Ads 468x60px

Showing posts with label Pengajian Umum. Show all posts
Showing posts with label Pengajian Umum. Show all posts

Saturday, February 21, 2015

Sama-sama Bahagia Tetapi Berbeda Rasa

Kenikmatan yang dimiliki Allah ada 100 %, kalau di prosentasikan. Lalu dari kenimatan 100% tersebut semua adalah untuk makhluknya. Ada cerita Nabi Muhammad dalam Hadis: saat beliau berada di lautan, beliau mencelupkan jari telunjuk ke dalam laut lalu beliau menggangkat jari tersebut, ada air yang menempel dijari beliau, air tersebut menetes jatuh ke dalam lautan yang sangat luas. Lalu beliau bersabda : tetesan air dari jariku tadi ibarat dunia sedangkan air laut adalah akhirat.

Dari cerita yang terbukukan dalam hadis tersebut diatas maka sebenarnya prosentasi akhirat dan dunia sangat timpang, tidak sebanding dan tidak bisa diprosentasikan dalam angka, tetapi untuk memudahkan hitungan dari 100% kenimatan yang di miliki Allah: maka 99 % adalah akherat dan 1% ditaruh didunia.

Qs. Ar-Ra'd (13) : 26  “ Allah meluaskan rezeki dan menyempitkanya bagia siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akherat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”

Kenikmatan 1 % yang di taruh di dunia ini, pun tidak hanya untuk manusia saja melainkan harus di bagi rata antara manusia, hewan dan tumbuhan. Dan lagi, yang perlu dicatat dengan huruf besar dalam otak kita, sesungguhnya setelah di bagi rata, bagian untuk manusia juga dibagi lagi!!!. Untuk siapa lagi ?, lalu kita (Orang beriman) dapat seberapa???

Al-Baqoroh (2) 126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negri ini, negri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Pertama, jatah manusia tersebut dibagi antara : 1. Manusia yang (ngakunya) beriman, 2. Manusia beriman, 3. Manusia yang kafir,  4. Manusia yang tidak mengakui  adanya tuhan  5. Manusia yang memplokamirkan dirinya tanpa agama, dls. Kemudian pertanyaan Kedua, kita dapat berapa? kita dapat 99%.

Iya, kita di jatah dari Allah 99% tapi diakerat. Tapi jangan terlalu risau dan bersedih hati dulu, karena di duniapun kita sebenarnya juga memiliki jatah rasa bahagia/ketentraman yang sama dengan orang kafir, tetapi kebahagiaan/ketentraman dunia yang kita rasakan itu berbeda dengan milik orang kafir. Sehingga kalau di total maka 100% semua menjadi milik kita

Seperti apa bentuk kebahagian tersebut?. Iya, orang mukmin mendapat kenikmatan Allah 100%, di dunia 1% dan 99% di akherat. Lho, bukannya dunia adalah penjara/neraka bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir??? Benar, itu memang tidak salah

Al-An'am (6) : 44 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong, maka ketika itu ia terdiam putus asa.”

Salah memaknai Bahagia/kesenangan

Ali-Imran (3) : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Al-An'am (6) : 53 “Dan demikianlah telah kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidaklah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)”.

Bentuk kebahagian/ketentraman yang dirasakan orang mukmin tersebut adalah dengan bisa merasakan nikmatnya bertugas, mensyukuri dan menikmati* setiap rizki yang diberikan Allah dengan bersedekah dan tanpa rasa memiliki harta/rizki tersebut, ketenangan/ketentraman dengan berdzikir, klimaks beribadah dan enjoy menjalani masa-masa ujian. Merujuk pada beberapa kisah dan FirmanNya berikut:

Ar-ra'd (13) : 28 “(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Lagi, ingat bagaimana saudara kita Kakak Bilal, masih tetap merasa bahagia tentram dengan cambukan yang bertubi-tubi dalam tindihan batu besar dalam tubuhnya.

Itulah kenimatan yang dirasakan orang mukmin selama didunia, bukan tentram/bahagia dengan menuruti hawa nafsu bejat, membebaskan kepuasan obesi duniawi dengan bermewah rumah, menumpuk harta, koleksi property, berlimpah makanan dan buah, tentram dengan anak-anaknya yang ganteng cantik mapan duniawinya, tamasya bersama keluarga tiap bulanya, dll.
Setelah bisa “menikmati” hidup berat dalam perjuangan dan merasa bahagian dalam “penjara” dunia (sekalipun dimata orang tampak berat, tidak terhormat di masayarakat, tidak enak, tidak memiliki masa depan). Kemudian di akherat mendapat 99 % nikmatNya. Amin

At-Taubah (9) : 20-22  “Orang2 yang beriman & berhijrah di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan…Tuhan mereka mengembirakan mereka dengan memberi rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal…Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yg besar.”

Kalau pembaca ingat dengan istilah : fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah. Begitulah sebenarnya penafsiran yang bisa dibilang tepat sasaran. Dunia bisa bahagia dan akherat semakin bahagia. Tidak seperti yang di pahami banyak orang selama ini dalam memaknai ayat tersebut. Dengan memaknai dunia enak menuruti hawa nafsu, puas bermewah dunia (hanya dengan shadat, sholat, puasa, zakat, haji) & merasa mendapat surga. hehehehe, penak tenen!!!

Sunguh tidak begitu, karena teladan dan cerita-cerita orang terdahulu begitu berat dan sakit penuh pengorbanan dalam mengapai ridho Allah dan surga. Harus dilalui dengan : siap dibakar seperti Nabi Ibrahim tetapi beliau tetap bahagia sekalipun berat, tidak pernah tenang karena hidupun selalu dalam kejaran musuh kisah Nabi Isa, hudup penuh siksa dalam kisah Nabi  Yahya, siap kekurangan harta dan makan, dicaci dimaki tetap sabar dan menikmati setiap ujian tantangan itulah Nabi Muhammad. Tetapi beliau-beliau tidak pernah mengeluh bahkan tetap merasa bahagia.

Al-Baqoroh (2) : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Kembali pada titik awal, bagaimana bisa?, lalu bagaimana cara untuk mendapat bahagia dunia versi para nabi menikmati masa “penjara” dunia ini??

Bisa karena : Kebahagian, kesusahan, kesedihan, kegembiraan, itu semua adalah urusan rasa hati dan perasaan. Sedangkan perasaan dan rasa hati adalah milikNya. Allah menjadikan orang beriman tetap merasa bahagia sekalipun dalam pandangan kebanyakan orang; berat untuk dijalan lalui. Sekalipun para Nabi dan syuhadak terdahul tampak dalam lahir berat, pedih, susah, sakit tetapi suasana dalam hati di isi dan diganti Allah dengan kesejukkan, kebahagiaan dan ketentraman…. Allah Yaa Karimm…

Begitulah arah jalan bagi santri-santri SPMAA dalam pengamalan perintah Agama, sekalipun tampak dari luarnya begitu berat dan susah (seperti hidup yg ndak mungkin dijalani zaman ini) tetapi bagi yang benar-benar santri SPMAA tetap enjoy dan bahagia, karena dalam hatinya sudah dipasang rasa tersebut.


By: Gus Arbi

* baca juga tulisan berjudul : Memaknai Syukur Fersi SPMAA

Friday, November 28, 2014

Berkebun Bibit Baik


oleh: Gus Adhim

Anak kecil itu biasa dipanggil Al. Nama lengkapnya Alfa Alfin Salvatore. Usianya belum genap 5 tahun. Saat itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Al senormal anak seusianya yang suka bermain dan menjalani dunia kecilnya. Bedanya mungkin pada pilihan Al dalam memaknai kehidupan dan ketika bicara cita-cita.

Misalnya saja pada usia sedini itu, ia sudah memulai puasa sunnah Nabi Dawud (sehari puasa, sehari jeda), puasa Senin-Kamis, dan bahkan puasa terusan. Pada bulan Rajab seperti sekarang ini, Al akan ikut puasa tiga puluh hari penuh. Ramadhan sudah pasti tunai full sebulan tanpa dipaksa-paksa.

Saat saya tanya tentang perilaku uniknya itu, ia menjawab dengan kalimat sepotong-sepotong. Intinya, Al ingin mengikuti jejak sunnah para Nabi sebagaimana dongeng yang ia dengar dari Abi dan Ummi. Juga seperti yang sering ia lihat di film animasi Islami. “Aku mau ikut Nabi Dawud,” katanya dengan wajah berbinar.

Kisah para Nabi, terutama Nabi Dawud yang suka berpuasa ternyata mengilhaminya. Sebagaimana dikisahkan, atas pertolongan Allah, Nabi Dawud yang saat itu anak-anak berhasil mengalahkan raja Jalut yang tubuhnya jauh lebih perkasa.

Selain istiqomah berpuasa sunnah, sholat tahajjud dan dluha juga rutin dilakukannya. Menariknya, tirakat itu ia lakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena disuruh orang tuanya. Saya berfikir pastilah fenemona Salvatore ini karena pola pendidikan yang dikelola oleh keluarga.

Ternyata memang benar. Selama Al masih dalam kandungan, Abi dan Ummi hampir setiap hari berpuasa. Ditambah bacaan rutin Al Quran dan Shirah Nabawiyah. Plus amalan seperti tahajjud, dluha, dan terutama banyak-banyak bersedekah melayani sesama manusia. Masa kandungan Al ini total ditirakati.

Galibnya ibu hamil, umumnya akan diasupi sepenuh-penuhnya gizi ragawi. Supaya bayi yang lahir nanti sehat dan bersalin normal. Tapi ibu Al berbeda. Ummi Nuriyati, demikian beliau dipanggi, justru mempuasai kandungannya. Gerakan “senam hamil” beliau tempuh melalui rutinitas amalan sholat fardlu dan sholat sunnah.

Semua tips hamil sehat yang Ummi Nuriyati pilih, berbalik dari kebanyakan ibu-ibu hamil lainnya. Ummi memilih tirakat yang bagi orang mungkin sangat berat. Ikhtiar Ummi nyatanya sukses. Salvatore kini jadi generasi rabbani. Selain terus menjaga amalamal sunnahnya, prestasi di sekolah juga membersyukurkan. Beberapa waktu lalu ia sudah bisa demo instalasi Linux Sabily duet bersama Onno W. Purbo pada acara Seminar Nasional Madrasah Open Source yang digelar sekolahnya.

Fenomena Al dan ibunya yang memulai proses pembelajaran kehidupan sejak dini seperti berkebun bibit baik. Untuk menghasilkan tanaman bermutu dibutuhkan bibit yang bermutu juga. Prosesnya mesti dijalani dengan teliti, susah dan penuh keprihatinan.

Ummi Nuriyati ingin Al menjadi anak yang baik di tengah anomali dunia saat ini. Ketika pemberitaan kerusakan moral bangsa yang kian mengkhawatirkan, keluarga Al optimis sekuatnya. Diantaranya berikhtiar melalui pembibitan generasi yang waras di tengah dunia yang makin gila.

Salvatore, Ummi Nuriyati dan pola pembibitan keluarganya mungkin aneh dan asing bagi kita. Karena cara yang ditempuhnya tidak umum. Tapi justru saya melihat itu sebagai penyimpangan positif yang perlu ditiru. Maka melalui tulisan ini, saya juga mengajak para keluarga Indonesia mulai ikhtiar berkebun bibit baik. Jadikan rumah sebagai pendidikan madrasah. Keluarga adalah sekolah sesungguhnya.

Namun yang perlu diingat, proses berkebun juga banyak gangguan. Ada ulat, hama, dan tanaman pengganggu lainnya yang berkerumun di sekitar dan bisa merusak bibit itu. Berkebun bibit generasi rabbani yang berciri jujur dan berani, pun beresiko. Bisa jadi di tengah jaman edan sekarang, pilihan berkebun itu dianggap lucu. Karena tidak serupa arus utama.

Bahkan mungkin dalam prosesnya, kita akan diasingkan dan terusir sebagai martir. Sebagaimana kasus yang dialami Ibu Siami dan anaknya, Al, di Surabaya. Keluarga ini membibitkan sikap jujur tapi malah hancur karena anomali masyarakatnya.

Sebagaimana para Nabi yang menjadi agen pembibitan “positive deviance” di tengah umatnya yang rusak total, kita mungkin akan mengalami perlawanan dan resistensi yang menggegiriskan dari arus utama jaman. Mungkin kita yang waras justeru dianggap gila. Di sini konsistensi dan ketahanan fisik mental keluarga kita diuji. Kekuatan doa menjadi penguat semangat sekaligus benteng penahan tekanan.

Inspirasi dari kesuksesan Ummi Nuriyati memproses bibit-bobot-bebet Salvatore, akan menjaga kita tetap berharap. Seburuk apapun kondisi umat saat ini, tetap harus ada usaha yang optimis kita ikhtiari. Pilihan yang ideal adalah melalui pendidikan keluarga.

Jadikanlah keluarga rumah kita sebagai kebun pembibitan anak-anak yang kita persiapkan untuk mengubah peradaban, sesulit apapun tantangannya. Jika dunia masih lama usianya, akan tetap dibutuhkan kehadiran Ummi Nuriyati, Salvatore, Ibu Siami dan Alif yang dapat memupuk asa kebangkitan negeri ini.

Berkebun bibit baik akan jadi asing dan aneh. Kita yang baik mungkin akan terkucil jadi minoritas karena itu berbeda dari pilihan mayoritas yang buruk. Setidaknya itu terbukti kondisi dunia saat ini.

Pesan saya, Bismillaah bertahan dan bersiaplah dari segala intimidasi, tekanan dan perlawanan jaman. Ketika berbuat baik dan kita malah dikucilkan, ingatlah penghiburan sabda Nabi, “beruntung dan berbahagialah wahai orang yang asing”. Fa tuba lil ghurabaa.

I want to be the minority,
I don’t need your authority,
down with the moral majority
cause I want to be the minority
(Minority, Greenday)

Sumber:
http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=2de68a7c5e3db6a836ab8f5f109416b8&jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e

Thursday, June 12, 2014

Gelora, Cerita Adu Dogma

by 

Potret karya anak-anak pengungsi yang diterapi psikososial. Pada kertas mereka bercerita tentang tangis derita atas nasib rumah dan keluarga mereka.
Foto & Teks: Gus Adhim
“Perang !” teriak kedua kubu yang berseteru itu. Mereka menyeruput dogma serupa, tentang sejumput kesalahan yang harus dikafirkan. Lupa mengkafirkan dosa dirinya. Katanya semangat jihad, enggan mengaku keliru. Mudah mengintip kuman di seberang lautan, luput melihat gajah yang menempel di dekat jidat.
Pada akhirnya tidak ada yang jadi pemenang, karena keduanya berlumuran tangis derita korban. Tinggallah, musuh ghoib syetan yang kini bertepuktangan karena sukses mengadu nyawa manusia.
Relawan SANTANA-SPMAA menghela terapi trauma untuk survival anak, wanita dan ibu lanjut usia.
Anak, wanita dan ibu lanjut usia adalah survival rentan yang kerap mengundang keprihatinan. Mereka terpaksa menanggung lara trauma akibat pilihan dogma keluarga dan provokasi para cendekia. Pada coretan visual dan gambar mural, mereka tumpahkan unjuk emosional yang sentimental.
Husin ingin bergembira lewat cerita gambarnya
“Namaku Husin,” karya mural anak psikososial
“Namaku Husin,” tulis anak ini yakin. Mungkin ia tidak sekadar menulis, tetapi ia ingin mengurai detil cerita tentang sebuah dogma, tentang keluarganya yang menamainya seperti sang idola. Di sampingnya, merah putih bendera kita melirik penuh tanya, “ada apa dengan nusantara? Kenapa hanya karena beda nama dan hasutan kepentingan, semua saling tawuran?”
Di sudut tangis dan tawa mereka, merah putih tetap hadir menyapa.
Seorang nenek renta mengecap bencana akibat pilihan dogma yang diyakini keluarganya
Di hamparan arena gelanggang olahraga, mereka saling bertindih perih, mengecap resiko madzhab yang dianggap berbeda dengan arus utama. Tertidur membujur, seorang nenek melepaskan kepenatan setelah bertahan dari ancaman pengusiran dan pembunuhan. Di sudut lain, seorang ibu bersama anaknya melamun nasib.
Apakah mereka sengaja diadu dogma kaum cendekia?
Ibu ini, suaminya turut jadi korban meninggal dunia.
Para pengungsi lesehan ini beralaskan kesemrawutan di antara spanduk bertuliskan “Selamat Bertanding”, “Fair Play”, “Junjung Sportifitas”. Seolah nasib mereka memang sedang diadu nyawa, dijadikan alat niaga, diperalat waralaba agama oleh para cendekia.
Bocah kecil setengah bugil membersihkan kotoran di kamp pengungsian.
Prasasti nama & petugas bhayangkara, apakah mereka melindungi hak asasi anak ini?
Nampak bocah kecil setengah bugil berlari menenteng pengeruk sampah. “Ayo nak bersihkan negeri ini dari jelaga politisi dan makelar ideologi,” bisik saya di kupingnya.
Sementara di luar arena, anak kecil lainnya sedang bersandar meraba sebuah prasasti nama yang mestinya bisa mengayominya. Tetapi, ia belum mendapati hak dasarnya ini.
Ibu dan anak, survival rentan dari korban kebencanaan.
Menjadi pengungsi di negeri sendiri, mengiba derma dunia
Guyonan satir sebagian (besar) rekan-rekan cendekia agama (baca: nadliyin) di madura jika ditanya, “Masyarakat madura agamanya apa?”, maka mereka akan jawab, “99 % muslim.” Misalnya kita kejar, “Lha yang 1 % itu agamanya apa?” “Muhammadiyah !” jawab mereka mantap.
anekdot kita bikin tertawa, tetapi buat mereka bisa jadi petaka dan kehilangan nyawa keluarga
Meski anekdot itu bisa membuat
mural warna dan cerita dogma.
kita sejenak tertawa, tapi di tingkat masyarakat bawah sana, ejawantah guyonan itu bisa bikin putus kepala, carok antar keluarga dan tawuran sesama desa. Mirisnya, ini kerap dipicu para cendekia yang harusnya berkompeten menggembala konstituen.
Di rumah Indonesia yang berasas Pancasila dan Berketuhanan Yang Maha Esa, perbedaan bisa memicu perselisihan hingga konflik pertempuran. Sedihnya, semua diatasnamakan membela kebenaran, mempertahankan keimanan. Sementara kita berlaga penuh peluh dan bersimbah darah, di luar sana, media manca negara menertawakan Indonesia. Mereka gunjingkan parodi dan anomali kekerdilan bangsa ini, menyoraki perang saudara serumpun kita.
Rumah Indonesia berkelir bersih merah putih
media mancanegara menggunjing budaya warta kita yang melulu berumus “bad news is good news”.
Sengaja saya menulis “korban bencana”, dan bukan “korban konflik agama”. Karena saya tak berani berspekulasi di sini. Cukuplah saya tahu, bahwa mereka awalnya dari satu bacaan sholawatan, serumpun rukun cara tahlil dan norma sub-kulturnya. “Agama” mereka nyaris serupa. Hanya, karena disulut “sesuatu”, mereka dikondisikan berjibaku. Mereka, adalah korban bencana adu dogma.
Pada tulisan ini, saya berusaha imparsial dan netral sebagai konsekwensi pekerjaan sukarelawan yang saya emban. Saya membela manusia, tidak hanya memihak satu saja diantara mereka. Karena bagi saya, mereka semua adalah serumpun bangsa tanpa sekat sektarian SARA.
Silakan dicatat, “isyhaduu bi anna muslimiin.” Saya warga Indonesia pembelajar muslimNYA yang pasrah menyembah dan berupaya tidak terbelah dikotomi madzhab sunni-syiah. Saya hanya kepingin melihat manusia seluruh dunia –khususnya Indonesia– dalam sebentuk tubuh utuh, bukan ceceran organ yang saling tarik menarik dan mencerai-beraikan.
Akhirnya, memang perlu intensifikasi doa plus pendekatan ProvoKasiH & MotivAsiH kita semua kepada para cendekia supaya mereka tidak loba dalam berbisnis “waralaba agama”.
Sekaligus diprioritaskan aksi pencerdasan kaum bawahan, agar mereka tidak lagi menjadi korban penipuan “pecah belah ibadah” , “undian ganjaran” dan “karapan iman”.
Demikian kilas pengalaman saya dari hasil berdinamika dengan sedulur seIndonesia, plus Rabu (29/8) kemarin sempat “macak relawan+wartawan”, menengok keadaan pengungsi bencana dikotomi syiah-sunni di arena gelanggang olahraga (Gelora) kota Sampang-Madura.
Semoga dogma tidak beralih fungsi menciptakan dikotomi besi yang memecah belah kesatuan beribadah.

Tuesday, June 3, 2014

17 TAHUN HIDUP TANPA UANG

www.spmaakita.blogspot.com - Uang, uang dan uang..(bahagia tanpa uang)
Sebuah benda yang membuat banyak orang ingin memilikinya. Uang bisa membuat manusia jadi tamak. Uang bisa membuat seseorang 'menginjak-injak' orang lain. Bahkan uang bisa membuat seseorang membunuh orang lain. Ya.. itulah sisi gelap uang. Hampir tidak ada yang gratis di dunia ini, semua butuh uang. Kadang uang menekan hidup, karena itulah wanita ini memutuskan untuk hidup tanpa uang.

Aneh memang, di zaman yang serba gila kekayaan dan silau harta, Heidemarie Schwermer yang hampir berusia 70 tahun justru memutuskan untuk meninggalkan hidup mewahnya. Wanita yang berasal dari Jerman ini memulai petualangan saat usianya masih 50 tahun. Heidemarie meninggalkan pekerjaan sebagai psikoterapis dan yakin bisa hidup tanpa uang. Kisahnya bahkan dibuat film dengan judul Living Without Money, dilansir dari situs Business Insider.
Keluargaku Kaya, Tetapi Miskin


Kisah ini bermula saat keluarga Heidemarie mengalami kebangkrutan di Perang Dunia II sekitar tahun 1940. Dengan jerih payah ayahnya yang seorang pengusaha kopi, keluarga mereka kembali berjaya dan kaya raya. Tetapi.. ada pergolakan batin saat keluarga Heidemarie mempertahankan kekayaan sekuatnya. Heidemarie muda berpikir, apakah keluarganya sungguh kaya atau sebenarnya miskin secara batin?

Heidemarie akhirnya meninggalkan kehidupannya yang bergelimang harta, dia bergabung dalam perkumpulan penduduk lokal. Perkumpulan itu akan membuat seseorang bekerja untuk mendapatkan barang, bukan uang. Heidemarie bekerja sebagai pengasuh anak hingga tukang bersih-bersih. Semua dia lakukan dengan gembira. Heidemarie bahkan tidak keberatan memberikan rumahnya secara cuma-cuma pada kerabatnya.
"Saya rasa itulah saat yang tepat, saya memberikan rumah dan semua yang saya miliki," ujar Heidemarie. Semua barang diserahkan, kecuali barang pribadi yang memiliki kenangan, semua dimasukkan dalam koper kecil.

Bahagia Hidup Dalam Kesederhanaan

Walaupun hanya mendapatkan bayaran berupa barang, Heidemarie tidak keberatan menyumbangkan baju yang didapat untuk orang lain. Sementara itu orang lain secara ajaib sering membantu Heidemarie, dia menyebutnya mukjizat, bukan sumbangan semata. "Setiap hari saya melihat banyak keajaiban di dalam hidup saya," ujarnya.
Banyak memberi, banyak menerima, itulah kata-kata yang sering diucapkan Heidemarie. Bertahun-tahun hidup tanpa uang tidak selalu mulus, kadang Heidemarie harus mencari sisa sayur segar di pasar. Walau begitu, Heidemarie tidak mau disebut tunawisma, karena dia bahagia dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Perjuangan hidup Heidemarie membuatnya dipercaya untuk melatih mahasiswa ahli lingkungan BUND Youth dari Muenster. Ada beberapa orang yang mengkritik gaya hidup Heidemarie, tetapi baginya, kritikan itu bisa diterima walaupun menyakitkan. Ada juga yang memberi respon positif bahwa uang tidak selalu memberi kebahagiaan, ada orang yang banyak uang tetapi miskin hati.
Dalam kesederhanaan, selalu ada kebahagiaan. Bagaimana dengan Anda ?

Sumber: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/28387-hidup-tanpa-uang-selama-16-tahun-wanita-ini-bahagia.html

Monday, May 19, 2014

INGAT MATI, HIDUP BAHAGIAKU

Kegemaranku akan hidup dan ketakutanku paranoid akan mati, 
sampailah pada puncak ketakutan ambang batas manusia. 
Megap-megap dan lemas terkulai
Melambungnya isak tangis dan jerit yang tak berdaya

Hilang suara dan kempis tak bertenaga
Semeleh dan hanya pada yang Kuasa
Subhaanallah 
Kuasa Kasih Allah SWT datang dan memberi jawaban.

Ada keinginanmu yang berumur panjang tanpa mati itu
Kemudahannya melebihi kemudahan sebelum kau masuk dalam rahim ibumu
Diakhirat setelah kau dimetamorfosiskan dalam liang lahat matikuburmu
Hanya bisa kau gapai dengan amalan sholeh kasih sesamamu

Sejak saat itu, apapun tipuan dunia berupa kemewahan, kekayaan, kedudukan, yang berakhir mati tak mampu menggodaku
Karena chip perasaan pasti mati, selalu membersamai dengus nafas-fikirku
Hanya linangan air mata bersimpuh sujud padaNya
Agar terus tidak terputus jalinan petunjuk hidayah dan Kasih SayangNya

Agar bisa sampai pada alam surga yang dijanjikanNya
Tanpa mati hidup bahagia sejahtera selama bersamaNya. Bismillah


By: Gus Hafid

Thursday, May 1, 2014

HAJI DAN ELEGI PARA TKI

SEBUAH RENUNGAN
Gus Glory


Tampak seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju teller sebuah bank syariah. Dari caranya berinteraksi dengan teller, terlihat si nenek belum pernah berhubungan dengan bank sebelumnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Sambil menuangkan isi keresek yang penuh berisi uang receh dan beberapa lembar ribuan, bibir si nenek gemetaran menyampaikan niat membuka rekening. Ya, si nenek sedang mulai menabung ONH untuk berangkat haji. Total uang receh tersebut sebesar 5 juta rupiah. Si teller dengan senyum sabar melayani.



Dengan buku tabungan ONH di tangan, si nenek berjalan pulang dengan gembira. Wajahnya bersinar penuh harapan cita-citanya akan segera terwujud. Doa yang dibarengi usaha banting tulang sebagai pembantu itu akan segera terkabul. Bayangan ka’bah seperti lukisan dinding yang dibuat anaknya secara slow motion bergantian muncul dalam pikirannya. Sebuah tabungan, sebuah langkah awal hasil dari kerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wak Haji kaya. Si nenek tinggal di rumah reot bersama anak laki-lakinya, seorang pelukis. Anaknya baru saja cerai karena istrinya memilih hidup dan menikah dengan laki-laki lain.  Sang anak yang berubah sayang pada ibunya dan sangat ingin mewujudkan mimpi ibunya, naik haji.

Selang beberapa waktu setelah hari penuh harapan itu, seorang wanita datang bertamu ke rumahnya. Mata nenek menatap redup wanita yang datang tersebut. Sambil menangis sesenggukan wanita itu bercerita bahwa anaknya divonis mengidap penyakit kronis yang harus segera dioperasi. Kesedihan semakin bertambah karena dia tidak mampu membiayai operasi yang sebesar 5 juta. Sambil mengelus lembut pundak wanita itu, si nenek berujar: “Sudahlah jangan sedih, insya Allah nenek bantu. Akan nenek ambil tabungan nenek”.

Mendengar itu anak laki-lakinya yang berada dalam kamar sontak datang, “Tidak! Aku tidak rela. Itu tabungan emak selama bertahun-tahun untuk tujuan suci, haji”. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ucap si nenek sambil memakai pedang ikhlas untuk memenangkan perang batin yang bergelora dalam batinnya. Sang anakpun hanya bisa menunduk lesu, perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya.

Hari berganti hari, si nenekpun mulai menabung kembali. Disusunnya puzle harapan bersujud di depan ka’bah yang sempat buyar karena menolong orang yang sakit. Pagi itu, si nenek sedang menjemur pakaian ketika dilihatnya dua orang anak yatim yang tinggal di sebelah rumahnya sedang memakan daging. Si nenek heran karena dengan kondisi ekonomi ayah mereka yang sangat kurang, jangankan makan daging, untuk makan sehari-hari saja sering meminta-minta. “Daging dari mana nduk?” tanya nenek. Si anak diam. Wah, jangan-jangan. “Itu daging bangkai ayam yang nenek kubur kemarin?” tanya nenek khawatir. Si anak hanya bisa mengangguk.

Segera si nenek menyuruh membuang dan menuntun mereka ke rumahnya. Perang batin berkecamuk hebat, ketika nenek menyingkap kasur di mana dia menaruh receh dan lembar uang yang hanya berjumlah beberapa puluh ribu, yang disimpannya untuk naik haji. Dia membeli ayam dengan uang tersebut dan memasakannya untuk anak tetangganya. “Makanlah nak..”. Sejurus kemudian uang di bawah kasur yang tersisa 50 ribu pun diberikan pada anak yatim, sambil berpesan “ini pakai untuk kebutuhan keluarga kalian..” Subhanallah.

Kejadian tersebut saya sarikan dari beberapa scene dalam film EMAK INGIN NAIK HAJI yang dimainkan secara luar biasa bagus oleh Aty Kanser (si nenek) dan Reza Rahardian (pelukis). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa seorang nenek sederhana, lebih mampu mengartikulasikan apa yang dikehendaki oleh Allah daripada kita yang pandai ber-retorika. Saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah film, karena kejadian yang nyaris persis saya temukan di lingkungan kami. Bahwa masih ada hamba-hamba terpilih Allah yang mampu mengejawantahkan makna sesungguhnya dari haji. Mereka yang begitu tajam penglihatan batinnya dan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menentukan skala prioritas dalam pengabdian kepada Allah.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang yang begitu bernafsu masuk surga. Lalu di tengah jalan menuju surga ditanya Tuhan: “Apa modalmu masuk surga?”. Dia menjawab: “Hamba ketika hidup di dunia rajin sholat, puasa tidak pernah bolong, zakat dan haji kutunaikan”. “Itukah modalmu masuk surga?”, tanya Tuhan lagi. “Bukankah itu sudah cukup, ya Tuhan?”, jawab orang tersebut dengan yakin dan sombong. Tuhanpun murka dan menghardiknya: “Ya, kamu sholat tapi ketika AKU sakit dan sekarat menengokpun kau tak sempat. Kamu haji, tapi ketika AKU kelaparan kau tidak bersimpati. Kamu pandai mengaji tapi ketika AKU tinggal di bantaran kali, kau tidak peduli”. Orang itupun dilarang masuk surga. Dalam hal ini Tuhan memakai kata “AKU” untuk mewakili kaum papa di dunia.  

Muchtar Sadili pernah menulis bahwa dalam ilmu fikih dikenal istilah penarikan hikmah dari satu ibadah (hikmah at-Tasyri’), sama pentingnya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Haji Mabrur yang diinformasikan oleh syari’at`, secara bahasa dan istilah mempunyai relasi kuat dengan kepedulian sosial. Kata mabrur yang berasal dari kata bir dalam bahasa arab diartikan sebagai kebaikan. Nah, dalam al-Qur’an makna itu dilebarkan bahwa kebaikan hanya diperoleh jika menafkahkan harta yang kita cintai untuk meringankan beban hidup orang lain di sekitar kita (QS ‘Ali Imran:9).

Begitu juga jika ditilik ibadah lainnya dalam rukun Islam setelah syahadat sebagai pengakuan akan Tuhan dan Nabi, seperti shalat, puasa dan zakat. Pelaksanaan shalat akan dianggap sebagai pendustaan agama, jika pelakunya tidak peduli terhadap penderitaan anak yatim dan para fakir-miskin (al-Ma’un:1-5). .Puasa sengaja didisain untuk melatih diri dengan biasa merasakan lapar-dahaga di siang hari, agar merasakan derita kaum papa (hadits bukhari-muslim). Secara tegas, kita temukan dalam zakat, yakni dengan mengeluarkan sebagian dari harta yang telah mencapai jumlah tertentu (nishab), untuk kaum dhu’afa (Qs at-Taubah 9:60).

Spirit komunalitas Haji setidaknya menyimpulkan kekaguman, sekaligus kekagetan. Di tengah negeri yang masih terlilit krisis ekonomi, jumlah kuota haji tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tahun ini grafiknya cenderung naik – terlepas dari adanya waiting list. Anehnya, problem kemiskinan tidak berbanding lurus dengan spirit komunalitas tadi. Sejatinya, secara organik dan fungsional ibadah haji memerankan dirinya dalam usaha untuk menuntaskan problem kemiskinan bangsa.

Sementara C. Ramli Bihar Anwar dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam iIbadah haji mengenal apa yang disebut halangan atau uzur sosial, yakni peristiwa atau masalah-masalah sosial (kemanusiaan) yang bisa menggugurkan kewajiban haji seseorang, meski mungkin hanya bersifat sementara. Kewajiban haji yang bias dikalahkan oleh kemungkinan uzur-uzur sosial bukan saja ditekankan oleh penghayatan sufistik tetapi juga oleh tradisi fiqih. Penekanan secara tasawuf sangat memungkinkan, karena tasawuf dikenal sebagai disiplin batin yang lebih bersifat humanis dan relatif “longgar” secara legal-formal. Tapi, bila hal ini diterima secara fiqih – yang dalam banyak kasus sering terlalu “rigid, dogmatis dan kering“ – maka jelas ini mendakan adanya pancaran sifat humanis yang tak terbendung dari ibadah haji. Dr. Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Aulawiyyat, Fiqih Prioritas, “ kewajiban yang pelaksanaannya harus sesegera mungkin (genting) harus didahulukan di atas kewajiban yang harus ditunda. Dan, haji adalah kewajiban yang bisa ditunda“.

Sementara bila uzurnya tak sampai mengancam jiwa, misalkan kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah sosial lainnya, maka menaggulangi semua ini harus didahulukan ketimbang melakukan haji sunnah / umrah. Artinya, dalam kondisi serba krisis, ongkos untuk berhaji sunnah (yang kedua dan seterusnya) jauh lebih baik disalurkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan sosial. Dalilnya, melayani urusan publik adalah fardlu kifayah (kewajiban sosial), sedangkan melakukan ibadah haji/umrah yang kedua dan seterusnya hanyalah sunnah.

Jika demikian pandangan fiqih, maka tak heran bila Abu Hayyan Al-Tauhid (w. 1025 M), seorang ahli sufi, filasafat dan sastra sampai merasa perlu mengarang sebuah kitab berjudul Al-Hajj Al-Aqli idza Daq Al-Fada ‘An Al-Hajj Al-Sary’I ( Haji Spiritual bila Tak Mungkin Melakukan Haji Formal? ); untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai haji spiritual sebagai ganti haji fisikal jika cukup terdapat uzur-uzur sosial. Tak heran pula bila Al-Ghazali samapi berani menyebut para hartawan yang berkali-kali berangkat haji sementara membiarkan tetangganya kelaparan sebagai “orang-orang yang terkelabui”.

Maka, adalah ironis bila kaum Muslim tanah air – terutama yang telah berhaji berkali-kali – terus begitu antusias berhaji sampe harus antri menunggu kuota bahkan harus sampai “adu demontrasi” umtuk memperebutkan kuota, sementara dibelakang mereka antrian kebodohan dan kemiskinan bahkan sampai harus “adu nyawa” saat memperebutkan prosesi pembagian sedekah maut semakin bertambah panjang. Tambahan biaya haji pun tak risau untuk kembali dikeluarkan meski sebatas untuk keperluan biaya jual beli kuota kepada oknum Depag di daerah-daerah.

Itulah kenapa dalam status sebuah jejaring sosial saya menulis: “Wahai saudara-saudara Muslim, bagaimana kalau sampean semua yang berencanan haji ke Arab ditunda dulu. Kemudian uang saudara2 dikumpulkan untuk pemberdayaan para TKI/TKW. Kalau tiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang berhaji dengan biaya sekitar @ 30 juta. Berarti ada dana sekitar 6 trilyun per tahun. Dan umat Muslim secara ikhlas me-moratorium haji selama 5 tahun ke depan”. Sentilan ini adalah bentuk keprihatinan saya menyaksi-rasakan berita dan penderitaan jutaan saudara yang menjadi TKI/TKW di jazirah Arab, jazirah di mana Arab Saudi negara tempat ibadah haji dilaksanakan.  

Si Emak dalam film di atas mirip dengan cerita sufi tentang tukang sol sepatu, yang lebih mendahulukan substansi daripada seremoni. Berpikir cerdas untuk meredam ibadah yang bisa ditunda dengan memenuhi kewajiban ibadah perlu segera. Dengan tanpa membuat dikotomi antar keduanya, si Emak berhasil secara ikhlas mengusahakan tertunaikannya ibadah ritual dengan memberikan ruh ibadah sosial. Usulan saya dalam status tersebut bukan usulan kepada pemerintah RI untuk dijadikan regulasi, namun kepada individu-individu untuk dijadikan renungan nurani dan rencana pribadi. Himbauan tersebut bukan dimaksudkan untuk membebankan tanggungjawab menolong sesama pada mereka yang akan berhaji saja, karena sesungguhnya tanggungjawab itu ada pada kita semua. Ingat, bahkan orang yang mengerjakan sholat dianggap pendusta agama dan diancam neraka, jika melalaikan kepedulian sosial memberi makan anak yatim dan menolong kaum miskin.

Saat si Emak merelakan tabungannya untuk menolong anak miskin membayar biaya operasi, bukan karena kurang besarnya keinginan menuju baitullah. Tapi lebih karena personifikasi “Emak” telah mencapai tingkatan iman yang memungkinkan dia melihat ibadah ritual dalam bingkai yang sesungguhnya, ibadah sosial. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ujar Emak penuh makna. Ini sebuah renungan, bukan usulan yang memaksakan, apalagi ego untuk diadu. Kita kalah dengan si Emak. Kita seharusnya malu dengan tukang sol sepatu. Karena belum mampu, saya malu. Bagaimana dengan bapak-ibu? Suwun.

Friday, April 25, 2014

SANTRI SAKTI

Sebelum santri masuk tahapan penggodokan Taruna TPU-PGA (Tenaga Penyayang Umat-Pegawai Gaji Akhirat) di Yayasan SPMAA, para mentor senior akan memberikan ujian kenaikan status kesantrian. Setiap santri calon Taruna TPU-PGA harus mampu membuktikan komitmen pengorbanan untuk kaul pelayanan keumatan serta “jati diri filantropi” yang dimiliki selama ia belajar beragama di ma’had Yayasan SPMAA.
Diantara ujian kenaikannya, santri harus pernah mengikuti beragam puasa sunnah yang diteladani Nabi. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Rajab, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa nisfu Sya’ban, dan puasa 6 hari Syawal. Selain itu harus sudah melaksanakan ikhtiar puasa  lainnya dan tirakat sehat sebagai bekal survival sosial saat tugas berangkat melayani umat.
Ujian kenaikan terberat adalah ketika santri diharuskan berpuasa selama 7 hari penuh. Di dalam proses berpuasa itu, kegiatan pembelajaran terus dilangsungkan secara padat jadwal, mulai dari jam 3 pagi hingga jam 11 malam.  Jeda sedikit hanya waktu sholat 5 fardlu, plus sholat dluha dan tahajjud. Pembelajaran maraton, ketat dan padat ini akan menguras energi fisik serta psikis santri.
Pada puasa hari ketujuh (hari terakhir), calon santri Taruna TPU diminta menuliskan menu makanan yang sangat mereka suka. Para mentor senior lalu menyediakan makanan pesanan tersebut. Saat jelang berbuka, menu yang masih dikemas tersembunyi itu dibaris di depan santri yang bersiap mengikuti prosesi upacara makan bersama.
Ketika adzan maghrib bergema, santri diperintahkan membuka kemasan makanannya. Sebelum makan terlebih dulu harus menemukan kertas pesan di dalamnya. Kemudian santri kudu baca pesan itu, dan harus segera melaksanakan isi perintahnya. Pesan di kertas ini berbunyi “TOLONG BERIKAN MAKANAN YANG PALING KAMU CINTAI INI, KEPADA ORANG YANG PALING KAMU BENCI”

Saat itulah santri-santri ini akan perang emosi dalam hatinya sendiri. Setelah diuji bersabar mengendali asupan makan, bertahan dalam aktifitas harian yang menguras mental dan kebugaran badan selama 7 hari penuh, kini menghadapi tes tidak biasa dalam hidupnya. 
Sebuah ujian menjadi “santri sakti” yang kudu berani memberikan makanan yang dicintainya kepada orang yang paling dibencinya di asrama. Peserta tes dipaksa menghadapi situasi perang antara dorongan memenuhi kebutuhan jasmani yang harus segera diasupi dan bergelut melawan bisikan kemarahan. 
Sebagai manusia basyar umumnya, dinamika hidup berdampingan di asrama, tentu macam-macam sifat yang dihadapi santri ini. Diantara komunikasi budaya mereka, pasti pernah bersinggungan rasa yang membuat tidak enak bicara dan hati kecewa.
Nah, potensi dendam hati antar santri ini yang harus dikikis habis. Walau proses pelaksanaannya bakal sangat menyakitkan perasaan, memunculkan ketidaknyamanan dan menghadapi keadaan serba kecanggungan.
Di tahapan ujian kesantrian inilah, para santri biasanya akan menangis karena harus memaksakan ketidaksiapan: perang melawan nafsu kebencian, membuang ego keakuan, melepaskan hirarki/senioritas kesantrian, dan mengalahkan setan kesombongan.
Para santri ini harus menihilkan rasa sebagai manusia biasa dan belajar meneladani figur Rasul/Nabi, di mana satu diantaranya adalah membalas kasih cinta kepada orang yang menyakiti hatinya.
Meski beberapa diantara mereka, awalnya menangis karena “terpaksa”, tangisan selanjutnya adalah karena kelegaan jiwa seiring turunnya rahmat taubat. Walau semula menyapa dengan kaku, rikuh dan malu, pada akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi secara cair, akrab dan terbuka.
Pelajaran yang didapat para santri adalah tentang betapa beratnya tuntutan menjadi figur santri yang sabar melayani sekaligus sosok penggembala umat yang harus kuat tirakat.
Inilah esensi sejatinya tirakat puasa menahan ego kemauan, bukan sekadar menahan haus dan lapar –seperti puasa fisik yang sudah jadi menu tradisi sehari-hari para santri. Itulah makna hakikat hadiah lebaran, dimana semua manusia saling bersalaman melepaskan ego perasaan dan mengalahkan nafsu kebencian yang dibisikkan musuh ghoib setan.
Pada tahap ini, santri baru belajar menapaki jalan menuju kawah penggodokan yang penuh ketidaknyamanan dan jauh dari kenikmatan profan. Kemenangan peperangan bagi para “santri sakti”, bukanlah “mengalahkan” sesama manusia, tapi “menyadarkan” ada musuh dalam hatinya. Musuh sejati adalah setan yang ghoib bersemayam di dalam hati dan pikiran semua manusia.
“Santri Sakti” adalah mereka manusia pembelajar agama yang mampu membukukan kemenangan melaui ujian memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang yang paling dibenci. Melalui uji kesantrian ini, kita semua yang mengaku manusia beragama harus berani berbagi sepiring makanan persaudaraan, segelas airmata permaafan, dan selangit bumi kasih ridho ampunan Tuhan.
Pembaca, hakikat Isro’ Mi’roj yang kita peringati kemarin, adalah menaikkan derajat iman ke posisi yang lebih berkelas lagi. Maka, bila kemarin kita masih suka makan enak hanya bersama keluarga, cobalah sekarang membagi makanan yang kita cintai kepada orang yang paling kita benci.
Saya harap kita semua bernyali mengikuti tes “Santri Sakti” ini dan kemudian lulus dengan hasil bagus. Semoga kita telah dicatat mencoba menapaktilasi peringatan Isro’ Mi’roj sungguhan.
Sebagaimana kita baca dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullaah Muhammad diperjalankan ke orbit mihrab langit, adalah sebagai “rekreasi ruhani” setelah beliau melewati ujian kepedihan yang sangat memprihatinkan.
Isro’ Mi’roj adalah kado kecil dari Allah SWT kepada Rasulullaah sebagai hadiah atas prestasi cintanya kepada manusia dan berani mengalahkan kepentingan pribadi beliau sendiri. Kita semua patut belajar menapaktilasinya, diantara ikhtiarnya  melalui uji nyali menjadi Santri Sakti.
110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
76 : 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
76 : 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Thursday, April 17, 2014

Benarkah kita Santri SPMAA ?

Sebagai santri SPMAA tidak ada itu, kata alumni / lulusan. Karena kita sebagai santri SPMAA itu sehidup-sekembali, jadi tidak ada istilah kalau sudah menikah/sudah punya anak/cucu lalu kita berhenti mengamal-sebarkan ajaran Bapak Guru ini.

Kita bisa disebut LULUS jadi santri Bapak Guru Muchtar kalau sudah wafat Khusnul khotimah, bersama beliau disurga. Itu baru disebut lulus. Kalau cuma sekedar pernah dakwah / sedekah ratusan juta, berpuluh-puluh hektar tanah, rumah  & mobil mewah, itu belum cukup untuk menebus 1 nikmatnya Allah berupa Mata atau Oksigen yg kita hirup sitiap hari. Apalagi yg kita andalkan agar bisa mendapat surga!.

Trus bagaimana agar kita bisa selamat wafat khusnul khotimah?

1. Kuat-kuatkan berdo'a dimanapun berada terutama diakhir malam (hanya semata-mata karena Allah)
2. Siap diremehkan
3. Banyak Bersedekah
4. Taat Pemimpin / Komando (Bapak Guru Waktu mau berangkat ke Malasia menunjuk Gus Hafidh, Gus Khosyi'in, Gus Glory, Gus Naim sebagai penerus. Dawuh Beliau sebelum ke Malysia: "sampean kabeh gak usah bingung, sedeh, susah. Selama kulo tinggal niki gus hafidh, gus khosyi'in, gus glory & gus naim iki seng nganteni / nerusno aku". (Indonesia "Sampean semua tidak usah binggung, sedih & susah. Selama saya tinggal ini Gus Hafid, Gus Khosyi'in, Gus Glory & Gus Naim yg Mengantikan / Meneruskan saya")

Itu semua adalah dawuh langsung dari beliau bapak guru Muchtar waktu beliau masih membersamai kita. Dari ke Empat kriteria itu kita tidak bisa hanya mengambil salah satu / meninggalkan salah satu kriteria itu, karena karena dari semua kriteria/syarat itu SATU PAKET, ngak bisa dipisah-pisah.

Jadi jika kita merasa dan ngaku jadi santrinya Bapak Guru ya, mari melaksanakan apa yg diprintahkan dan diteladani beliau selama ini.

Dalam hidup beliau ngak berani tidur di kasur selama santri-santri tidak pakai kasur, ngak berani makan lebih enak dari apa yg dimakan santri sehari-hari.

Hendak dibelikan mobil oleh putra beliau dan sudah DP uang, tapi apa kata beliau? "putraku semua, dulu abi bangun jembatan dari kayu jati untuk akses masyarakat ke sawah mereka, nah sekarang ko' roboh. Bagaimana kalau uang untuk beli mobil itu dibuat mbangun jembatan"



"Kedua" kata beliau, "Nanti kalau kita beli Mobil, takutnya santri-santri ngak jadi kepengen ilmunya allah yg dibawa abi ini, malah kepengen mobil. Ketiga, Nanti kalau kita beli mobil, kasihan tetangga kanan-kiri kita yg apalagi beli mobil, untuk sekolah anak saja sempoyongan, dunia ngak dapat, akhirat juga ngak. betapa kasihanya.

Akhirnya sampai beliau Bapak Guru Muchtar wafat beliau ngak punya mobil, padahal tujuan putra-putra beliau membelikan mobil itu agar kalau beliau diundang pengajian keluar daerah itu ngak usah nyewa mobil. 

Karena kalau dihitung-hitung dalam 3-4 bulan saja uang untuk nyewa mobil, sudah bisa untuk beli mobil sendiri. Apalagi beliau kalau diundang pengajian itu tidak pernah mau dikasih upah (amplop) apalagi pasang tarif pengajian! jelas tidak.

Tapi karena ada kebutuhan Agama, Bangsa yg lebih penting akhirnya lebih dipentingkan mbangun jembatan daripada beli mobil.

Nah sekarang kembali ke kita yg merasa santri SPMAA, sudahkah kita berusaha mencontoh Bapak Guru? sampai mana kita mengamalkan ajaranya?

Sekarang yg jadi tangisan gus-gus saat ini, itu kebanyakan santri justru ungulan-ungulan harta-benda, pangkat kedudukan Dunia. Rumah Mewah, Anaknya dibelikan Motor Ninja, adiknya dibelikan Fixion, Istrinya dibelikan Mobil dls.

Padahal teladan hidup kita Bapak guru Muchtar, Rumahnya terbuat dari sesek bambu, ngak punya motor/mobil lantas kita mencontoh siapa? para nabi mulai Nabi Adam-Nabi Muhamad juga dalam sejarah hidupnya juga selalu prihatin dan penuh kekurangan dan coba'an.

SIAPA YG KITA CONTOH???

Bapak Guru menjalani hidup seperti itu bukan ko' karena tidak punya uang loh! beliau tidak memuaskan nafsu dunia itu karena tau kenikmatan Akhiratlah yg 99% dunia cuma sementara (tipuan semata).

dan karena takut santri-santri beliau jadi kepingin kenikmatan dunia daripada ilmunya bapak guru. lha skarang kita ko' justru mengejar kenikmatan dunia, menyampingkan ajaran bapak guru!

Ayo prihatin, dan segera menaubatinya sebelum ajal tiba.




Industri Jasa Pencucian Dosa

Tulisan ini saya awali dengan mengangkat cerita yang berbeda nasib tokohnya tapi bertema serupa. Kisah pertama tentang kerabat dekat di desa saya yang lumayan duafakeadaan hidupnya. Ia seorang janda tua dengan 6 orang anak.
Sejak ditingggal wafat suaminya yang bekerja sebagai carik dengan penghasilan pas-pasan, ibu ini kian berat menghidupi keluarganya sehari-hari. Gali lobang tutup hutang sudah biasa dikerjakannya.
Sampai suatu hari sekitar dua tahun lalu, saya mendengar ia menjual lepas sawah satu-satunya —harapan investasi masa depan utama dan jaminan ketahanan pangan keluarga—kepada kerabatnya yang lebih kaya.
Mulanya saya bersyukur karena saya kira hasil penjualan properti pribadi ini akan digunakan untuk melunasi tanggungan hutang yang menggunung. Mungkin juga sisanya untuk modal investasi usaha ekonomi produktif yang dikelola keluarga. Ternyata tidak. Perkiraan saya meleset jauh.
Uang hasil jualan sawah itu disimpan untuk rencana ziarah haji ke Makkah. Konon, menurut hasil konsultansi dengan ahli agama yang dipercayainya, semua beban pinjaman hutang yang ia tanggung bisa “didoakan” dan “diberkahi” dari tanah suci. Plus semua dosa-dosa selama hidupnya akan diampuni dan diganjar surga jika ia berhasil sampai di sana.
Berharap baik akan terpenuhi janji ahli agama ini, ia pun rela melepas sawah satu-satunya —usaha produktif yang tersisa milik keluarga.
Namun tanpa dikira, kerabat saya ini tidak bisa begitu saja mengikuti proses hajinya dengan segera.
Selain harus melalui sistem arisan bergiliran diantara jamaah pengajian –semacam pola MLM–, uang hasil penjualan sawah mulai habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi, anak-anaknya berebutan meminta bagian warisan. Kloplah sudah.
Cicilan perjalanan haji yang ia titipkan lewat menantu keponakan yang dipercayainya sebagai orang pinter agama –bukan di rekening bank—kini mandeg. Hasil jual sawah yang awalnya berjumlah puluhan juta kini tersisa ratusan ribu saja.
Mimpi ke tanah suci untuk menghapus dosa dan meringankan beban hutangnya, kini terancam pupus. Sementara usaha satu-satunya sudah tergadai putus. Ibu janda tua kerabat saya ini baru menyadari keputusannya yang keliru itu dengan sesal tangis. Betul-betul tragis.
Apa yang menimpa kerabat ini juga menimpa tetangga saya di desa. Banyak dari mereka yang menjual sawah satu-satunya milik keluarga demi kuota kursi haji yang mesti ngantri 12-15 tahun lagi. Ongkos haji dicicil dengan iuran arisan.
Beberapa dari mereka nombok hutang pinjaman di lembaga jasa keuangan –yang pasti berlipat bunga cicilannya. Sebagian yang tidak kuat, kemudian menggadaikan sertifikat tanah sawah. Sebagian lagi sudah keburu wafat sebelum berhasil berangkat – kelamaan menanti antrian pemberangkatan???
Penyampaian informasi yang salah tentang prioritas ibadah oleh cendekia agama, jadi penyebab tragedi “konspirasi kemakmuran” ini. Maaf, jika kondisi ini –menurut kebodohan saya—manfaatnya baru menyapa pelaku niaga ziarah tour saja.
Riil fakta di kaum awam desa yang tahunya cuma gelar H, manut pada “iklan pengampunan+rukun kesempurnaan” yang dijanjikan oknum cendekia –merangkap pengusaha tour ziarah agama. Persis seperti yang dialami kerabat saya tadi.
Pada kisah yang serupa, banyak diantara sosialita kita –dari pejabat tinggi maupun selebriti—yang memanfaatkan perjalanan ke tanah suci sebagai “pembasuhan kekeliruan”.Epok-epok sesaat istirahat dari perbuatan maksiat. Bahasa satir prokem kita mengenalnya sebagai ciri taat “tomat” –berangkat TObat, pulang kuMAT.
Peluang ekonomi ini kemudian dikomersialisasi oleh oknum pebisnis jalanan sebagai industri bergelimang uang. Dapatlah rantai supply and demand. Mirisnya, oknum cendekia agama kita kerap terlibat mesra di dalamnya.
Muncullah perjalanan rombongan bareng ahli agama ini, duet ziarah suci bersama artis alim ini, rekreasi ruhani, wisata religi, dan paket-paket “tour safari agama” lainnya.
Pikiran cekak saya sering menggugat, “Lha wong kadang empat rukun wajib sebelumnya saja mereka tidak taat, kok sudah “diprovokasi” cepat-cepat berangkat? Lalu di mana letak nilai ritual suci ibadah bersyarat “manis-tatho’a” ini ? Apakah bisa kaum awam ini mau terbang mabrur dengan cara ngawur ?”
Pada kasus kerabat saya misalnya, akan lebih baik dan arif bijaksana jika tokoh agama memberikan tarbiyah tentang prioritas ibadah. Anjurkan mereka melunasi hutang, membayarkan zakat secara rutin, melaksanakan sholat fardlu ‘ain, puasa wajib dan sunnah, serta amal-amal sosial sebagai ejawantah syahadat ilahiah.
Karena itulah sebetulnya esensi haji, dimana pengorbanan dan ketiadaan kepemilikan properti pribadi akan diuji.
Dus, berangkat haji ke tanah suci, adalah dengan syarat ketat “bagi yang mampu”. Mampu setelah menunaikan seluruh kewajiban beramal, mampu secara jaminan finansial dan mampu melaksanakan tanggungjawab sosial. Ini yang kerap luput disampaikan para cendekia agama kepada umatnya.
Pada kasus kerabat saya misalnya, tokoh agama harusnya mewajibkan dia melunasi hutang dulu. Bukan malah “memprovokasinya” untuk ziarah ke Mekkah –dengan janji pengampunan dan makbul doa kemudahan melunasi pinjaman.
Saya menyeru pembaca, masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menggiatkan kaul pelayanan serta pengabdian kepada Allah –sebelum kita mantap diri ke tanah suci.
Misalnya “haji” sosial dengan cara muhibah amal menyambangi dan mendonasi para duafa di penjuru bumi pertiwi ini, saya rasa lebih berdimensi ilahi dan manusiawi.
Secara Indonesia, gerakan ijtihad “haji” muhibah amal sosial ini akan membawa dampak bagi masyarakat banyak dan lebih berasa manfaat langsungnya.
Mungkin cara pandang alternatif “haji” ini terlalu ekstrim “kanan” bagi sebagian rekan, atau malah saya difatwa blasphemy-sesat-gila. Tetapi setidaknya saya harus berkaca pada kisah tukang jahit sepatu yang secara fisik “gagal” menginjakkan kaki di tanah suci.
Meski tidak di tanah suci, namun karena ia ikhlas menyedekahkan semua uang simpanan calon biaya pemberangkatan hajinya untuk mengobatkan tetangga yang sakit, ternyata ia malah dicatat malaikat sebagai Haji Mabrur.
Pembaca, saya tidak berani mencela kesakralan ritual religi, apalagi menyalahi rukun haji. Pelaksanaan haji tetap wajib bagi setiap pribadi dan penting untuk diikhtiari. Setiap muslim seperti saya, pasti berkeinginan menyambangi Baitullah yang mulia,
Kapasitas tulisan saya hanya membuka wacana bagi pelurusan pemahaman kita semua tentang nilai prioritas ibadah yang perlu diejawantah. Semoga saja tidak terjadi prasangka “bisnis suci” ini sebagai modus ekonomi saja atas tata niaga waralaba agama.
Mari kita berhati-hati menyikapi ajakan yang menggampangkan makna perjalanan haji nan suci ini. Karena kesembronoan penafsiran dan kepedean berperan jadi “tuhan” yang menjanjikan obral ampunan bisa berakibat sangat mencelakakan.
Jika memang sekadar begini “pemelintiran” makna ritual religi ke tanah suci –yakni kepastian pengampunan dan kemudahan doa-doa keduniawian– maka afdolnya suruh saja itu pelaku korupsi arisan pergi haji dan dosanya pasti digaransi terampuni.
Seterusnya kekeliruan akan kian merajalela atau berjatuhan korban keawaman akibat marak fenomena “industri jasa pencucian dosa” yang manis iklannya digencar getok tular para oknum cendekia agama.
Saya hanya berharap-harap doa, semoga anomali dan ironi yang membawa korban seperti kerabat saya tadi –akibat salah memahami prioritas ibadah serta modus ekonomi bisnis ziarah religi–, tidak terjadi lagi di bumi Indonesia ini. Aamiin ya robbal alamin.
 

Pengikut