Ads 468x60px

Showing posts with label SPMAA DI DADAKU. Show all posts
Showing posts with label SPMAA DI DADAKU. Show all posts

Sunday, May 18, 2014

Praktik Pancasila Tanpa Kata


Di pesantren kami, ada beberapa fenomena istimewa yang patut disyukuri bulan Juni ini. Selain persiapan maraton untuk acara milad 50 tahun ma’had, banyak tamu datang bergantian hampir setiap hari. Diantaranya kami kerawuhan serombongan mahasiswa pasca sarjana perguruan tinggi negeri ternama dari Jakarta. Mereka bermaksud live in mengikuti tradisi santri selama sepekan dalam kegiatan bertitel “Belajar Mentoring Bersama Santri & Mahasiswa”. Hari kedua, bakda sholat subuh berjamaah. Seperti biasa jadwal rutin pesantren adalah pengajian tafsir Al Quran. Keenam belas calon magister yang berasal dari beragam budaya itu pun turut mengikuti majelis. Kebetulan kajian materi Al Quran sampai pada surat Al Maidah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim1-300x199.jpg
Menjadi istimewa dan khas Indonesia suasana majelis di pagi hari itu karena pesertanya bukan hanya santri, tapi diikuti juga oleh rekan-rekan mahasiswa yang berbeda-beda agama dan budaya tadi.  Dengan duduk bersila baris tertata, pengajian yang diikuti anak-anak, mbah lansia, remaja, pemuda dan mahasiswa S2, bersatu dalam majelis yang setara. Alhamdulillah selama hampir  90 menit semua peserta majelis pengajian dapat saling guyub berbagi pertanyaan dan jawaban.  Tanpa banyak retorika, wajah ramah Indonesia tersaji sesungguhnya. Di pagi itu, kesadaran kami seperti dilahirkan kembali oleh ibu pertiwi. Bahwa sesungguhnya awal muasal semua manusia adalah saudara sebangsa tanpa imbuhan SARA.

Indonesia, sebagai kumpulan ribuan bangsa dan budaya, nampak akur bertutur di pengajian pagi itu. Seorang santri yang duduk di sebelah saya berbisik, “Gus tahukah sampean, hari ini Indonesia memperingati kelahiran Pancasila?” Saya pun spontan melirik kalender yang menempel di dinding masjid. Ternyata memang iya, kalender menandai hari itu 1 Juni.  Tanggal yang dipercayai sejarawan sebagai lahirnya Pancasila di bumi Indonesia. “Alhamdulillaah,” bisik hati saya berkali-kali.

Mungkin inilah yang disebut ayyaamillaah. Hari-hari Allah yang pasti terjadi.  Tanpa direncana sebelumnya, kajian ayat tentang keadilan itu diikuti oleh wakil-wakil kaum Indonesia. Kami para santri mewakili mayoritas, dan rekan-rekan mahasiswa itu delegasi minoritas. Selain itu, para santri yang memang asalnya dari Aceh sampai Irian Jaya. Sungguh miniatur keberagaman Indonesia yang membersyukurkan potensi nusantara. Pasnya lagi, kami peringati Pancasila langsung praktiknya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim2-300x225.jpgLebih khusus menjadi renungan buat kami kaum santri yang mengaku beriman. Ayat 8 surat Al Maidah itu memberikan peringatan tegas atas perilaku sosial kita pada kelompok lain yang berbeda. Kajian tafsir yang diampu Gus Glory hari itu, mengurai makna keadilan dari sisi kemanusiaan. Berbicara fakta kritis keIndonesiaan dan refleksi kekinian. Sering, ketika tidak suka kepada madzhab yang berbeda atau identitas SARA lainnya, maka sikap negatif gebyah uyah menjadi lumrah. Di pihak kita selalu merasa benar saja, sementara mereka salah bahkan najis selamanya.

 Hingga pada norma sosial dan praktik kehidupan komunal, laku ketidakadilan kita paksakan berjalan.
Nalar sehat dikalahkan naluri jahat. Emosi dan benci lebih menguasai daripada kebaikan budi dan kejernihan nurani. Di satu moment kita meneriakkan keadilan, tapi di waktu lain kita menanamkan benih rasisme berlebihan. Kembali merenungi momen penuh rahmat di pagi hari itu. Kami para santri yang mewakili mayoritas kaum beriman nusantara, ditunjukkan kenyataan bahwa nilai adiluhung Pancasila sudah pas untuk mengelola dan menyatukan potensi raksasa bernama Indonesia.  Maka akan jadi anomali jika kami para santri belum bisa adil pada kelompok yang berbeda keyakinan. Karena perlaku tidak adil itu sama saja dengan penolakan terhadap kebenaran ajaran Al Quran.


Meski masih diramaikan perdebatan, saya meyakini kesesuaian ajaran Al Quran dan Pancasila beriring pada jalur cita-cita yang sama.  Al Quran mengajarkan ketauhidan, Pancasila menyahutinya di sila pertama. Al Maidah ayat 8 menyuruh kita kaum beriman berbuat adil dan Pancasila mengamininya di sila kedua. Seterusnya ayat tentang persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial juga termuat di sila Pancasila berikutnya. Pagi itu, tanpa terasa kami telah belajar mempraktikkan ajaran Al Quran sekaligus sila kedua dan terakhir Pancasila. Belajar memaknai nilai kemanusiaan dan keadilan melalui aksi kecil yang riil. Praktik menyikapi secara adil kehidupan Indonesia yang dilahirkan berbeda-beda rupa karakter dan keyakinannya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim3-300x207.jpgMelalui kegiatan sederhana dan bisa diikuti oleh semua, Pancasila bisa dipraktikkan kapan saja bila ada keseriusan niat menjalankannya.  Jangan sampai terjadi negara dan bangsa lain mulai meniru filosofi Pancasila, sementara kita justeru bergegas melupakannya. Berangkat dari pengalaman pagi itu, saya mengajak Anda untuk praktik pengalaman serupa. Memperingati kelahiran Pancasila tanpa buih kata, tanpa genit langgam retorika, tanpa riuh dihipnotis gegap gempita media. Tapi langsung praktik kehidupan sosial di lingkungan terdekat kita.
Karena jika tidak dengan cara demikian, maka Pancasila akan tertutup pelan-pelan di buku kenang-kenangan peradaban. Mungkin hanya akan dibaca sekali saat rangkaian upacara tujuh belasan. Teronggok maya dalam formalitas belaka tanpa makna.


By: Gus Adhim

Friday, April 25, 2014

SANTRI SAKTI

Sebelum santri masuk tahapan penggodokan Taruna TPU-PGA (Tenaga Penyayang Umat-Pegawai Gaji Akhirat) di Yayasan SPMAA, para mentor senior akan memberikan ujian kenaikan status kesantrian. Setiap santri calon Taruna TPU-PGA harus mampu membuktikan komitmen pengorbanan untuk kaul pelayanan keumatan serta “jati diri filantropi” yang dimiliki selama ia belajar beragama di ma’had Yayasan SPMAA.
Diantara ujian kenaikannya, santri harus pernah mengikuti beragam puasa sunnah yang diteladani Nabi. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Rajab, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa nisfu Sya’ban, dan puasa 6 hari Syawal. Selain itu harus sudah melaksanakan ikhtiar puasa  lainnya dan tirakat sehat sebagai bekal survival sosial saat tugas berangkat melayani umat.
Ujian kenaikan terberat adalah ketika santri diharuskan berpuasa selama 7 hari penuh. Di dalam proses berpuasa itu, kegiatan pembelajaran terus dilangsungkan secara padat jadwal, mulai dari jam 3 pagi hingga jam 11 malam.  Jeda sedikit hanya waktu sholat 5 fardlu, plus sholat dluha dan tahajjud. Pembelajaran maraton, ketat dan padat ini akan menguras energi fisik serta psikis santri.
Pada puasa hari ketujuh (hari terakhir), calon santri Taruna TPU diminta menuliskan menu makanan yang sangat mereka suka. Para mentor senior lalu menyediakan makanan pesanan tersebut. Saat jelang berbuka, menu yang masih dikemas tersembunyi itu dibaris di depan santri yang bersiap mengikuti prosesi upacara makan bersama.
Ketika adzan maghrib bergema, santri diperintahkan membuka kemasan makanannya. Sebelum makan terlebih dulu harus menemukan kertas pesan di dalamnya. Kemudian santri kudu baca pesan itu, dan harus segera melaksanakan isi perintahnya. Pesan di kertas ini berbunyi “TOLONG BERIKAN MAKANAN YANG PALING KAMU CINTAI INI, KEPADA ORANG YANG PALING KAMU BENCI”

Saat itulah santri-santri ini akan perang emosi dalam hatinya sendiri. Setelah diuji bersabar mengendali asupan makan, bertahan dalam aktifitas harian yang menguras mental dan kebugaran badan selama 7 hari penuh, kini menghadapi tes tidak biasa dalam hidupnya. 
Sebuah ujian menjadi “santri sakti” yang kudu berani memberikan makanan yang dicintainya kepada orang yang paling dibencinya di asrama. Peserta tes dipaksa menghadapi situasi perang antara dorongan memenuhi kebutuhan jasmani yang harus segera diasupi dan bergelut melawan bisikan kemarahan. 
Sebagai manusia basyar umumnya, dinamika hidup berdampingan di asrama, tentu macam-macam sifat yang dihadapi santri ini. Diantara komunikasi budaya mereka, pasti pernah bersinggungan rasa yang membuat tidak enak bicara dan hati kecewa.
Nah, potensi dendam hati antar santri ini yang harus dikikis habis. Walau proses pelaksanaannya bakal sangat menyakitkan perasaan, memunculkan ketidaknyamanan dan menghadapi keadaan serba kecanggungan.
Di tahapan ujian kesantrian inilah, para santri biasanya akan menangis karena harus memaksakan ketidaksiapan: perang melawan nafsu kebencian, membuang ego keakuan, melepaskan hirarki/senioritas kesantrian, dan mengalahkan setan kesombongan.
Para santri ini harus menihilkan rasa sebagai manusia biasa dan belajar meneladani figur Rasul/Nabi, di mana satu diantaranya adalah membalas kasih cinta kepada orang yang menyakiti hatinya.
Meski beberapa diantara mereka, awalnya menangis karena “terpaksa”, tangisan selanjutnya adalah karena kelegaan jiwa seiring turunnya rahmat taubat. Walau semula menyapa dengan kaku, rikuh dan malu, pada akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi secara cair, akrab dan terbuka.
Pelajaran yang didapat para santri adalah tentang betapa beratnya tuntutan menjadi figur santri yang sabar melayani sekaligus sosok penggembala umat yang harus kuat tirakat.
Inilah esensi sejatinya tirakat puasa menahan ego kemauan, bukan sekadar menahan haus dan lapar –seperti puasa fisik yang sudah jadi menu tradisi sehari-hari para santri. Itulah makna hakikat hadiah lebaran, dimana semua manusia saling bersalaman melepaskan ego perasaan dan mengalahkan nafsu kebencian yang dibisikkan musuh ghoib setan.
Pada tahap ini, santri baru belajar menapaki jalan menuju kawah penggodokan yang penuh ketidaknyamanan dan jauh dari kenikmatan profan. Kemenangan peperangan bagi para “santri sakti”, bukanlah “mengalahkan” sesama manusia, tapi “menyadarkan” ada musuh dalam hatinya. Musuh sejati adalah setan yang ghoib bersemayam di dalam hati dan pikiran semua manusia.
“Santri Sakti” adalah mereka manusia pembelajar agama yang mampu membukukan kemenangan melaui ujian memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang yang paling dibenci. Melalui uji kesantrian ini, kita semua yang mengaku manusia beragama harus berani berbagi sepiring makanan persaudaraan, segelas airmata permaafan, dan selangit bumi kasih ridho ampunan Tuhan.
Pembaca, hakikat Isro’ Mi’roj yang kita peringati kemarin, adalah menaikkan derajat iman ke posisi yang lebih berkelas lagi. Maka, bila kemarin kita masih suka makan enak hanya bersama keluarga, cobalah sekarang membagi makanan yang kita cintai kepada orang yang paling kita benci.
Saya harap kita semua bernyali mengikuti tes “Santri Sakti” ini dan kemudian lulus dengan hasil bagus. Semoga kita telah dicatat mencoba menapaktilasi peringatan Isro’ Mi’roj sungguhan.
Sebagaimana kita baca dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullaah Muhammad diperjalankan ke orbit mihrab langit, adalah sebagai “rekreasi ruhani” setelah beliau melewati ujian kepedihan yang sangat memprihatinkan.
Isro’ Mi’roj adalah kado kecil dari Allah SWT kepada Rasulullaah sebagai hadiah atas prestasi cintanya kepada manusia dan berani mengalahkan kepentingan pribadi beliau sendiri. Kita semua patut belajar menapaktilasinya, diantara ikhtiarnya  melalui uji nyali menjadi Santri Sakti.
110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
76 : 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
76 : 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Monday, April 21, 2014

Dhiror (Edisi Ramadhan)

Saat ini tadarus tafsir edisi Ramadhan kami sedang mengkaji Surat At-Taubah. Sejak mula ayat pertama, surat ini banyak bercerita tentang penegakan keadilan atas sikap musyrikin dan gambaran perilaku kaum munafiqin.
Ciri sifat munafiqin ini menjadi fokus keprihatinan para santri, karena sifat nifaq kerap hinggap menjangkiti komunitas muslim dan memecah belah persatuan iman. Diantara bukti upaya pengkhianatan munafiqin saat itu adalah membuat masjid tandingan.
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan Masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At Taubah : 107).
Di saat Rasulullaah Muhammad masih hidup, masjid dhiror dibikin oleh kaum munafiqin untuk menciptakan bencana kemudharatan, sebagai bentuk oposisi perlawanan, sekaligus pengembangbiakan virus jamaah ashobiyah. Namun alhamdulillaah seketika itu juga, atas bimbingan wahyu Allah dan waskita kepemimpinan Rasulullah, bahaya adu domba bisa dicegah secepatnya.
Empat belas abad sepeninggal Rasulullaah, ribuan masjid kini subur bersemi. Rumah ibadah ini menanti di tepi jalan arteri, di lurung-lurung kampung, di antara rumah-rumah warga desa, di belantara kota, di pinggir basement parkir, di sudut bantaran laut, di tengah gedung megah, didesain cetak biru nan mewah dan tegak berserak meliputi kolong bumi. Ada kala terasa bangga jika harganya dibangun bernilai sekian trilyun.
Untuk pembiayaannya, sebagian harus dimintakan proposal lewat acara amal, sebagiannya ditadahkan bantuan via sumbangan jalanan atau kotak Jum’atan. Sementara pembangunan masjid lainnya cukup menanti uluran dermawan uwak haji atau arisan tiban kaum politisi.
Seperti di negeri kita ini, masjid sudah menjadi bagian dari budaya identitas agama warganya. Di beberapa tempat, kita bisa tahu betapa pengamalan keislaman –seolah terlihat– tumbuh menguat. Begitu semangat hingga letak masjid dibangun berdampingan sangat dekat.
Saya dan para santri yang sedang mengaji tafsir masjid dhiror ini, hanya terbatas bisa membaca literasi terawangan mufassirin saja. Kami para santri, sebagaimana saya yakin pembaca juga, belum tahu di mana sesungguhnya lokasi masjid dhiror ini.
Namun logikanya, jika pada masa Rasulullaah hidup saja bangunan masjid dhiror itu sudah ada, maka saat ini keberadaannya mungkin ada. Karena kita tidak sedang dibimbing langsung oleh Rasulullah, maka untuk mengenali masjid dhiror ini, kita harus sangat teliti dan cerdas mendeteksi.
Pertanyaan yang berkelindan di seputar diskusi kami, diantaranya adalah “Apakah definisi dhiror itu berkaitan dengan ciri masjid yang gemar mengkhutbahkan perpecahan, berjamaah eksklusif ashobiyah, serta hanya berfungsi pewacana ritual agama tanpa bisa menyelesaikan persoalan fakta sosial umatnya?
Mungkinkah ciri masjid dhiror ini suka mencuci lantainya saat kita –yang bukan dicatat kelompoknya– tidak sengaja sholat di tempat mereka ??? ataukah masjid yang jamaahnya hobi memprovokasi telunjuk takfiri ???”
Sebagai pembanding benchmarking, saya mengajukan fakta kisah sejarah bahwa sewaktu Rasulullaah dulu, bangunan masjid Quba dibuat terbuka dan berbentuk sederhana. Masjid yang dibangun Rasulullaah pertama kali saat hijrah ke Madinah ini, atapnya pelepah daun kurma, berlantai pasir tanah, dan dindingnya cuma setengah.
Tapi walaupun konstruksi fisiknya bersahaja, manfaatnya serba guna dan barisan jamaah sholatnya terisi penuh dari dzuhur sampai Subuh. Masjid di jaman Rasulullah bermasyarakat sebagai tempat berlutut menangis sujud, mengikhlaskan kaul pelayanan, bukti totalitas iman ketauhidan, sarana penguatan mental spiritual, berbagi potensi amal sosial, dan penghuninya berlomba meraih derajat 99 % akhirat.
Kini kita dapat melihat sebagian masjid berkubah mewah, bernilai-jual mahal, dan berasitektur masyhur. Tetapi jamaah mentok setengah, berisi hanya sepekan sekali, penuh pas Idul Fitri atau hari Raya Haji.
Selebihnya, masjid sekarang kerap jadi perangkat kaum politis-oportunis untuk berebut pengikut, pamrih “amal sosial” modal electoral, menitipkan kepentingan pencitraan, atau sekadar wahana safari keagamaan untuk mendongkrak peluang keterpilihan. Masjid dialihfungsikan –oleh oknum cendekia agama kita– sebagai tempat uji kompetisi mengais rejeki 1 % duniawi.
Pembaca, tahukan Anda alasan kaum munafiqin membangun masjid dhiror di saat Rasulullah sudah punya masjid Quba? Ya, mereka bersumpah bahwa alasan pembangunan hanya untuk kebaikan. “In arodnaa illal-husnaa,”kata bualan mereka.
Sekalipun jelas bahwa efek dari masjid dhiror ini akan berdampak negatif, yakni perpecahan ikatan keimanan, mereka tetap ngotot berdalih demi kemaslahatan. Dan Allah menjadi saksi bahwa pendiri masjid dhiror ini sesungguhnya pendusta (QS. 9:107).
Bagaimana jika suatu saat kita mendengar selentingan kabar bahwa sebuah masjid dituduh dhiror? Tentu kita tidak boleh lekas percaya begitu saja, apalagi langsung terprovokasi menghakimi dengan tindakan perobohan. Karena selain kita harus menghormati tata hukum positif Indonesia, tidak ada yang betul-betul ahli memverivikasi identitas masjid dhiror ini.
Bahkan bisa jadi, pihak-pihak yang hobi memfatwa takfiri dan menyebar rumor masjid dhiror, justru jamaah masjid dhiror itu sendiri.
Sebatas kebolehan yang bisa kita lakukan adalah hati-hati dan mawas diri. Saya sampaikan pada para santri di akhir diskusi tadarrus surat At Taubah, bahwa kemungkinan definisi dhiror di jaman sekarang tidak hanya berupa fisik masjid saja. Tapi bisa jadi, dhiror telah bermutasi ke sikap pribadi-pribadi. Mereka para cendekia agama, saya dan juga para pembaca awam muslim semua, berpotensi tertular sebaran virus agitasi dhiror ini.
Diantara ciri perilaku pribadi dhiror yang patut kita prihatini, adalah membenarkan kekeliruan, ngotot ogah diingatkan, mengklaim monopoli satu-satunya keimanan, mudah menajis-kafirkan liyan, dan tingkah dakwahnya kerap memecah belah atau materi yang dibawa bertema propaganda SARA.
Peristiwa konflik sosial di Indonesia hingga intrik politik yang menggelora di Timur Tengah sana, menyisakan pelajaran bahwa peran masjid kini banyak berganti tupoksi. Masjid yang semula bermanfaat sebagai pengayom umat dan penyatuan iman, bermutasi menjadi pemecah belah akidah sekaligus pembibitan dendam kebencian antar keyakinan.
Saya dan pembaca semua tetap tidak tahu, yang mana masjid dhiror itu. Kita hanya bisa mengandalkan petunjukNYA dan berdoa semoga perilaku dhiror ini tidak menggerogoti kerukunan umat beragama di Indonesia serta persatuan muslim dunia.

Thursday, April 17, 2014

Benarkah kita Santri SPMAA ?

Sebagai santri SPMAA tidak ada itu, kata alumni / lulusan. Karena kita sebagai santri SPMAA itu sehidup-sekembali, jadi tidak ada istilah kalau sudah menikah/sudah punya anak/cucu lalu kita berhenti mengamal-sebarkan ajaran Bapak Guru ini.

Kita bisa disebut LULUS jadi santri Bapak Guru Muchtar kalau sudah wafat Khusnul khotimah, bersama beliau disurga. Itu baru disebut lulus. Kalau cuma sekedar pernah dakwah / sedekah ratusan juta, berpuluh-puluh hektar tanah, rumah  & mobil mewah, itu belum cukup untuk menebus 1 nikmatnya Allah berupa Mata atau Oksigen yg kita hirup sitiap hari. Apalagi yg kita andalkan agar bisa mendapat surga!.

Trus bagaimana agar kita bisa selamat wafat khusnul khotimah?

1. Kuat-kuatkan berdo'a dimanapun berada terutama diakhir malam (hanya semata-mata karena Allah)
2. Siap diremehkan
3. Banyak Bersedekah
4. Taat Pemimpin / Komando (Bapak Guru Waktu mau berangkat ke Malasia menunjuk Gus Hafidh, Gus Khosyi'in, Gus Glory, Gus Naim sebagai penerus. Dawuh Beliau sebelum ke Malysia: "sampean kabeh gak usah bingung, sedeh, susah. Selama kulo tinggal niki gus hafidh, gus khosyi'in, gus glory & gus naim iki seng nganteni / nerusno aku". (Indonesia "Sampean semua tidak usah binggung, sedih & susah. Selama saya tinggal ini Gus Hafid, Gus Khosyi'in, Gus Glory & Gus Naim yg Mengantikan / Meneruskan saya")

Itu semua adalah dawuh langsung dari beliau bapak guru Muchtar waktu beliau masih membersamai kita. Dari ke Empat kriteria itu kita tidak bisa hanya mengambil salah satu / meninggalkan salah satu kriteria itu, karena karena dari semua kriteria/syarat itu SATU PAKET, ngak bisa dipisah-pisah.

Jadi jika kita merasa dan ngaku jadi santrinya Bapak Guru ya, mari melaksanakan apa yg diprintahkan dan diteladani beliau selama ini.

Dalam hidup beliau ngak berani tidur di kasur selama santri-santri tidak pakai kasur, ngak berani makan lebih enak dari apa yg dimakan santri sehari-hari.

Hendak dibelikan mobil oleh putra beliau dan sudah DP uang, tapi apa kata beliau? "putraku semua, dulu abi bangun jembatan dari kayu jati untuk akses masyarakat ke sawah mereka, nah sekarang ko' roboh. Bagaimana kalau uang untuk beli mobil itu dibuat mbangun jembatan"



"Kedua" kata beliau, "Nanti kalau kita beli Mobil, takutnya santri-santri ngak jadi kepengen ilmunya allah yg dibawa abi ini, malah kepengen mobil. Ketiga, Nanti kalau kita beli mobil, kasihan tetangga kanan-kiri kita yg apalagi beli mobil, untuk sekolah anak saja sempoyongan, dunia ngak dapat, akhirat juga ngak. betapa kasihanya.

Akhirnya sampai beliau Bapak Guru Muchtar wafat beliau ngak punya mobil, padahal tujuan putra-putra beliau membelikan mobil itu agar kalau beliau diundang pengajian keluar daerah itu ngak usah nyewa mobil. 

Karena kalau dihitung-hitung dalam 3-4 bulan saja uang untuk nyewa mobil, sudah bisa untuk beli mobil sendiri. Apalagi beliau kalau diundang pengajian itu tidak pernah mau dikasih upah (amplop) apalagi pasang tarif pengajian! jelas tidak.

Tapi karena ada kebutuhan Agama, Bangsa yg lebih penting akhirnya lebih dipentingkan mbangun jembatan daripada beli mobil.

Nah sekarang kembali ke kita yg merasa santri SPMAA, sudahkah kita berusaha mencontoh Bapak Guru? sampai mana kita mengamalkan ajaranya?

Sekarang yg jadi tangisan gus-gus saat ini, itu kebanyakan santri justru ungulan-ungulan harta-benda, pangkat kedudukan Dunia. Rumah Mewah, Anaknya dibelikan Motor Ninja, adiknya dibelikan Fixion, Istrinya dibelikan Mobil dls.

Padahal teladan hidup kita Bapak guru Muchtar, Rumahnya terbuat dari sesek bambu, ngak punya motor/mobil lantas kita mencontoh siapa? para nabi mulai Nabi Adam-Nabi Muhamad juga dalam sejarah hidupnya juga selalu prihatin dan penuh kekurangan dan coba'an.

SIAPA YG KITA CONTOH???

Bapak Guru menjalani hidup seperti itu bukan ko' karena tidak punya uang loh! beliau tidak memuaskan nafsu dunia itu karena tau kenikmatan Akhiratlah yg 99% dunia cuma sementara (tipuan semata).

dan karena takut santri-santri beliau jadi kepingin kenikmatan dunia daripada ilmunya bapak guru. lha skarang kita ko' justru mengejar kenikmatan dunia, menyampingkan ajaran bapak guru!

Ayo prihatin, dan segera menaubatinya sebelum ajal tiba.




Industri Jasa Pencucian Dosa

Tulisan ini saya awali dengan mengangkat cerita yang berbeda nasib tokohnya tapi bertema serupa. Kisah pertama tentang kerabat dekat di desa saya yang lumayan duafakeadaan hidupnya. Ia seorang janda tua dengan 6 orang anak.
Sejak ditingggal wafat suaminya yang bekerja sebagai carik dengan penghasilan pas-pasan, ibu ini kian berat menghidupi keluarganya sehari-hari. Gali lobang tutup hutang sudah biasa dikerjakannya.
Sampai suatu hari sekitar dua tahun lalu, saya mendengar ia menjual lepas sawah satu-satunya —harapan investasi masa depan utama dan jaminan ketahanan pangan keluarga—kepada kerabatnya yang lebih kaya.
Mulanya saya bersyukur karena saya kira hasil penjualan properti pribadi ini akan digunakan untuk melunasi tanggungan hutang yang menggunung. Mungkin juga sisanya untuk modal investasi usaha ekonomi produktif yang dikelola keluarga. Ternyata tidak. Perkiraan saya meleset jauh.
Uang hasil jualan sawah itu disimpan untuk rencana ziarah haji ke Makkah. Konon, menurut hasil konsultansi dengan ahli agama yang dipercayainya, semua beban pinjaman hutang yang ia tanggung bisa “didoakan” dan “diberkahi” dari tanah suci. Plus semua dosa-dosa selama hidupnya akan diampuni dan diganjar surga jika ia berhasil sampai di sana.
Berharap baik akan terpenuhi janji ahli agama ini, ia pun rela melepas sawah satu-satunya —usaha produktif yang tersisa milik keluarga.
Namun tanpa dikira, kerabat saya ini tidak bisa begitu saja mengikuti proses hajinya dengan segera.
Selain harus melalui sistem arisan bergiliran diantara jamaah pengajian –semacam pola MLM–, uang hasil penjualan sawah mulai habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi, anak-anaknya berebutan meminta bagian warisan. Kloplah sudah.
Cicilan perjalanan haji yang ia titipkan lewat menantu keponakan yang dipercayainya sebagai orang pinter agama –bukan di rekening bank—kini mandeg. Hasil jual sawah yang awalnya berjumlah puluhan juta kini tersisa ratusan ribu saja.
Mimpi ke tanah suci untuk menghapus dosa dan meringankan beban hutangnya, kini terancam pupus. Sementara usaha satu-satunya sudah tergadai putus. Ibu janda tua kerabat saya ini baru menyadari keputusannya yang keliru itu dengan sesal tangis. Betul-betul tragis.
Apa yang menimpa kerabat ini juga menimpa tetangga saya di desa. Banyak dari mereka yang menjual sawah satu-satunya milik keluarga demi kuota kursi haji yang mesti ngantri 12-15 tahun lagi. Ongkos haji dicicil dengan iuran arisan.
Beberapa dari mereka nombok hutang pinjaman di lembaga jasa keuangan –yang pasti berlipat bunga cicilannya. Sebagian yang tidak kuat, kemudian menggadaikan sertifikat tanah sawah. Sebagian lagi sudah keburu wafat sebelum berhasil berangkat – kelamaan menanti antrian pemberangkatan???
Penyampaian informasi yang salah tentang prioritas ibadah oleh cendekia agama, jadi penyebab tragedi “konspirasi kemakmuran” ini. Maaf, jika kondisi ini –menurut kebodohan saya—manfaatnya baru menyapa pelaku niaga ziarah tour saja.
Riil fakta di kaum awam desa yang tahunya cuma gelar H, manut pada “iklan pengampunan+rukun kesempurnaan” yang dijanjikan oknum cendekia –merangkap pengusaha tour ziarah agama. Persis seperti yang dialami kerabat saya tadi.
Pada kisah yang serupa, banyak diantara sosialita kita –dari pejabat tinggi maupun selebriti—yang memanfaatkan perjalanan ke tanah suci sebagai “pembasuhan kekeliruan”.Epok-epok sesaat istirahat dari perbuatan maksiat. Bahasa satir prokem kita mengenalnya sebagai ciri taat “tomat” –berangkat TObat, pulang kuMAT.
Peluang ekonomi ini kemudian dikomersialisasi oleh oknum pebisnis jalanan sebagai industri bergelimang uang. Dapatlah rantai supply and demand. Mirisnya, oknum cendekia agama kita kerap terlibat mesra di dalamnya.
Muncullah perjalanan rombongan bareng ahli agama ini, duet ziarah suci bersama artis alim ini, rekreasi ruhani, wisata religi, dan paket-paket “tour safari agama” lainnya.
Pikiran cekak saya sering menggugat, “Lha wong kadang empat rukun wajib sebelumnya saja mereka tidak taat, kok sudah “diprovokasi” cepat-cepat berangkat? Lalu di mana letak nilai ritual suci ibadah bersyarat “manis-tatho’a” ini ? Apakah bisa kaum awam ini mau terbang mabrur dengan cara ngawur ?”
Pada kasus kerabat saya misalnya, akan lebih baik dan arif bijaksana jika tokoh agama memberikan tarbiyah tentang prioritas ibadah. Anjurkan mereka melunasi hutang, membayarkan zakat secara rutin, melaksanakan sholat fardlu ‘ain, puasa wajib dan sunnah, serta amal-amal sosial sebagai ejawantah syahadat ilahiah.
Karena itulah sebetulnya esensi haji, dimana pengorbanan dan ketiadaan kepemilikan properti pribadi akan diuji.
Dus, berangkat haji ke tanah suci, adalah dengan syarat ketat “bagi yang mampu”. Mampu setelah menunaikan seluruh kewajiban beramal, mampu secara jaminan finansial dan mampu melaksanakan tanggungjawab sosial. Ini yang kerap luput disampaikan para cendekia agama kepada umatnya.
Pada kasus kerabat saya misalnya, tokoh agama harusnya mewajibkan dia melunasi hutang dulu. Bukan malah “memprovokasinya” untuk ziarah ke Mekkah –dengan janji pengampunan dan makbul doa kemudahan melunasi pinjaman.
Saya menyeru pembaca, masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menggiatkan kaul pelayanan serta pengabdian kepada Allah –sebelum kita mantap diri ke tanah suci.
Misalnya “haji” sosial dengan cara muhibah amal menyambangi dan mendonasi para duafa di penjuru bumi pertiwi ini, saya rasa lebih berdimensi ilahi dan manusiawi.
Secara Indonesia, gerakan ijtihad “haji” muhibah amal sosial ini akan membawa dampak bagi masyarakat banyak dan lebih berasa manfaat langsungnya.
Mungkin cara pandang alternatif “haji” ini terlalu ekstrim “kanan” bagi sebagian rekan, atau malah saya difatwa blasphemy-sesat-gila. Tetapi setidaknya saya harus berkaca pada kisah tukang jahit sepatu yang secara fisik “gagal” menginjakkan kaki di tanah suci.
Meski tidak di tanah suci, namun karena ia ikhlas menyedekahkan semua uang simpanan calon biaya pemberangkatan hajinya untuk mengobatkan tetangga yang sakit, ternyata ia malah dicatat malaikat sebagai Haji Mabrur.
Pembaca, saya tidak berani mencela kesakralan ritual religi, apalagi menyalahi rukun haji. Pelaksanaan haji tetap wajib bagi setiap pribadi dan penting untuk diikhtiari. Setiap muslim seperti saya, pasti berkeinginan menyambangi Baitullah yang mulia,
Kapasitas tulisan saya hanya membuka wacana bagi pelurusan pemahaman kita semua tentang nilai prioritas ibadah yang perlu diejawantah. Semoga saja tidak terjadi prasangka “bisnis suci” ini sebagai modus ekonomi saja atas tata niaga waralaba agama.
Mari kita berhati-hati menyikapi ajakan yang menggampangkan makna perjalanan haji nan suci ini. Karena kesembronoan penafsiran dan kepedean berperan jadi “tuhan” yang menjanjikan obral ampunan bisa berakibat sangat mencelakakan.
Jika memang sekadar begini “pemelintiran” makna ritual religi ke tanah suci –yakni kepastian pengampunan dan kemudahan doa-doa keduniawian– maka afdolnya suruh saja itu pelaku korupsi arisan pergi haji dan dosanya pasti digaransi terampuni.
Seterusnya kekeliruan akan kian merajalela atau berjatuhan korban keawaman akibat marak fenomena “industri jasa pencucian dosa” yang manis iklannya digencar getok tular para oknum cendekia agama.
Saya hanya berharap-harap doa, semoga anomali dan ironi yang membawa korban seperti kerabat saya tadi –akibat salah memahami prioritas ibadah serta modus ekonomi bisnis ziarah religi–, tidak terjadi lagi di bumi Indonesia ini. Aamiin ya robbal alamin.

Thursday, April 10, 2014

Monday, January 13, 2014

Kenikmatan DUNIA

Sumber Pendidikan Mental Agama Allah
arsyispmaa

Bapak Guru MA.Muchtar pendiri Pondok Pesantren SPMAA seringkali dawuh dan ngewanti-wanti (Bahasa Jawa) kepada santri SPMAA untuk tidak terbujuk kesenangan, kemewahan DUNIA yang cuma 1%, dalam artian masih banyak susahnya daripada senangnya dalam hidup ini. Baik itu yg kaya, yg miskin, si tampan/si cantik semuanya masih merasakan berak, kencing, dihina, sakit, tua, dan mati. Dibanding dengan kehidupan di Akhirat yg 99% yg sibuk kesenangan, kemewahan Akhirat yg tanpa Mati, tua, sakit, dihina orang dls. Sabda Rasulullah Muhammad SAW. "Dunia ini ibarat sayap nyamuk/bangkai telinga kambing" dilain waktu beliau juga bersabda sembari mencelupkan jari ke laut"Dunia seisinya ini bagaikan tetesan Air Laut, Sementara Air Laut inilah Akhirat" Maka dari penulis mengajak kita semua untuk bersama-sama mengejar kesenengan-kemewahan Akhirat yang 99%
 

Pengikut