Ads 468x60px

Showing posts with label Sejarah SPMAA. Show all posts
Showing posts with label Sejarah SPMAA. Show all posts

Friday, April 25, 2014

SANTRI SAKTI

Sebelum santri masuk tahapan penggodokan Taruna TPU-PGA (Tenaga Penyayang Umat-Pegawai Gaji Akhirat) di Yayasan SPMAA, para mentor senior akan memberikan ujian kenaikan status kesantrian. Setiap santri calon Taruna TPU-PGA harus mampu membuktikan komitmen pengorbanan untuk kaul pelayanan keumatan serta “jati diri filantropi” yang dimiliki selama ia belajar beragama di ma’had Yayasan SPMAA.
Diantara ujian kenaikannya, santri harus pernah mengikuti beragam puasa sunnah yang diteladani Nabi. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Rajab, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa nisfu Sya’ban, dan puasa 6 hari Syawal. Selain itu harus sudah melaksanakan ikhtiar puasa  lainnya dan tirakat sehat sebagai bekal survival sosial saat tugas berangkat melayani umat.
Ujian kenaikan terberat adalah ketika santri diharuskan berpuasa selama 7 hari penuh. Di dalam proses berpuasa itu, kegiatan pembelajaran terus dilangsungkan secara padat jadwal, mulai dari jam 3 pagi hingga jam 11 malam.  Jeda sedikit hanya waktu sholat 5 fardlu, plus sholat dluha dan tahajjud. Pembelajaran maraton, ketat dan padat ini akan menguras energi fisik serta psikis santri.
Pada puasa hari ketujuh (hari terakhir), calon santri Taruna TPU diminta menuliskan menu makanan yang sangat mereka suka. Para mentor senior lalu menyediakan makanan pesanan tersebut. Saat jelang berbuka, menu yang masih dikemas tersembunyi itu dibaris di depan santri yang bersiap mengikuti prosesi upacara makan bersama.
Ketika adzan maghrib bergema, santri diperintahkan membuka kemasan makanannya. Sebelum makan terlebih dulu harus menemukan kertas pesan di dalamnya. Kemudian santri kudu baca pesan itu, dan harus segera melaksanakan isi perintahnya. Pesan di kertas ini berbunyi “TOLONG BERIKAN MAKANAN YANG PALING KAMU CINTAI INI, KEPADA ORANG YANG PALING KAMU BENCI”

Saat itulah santri-santri ini akan perang emosi dalam hatinya sendiri. Setelah diuji bersabar mengendali asupan makan, bertahan dalam aktifitas harian yang menguras mental dan kebugaran badan selama 7 hari penuh, kini menghadapi tes tidak biasa dalam hidupnya. 
Sebuah ujian menjadi “santri sakti” yang kudu berani memberikan makanan yang dicintainya kepada orang yang paling dibencinya di asrama. Peserta tes dipaksa menghadapi situasi perang antara dorongan memenuhi kebutuhan jasmani yang harus segera diasupi dan bergelut melawan bisikan kemarahan. 
Sebagai manusia basyar umumnya, dinamika hidup berdampingan di asrama, tentu macam-macam sifat yang dihadapi santri ini. Diantara komunikasi budaya mereka, pasti pernah bersinggungan rasa yang membuat tidak enak bicara dan hati kecewa.
Nah, potensi dendam hati antar santri ini yang harus dikikis habis. Walau proses pelaksanaannya bakal sangat menyakitkan perasaan, memunculkan ketidaknyamanan dan menghadapi keadaan serba kecanggungan.
Di tahapan ujian kesantrian inilah, para santri biasanya akan menangis karena harus memaksakan ketidaksiapan: perang melawan nafsu kebencian, membuang ego keakuan, melepaskan hirarki/senioritas kesantrian, dan mengalahkan setan kesombongan.
Para santri ini harus menihilkan rasa sebagai manusia biasa dan belajar meneladani figur Rasul/Nabi, di mana satu diantaranya adalah membalas kasih cinta kepada orang yang menyakiti hatinya.
Meski beberapa diantara mereka, awalnya menangis karena “terpaksa”, tangisan selanjutnya adalah karena kelegaan jiwa seiring turunnya rahmat taubat. Walau semula menyapa dengan kaku, rikuh dan malu, pada akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi secara cair, akrab dan terbuka.
Pelajaran yang didapat para santri adalah tentang betapa beratnya tuntutan menjadi figur santri yang sabar melayani sekaligus sosok penggembala umat yang harus kuat tirakat.
Inilah esensi sejatinya tirakat puasa menahan ego kemauan, bukan sekadar menahan haus dan lapar –seperti puasa fisik yang sudah jadi menu tradisi sehari-hari para santri. Itulah makna hakikat hadiah lebaran, dimana semua manusia saling bersalaman melepaskan ego perasaan dan mengalahkan nafsu kebencian yang dibisikkan musuh ghoib setan.
Pada tahap ini, santri baru belajar menapaki jalan menuju kawah penggodokan yang penuh ketidaknyamanan dan jauh dari kenikmatan profan. Kemenangan peperangan bagi para “santri sakti”, bukanlah “mengalahkan” sesama manusia, tapi “menyadarkan” ada musuh dalam hatinya. Musuh sejati adalah setan yang ghoib bersemayam di dalam hati dan pikiran semua manusia.
“Santri Sakti” adalah mereka manusia pembelajar agama yang mampu membukukan kemenangan melaui ujian memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang yang paling dibenci. Melalui uji kesantrian ini, kita semua yang mengaku manusia beragama harus berani berbagi sepiring makanan persaudaraan, segelas airmata permaafan, dan selangit bumi kasih ridho ampunan Tuhan.
Pembaca, hakikat Isro’ Mi’roj yang kita peringati kemarin, adalah menaikkan derajat iman ke posisi yang lebih berkelas lagi. Maka, bila kemarin kita masih suka makan enak hanya bersama keluarga, cobalah sekarang membagi makanan yang kita cintai kepada orang yang paling kita benci.
Saya harap kita semua bernyali mengikuti tes “Santri Sakti” ini dan kemudian lulus dengan hasil bagus. Semoga kita telah dicatat mencoba menapaktilasi peringatan Isro’ Mi’roj sungguhan.
Sebagaimana kita baca dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullaah Muhammad diperjalankan ke orbit mihrab langit, adalah sebagai “rekreasi ruhani” setelah beliau melewati ujian kepedihan yang sangat memprihatinkan.
Isro’ Mi’roj adalah kado kecil dari Allah SWT kepada Rasulullaah sebagai hadiah atas prestasi cintanya kepada manusia dan berani mengalahkan kepentingan pribadi beliau sendiri. Kita semua patut belajar menapaktilasinya, diantara ikhtiarnya  melalui uji nyali menjadi Santri Sakti.
110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
76 : 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
76 : 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Thursday, April 17, 2014

Benarkah kita Santri SPMAA ?

Sebagai santri SPMAA tidak ada itu, kata alumni / lulusan. Karena kita sebagai santri SPMAA itu sehidup-sekembali, jadi tidak ada istilah kalau sudah menikah/sudah punya anak/cucu lalu kita berhenti mengamal-sebarkan ajaran Bapak Guru ini.

Kita bisa disebut LULUS jadi santri Bapak Guru Muchtar kalau sudah wafat Khusnul khotimah, bersama beliau disurga. Itu baru disebut lulus. Kalau cuma sekedar pernah dakwah / sedekah ratusan juta, berpuluh-puluh hektar tanah, rumah  & mobil mewah, itu belum cukup untuk menebus 1 nikmatnya Allah berupa Mata atau Oksigen yg kita hirup sitiap hari. Apalagi yg kita andalkan agar bisa mendapat surga!.

Trus bagaimana agar kita bisa selamat wafat khusnul khotimah?

1. Kuat-kuatkan berdo'a dimanapun berada terutama diakhir malam (hanya semata-mata karena Allah)
2. Siap diremehkan
3. Banyak Bersedekah
4. Taat Pemimpin / Komando (Bapak Guru Waktu mau berangkat ke Malasia menunjuk Gus Hafidh, Gus Khosyi'in, Gus Glory, Gus Naim sebagai penerus. Dawuh Beliau sebelum ke Malysia: "sampean kabeh gak usah bingung, sedeh, susah. Selama kulo tinggal niki gus hafidh, gus khosyi'in, gus glory & gus naim iki seng nganteni / nerusno aku". (Indonesia "Sampean semua tidak usah binggung, sedih & susah. Selama saya tinggal ini Gus Hafid, Gus Khosyi'in, Gus Glory & Gus Naim yg Mengantikan / Meneruskan saya")

Itu semua adalah dawuh langsung dari beliau bapak guru Muchtar waktu beliau masih membersamai kita. Dari ke Empat kriteria itu kita tidak bisa hanya mengambil salah satu / meninggalkan salah satu kriteria itu, karena karena dari semua kriteria/syarat itu SATU PAKET, ngak bisa dipisah-pisah.

Jadi jika kita merasa dan ngaku jadi santrinya Bapak Guru ya, mari melaksanakan apa yg diprintahkan dan diteladani beliau selama ini.

Dalam hidup beliau ngak berani tidur di kasur selama santri-santri tidak pakai kasur, ngak berani makan lebih enak dari apa yg dimakan santri sehari-hari.

Hendak dibelikan mobil oleh putra beliau dan sudah DP uang, tapi apa kata beliau? "putraku semua, dulu abi bangun jembatan dari kayu jati untuk akses masyarakat ke sawah mereka, nah sekarang ko' roboh. Bagaimana kalau uang untuk beli mobil itu dibuat mbangun jembatan"



"Kedua" kata beliau, "Nanti kalau kita beli Mobil, takutnya santri-santri ngak jadi kepengen ilmunya allah yg dibawa abi ini, malah kepengen mobil. Ketiga, Nanti kalau kita beli mobil, kasihan tetangga kanan-kiri kita yg apalagi beli mobil, untuk sekolah anak saja sempoyongan, dunia ngak dapat, akhirat juga ngak. betapa kasihanya.

Akhirnya sampai beliau Bapak Guru Muchtar wafat beliau ngak punya mobil, padahal tujuan putra-putra beliau membelikan mobil itu agar kalau beliau diundang pengajian keluar daerah itu ngak usah nyewa mobil. 

Karena kalau dihitung-hitung dalam 3-4 bulan saja uang untuk nyewa mobil, sudah bisa untuk beli mobil sendiri. Apalagi beliau kalau diundang pengajian itu tidak pernah mau dikasih upah (amplop) apalagi pasang tarif pengajian! jelas tidak.

Tapi karena ada kebutuhan Agama, Bangsa yg lebih penting akhirnya lebih dipentingkan mbangun jembatan daripada beli mobil.

Nah sekarang kembali ke kita yg merasa santri SPMAA, sudahkah kita berusaha mencontoh Bapak Guru? sampai mana kita mengamalkan ajaranya?

Sekarang yg jadi tangisan gus-gus saat ini, itu kebanyakan santri justru ungulan-ungulan harta-benda, pangkat kedudukan Dunia. Rumah Mewah, Anaknya dibelikan Motor Ninja, adiknya dibelikan Fixion, Istrinya dibelikan Mobil dls.

Padahal teladan hidup kita Bapak guru Muchtar, Rumahnya terbuat dari sesek bambu, ngak punya motor/mobil lantas kita mencontoh siapa? para nabi mulai Nabi Adam-Nabi Muhamad juga dalam sejarah hidupnya juga selalu prihatin dan penuh kekurangan dan coba'an.

SIAPA YG KITA CONTOH???

Bapak Guru menjalani hidup seperti itu bukan ko' karena tidak punya uang loh! beliau tidak memuaskan nafsu dunia itu karena tau kenikmatan Akhiratlah yg 99% dunia cuma sementara (tipuan semata).

dan karena takut santri-santri beliau jadi kepingin kenikmatan dunia daripada ilmunya bapak guru. lha skarang kita ko' justru mengejar kenikmatan dunia, menyampingkan ajaran bapak guru!

Ayo prihatin, dan segera menaubatinya sebelum ajal tiba.




Saturday, March 29, 2014

Sekilas Tentang Sejarah Panti Ashan Pancasila


Pantiasuhan Pancasila merupakan suatu Lembaga Sosial yang didirikan oleh Beliau Bapak Guru MA. Muchtar sejak tahun 1961, yang diperuntu’kan untuk anak-anak usia sekolah. Dan beliau memberikan layanan ini secara gratis “Free Cash” mulai dari ilmu yang diberikan hingga makan-minum, tempat tinggal, dan kesehatan semua ditanggung oleh Bapak Guru MA. Muchtar.
Ini beliau lakukan karena beliau pada masa mudanya yang juga mondok dipesantren, dan disana belaiu sanggat menggalami kekurangan, buat beli baju, buku, kitab-kitab, makan dan ditambah lagi uang gedung. saat itu beliau berfikiran dan berangan-angan “kok gini yah susah & beratnya jadi orang pondo’an, suatu saat saya akan mendirikan suatu pondok yang Gratis Sepenuhnya bebas biaya” dan akhirnya atas kuasa dan izin Allah swt.
Belai dapat mendirikan suatu Pondok Pesantren yang Namanya SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) yang mana didalam pondok Pesantren itu sendiri terdapat “Pantiasuhan Pancasila & Panti Werdha Mental Kasih” dan alhamdulillahnya dan ini satu-satunya Pondok Pesantren di Indonesia yang santrinya di Pesantren ini tidak hanya Anak-anak / Pumada-pemudi saja, melainkan Mulai Balita sampai Lansia. Subhanawllah…..
Panti Asuhan Pancasila
Panti Asuhan Pancasila adala suatu panti sosial yang didirikan oleh beliau Bapak Guru MA. Muchtar sejak tahun 1961.
 

Pengikut