia terbaik pendidikan. Disebut juga golden age. Di usia ini, pilihan pilihan pandangan hidup dan prilaku ditentukan. Karakter dibentuk. Hitam putihnya akhlak digambar.

"Mendidik anak adalah pondasi dasar dalam mengembangkan pribadi anak," katanya saat membuka Workshop di Gedung GOR Dewara, Sanggulan, Tabanan, Bali, Rabu (12/10/2016)

Terkait hal itu, Masyrifah menambahkan, SPMAA sebagai lembaga pengembangan masyarakat, yang sudah berpengalaman lebih dari 50 tahun di bidang pendidikan, melihat bahwa penanaman ajaran hidup sangat penting diperhatikan di usia emas ini.

Pada kesempatan tersebut Masrifah juga mengingatkan kepada para pendidik TK, PAUD dan MTQ Cabang SPMAA Seluruh Indonesia agar bisa memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada anak didiknya dengan nilai-nilai Islami seperti yang pernah diajarkan dan dicontohkan pendiri SPMAA, Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar.

Sebelumnya, Ketua Yayasan SPMAA Cabang Bali Gus Glory Islamic selaku Ketua Penyelenggara Workshop melaporkan, ada lebih dari 70 cabang SPMAA di seluruh Indonesia yg memiliki pendidikan anak usia dini. 


"Terkait hal itu dirasa perlu untuk menyatukan pandangan tentang apa dan bagaimana praktek terbaik TK, PAUD diimlementasikan," katanya.

Gus Glory juga melaporkan, Workshop dilaksanakan di dua lokasi di Tabanan selama dua hari dan di Denpasar selama tiga hari." Workshop diikuti 120 orang peserta yang berasal dari Cabang SPMAA seluruh Indonesia," paparnya.

Menurut Gus Glory tujuan dilaksanakan workshop ini adalah  menyusun muatan lokal untuk isian kurikulum yg merujuk pada kurikulum Pendidiakan Nasional. Selain itu juga untuk menentukan standar TPP, isi proses, evaluasi dan penilaiain untuk TK, PAUD dan TPQ di lingkungan SPMAA.

"Tujuan yang tak kalah pentingnya adalah untuk menentukan standar guru yang berkualifikasi, mencetak anak didik yang cerdas, terampil dan berakhlak selamat dunia akhirat," ujarnya.

Sementara out put dilaksanakannya workshop ini adalah adanya keseragaman visi dan misi tentang pendidikan anak usia dini di lingkungan SPMAA dan adanya kurikulum yang bernuannsa akhlak mulia, berwawasan bhineka tunggal ika serta berprestasi dunia akhirat. (Gus Glory)

Sumber: http://www.kabarnusa.com/2016/10/spmaa-gelar-workshop-tk-paud-dan-tpq.html?m=1

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Thursday, June 12, 2014

Gelora, Cerita Adu Dogma

by 

Potret karya anak-anak pengungsi yang diterapi psikososial. Pada kertas mereka bercerita tentang tangis derita atas nasib rumah dan keluarga mereka.
Foto & Teks: Gus Adhim
“Perang !” teriak kedua kubu yang berseteru itu. Mereka menyeruput dogma serupa, tentang sejumput kesalahan yang harus dikafirkan. Lupa mengkafirkan dosa dirinya. Katanya semangat jihad, enggan mengaku keliru. Mudah mengintip kuman di seberang lautan, luput melihat gajah yang menempel di dekat jidat.
Pada akhirnya tidak ada yang jadi pemenang, karena keduanya berlumuran tangis derita korban. Tinggallah, musuh ghoib syetan yang kini bertepuktangan karena sukses mengadu nyawa manusia.
Relawan SANTANA-SPMAA menghela terapi trauma untuk survival anak, wanita dan ibu lanjut usia.
Anak, wanita dan ibu lanjut usia adalah survival rentan yang kerap mengundang keprihatinan. Mereka terpaksa menanggung lara trauma akibat pilihan dogma keluarga dan provokasi para cendekia. Pada coretan visual dan gambar mural, mereka tumpahkan unjuk emosional yang sentimental.
Husin ingin bergembira lewat cerita gambarnya
“Namaku Husin,” karya mural anak psikososial
“Namaku Husin,” tulis anak ini yakin. Mungkin ia tidak sekadar menulis, tetapi ia ingin mengurai detil cerita tentang sebuah dogma, tentang keluarganya yang menamainya seperti sang idola. Di sampingnya, merah putih bendera kita melirik penuh tanya, “ada apa dengan nusantara? Kenapa hanya karena beda nama dan hasutan kepentingan, semua saling tawuran?”
Di sudut tangis dan tawa mereka, merah putih tetap hadir menyapa.
Seorang nenek renta mengecap bencana akibat pilihan dogma yang diyakini keluarganya
Di hamparan arena gelanggang olahraga, mereka saling bertindih perih, mengecap resiko madzhab yang dianggap berbeda dengan arus utama. Tertidur membujur, seorang nenek melepaskan kepenatan setelah bertahan dari ancaman pengusiran dan pembunuhan. Di sudut lain, seorang ibu bersama anaknya melamun nasib.
Apakah mereka sengaja diadu dogma kaum cendekia?
Ibu ini, suaminya turut jadi korban meninggal dunia.
Para pengungsi lesehan ini beralaskan kesemrawutan di antara spanduk bertuliskan “Selamat Bertanding”, “Fair Play”, “Junjung Sportifitas”. Seolah nasib mereka memang sedang diadu nyawa, dijadikan alat niaga, diperalat waralaba agama oleh para cendekia.
Bocah kecil setengah bugil membersihkan kotoran di kamp pengungsian.
Prasasti nama & petugas bhayangkara, apakah mereka melindungi hak asasi anak ini?
Nampak bocah kecil setengah bugil berlari menenteng pengeruk sampah. “Ayo nak bersihkan negeri ini dari jelaga politisi dan makelar ideologi,” bisik saya di kupingnya.
Sementara di luar arena, anak kecil lainnya sedang bersandar meraba sebuah prasasti nama yang mestinya bisa mengayominya. Tetapi, ia belum mendapati hak dasarnya ini.
Ibu dan anak, survival rentan dari korban kebencanaan.
Menjadi pengungsi di negeri sendiri, mengiba derma dunia
Guyonan satir sebagian (besar) rekan-rekan cendekia agama (baca: nadliyin) di madura jika ditanya, “Masyarakat madura agamanya apa?”, maka mereka akan jawab, “99 % muslim.” Misalnya kita kejar, “Lha yang 1 % itu agamanya apa?” “Muhammadiyah !” jawab mereka mantap.
anekdot kita bikin tertawa, tetapi buat mereka bisa jadi petaka dan kehilangan nyawa keluarga
Meski anekdot itu bisa membuat
mural warna dan cerita dogma.
kita sejenak tertawa, tapi di tingkat masyarakat bawah sana, ejawantah guyonan itu bisa bikin putus kepala, carok antar keluarga dan tawuran sesama desa. Mirisnya, ini kerap dipicu para cendekia yang harusnya berkompeten menggembala konstituen.
Di rumah Indonesia yang berasas Pancasila dan Berketuhanan Yang Maha Esa, perbedaan bisa memicu perselisihan hingga konflik pertempuran. Sedihnya, semua diatasnamakan membela kebenaran, mempertahankan keimanan. Sementara kita berlaga penuh peluh dan bersimbah darah, di luar sana, media manca negara menertawakan Indonesia. Mereka gunjingkan parodi dan anomali kekerdilan bangsa ini, menyoraki perang saudara serumpun kita.
Rumah Indonesia berkelir bersih merah putih
media mancanegara menggunjing budaya warta kita yang melulu berumus “bad news is good news”.
Sengaja saya menulis “korban bencana”, dan bukan “korban konflik agama”. Karena saya tak berani berspekulasi di sini. Cukuplah saya tahu, bahwa mereka awalnya dari satu bacaan sholawatan, serumpun rukun cara tahlil dan norma sub-kulturnya. “Agama” mereka nyaris serupa. Hanya, karena disulut “sesuatu”, mereka dikondisikan berjibaku. Mereka, adalah korban bencana adu dogma.
Pada tulisan ini, saya berusaha imparsial dan netral sebagai konsekwensi pekerjaan sukarelawan yang saya emban. Saya membela manusia, tidak hanya memihak satu saja diantara mereka. Karena bagi saya, mereka semua adalah serumpun bangsa tanpa sekat sektarian SARA.
Silakan dicatat, “isyhaduu bi anna muslimiin.” Saya warga Indonesia pembelajar muslimNYA yang pasrah menyembah dan berupaya tidak terbelah dikotomi madzhab sunni-syiah. Saya hanya kepingin melihat manusia seluruh dunia –khususnya Indonesia– dalam sebentuk tubuh utuh, bukan ceceran organ yang saling tarik menarik dan mencerai-beraikan.
Akhirnya, memang perlu intensifikasi doa plus pendekatan ProvoKasiH & MotivAsiH kita semua kepada para cendekia supaya mereka tidak loba dalam berbisnis “waralaba agama”.
Sekaligus diprioritaskan aksi pencerdasan kaum bawahan, agar mereka tidak lagi menjadi korban penipuan “pecah belah ibadah” , “undian ganjaran” dan “karapan iman”.
Demikian kilas pengalaman saya dari hasil berdinamika dengan sedulur seIndonesia, plus Rabu (29/8) kemarin sempat “macak relawan+wartawan”, menengok keadaan pengungsi bencana dikotomi syiah-sunni di arena gelanggang olahraga (Gelora) kota Sampang-Madura.
Semoga dogma tidak beralih fungsi menciptakan dikotomi besi yang memecah belah kesatuan beribadah.

Monday, May 19, 2014

INGAT MATI, HIDUP BAHAGIAKU

Kegemaranku akan hidup dan ketakutanku paranoid akan mati, 
sampailah pada puncak ketakutan ambang batas manusia. 
Megap-megap dan lemas terkulai
Melambungnya isak tangis dan jerit yang tak berdaya

Hilang suara dan kempis tak bertenaga
Semeleh dan hanya pada yang Kuasa
Subhaanallah 
Kuasa Kasih Allah SWT datang dan memberi jawaban.

Ada keinginanmu yang berumur panjang tanpa mati itu
Kemudahannya melebihi kemudahan sebelum kau masuk dalam rahim ibumu
Diakhirat setelah kau dimetamorfosiskan dalam liang lahat matikuburmu
Hanya bisa kau gapai dengan amalan sholeh kasih sesamamu

Sejak saat itu, apapun tipuan dunia berupa kemewahan, kekayaan, kedudukan, yang berakhir mati tak mampu menggodaku
Karena chip perasaan pasti mati, selalu membersamai dengus nafas-fikirku
Hanya linangan air mata bersimpuh sujud padaNya
Agar terus tidak terputus jalinan petunjuk hidayah dan Kasih SayangNya

Agar bisa sampai pada alam surga yang dijanjikanNya
Tanpa mati hidup bahagia sejahtera selama bersamaNya. Bismillah


By: Gus Hafid

Sunday, May 18, 2014

Praktik Pancasila Tanpa Kata


Di pesantren kami, ada beberapa fenomena istimewa yang patut disyukuri bulan Juni ini. Selain persiapan maraton untuk acara milad 50 tahun ma’had, banyak tamu datang bergantian hampir setiap hari. Diantaranya kami kerawuhan serombongan mahasiswa pasca sarjana perguruan tinggi negeri ternama dari Jakarta. Mereka bermaksud live in mengikuti tradisi santri selama sepekan dalam kegiatan bertitel “Belajar Mentoring Bersama Santri & Mahasiswa”. Hari kedua, bakda sholat subuh berjamaah. Seperti biasa jadwal rutin pesantren adalah pengajian tafsir Al Quran. Keenam belas calon magister yang berasal dari beragam budaya itu pun turut mengikuti majelis. Kebetulan kajian materi Al Quran sampai pada surat Al Maidah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim1-300x199.jpg
Menjadi istimewa dan khas Indonesia suasana majelis di pagi hari itu karena pesertanya bukan hanya santri, tapi diikuti juga oleh rekan-rekan mahasiswa yang berbeda-beda agama dan budaya tadi.  Dengan duduk bersila baris tertata, pengajian yang diikuti anak-anak, mbah lansia, remaja, pemuda dan mahasiswa S2, bersatu dalam majelis yang setara. Alhamdulillah selama hampir  90 menit semua peserta majelis pengajian dapat saling guyub berbagi pertanyaan dan jawaban.  Tanpa banyak retorika, wajah ramah Indonesia tersaji sesungguhnya. Di pagi itu, kesadaran kami seperti dilahirkan kembali oleh ibu pertiwi. Bahwa sesungguhnya awal muasal semua manusia adalah saudara sebangsa tanpa imbuhan SARA.

Indonesia, sebagai kumpulan ribuan bangsa dan budaya, nampak akur bertutur di pengajian pagi itu. Seorang santri yang duduk di sebelah saya berbisik, “Gus tahukah sampean, hari ini Indonesia memperingati kelahiran Pancasila?” Saya pun spontan melirik kalender yang menempel di dinding masjid. Ternyata memang iya, kalender menandai hari itu 1 Juni.  Tanggal yang dipercayai sejarawan sebagai lahirnya Pancasila di bumi Indonesia. “Alhamdulillaah,” bisik hati saya berkali-kali.

Mungkin inilah yang disebut ayyaamillaah. Hari-hari Allah yang pasti terjadi.  Tanpa direncana sebelumnya, kajian ayat tentang keadilan itu diikuti oleh wakil-wakil kaum Indonesia. Kami para santri mewakili mayoritas, dan rekan-rekan mahasiswa itu delegasi minoritas. Selain itu, para santri yang memang asalnya dari Aceh sampai Irian Jaya. Sungguh miniatur keberagaman Indonesia yang membersyukurkan potensi nusantara. Pasnya lagi, kami peringati Pancasila langsung praktiknya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim2-300x225.jpgLebih khusus menjadi renungan buat kami kaum santri yang mengaku beriman. Ayat 8 surat Al Maidah itu memberikan peringatan tegas atas perilaku sosial kita pada kelompok lain yang berbeda. Kajian tafsir yang diampu Gus Glory hari itu, mengurai makna keadilan dari sisi kemanusiaan. Berbicara fakta kritis keIndonesiaan dan refleksi kekinian. Sering, ketika tidak suka kepada madzhab yang berbeda atau identitas SARA lainnya, maka sikap negatif gebyah uyah menjadi lumrah. Di pihak kita selalu merasa benar saja, sementara mereka salah bahkan najis selamanya.

 Hingga pada norma sosial dan praktik kehidupan komunal, laku ketidakadilan kita paksakan berjalan.
Nalar sehat dikalahkan naluri jahat. Emosi dan benci lebih menguasai daripada kebaikan budi dan kejernihan nurani. Di satu moment kita meneriakkan keadilan, tapi di waktu lain kita menanamkan benih rasisme berlebihan. Kembali merenungi momen penuh rahmat di pagi hari itu. Kami para santri yang mewakili mayoritas kaum beriman nusantara, ditunjukkan kenyataan bahwa nilai adiluhung Pancasila sudah pas untuk mengelola dan menyatukan potensi raksasa bernama Indonesia.  Maka akan jadi anomali jika kami para santri belum bisa adil pada kelompok yang berbeda keyakinan. Karena perlaku tidak adil itu sama saja dengan penolakan terhadap kebenaran ajaran Al Quran.


Meski masih diramaikan perdebatan, saya meyakini kesesuaian ajaran Al Quran dan Pancasila beriring pada jalur cita-cita yang sama.  Al Quran mengajarkan ketauhidan, Pancasila menyahutinya di sila pertama. Al Maidah ayat 8 menyuruh kita kaum beriman berbuat adil dan Pancasila mengamininya di sila kedua. Seterusnya ayat tentang persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial juga termuat di sila Pancasila berikutnya. Pagi itu, tanpa terasa kami telah belajar mempraktikkan ajaran Al Quran sekaligus sila kedua dan terakhir Pancasila. Belajar memaknai nilai kemanusiaan dan keadilan melalui aksi kecil yang riil. Praktik menyikapi secara adil kehidupan Indonesia yang dilahirkan berbeda-beda rupa karakter dan keyakinannya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim3-300x207.jpgMelalui kegiatan sederhana dan bisa diikuti oleh semua, Pancasila bisa dipraktikkan kapan saja bila ada keseriusan niat menjalankannya.  Jangan sampai terjadi negara dan bangsa lain mulai meniru filosofi Pancasila, sementara kita justeru bergegas melupakannya. Berangkat dari pengalaman pagi itu, saya mengajak Anda untuk praktik pengalaman serupa. Memperingati kelahiran Pancasila tanpa buih kata, tanpa genit langgam retorika, tanpa riuh dihipnotis gegap gempita media. Tapi langsung praktik kehidupan sosial di lingkungan terdekat kita.
Karena jika tidak dengan cara demikian, maka Pancasila akan tertutup pelan-pelan di buku kenang-kenangan peradaban. Mungkin hanya akan dibaca sekali saat rangkaian upacara tujuh belasan. Teronggok maya dalam formalitas belaka tanpa makna.


By: Gus Adhim

Thursday, May 1, 2014

HAJI DAN ELEGI PARA TKI

SEBUAH RENUNGAN
Gus Glory


Tampak seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju teller sebuah bank syariah. Dari caranya berinteraksi dengan teller, terlihat si nenek belum pernah berhubungan dengan bank sebelumnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Sambil menuangkan isi keresek yang penuh berisi uang receh dan beberapa lembar ribuan, bibir si nenek gemetaran menyampaikan niat membuka rekening. Ya, si nenek sedang mulai menabung ONH untuk berangkat haji. Total uang receh tersebut sebesar 5 juta rupiah. Si teller dengan senyum sabar melayani.



Dengan buku tabungan ONH di tangan, si nenek berjalan pulang dengan gembira. Wajahnya bersinar penuh harapan cita-citanya akan segera terwujud. Doa yang dibarengi usaha banting tulang sebagai pembantu itu akan segera terkabul. Bayangan ka’bah seperti lukisan dinding yang dibuat anaknya secara slow motion bergantian muncul dalam pikirannya. Sebuah tabungan, sebuah langkah awal hasil dari kerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wak Haji kaya. Si nenek tinggal di rumah reot bersama anak laki-lakinya, seorang pelukis. Anaknya baru saja cerai karena istrinya memilih hidup dan menikah dengan laki-laki lain.  Sang anak yang berubah sayang pada ibunya dan sangat ingin mewujudkan mimpi ibunya, naik haji.

Selang beberapa waktu setelah hari penuh harapan itu, seorang wanita datang bertamu ke rumahnya. Mata nenek menatap redup wanita yang datang tersebut. Sambil menangis sesenggukan wanita itu bercerita bahwa anaknya divonis mengidap penyakit kronis yang harus segera dioperasi. Kesedihan semakin bertambah karena dia tidak mampu membiayai operasi yang sebesar 5 juta. Sambil mengelus lembut pundak wanita itu, si nenek berujar: “Sudahlah jangan sedih, insya Allah nenek bantu. Akan nenek ambil tabungan nenek”.

Mendengar itu anak laki-lakinya yang berada dalam kamar sontak datang, “Tidak! Aku tidak rela. Itu tabungan emak selama bertahun-tahun untuk tujuan suci, haji”. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ucap si nenek sambil memakai pedang ikhlas untuk memenangkan perang batin yang bergelora dalam batinnya. Sang anakpun hanya bisa menunduk lesu, perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya.

Hari berganti hari, si nenekpun mulai menabung kembali. Disusunnya puzle harapan bersujud di depan ka’bah yang sempat buyar karena menolong orang yang sakit. Pagi itu, si nenek sedang menjemur pakaian ketika dilihatnya dua orang anak yatim yang tinggal di sebelah rumahnya sedang memakan daging. Si nenek heran karena dengan kondisi ekonomi ayah mereka yang sangat kurang, jangankan makan daging, untuk makan sehari-hari saja sering meminta-minta. “Daging dari mana nduk?” tanya nenek. Si anak diam. Wah, jangan-jangan. “Itu daging bangkai ayam yang nenek kubur kemarin?” tanya nenek khawatir. Si anak hanya bisa mengangguk.

Segera si nenek menyuruh membuang dan menuntun mereka ke rumahnya. Perang batin berkecamuk hebat, ketika nenek menyingkap kasur di mana dia menaruh receh dan lembar uang yang hanya berjumlah beberapa puluh ribu, yang disimpannya untuk naik haji. Dia membeli ayam dengan uang tersebut dan memasakannya untuk anak tetangganya. “Makanlah nak..”. Sejurus kemudian uang di bawah kasur yang tersisa 50 ribu pun diberikan pada anak yatim, sambil berpesan “ini pakai untuk kebutuhan keluarga kalian..” Subhanallah.

Kejadian tersebut saya sarikan dari beberapa scene dalam film EMAK INGIN NAIK HAJI yang dimainkan secara luar biasa bagus oleh Aty Kanser (si nenek) dan Reza Rahardian (pelukis). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa seorang nenek sederhana, lebih mampu mengartikulasikan apa yang dikehendaki oleh Allah daripada kita yang pandai ber-retorika. Saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah film, karena kejadian yang nyaris persis saya temukan di lingkungan kami. Bahwa masih ada hamba-hamba terpilih Allah yang mampu mengejawantahkan makna sesungguhnya dari haji. Mereka yang begitu tajam penglihatan batinnya dan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menentukan skala prioritas dalam pengabdian kepada Allah.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang yang begitu bernafsu masuk surga. Lalu di tengah jalan menuju surga ditanya Tuhan: “Apa modalmu masuk surga?”. Dia menjawab: “Hamba ketika hidup di dunia rajin sholat, puasa tidak pernah bolong, zakat dan haji kutunaikan”. “Itukah modalmu masuk surga?”, tanya Tuhan lagi. “Bukankah itu sudah cukup, ya Tuhan?”, jawab orang tersebut dengan yakin dan sombong. Tuhanpun murka dan menghardiknya: “Ya, kamu sholat tapi ketika AKU sakit dan sekarat menengokpun kau tak sempat. Kamu haji, tapi ketika AKU kelaparan kau tidak bersimpati. Kamu pandai mengaji tapi ketika AKU tinggal di bantaran kali, kau tidak peduli”. Orang itupun dilarang masuk surga. Dalam hal ini Tuhan memakai kata “AKU” untuk mewakili kaum papa di dunia.  

Muchtar Sadili pernah menulis bahwa dalam ilmu fikih dikenal istilah penarikan hikmah dari satu ibadah (hikmah at-Tasyri’), sama pentingnya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Haji Mabrur yang diinformasikan oleh syari’at`, secara bahasa dan istilah mempunyai relasi kuat dengan kepedulian sosial. Kata mabrur yang berasal dari kata bir dalam bahasa arab diartikan sebagai kebaikan. Nah, dalam al-Qur’an makna itu dilebarkan bahwa kebaikan hanya diperoleh jika menafkahkan harta yang kita cintai untuk meringankan beban hidup orang lain di sekitar kita (QS ‘Ali Imran:9).

Begitu juga jika ditilik ibadah lainnya dalam rukun Islam setelah syahadat sebagai pengakuan akan Tuhan dan Nabi, seperti shalat, puasa dan zakat. Pelaksanaan shalat akan dianggap sebagai pendustaan agama, jika pelakunya tidak peduli terhadap penderitaan anak yatim dan para fakir-miskin (al-Ma’un:1-5). .Puasa sengaja didisain untuk melatih diri dengan biasa merasakan lapar-dahaga di siang hari, agar merasakan derita kaum papa (hadits bukhari-muslim). Secara tegas, kita temukan dalam zakat, yakni dengan mengeluarkan sebagian dari harta yang telah mencapai jumlah tertentu (nishab), untuk kaum dhu’afa (Qs at-Taubah 9:60).

Spirit komunalitas Haji setidaknya menyimpulkan kekaguman, sekaligus kekagetan. Di tengah negeri yang masih terlilit krisis ekonomi, jumlah kuota haji tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tahun ini grafiknya cenderung naik – terlepas dari adanya waiting list. Anehnya, problem kemiskinan tidak berbanding lurus dengan spirit komunalitas tadi. Sejatinya, secara organik dan fungsional ibadah haji memerankan dirinya dalam usaha untuk menuntaskan problem kemiskinan bangsa.

Sementara C. Ramli Bihar Anwar dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam iIbadah haji mengenal apa yang disebut halangan atau uzur sosial, yakni peristiwa atau masalah-masalah sosial (kemanusiaan) yang bisa menggugurkan kewajiban haji seseorang, meski mungkin hanya bersifat sementara. Kewajiban haji yang bias dikalahkan oleh kemungkinan uzur-uzur sosial bukan saja ditekankan oleh penghayatan sufistik tetapi juga oleh tradisi fiqih. Penekanan secara tasawuf sangat memungkinkan, karena tasawuf dikenal sebagai disiplin batin yang lebih bersifat humanis dan relatif “longgar” secara legal-formal. Tapi, bila hal ini diterima secara fiqih – yang dalam banyak kasus sering terlalu “rigid, dogmatis dan kering“ – maka jelas ini mendakan adanya pancaran sifat humanis yang tak terbendung dari ibadah haji. Dr. Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Aulawiyyat, Fiqih Prioritas, “ kewajiban yang pelaksanaannya harus sesegera mungkin (genting) harus didahulukan di atas kewajiban yang harus ditunda. Dan, haji adalah kewajiban yang bisa ditunda“.

Sementara bila uzurnya tak sampai mengancam jiwa, misalkan kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah sosial lainnya, maka menaggulangi semua ini harus didahulukan ketimbang melakukan haji sunnah / umrah. Artinya, dalam kondisi serba krisis, ongkos untuk berhaji sunnah (yang kedua dan seterusnya) jauh lebih baik disalurkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan sosial. Dalilnya, melayani urusan publik adalah fardlu kifayah (kewajiban sosial), sedangkan melakukan ibadah haji/umrah yang kedua dan seterusnya hanyalah sunnah.

Jika demikian pandangan fiqih, maka tak heran bila Abu Hayyan Al-Tauhid (w. 1025 M), seorang ahli sufi, filasafat dan sastra sampai merasa perlu mengarang sebuah kitab berjudul Al-Hajj Al-Aqli idza Daq Al-Fada ‘An Al-Hajj Al-Sary’I ( Haji Spiritual bila Tak Mungkin Melakukan Haji Formal? ); untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai haji spiritual sebagai ganti haji fisikal jika cukup terdapat uzur-uzur sosial. Tak heran pula bila Al-Ghazali samapi berani menyebut para hartawan yang berkali-kali berangkat haji sementara membiarkan tetangganya kelaparan sebagai “orang-orang yang terkelabui”.

Maka, adalah ironis bila kaum Muslim tanah air – terutama yang telah berhaji berkali-kali – terus begitu antusias berhaji sampe harus antri menunggu kuota bahkan harus sampai “adu demontrasi” umtuk memperebutkan kuota, sementara dibelakang mereka antrian kebodohan dan kemiskinan bahkan sampai harus “adu nyawa” saat memperebutkan prosesi pembagian sedekah maut semakin bertambah panjang. Tambahan biaya haji pun tak risau untuk kembali dikeluarkan meski sebatas untuk keperluan biaya jual beli kuota kepada oknum Depag di daerah-daerah.

Itulah kenapa dalam status sebuah jejaring sosial saya menulis: “Wahai saudara-saudara Muslim, bagaimana kalau sampean semua yang berencanan haji ke Arab ditunda dulu. Kemudian uang saudara2 dikumpulkan untuk pemberdayaan para TKI/TKW. Kalau tiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang berhaji dengan biaya sekitar @ 30 juta. Berarti ada dana sekitar 6 trilyun per tahun. Dan umat Muslim secara ikhlas me-moratorium haji selama 5 tahun ke depan”. Sentilan ini adalah bentuk keprihatinan saya menyaksi-rasakan berita dan penderitaan jutaan saudara yang menjadi TKI/TKW di jazirah Arab, jazirah di mana Arab Saudi negara tempat ibadah haji dilaksanakan.  

Si Emak dalam film di atas mirip dengan cerita sufi tentang tukang sol sepatu, yang lebih mendahulukan substansi daripada seremoni. Berpikir cerdas untuk meredam ibadah yang bisa ditunda dengan memenuhi kewajiban ibadah perlu segera. Dengan tanpa membuat dikotomi antar keduanya, si Emak berhasil secara ikhlas mengusahakan tertunaikannya ibadah ritual dengan memberikan ruh ibadah sosial. Usulan saya dalam status tersebut bukan usulan kepada pemerintah RI untuk dijadikan regulasi, namun kepada individu-individu untuk dijadikan renungan nurani dan rencana pribadi. Himbauan tersebut bukan dimaksudkan untuk membebankan tanggungjawab menolong sesama pada mereka yang akan berhaji saja, karena sesungguhnya tanggungjawab itu ada pada kita semua. Ingat, bahkan orang yang mengerjakan sholat dianggap pendusta agama dan diancam neraka, jika melalaikan kepedulian sosial memberi makan anak yatim dan menolong kaum miskin.

Saat si Emak merelakan tabungannya untuk menolong anak miskin membayar biaya operasi, bukan karena kurang besarnya keinginan menuju baitullah. Tapi lebih karena personifikasi “Emak” telah mencapai tingkatan iman yang memungkinkan dia melihat ibadah ritual dalam bingkai yang sesungguhnya, ibadah sosial. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ujar Emak penuh makna. Ini sebuah renungan, bukan usulan yang memaksakan, apalagi ego untuk diadu. Kita kalah dengan si Emak. Kita seharusnya malu dengan tukang sol sepatu. Karena belum mampu, saya malu. Bagaimana dengan bapak-ibu? Suwun.

Monday, April 21, 2014

Dhiror (Edisi Ramadhan)

Saat ini tadarus tafsir edisi Ramadhan kami sedang mengkaji Surat At-Taubah. Sejak mula ayat pertama, surat ini banyak bercerita tentang penegakan keadilan atas sikap musyrikin dan gambaran perilaku kaum munafiqin.
Ciri sifat munafiqin ini menjadi fokus keprihatinan para santri, karena sifat nifaq kerap hinggap menjangkiti komunitas muslim dan memecah belah persatuan iman. Diantara bukti upaya pengkhianatan munafiqin saat itu adalah membuat masjid tandingan.
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan Masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At Taubah : 107).
Di saat Rasulullaah Muhammad masih hidup, masjid dhiror dibikin oleh kaum munafiqin untuk menciptakan bencana kemudharatan, sebagai bentuk oposisi perlawanan, sekaligus pengembangbiakan virus jamaah ashobiyah. Namun alhamdulillaah seketika itu juga, atas bimbingan wahyu Allah dan waskita kepemimpinan Rasulullah, bahaya adu domba bisa dicegah secepatnya.
Empat belas abad sepeninggal Rasulullaah, ribuan masjid kini subur bersemi. Rumah ibadah ini menanti di tepi jalan arteri, di lurung-lurung kampung, di antara rumah-rumah warga desa, di belantara kota, di pinggir basement parkir, di sudut bantaran laut, di tengah gedung megah, didesain cetak biru nan mewah dan tegak berserak meliputi kolong bumi. Ada kala terasa bangga jika harganya dibangun bernilai sekian trilyun.
Untuk pembiayaannya, sebagian harus dimintakan proposal lewat acara amal, sebagiannya ditadahkan bantuan via sumbangan jalanan atau kotak Jum’atan. Sementara pembangunan masjid lainnya cukup menanti uluran dermawan uwak haji atau arisan tiban kaum politisi.
Seperti di negeri kita ini, masjid sudah menjadi bagian dari budaya identitas agama warganya. Di beberapa tempat, kita bisa tahu betapa pengamalan keislaman –seolah terlihat– tumbuh menguat. Begitu semangat hingga letak masjid dibangun berdampingan sangat dekat.
Saya dan para santri yang sedang mengaji tafsir masjid dhiror ini, hanya terbatas bisa membaca literasi terawangan mufassirin saja. Kami para santri, sebagaimana saya yakin pembaca juga, belum tahu di mana sesungguhnya lokasi masjid dhiror ini.
Namun logikanya, jika pada masa Rasulullaah hidup saja bangunan masjid dhiror itu sudah ada, maka saat ini keberadaannya mungkin ada. Karena kita tidak sedang dibimbing langsung oleh Rasulullah, maka untuk mengenali masjid dhiror ini, kita harus sangat teliti dan cerdas mendeteksi.
Pertanyaan yang berkelindan di seputar diskusi kami, diantaranya adalah “Apakah definisi dhiror itu berkaitan dengan ciri masjid yang gemar mengkhutbahkan perpecahan, berjamaah eksklusif ashobiyah, serta hanya berfungsi pewacana ritual agama tanpa bisa menyelesaikan persoalan fakta sosial umatnya?
Mungkinkah ciri masjid dhiror ini suka mencuci lantainya saat kita –yang bukan dicatat kelompoknya– tidak sengaja sholat di tempat mereka ??? ataukah masjid yang jamaahnya hobi memprovokasi telunjuk takfiri ???”
Sebagai pembanding benchmarking, saya mengajukan fakta kisah sejarah bahwa sewaktu Rasulullaah dulu, bangunan masjid Quba dibuat terbuka dan berbentuk sederhana. Masjid yang dibangun Rasulullaah pertama kali saat hijrah ke Madinah ini, atapnya pelepah daun kurma, berlantai pasir tanah, dan dindingnya cuma setengah.
Tapi walaupun konstruksi fisiknya bersahaja, manfaatnya serba guna dan barisan jamaah sholatnya terisi penuh dari dzuhur sampai Subuh. Masjid di jaman Rasulullah bermasyarakat sebagai tempat berlutut menangis sujud, mengikhlaskan kaul pelayanan, bukti totalitas iman ketauhidan, sarana penguatan mental spiritual, berbagi potensi amal sosial, dan penghuninya berlomba meraih derajat 99 % akhirat.
Kini kita dapat melihat sebagian masjid berkubah mewah, bernilai-jual mahal, dan berasitektur masyhur. Tetapi jamaah mentok setengah, berisi hanya sepekan sekali, penuh pas Idul Fitri atau hari Raya Haji.
Selebihnya, masjid sekarang kerap jadi perangkat kaum politis-oportunis untuk berebut pengikut, pamrih “amal sosial” modal electoral, menitipkan kepentingan pencitraan, atau sekadar wahana safari keagamaan untuk mendongkrak peluang keterpilihan. Masjid dialihfungsikan –oleh oknum cendekia agama kita– sebagai tempat uji kompetisi mengais rejeki 1 % duniawi.
Pembaca, tahukan Anda alasan kaum munafiqin membangun masjid dhiror di saat Rasulullah sudah punya masjid Quba? Ya, mereka bersumpah bahwa alasan pembangunan hanya untuk kebaikan. “In arodnaa illal-husnaa,”kata bualan mereka.
Sekalipun jelas bahwa efek dari masjid dhiror ini akan berdampak negatif, yakni perpecahan ikatan keimanan, mereka tetap ngotot berdalih demi kemaslahatan. Dan Allah menjadi saksi bahwa pendiri masjid dhiror ini sesungguhnya pendusta (QS. 9:107).
Bagaimana jika suatu saat kita mendengar selentingan kabar bahwa sebuah masjid dituduh dhiror? Tentu kita tidak boleh lekas percaya begitu saja, apalagi langsung terprovokasi menghakimi dengan tindakan perobohan. Karena selain kita harus menghormati tata hukum positif Indonesia, tidak ada yang betul-betul ahli memverivikasi identitas masjid dhiror ini.
Bahkan bisa jadi, pihak-pihak yang hobi memfatwa takfiri dan menyebar rumor masjid dhiror, justru jamaah masjid dhiror itu sendiri.
Sebatas kebolehan yang bisa kita lakukan adalah hati-hati dan mawas diri. Saya sampaikan pada para santri di akhir diskusi tadarrus surat At Taubah, bahwa kemungkinan definisi dhiror di jaman sekarang tidak hanya berupa fisik masjid saja. Tapi bisa jadi, dhiror telah bermutasi ke sikap pribadi-pribadi. Mereka para cendekia agama, saya dan juga para pembaca awam muslim semua, berpotensi tertular sebaran virus agitasi dhiror ini.
Diantara ciri perilaku pribadi dhiror yang patut kita prihatini, adalah membenarkan kekeliruan, ngotot ogah diingatkan, mengklaim monopoli satu-satunya keimanan, mudah menajis-kafirkan liyan, dan tingkah dakwahnya kerap memecah belah atau materi yang dibawa bertema propaganda SARA.
Peristiwa konflik sosial di Indonesia hingga intrik politik yang menggelora di Timur Tengah sana, menyisakan pelajaran bahwa peran masjid kini banyak berganti tupoksi. Masjid yang semula bermanfaat sebagai pengayom umat dan penyatuan iman, bermutasi menjadi pemecah belah akidah sekaligus pembibitan dendam kebencian antar keyakinan.
Saya dan pembaca semua tetap tidak tahu, yang mana masjid dhiror itu. Kita hanya bisa mengandalkan petunjukNYA dan berdoa semoga perilaku dhiror ini tidak menggerogoti kerukunan umat beragama di Indonesia serta persatuan muslim dunia.

Thursday, April 17, 2014

Benarkah kita Santri SPMAA ?

Sebagai santri SPMAA tidak ada itu, kata alumni / lulusan. Karena kita sebagai santri SPMAA itu sehidup-sekembali, jadi tidak ada istilah kalau sudah menikah/sudah punya anak/cucu lalu kita berhenti mengamal-sebarkan ajaran Bapak Guru ini.

Kita bisa disebut LULUS jadi santri Bapak Guru Muchtar kalau sudah wafat Khusnul khotimah, bersama beliau disurga. Itu baru disebut lulus. Kalau cuma sekedar pernah dakwah / sedekah ratusan juta, berpuluh-puluh hektar tanah, rumah  & mobil mewah, itu belum cukup untuk menebus 1 nikmatnya Allah berupa Mata atau Oksigen yg kita hirup sitiap hari. Apalagi yg kita andalkan agar bisa mendapat surga!.

Trus bagaimana agar kita bisa selamat wafat khusnul khotimah?

1. Kuat-kuatkan berdo'a dimanapun berada terutama diakhir malam (hanya semata-mata karena Allah)
2. Siap diremehkan
3. Banyak Bersedekah
4. Taat Pemimpin / Komando (Bapak Guru Waktu mau berangkat ke Malasia menunjuk Gus Hafidh, Gus Khosyi'in, Gus Glory, Gus Naim sebagai penerus. Dawuh Beliau sebelum ke Malysia: "sampean kabeh gak usah bingung, sedeh, susah. Selama kulo tinggal niki gus hafidh, gus khosyi'in, gus glory & gus naim iki seng nganteni / nerusno aku". (Indonesia "Sampean semua tidak usah binggung, sedih & susah. Selama saya tinggal ini Gus Hafid, Gus Khosyi'in, Gus Glory & Gus Naim yg Mengantikan / Meneruskan saya")

Itu semua adalah dawuh langsung dari beliau bapak guru Muchtar waktu beliau masih membersamai kita. Dari ke Empat kriteria itu kita tidak bisa hanya mengambil salah satu / meninggalkan salah satu kriteria itu, karena karena dari semua kriteria/syarat itu SATU PAKET, ngak bisa dipisah-pisah.

Jadi jika kita merasa dan ngaku jadi santrinya Bapak Guru ya, mari melaksanakan apa yg diprintahkan dan diteladani beliau selama ini.

Dalam hidup beliau ngak berani tidur di kasur selama santri-santri tidak pakai kasur, ngak berani makan lebih enak dari apa yg dimakan santri sehari-hari.

Hendak dibelikan mobil oleh putra beliau dan sudah DP uang, tapi apa kata beliau? "putraku semua, dulu abi bangun jembatan dari kayu jati untuk akses masyarakat ke sawah mereka, nah sekarang ko' roboh. Bagaimana kalau uang untuk beli mobil itu dibuat mbangun jembatan"



"Kedua" kata beliau, "Nanti kalau kita beli Mobil, takutnya santri-santri ngak jadi kepengen ilmunya allah yg dibawa abi ini, malah kepengen mobil. Ketiga, Nanti kalau kita beli mobil, kasihan tetangga kanan-kiri kita yg apalagi beli mobil, untuk sekolah anak saja sempoyongan, dunia ngak dapat, akhirat juga ngak. betapa kasihanya.

Akhirnya sampai beliau Bapak Guru Muchtar wafat beliau ngak punya mobil, padahal tujuan putra-putra beliau membelikan mobil itu agar kalau beliau diundang pengajian keluar daerah itu ngak usah nyewa mobil. 

Karena kalau dihitung-hitung dalam 3-4 bulan saja uang untuk nyewa mobil, sudah bisa untuk beli mobil sendiri. Apalagi beliau kalau diundang pengajian itu tidak pernah mau dikasih upah (amplop) apalagi pasang tarif pengajian! jelas tidak.

Tapi karena ada kebutuhan Agama, Bangsa yg lebih penting akhirnya lebih dipentingkan mbangun jembatan daripada beli mobil.

Nah sekarang kembali ke kita yg merasa santri SPMAA, sudahkah kita berusaha mencontoh Bapak Guru? sampai mana kita mengamalkan ajaranya?

Sekarang yg jadi tangisan gus-gus saat ini, itu kebanyakan santri justru ungulan-ungulan harta-benda, pangkat kedudukan Dunia. Rumah Mewah, Anaknya dibelikan Motor Ninja, adiknya dibelikan Fixion, Istrinya dibelikan Mobil dls.

Padahal teladan hidup kita Bapak guru Muchtar, Rumahnya terbuat dari sesek bambu, ngak punya motor/mobil lantas kita mencontoh siapa? para nabi mulai Nabi Adam-Nabi Muhamad juga dalam sejarah hidupnya juga selalu prihatin dan penuh kekurangan dan coba'an.

SIAPA YG KITA CONTOH???

Bapak Guru menjalani hidup seperti itu bukan ko' karena tidak punya uang loh! beliau tidak memuaskan nafsu dunia itu karena tau kenikmatan Akhiratlah yg 99% dunia cuma sementara (tipuan semata).

dan karena takut santri-santri beliau jadi kepingin kenikmatan dunia daripada ilmunya bapak guru. lha skarang kita ko' justru mengejar kenikmatan dunia, menyampingkan ajaran bapak guru!

Ayo prihatin, dan segera menaubatinya sebelum ajal tiba.




Saturday, April 12, 2014

Aliyyaa

Tersebutlah sebuah nama di negara wilayah Afrika sana. Pemilik nama ini mengklaim sebagai pejuang kebebasan beragama dan persamaan hak wanita.

Misi yang diusungnya ialah ingin “membuat semua manusia setara derajatnya dengan tanpa membeda-bedakan jenis  keyakinan atau lekuk aurat badan”. Untuk aksi ini, ia kerap nekad bernyali telanjang tanpa sehelai benang dalam setiap unjuk rasa yang digelarnya.
Alia, demikian ia mengakui namanya. Secara nahwu bahasa, Alia ini memiliki makna “tinggi”. Saya percaya orang tuanya berkeinginan supaya Alia berderajat mulia sebagaimana arti namanya.

Tapi entah bagaimana, si Alia ini punya versi sendiri dalam mengeja kemuliaan namanya. Ia mungkin memahami, bahwa “ketinggian” nama derajatnya ada pada “kampanye kesetaraan” yang tidak dibatasi badan dengan cara bugil berunjuk rasa.

Pada kisah lainnya, Al Quran menceritakan tentang kekuatan, kesabaran, kemuliaan, kecerdasan dan keunggulan seorang Ibu Maryam. Beliau adalah orang tua tunggal  dari Rasulullaah Isa ‘alaissalaam.
Jauh sebelum ada teori single parent, Ibu Maryam sudah mempraktikannya melalui kelahiran dan pengasuhan putera satu-satunya. Rahmat hebat yang diberikan Allah SWT pada Ibu Maryam mengilhami kita semua tentang figur wanita teladan yang patut dipahlawankan.

Sebagaimana kita sering tadarus bersama, di dalam surat Maryam tertulis beberapa cerita keteladanan yang patriotik dan heroik. Diantara cerita itu ada nama Ibu Maryam, ibu kita semua, terutama ibu muslimah dunia.

Di surat Maryam inilah, Allah mengajarkan ta’alimuta’alim dalam menghormati para pahlawan ini. Kalimat yang tersurat di sana adalah, “wa rofa’naahu makaanan ‘aliyyaa (dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi)” ~QS. 19:57~

Dua nama yang saya tulis ini memiliki kesamaan kata, yakni “Aliya”.  Keduanya bermakna “tinggi”. Hanya saja, satu baru teraksara dalam nama yang berusaha dipopulerkannya.
Sedang satunya sudah sah ditetapkan oleh firman Tuhan dalam Al Quran dan diakui oleh umat beragama sedunia.

Terdapat perbedaan tajam antara kisah Ibu Maryam dan si Alia dari Afrika, walau keduanya diproyeksikan sebagai simbol pembela kaum beragama dan hak wanita.
Si Alia ngotot –katanya– memperjuangkan kebebasan pilihan untuk tidak beragama dan kesetaraan derajat wanita dengan cara menelanjangi badannya.

Ia mempersilakan dunia melihat kemaluannya secara cuma-cuma.
Agama diprotesnya sebagai aturan keterpaksaan yang terlalu membatasi hak badan.
Lewat demo bugilnya, si Alia seperti hendak berteriak kepada khalayak,  “Ya saya demonstran anti ketuhanan. Tanpa aturan agama, saya si Alia yang bermakna “tinggi” ini bisa terkenal jadi sosialita sedunia!”

Sebaliknya Ibu Maryam menjalani laku “nyepi” di dalam hijab mihrab. Beliau seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, khusyuk beribadah ruku’, dan bersuci dari godaan lelaki.

Ibu Maryam suka rela hidup beragama menjalankan kaul pelayanan Tuhan dan menikmati segala ujianNYA tanpa dipaksa-paksa. Beliau membuktikan kodrat kewanitaan bisa menghadirkan relasi keibuan yang penuh kasih sekaligus bakti ketuhanan secara berlebih.

Untuk prestasi Ibu Maryam ini, Allah memberikan ucapan selamat sholawat, “wa salaamun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yub’atsu hayyaa ( dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali) ~QS. 19:15~
Pembaca Lentera, saya berikan tawaran kepada kita semua untuk cerdas memahami dua pilihan “derajat tinggi” atau “Aliyyaa” ini.

Pilihan pertama bersirobok aksi sok keren aktifis femen si Alia dari Afrika yang ngakunya menyuarakan  aspirasi komunitas atheis dan feminis liberalis.

Tawaran kedua menemui Ibu Maryam yang mewakili representasi kaum ibu sekaligus mewartakan derajat mulia umat beragama. Mau memilih yang mana, itu hak kita.

Jika percaya suara Alia, berarti kita seiya untuk tidak beragama. Kita mendukung eksistensi sekte nudis ini yang hobi menelanjangi diri di tempat-tempat berkumpulnya masyarakat.

Kita bersepakat menyuarakan “pengusiran” Tuhan dari sendi-sendi kehidupan dunia ini.
Sekaligus kita juga yakin, bahwa derajat dan martabat kaum wanita semestinya diumbar saja kepada dunia lewat pertunjukan etalase kemaluan tanpa perlu malu-malu. Sebab menurut logika cekak Alia, agama terasa memenjara wanita dari kebebasan syahwatnya.

Jika kita lebih memilih ikut Ibu Maryam, tentu kita harus mau bersukarela beragama, walau aturannya kerap “memaksa”. Kita berhijab dalam mihrab dengan cara berpakaian rapat menutup aurat.
Kita bangun hubungan keintiman dengan Tuhan yang terejawantah dalam setiap amal aspek sosial dan lingkungan kemasyarakatan.

Kita tunjukkan marwah dan barokah kaum ibu beserta kodrat kewanitaannya sebagai rahim peradaban mulia insan. Sehingga ia perlu dijaga kehormatannya dari upaya penelanjangan dunia.

Ibu Maryam meneladankan kepada kita  bahwa kebebasan beragama justru diperolehnya ketika ia menjadi wanita, di mana ia bisa menjalani kodratnya sebagai manajer keluarga sekaligus mengepalai madrasah rumah.
Jika kita ikhlas menirunya dengan segala resiko tidak enak dan atau dicibir khalayak, berarti kita siap menempati derajat tinggi, sesuai makna “Aliyya” sesungguhnya.

Tentu saja saya bersepakat pada suara Ibu Maryam ‘alaihassalaam. Karena beliau terbukti sebagai “’Aliyyaa” sejati dengan melahirkan Al Mahdi, yakni Rasulullah Isa yang kita percaya sebagai utusanNYA.
Ibu Maryam patut kita turut sebagai figur wanita mulia dan teladan keluarga muslim/muslimah sedunia.
Sedangkan si Alia dari Afrika hanya bisa memamerkan kemaluan dan mendemonstrasikan protes kewanitaan lewat cara asusila.

Alih-alih percaya cita-cita mulia orang tuanya, Alia malah mendegradasi diri dengan mem-bully nama akhir “al mahdi” sebagai dagelan “iman” bersyahwat kebebasan dan pertunjukan budak spekulan kepentingan.
Ia gagal mencitrakan diri sebagai wanita merdeka yang bermartabat tinggi nan mulia di hadapan dunia dan penciptaNYA. Semoga saja kita semua tidak tertipu atau lugu meniru drama Alia versi XXX ini.
 

Pengikut