Ads 468x60px

Showing posts with label prihatin. Show all posts
Showing posts with label prihatin. Show all posts

Tuesday, June 27, 2017

Air Mata Tuhan, Teguran Lebaran


Lama tak lebaran di kampung halaman, tahun ini bersyukur bisa mudik ke Lamongan Jatim. Sampai rumah ingin ajak anak anak menikmati pagi menyusuri pematang sawah. Menyapa hijau padi, bercengkerama dengan bumi. Baru saja hendak berangkat, langkah seperti ada yang menahan saat melewati klinik pesantren kami.

Menjenguk masuk. Ternyata ada satu pasien yang kondisinya sudah sangat payah. Rumah sakit telah angkat tangan. Selain staf klinik, tampak dia ditunggui dua anak kecil, satu kelas 2 SMP satunya lagi kelas 3 SD. "Gimana keadaannya pak?", saya sentuh kakinya. "Sulit bernafas dan badan sakit semua..", terengah jawaban bibirnya bergetar di antara selang oksigen dan infusnya.

Darmono namanya, umur 62 tahun, bekas pegawai kontrak PTP di Jember. Klien di panti werdha kami. Seminggu sebelumnya ada yang antar ke tempat kami karena sudah beberapa bulan terlantar bersama dua anaknya, Krisna dan Wisnu. Kerabatnya berjauhan. Istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu. Tidak memiliki rumah. Tinggal di rumah kosong di pinggir perkebunan bersama 2 anak kecilnya.

Malam sebelumnya, staf kami yang di Denpasar kirim foto 2 anak kecil. Vanesa, 6 tahun dan Rasya, 3 tahun. "Siapa mereka?". "Siap gus. Mereka diserahkan bapaknya. Seorang pria asal Papua. Bercerai dengan istrinya. Hidup nomaden karena sulit mendapat kerjaan. Berharap agar SPMAA BALI bisa merawat dan mengasuh mereka". "Apakah anaknya mau dan tampak nyaman?". "Langsung akrab dan tampak ceria bersama anak asuh kita yang lain kok gus". "Kalian sendiri siap menerima amanah?". "Insya Allah gus. Bismillah".

Pagi ini, saya saliman ke ibu karena hendak ke Surabaya. Mau belanja kebutuhan penghuni asrama yang tidak mudik. Edisi tebar kegembiraan lebaran ceritanya. Saya suruh adik untuk menanyakan satu persatu apa yang mereka ingin beli. Termasuk dua anak dari pasien klinik tadi, Krisna dan Wisnu. Ternyata ibu saya, bunda Masyrifah, juga sedang menyuruh adik saya yang lain untuk menyiapkan makanan pagi bagi pak Darmono.

Adik saya datang dengan sepiring nasi, lauk ikan dan sebuah pisang. Saya tegur, "Dik.. dulu Abi kita ngajari kita mencintai diri lain seperti mencintai diri sendiri. Coba bayangkan kalau nanti di akhirat kita ditanya Allah 'hai fulan apa kamu minta makan' 'iya gusti' 'lha kamu dulu sewaktu di dunia Aku sakit saja kamu kasih makan seadanya maka sekarang makan nih seadanya'. Dik.. orang sakit yang bukan siapa siapa kita itulah wakil Tuhan di bumi. Apa yang kita berikan itulah yang kita terima di akhirat". Adik saya diam. Digantinya dengan lauk lebih lengkap dan lebih lezat. Lalu diantarkannya.

Baru beberapa menit setelah makanan di antar, staf klinik datang tergopoh. "Gus.. pak Darmono meninggal!". Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Anaknya tampak terisak di sampingnya. Hati saya teriris. Sesak saya bertanya, "Tadi gimana meninggalnya?". Sesenggukan Krisna jawab, "Tadi bapak panggil kami mendekat. Lalu peluk kami erat dan bilang sudah ga kuat. Lalu pelukannya melemah dan ga ada lagi..". Saya tak mampu lagi melanjutkan pertanyaan. Saya ajak anak dan istri mendekat lalu minta maaf karena takut nanti di hadapan Allah tercatat kurang perhatian.

Jenasah kami makamkan hari itu juga. Gerimis turun. Krisna dan adiknya duduk di depan nisan. Tangan tangan kecil yang lemah itu membelai makam ayahnya. Pusara itu basah. Oleh rintik hujan dan oleh air mata dua yatim piyatu itu. Di kejauhan sayup suara tadarus masih mengalun. Lebaran tinggal beberapa hari. Tapi dua anak ini harus kehilangan ayahnya. Saat banyak orang menyambut kegembiraan, dua anak ini harus sendirian menerima nestapa. Ibu tempat mengadu sudah berpulang dahulu, ayah tempat bermanja kini telah tiada.

Dulur.. saya sampaikan hal ini untuk pelajaran saya dan sampean semua. Bahwa kita perlu meningkatkan rasa simpati dan empati. Hiduplah sambil melihat kehidupan orang lain. Utamanya yang secara duniawi di bawah kita. Masih banyak anak negeri yang kesusahan. Masih banyak nikmat Ilahi yang kita terima dengan keluh kesah. Padahal masih banyak "Darmono" lain. Masih banyak kisah pilu Krisna, Wisnu, Vanesa dan Rasya lainnya yang membutuhkan irisan hati kita.

Insya Allah, Krisna dan Wisnu akan kami rawat di SPMAA Lamongan. Sementara Vanesa dan Rasya akan kami asuh dan sekolahkan di SPMAA Bali. Tapi kami tidak bisa sendiri. Ibu pertiwi membutuhkan lebih banyak lagi savior. Bukan sekedar orator, tapi the true mentor. Butuh lebih banyak lagi pelayan kehidupan. Kita perlu membangun persaudaraan. Perlu menambah kuantitas dan kualitas saudara. Darmono ternyata punya banyak saudara kandung. Sayangnya, ikatan darah tidak menjamin adanya simpati dan empati.

SPMAA didirikan Pak Guru Muchtar untuk wadah penyuburan bibit saudara sejati meski bukan famili. Agar lebih banyak lagi simpul persaudaraan sejati di muka bumi yang semata dilandasi cinta suci, cinta sesama insani, wakil Ilahi di bumi ini.
Bagaimana dengan sampean, dulur ? Mau jadi saudara sejati saya ?
Salam seduluran temenan. Bismillah

Friday, October 16, 2015

KEPALSUAN CINTA |part 2

Kepalsuan Cinta | Gus Glory | Penulis
“Gus, seberapa besar sih cinta sampean kepada keluarga?”, pertanyaan kawan itu membuyarkan keasikan saya menikmati bulan purnama. “Ya besar dong, pokoknya ga bisa diukur”, jawabku sekenanya. “Kalau kepada Allah cinta nggak?”, usiknya lagi. Sayapun menjawab singkat: “Pasti”. Belum puas diapun melanjutkan: “Besar mana dengan cinta pada keluarga

Spontan saya ingin jawab besar kepada Allah, tapi nafas saya seolah tercekat. Karena saya rasa itu dusta. Lalu timbul jawaban lain, ya seimbang lah, tapi itupun tertahan, karena bahkan seimbangpun sepertinya belum.

Akhirnya jawaban yang muncul adalah penjelasan-penjelasan saya yang nggak jelas. Kumpulan logika, justifikasi dan penafsiran dangkal dari dalil-dalil, semuanya hanyalah upaya kamuflase saya menutupi kekurangan diri. Sebuah kesimpulan pahit justru saya peroleh dari jawaban jujur saya atas pertanyaan tersebut, setelah kawan itu pulang. Sederet kriteria kitab suci yang saya pakai untuk melakukan fit and proper test atas rasa cinta saya pada Allah. Jawaban jujur itu ternyata saya belum mencintaiNya.

Kira-kira apa yang sampean rasakan saat nama seseorang yang sedang sampean gandrung dan cinta disebut, berdesir ya? Jika saat namanya disebut seperti darah mengalir lebih laju, kala bertemu dengannya degup jantung berpacu tak menentu, waktu lama tak bersua ada perasaan rindu, berarti ada rasa cinta yang sedang bertamu. Kiriman sms dan panggilan telepon adalah hal yang sangat ditunggu dan pertemuan dengan kekasih adalah penyejuk kalbu.

Serindu itukah kita pada Allah? Kala mendengar adzan, apa yang muncul dalam benak kita; trengginas menyahuti ingin segera bertemu yang dirindu atau ogah-ogahan karena terganggu? Di luar bulan puasa saat sedang sibuk atau sedang asik bercengkerama, suara mana yang timbul: “kok belum adzan sih?”, sebuah ungkapan perasaan yang senantiasa menunggu-nunggu datangnya waktu sholat, atau karena waktu sholat dirasakan sebagai pemutus kesenangan atau jeda di waktu yang tak tepat, sehingga yang muncul “kok sudah adzan sih?”

Jika cinta sesama anak Adam dilukiskan dengan adanya getaran saat nama kekasih disebut, maka bergetarkah hati kita saat menyebut atau disebut nama Allah? “Orang-orang yang beriman, ialah mereka, yang apabila disebut Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayatNya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya, dan hanya kepada Tuhan mereka tawakkal” qs. 8:2. Coba jujur pada diri sendiri, itukah yang sampean rasa saat nama Allah disebut, bergetarkah? Katanya cinta?

Percintaan sering digambarkan dengan pelayanan dan kesediaan mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi demi mendapatkan hati yang dicintai. Apapun dilakukan atas nama cinta. Bahkan jika tengah malam ada panggilan dari sang pujaan hati, banyak yang tetap berjuang untuk datang. Kencan tengah malam, siapa yang bisa menolaknya? Itulah cinta, kadang sulit dicerna. Lalu bagaimana jika yang memanggil dan meminta sampean untuk datang dan berkencan tengah malam itu adalah Tuhan kita, Sang Robb, Allah Subhanahuwata’ala?

“Dan waktu malam, salat tahajudlah sebagai (ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat”. 17:79. Bayangkan kita tengah tidur lelap, hujan deras, hawa dingin menusuk tulang, relakah kita memutus tidur, menyibakkan selimut, melawan dinginnya malam bersentuhan air hanya untuk menemui Allah? Tertarikkah kita dengan janji balasan cinta dari-Nya dan pengangkatan derajat yang secara dhohir tidak bisa diukur dan dirasakan?

Pernahkah sampean selingkuh? Semoga tidak. Tapi pernahkah sampean memikirkan hal atau orang lain saat sedang berduaan dengan kekasih atau pasangan? Jika pernah, konon kata orang itu juga tanda-tanda selingkuh hati. Pun demikian halnya ketika kita berduaan dengan Allah dalam sholat. Bisakah kita saat sholat hanya fokus (khusyu) memikirkan dan berdialog dengan-Nya tanpa ingat dan memikirkan yang lain? Karena memang demikianlah semestinya sholat.

Tapi pernahkah kita saat sholat yang harusnya hanya intim dengan Allah, tapi pikiran kita melayang: “waduh, besok deadline kerjaan”, “komporku tadi udah ta matiin belum ya”, “besok presentasi produk?”, “kampanye di dapil sana harus sukses”, dan hal dunia lainnya, pernah? Atau malah sering. Jika itu yang terjadi berarti kita telah selingkuh. Itulah kenapa Allahpun tidak sudi menoleh pada kita. Ujungnya sholat kita tidak pernah memberi dampak pada perilaku sosial kita. Karena sholat yang tidak pernah sampai kepada-Nya. Di mana semestinya sholat bisa memberi perbedaan prilaku sesudah sholat lebih baik dibanding sebelum sholat.

Lagi, Nabi bersabda: Man la yarhamunnas, la yarhamuhullohu, barangsiapa yang tidak mencintai sesama manusia, maka Allahpun tidak mencintainya. Tiap rasa cinta tentu besar harapan berbalas. Demikian juga kalau kita mengaku cinta Allah, mengharap balasan dengan cintaNya. Padahal cinta Allah kepada kita sangat bergantung pada seberapa tulus dan terbuktinya cinta kepada sesama. Mampukah sampean membuktikan cinta dengan menyayangi sesama seperti menyayangi diri sendiri?

Bila sampean sedang berdekatan dengan penjual minyak wangi, tercium bau wangi bahkan tak jarang diolesi minyak wangi. Kalau memang benar-benar kita dekat kepada Allah seperti yang kita gembar-gemborkan, maka pasti kita jiwa kita akan penuh kasih akibat “tertular dan terolesi” sifat Allah Yang Ar Rahman dan Ar Rahim, Pengasih Penyayang. Dan bohong besar mengaku dekat dan cinta kepada Allah tapi jauh dari sifat kasih. Duduk nyaman dalam mobil mewah, cuek melewati sesamanya yang kelaparan.

Cinta Nabi Muhammad pada Allah dibuktikan dengan pengorbanan harta, waktu, pikiran bahkan taruhan nyawa. Sampai saking gandrung dan kedanen Allah, puja-puji pada sang kekasih tertuang dalam 99 nama asmaul husna. Itulah adalah ungkapan cinta sang Nabi menggambarkan sang kekasih. Demikian pula para sahabatnya. Sahabt Bilal memilih cinta Tauhid meski disiksa, Abu Bakar mengorbankan status sosial dan hartanya, Umar, Ali, Usman yang tak terhitung pengorbanannya semua demi cinta.

Gimana sekarang, masih mau dan sanggup mencintai Allah? Masih keukeuh merasa punya rasa cinta pada Allah? Baiklah, coba baca ayat berikut:

Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu atau kerabatmu; kekayaan yang kamu peroleh, peniagaan yang kamu khawatirkan akan mengalami kerugian dan tempat tinggal yang kamu sukai – lebih kamu cintai daripada Allah, atau RasulNya atau berjihad di jalanNya; maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (siksa)Nya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”, qs. 9:24.

Membaca ayat ini, sayapun diam tertunduk lesu, lidahpun kelu. Bak pedang tajam, ayat ini menusuk telak tepat di jantungku. Tidak ada lagi alasan-alasan yang bisa saya buat-buat. Mau bilang apa, lha wong memang saya kerap masih lebih mencintai hal-hal tersebut daripada Allah. Ingatan dan kenyamanan saya lebih banyak pada hal-hal yang diprediksi dalam ayat tersebut daripada Allah. Jawabannya sudah jelas: ternyata cintaku palsu! Bagaimana dengan sampean? Wallahu a’lam. Bismillah.

Penulis: Gus Glory

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Thursday, June 12, 2014

Gelora, Cerita Adu Dogma

by 

Potret karya anak-anak pengungsi yang diterapi psikososial. Pada kertas mereka bercerita tentang tangis derita atas nasib rumah dan keluarga mereka.
Foto & Teks: Gus Adhim
“Perang !” teriak kedua kubu yang berseteru itu. Mereka menyeruput dogma serupa, tentang sejumput kesalahan yang harus dikafirkan. Lupa mengkafirkan dosa dirinya. Katanya semangat jihad, enggan mengaku keliru. Mudah mengintip kuman di seberang lautan, luput melihat gajah yang menempel di dekat jidat.
Pada akhirnya tidak ada yang jadi pemenang, karena keduanya berlumuran tangis derita korban. Tinggallah, musuh ghoib syetan yang kini bertepuktangan karena sukses mengadu nyawa manusia.
Relawan SANTANA-SPMAA menghela terapi trauma untuk survival anak, wanita dan ibu lanjut usia.
Anak, wanita dan ibu lanjut usia adalah survival rentan yang kerap mengundang keprihatinan. Mereka terpaksa menanggung lara trauma akibat pilihan dogma keluarga dan provokasi para cendekia. Pada coretan visual dan gambar mural, mereka tumpahkan unjuk emosional yang sentimental.
Husin ingin bergembira lewat cerita gambarnya
“Namaku Husin,” karya mural anak psikososial
“Namaku Husin,” tulis anak ini yakin. Mungkin ia tidak sekadar menulis, tetapi ia ingin mengurai detil cerita tentang sebuah dogma, tentang keluarganya yang menamainya seperti sang idola. Di sampingnya, merah putih bendera kita melirik penuh tanya, “ada apa dengan nusantara? Kenapa hanya karena beda nama dan hasutan kepentingan, semua saling tawuran?”
Di sudut tangis dan tawa mereka, merah putih tetap hadir menyapa.
Seorang nenek renta mengecap bencana akibat pilihan dogma yang diyakini keluarganya
Di hamparan arena gelanggang olahraga, mereka saling bertindih perih, mengecap resiko madzhab yang dianggap berbeda dengan arus utama. Tertidur membujur, seorang nenek melepaskan kepenatan setelah bertahan dari ancaman pengusiran dan pembunuhan. Di sudut lain, seorang ibu bersama anaknya melamun nasib.
Apakah mereka sengaja diadu dogma kaum cendekia?
Ibu ini, suaminya turut jadi korban meninggal dunia.
Para pengungsi lesehan ini beralaskan kesemrawutan di antara spanduk bertuliskan “Selamat Bertanding”, “Fair Play”, “Junjung Sportifitas”. Seolah nasib mereka memang sedang diadu nyawa, dijadikan alat niaga, diperalat waralaba agama oleh para cendekia.
Bocah kecil setengah bugil membersihkan kotoran di kamp pengungsian.
Prasasti nama & petugas bhayangkara, apakah mereka melindungi hak asasi anak ini?
Nampak bocah kecil setengah bugil berlari menenteng pengeruk sampah. “Ayo nak bersihkan negeri ini dari jelaga politisi dan makelar ideologi,” bisik saya di kupingnya.
Sementara di luar arena, anak kecil lainnya sedang bersandar meraba sebuah prasasti nama yang mestinya bisa mengayominya. Tetapi, ia belum mendapati hak dasarnya ini.
Ibu dan anak, survival rentan dari korban kebencanaan.
Menjadi pengungsi di negeri sendiri, mengiba derma dunia
Guyonan satir sebagian (besar) rekan-rekan cendekia agama (baca: nadliyin) di madura jika ditanya, “Masyarakat madura agamanya apa?”, maka mereka akan jawab, “99 % muslim.” Misalnya kita kejar, “Lha yang 1 % itu agamanya apa?” “Muhammadiyah !” jawab mereka mantap.
anekdot kita bikin tertawa, tetapi buat mereka bisa jadi petaka dan kehilangan nyawa keluarga
Meski anekdot itu bisa membuat
mural warna dan cerita dogma.
kita sejenak tertawa, tapi di tingkat masyarakat bawah sana, ejawantah guyonan itu bisa bikin putus kepala, carok antar keluarga dan tawuran sesama desa. Mirisnya, ini kerap dipicu para cendekia yang harusnya berkompeten menggembala konstituen.
Di rumah Indonesia yang berasas Pancasila dan Berketuhanan Yang Maha Esa, perbedaan bisa memicu perselisihan hingga konflik pertempuran. Sedihnya, semua diatasnamakan membela kebenaran, mempertahankan keimanan. Sementara kita berlaga penuh peluh dan bersimbah darah, di luar sana, media manca negara menertawakan Indonesia. Mereka gunjingkan parodi dan anomali kekerdilan bangsa ini, menyoraki perang saudara serumpun kita.
Rumah Indonesia berkelir bersih merah putih
media mancanegara menggunjing budaya warta kita yang melulu berumus “bad news is good news”.
Sengaja saya menulis “korban bencana”, dan bukan “korban konflik agama”. Karena saya tak berani berspekulasi di sini. Cukuplah saya tahu, bahwa mereka awalnya dari satu bacaan sholawatan, serumpun rukun cara tahlil dan norma sub-kulturnya. “Agama” mereka nyaris serupa. Hanya, karena disulut “sesuatu”, mereka dikondisikan berjibaku. Mereka, adalah korban bencana adu dogma.
Pada tulisan ini, saya berusaha imparsial dan netral sebagai konsekwensi pekerjaan sukarelawan yang saya emban. Saya membela manusia, tidak hanya memihak satu saja diantara mereka. Karena bagi saya, mereka semua adalah serumpun bangsa tanpa sekat sektarian SARA.
Silakan dicatat, “isyhaduu bi anna muslimiin.” Saya warga Indonesia pembelajar muslimNYA yang pasrah menyembah dan berupaya tidak terbelah dikotomi madzhab sunni-syiah. Saya hanya kepingin melihat manusia seluruh dunia –khususnya Indonesia– dalam sebentuk tubuh utuh, bukan ceceran organ yang saling tarik menarik dan mencerai-beraikan.
Akhirnya, memang perlu intensifikasi doa plus pendekatan ProvoKasiH & MotivAsiH kita semua kepada para cendekia supaya mereka tidak loba dalam berbisnis “waralaba agama”.
Sekaligus diprioritaskan aksi pencerdasan kaum bawahan, agar mereka tidak lagi menjadi korban penipuan “pecah belah ibadah” , “undian ganjaran” dan “karapan iman”.
Demikian kilas pengalaman saya dari hasil berdinamika dengan sedulur seIndonesia, plus Rabu (29/8) kemarin sempat “macak relawan+wartawan”, menengok keadaan pengungsi bencana dikotomi syiah-sunni di arena gelanggang olahraga (Gelora) kota Sampang-Madura.
Semoga dogma tidak beralih fungsi menciptakan dikotomi besi yang memecah belah kesatuan beribadah.

Tuesday, May 27, 2014

Difficult to gain TRUST


Dulu...ketika Q diamanahi sesuatu oleh seseorang, aku menganggapnya mudah. Dari hari ke hari Q selalu berfikir nanti dan nanti...

hingga hari ini tiba tak sedikitpun yang kulakukan... Dan akhirnya penyesalan Q tiba... dan ketakutan itu hadir...hingga mulut Q tak dapat berkata “maaf " karena itu terlalu gampang terucap tak sebanding dengan kesalahanku...

Kini Q kehilangan kepercayaan...
sedang kepercayaan itu sulit tuk didapat...
dan hanya karena “syetan” Q menjadi benda mati
yang mau disuruh apapun yang menyesatkan...

Sekarang...

Aku sadar semua ini menjadi cambukan untuk Q dan semua.
Agar selalu wirai dan bisa menjaga kepercayaan..
dan bisa taat komando meski melawan keinginan...
dan bisa menjadi santri yang siap pakai..
denagan bercita-cita menjadi seorang yang bertubuh agama.

Ayo terus menumbuhkan semangat agar bisa bertahan
Dan setia sampai Akhir Hayat
Bersama Bahtera Keselamatan SPMAA

Go on spirit in a problem because
A problem is a change for you so the best.

By: M2

Sunday, May 18, 2014

Praktik Pancasila Tanpa Kata


Di pesantren kami, ada beberapa fenomena istimewa yang patut disyukuri bulan Juni ini. Selain persiapan maraton untuk acara milad 50 tahun ma’had, banyak tamu datang bergantian hampir setiap hari. Diantaranya kami kerawuhan serombongan mahasiswa pasca sarjana perguruan tinggi negeri ternama dari Jakarta. Mereka bermaksud live in mengikuti tradisi santri selama sepekan dalam kegiatan bertitel “Belajar Mentoring Bersama Santri & Mahasiswa”. Hari kedua, bakda sholat subuh berjamaah. Seperti biasa jadwal rutin pesantren adalah pengajian tafsir Al Quran. Keenam belas calon magister yang berasal dari beragam budaya itu pun turut mengikuti majelis. Kebetulan kajian materi Al Quran sampai pada surat Al Maidah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim1-300x199.jpg
Menjadi istimewa dan khas Indonesia suasana majelis di pagi hari itu karena pesertanya bukan hanya santri, tapi diikuti juga oleh rekan-rekan mahasiswa yang berbeda-beda agama dan budaya tadi.  Dengan duduk bersila baris tertata, pengajian yang diikuti anak-anak, mbah lansia, remaja, pemuda dan mahasiswa S2, bersatu dalam majelis yang setara. Alhamdulillah selama hampir  90 menit semua peserta majelis pengajian dapat saling guyub berbagi pertanyaan dan jawaban.  Tanpa banyak retorika, wajah ramah Indonesia tersaji sesungguhnya. Di pagi itu, kesadaran kami seperti dilahirkan kembali oleh ibu pertiwi. Bahwa sesungguhnya awal muasal semua manusia adalah saudara sebangsa tanpa imbuhan SARA.

Indonesia, sebagai kumpulan ribuan bangsa dan budaya, nampak akur bertutur di pengajian pagi itu. Seorang santri yang duduk di sebelah saya berbisik, “Gus tahukah sampean, hari ini Indonesia memperingati kelahiran Pancasila?” Saya pun spontan melirik kalender yang menempel di dinding masjid. Ternyata memang iya, kalender menandai hari itu 1 Juni.  Tanggal yang dipercayai sejarawan sebagai lahirnya Pancasila di bumi Indonesia. “Alhamdulillaah,” bisik hati saya berkali-kali.

Mungkin inilah yang disebut ayyaamillaah. Hari-hari Allah yang pasti terjadi.  Tanpa direncana sebelumnya, kajian ayat tentang keadilan itu diikuti oleh wakil-wakil kaum Indonesia. Kami para santri mewakili mayoritas, dan rekan-rekan mahasiswa itu delegasi minoritas. Selain itu, para santri yang memang asalnya dari Aceh sampai Irian Jaya. Sungguh miniatur keberagaman Indonesia yang membersyukurkan potensi nusantara. Pasnya lagi, kami peringati Pancasila langsung praktiknya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim2-300x225.jpgLebih khusus menjadi renungan buat kami kaum santri yang mengaku beriman. Ayat 8 surat Al Maidah itu memberikan peringatan tegas atas perilaku sosial kita pada kelompok lain yang berbeda. Kajian tafsir yang diampu Gus Glory hari itu, mengurai makna keadilan dari sisi kemanusiaan. Berbicara fakta kritis keIndonesiaan dan refleksi kekinian. Sering, ketika tidak suka kepada madzhab yang berbeda atau identitas SARA lainnya, maka sikap negatif gebyah uyah menjadi lumrah. Di pihak kita selalu merasa benar saja, sementara mereka salah bahkan najis selamanya.

 Hingga pada norma sosial dan praktik kehidupan komunal, laku ketidakadilan kita paksakan berjalan.
Nalar sehat dikalahkan naluri jahat. Emosi dan benci lebih menguasai daripada kebaikan budi dan kejernihan nurani. Di satu moment kita meneriakkan keadilan, tapi di waktu lain kita menanamkan benih rasisme berlebihan. Kembali merenungi momen penuh rahmat di pagi hari itu. Kami para santri yang mewakili mayoritas kaum beriman nusantara, ditunjukkan kenyataan bahwa nilai adiluhung Pancasila sudah pas untuk mengelola dan menyatukan potensi raksasa bernama Indonesia.  Maka akan jadi anomali jika kami para santri belum bisa adil pada kelompok yang berbeda keyakinan. Karena perlaku tidak adil itu sama saja dengan penolakan terhadap kebenaran ajaran Al Quran.


Meski masih diramaikan perdebatan, saya meyakini kesesuaian ajaran Al Quran dan Pancasila beriring pada jalur cita-cita yang sama.  Al Quran mengajarkan ketauhidan, Pancasila menyahutinya di sila pertama. Al Maidah ayat 8 menyuruh kita kaum beriman berbuat adil dan Pancasila mengamininya di sila kedua. Seterusnya ayat tentang persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial juga termuat di sila Pancasila berikutnya. Pagi itu, tanpa terasa kami telah belajar mempraktikkan ajaran Al Quran sekaligus sila kedua dan terakhir Pancasila. Belajar memaknai nilai kemanusiaan dan keadilan melalui aksi kecil yang riil. Praktik menyikapi secara adil kehidupan Indonesia yang dilahirkan berbeda-beda rupa karakter dan keyakinannya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim3-300x207.jpgMelalui kegiatan sederhana dan bisa diikuti oleh semua, Pancasila bisa dipraktikkan kapan saja bila ada keseriusan niat menjalankannya.  Jangan sampai terjadi negara dan bangsa lain mulai meniru filosofi Pancasila, sementara kita justeru bergegas melupakannya. Berangkat dari pengalaman pagi itu, saya mengajak Anda untuk praktik pengalaman serupa. Memperingati kelahiran Pancasila tanpa buih kata, tanpa genit langgam retorika, tanpa riuh dihipnotis gegap gempita media. Tapi langsung praktik kehidupan sosial di lingkungan terdekat kita.
Karena jika tidak dengan cara demikian, maka Pancasila akan tertutup pelan-pelan di buku kenang-kenangan peradaban. Mungkin hanya akan dibaca sekali saat rangkaian upacara tujuh belasan. Teronggok maya dalam formalitas belaka tanpa makna.


By: Gus Adhim

Thursday, May 1, 2014

HAJI DAN ELEGI PARA TKI

SEBUAH RENUNGAN
Gus Glory


Tampak seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju teller sebuah bank syariah. Dari caranya berinteraksi dengan teller, terlihat si nenek belum pernah berhubungan dengan bank sebelumnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Sambil menuangkan isi keresek yang penuh berisi uang receh dan beberapa lembar ribuan, bibir si nenek gemetaran menyampaikan niat membuka rekening. Ya, si nenek sedang mulai menabung ONH untuk berangkat haji. Total uang receh tersebut sebesar 5 juta rupiah. Si teller dengan senyum sabar melayani.



Dengan buku tabungan ONH di tangan, si nenek berjalan pulang dengan gembira. Wajahnya bersinar penuh harapan cita-citanya akan segera terwujud. Doa yang dibarengi usaha banting tulang sebagai pembantu itu akan segera terkabul. Bayangan ka’bah seperti lukisan dinding yang dibuat anaknya secara slow motion bergantian muncul dalam pikirannya. Sebuah tabungan, sebuah langkah awal hasil dari kerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wak Haji kaya. Si nenek tinggal di rumah reot bersama anak laki-lakinya, seorang pelukis. Anaknya baru saja cerai karena istrinya memilih hidup dan menikah dengan laki-laki lain.  Sang anak yang berubah sayang pada ibunya dan sangat ingin mewujudkan mimpi ibunya, naik haji.

Selang beberapa waktu setelah hari penuh harapan itu, seorang wanita datang bertamu ke rumahnya. Mata nenek menatap redup wanita yang datang tersebut. Sambil menangis sesenggukan wanita itu bercerita bahwa anaknya divonis mengidap penyakit kronis yang harus segera dioperasi. Kesedihan semakin bertambah karena dia tidak mampu membiayai operasi yang sebesar 5 juta. Sambil mengelus lembut pundak wanita itu, si nenek berujar: “Sudahlah jangan sedih, insya Allah nenek bantu. Akan nenek ambil tabungan nenek”.

Mendengar itu anak laki-lakinya yang berada dalam kamar sontak datang, “Tidak! Aku tidak rela. Itu tabungan emak selama bertahun-tahun untuk tujuan suci, haji”. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ucap si nenek sambil memakai pedang ikhlas untuk memenangkan perang batin yang bergelora dalam batinnya. Sang anakpun hanya bisa menunduk lesu, perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya.

Hari berganti hari, si nenekpun mulai menabung kembali. Disusunnya puzle harapan bersujud di depan ka’bah yang sempat buyar karena menolong orang yang sakit. Pagi itu, si nenek sedang menjemur pakaian ketika dilihatnya dua orang anak yatim yang tinggal di sebelah rumahnya sedang memakan daging. Si nenek heran karena dengan kondisi ekonomi ayah mereka yang sangat kurang, jangankan makan daging, untuk makan sehari-hari saja sering meminta-minta. “Daging dari mana nduk?” tanya nenek. Si anak diam. Wah, jangan-jangan. “Itu daging bangkai ayam yang nenek kubur kemarin?” tanya nenek khawatir. Si anak hanya bisa mengangguk.

Segera si nenek menyuruh membuang dan menuntun mereka ke rumahnya. Perang batin berkecamuk hebat, ketika nenek menyingkap kasur di mana dia menaruh receh dan lembar uang yang hanya berjumlah beberapa puluh ribu, yang disimpannya untuk naik haji. Dia membeli ayam dengan uang tersebut dan memasakannya untuk anak tetangganya. “Makanlah nak..”. Sejurus kemudian uang di bawah kasur yang tersisa 50 ribu pun diberikan pada anak yatim, sambil berpesan “ini pakai untuk kebutuhan keluarga kalian..” Subhanallah.

Kejadian tersebut saya sarikan dari beberapa scene dalam film EMAK INGIN NAIK HAJI yang dimainkan secara luar biasa bagus oleh Aty Kanser (si nenek) dan Reza Rahardian (pelukis). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa seorang nenek sederhana, lebih mampu mengartikulasikan apa yang dikehendaki oleh Allah daripada kita yang pandai ber-retorika. Saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah film, karena kejadian yang nyaris persis saya temukan di lingkungan kami. Bahwa masih ada hamba-hamba terpilih Allah yang mampu mengejawantahkan makna sesungguhnya dari haji. Mereka yang begitu tajam penglihatan batinnya dan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menentukan skala prioritas dalam pengabdian kepada Allah.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang yang begitu bernafsu masuk surga. Lalu di tengah jalan menuju surga ditanya Tuhan: “Apa modalmu masuk surga?”. Dia menjawab: “Hamba ketika hidup di dunia rajin sholat, puasa tidak pernah bolong, zakat dan haji kutunaikan”. “Itukah modalmu masuk surga?”, tanya Tuhan lagi. “Bukankah itu sudah cukup, ya Tuhan?”, jawab orang tersebut dengan yakin dan sombong. Tuhanpun murka dan menghardiknya: “Ya, kamu sholat tapi ketika AKU sakit dan sekarat menengokpun kau tak sempat. Kamu haji, tapi ketika AKU kelaparan kau tidak bersimpati. Kamu pandai mengaji tapi ketika AKU tinggal di bantaran kali, kau tidak peduli”. Orang itupun dilarang masuk surga. Dalam hal ini Tuhan memakai kata “AKU” untuk mewakili kaum papa di dunia.  

Muchtar Sadili pernah menulis bahwa dalam ilmu fikih dikenal istilah penarikan hikmah dari satu ibadah (hikmah at-Tasyri’), sama pentingnya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Haji Mabrur yang diinformasikan oleh syari’at`, secara bahasa dan istilah mempunyai relasi kuat dengan kepedulian sosial. Kata mabrur yang berasal dari kata bir dalam bahasa arab diartikan sebagai kebaikan. Nah, dalam al-Qur’an makna itu dilebarkan bahwa kebaikan hanya diperoleh jika menafkahkan harta yang kita cintai untuk meringankan beban hidup orang lain di sekitar kita (QS ‘Ali Imran:9).

Begitu juga jika ditilik ibadah lainnya dalam rukun Islam setelah syahadat sebagai pengakuan akan Tuhan dan Nabi, seperti shalat, puasa dan zakat. Pelaksanaan shalat akan dianggap sebagai pendustaan agama, jika pelakunya tidak peduli terhadap penderitaan anak yatim dan para fakir-miskin (al-Ma’un:1-5). .Puasa sengaja didisain untuk melatih diri dengan biasa merasakan lapar-dahaga di siang hari, agar merasakan derita kaum papa (hadits bukhari-muslim). Secara tegas, kita temukan dalam zakat, yakni dengan mengeluarkan sebagian dari harta yang telah mencapai jumlah tertentu (nishab), untuk kaum dhu’afa (Qs at-Taubah 9:60).

Spirit komunalitas Haji setidaknya menyimpulkan kekaguman, sekaligus kekagetan. Di tengah negeri yang masih terlilit krisis ekonomi, jumlah kuota haji tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tahun ini grafiknya cenderung naik – terlepas dari adanya waiting list. Anehnya, problem kemiskinan tidak berbanding lurus dengan spirit komunalitas tadi. Sejatinya, secara organik dan fungsional ibadah haji memerankan dirinya dalam usaha untuk menuntaskan problem kemiskinan bangsa.

Sementara C. Ramli Bihar Anwar dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam iIbadah haji mengenal apa yang disebut halangan atau uzur sosial, yakni peristiwa atau masalah-masalah sosial (kemanusiaan) yang bisa menggugurkan kewajiban haji seseorang, meski mungkin hanya bersifat sementara. Kewajiban haji yang bias dikalahkan oleh kemungkinan uzur-uzur sosial bukan saja ditekankan oleh penghayatan sufistik tetapi juga oleh tradisi fiqih. Penekanan secara tasawuf sangat memungkinkan, karena tasawuf dikenal sebagai disiplin batin yang lebih bersifat humanis dan relatif “longgar” secara legal-formal. Tapi, bila hal ini diterima secara fiqih – yang dalam banyak kasus sering terlalu “rigid, dogmatis dan kering“ – maka jelas ini mendakan adanya pancaran sifat humanis yang tak terbendung dari ibadah haji. Dr. Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Aulawiyyat, Fiqih Prioritas, “ kewajiban yang pelaksanaannya harus sesegera mungkin (genting) harus didahulukan di atas kewajiban yang harus ditunda. Dan, haji adalah kewajiban yang bisa ditunda“.

Sementara bila uzurnya tak sampai mengancam jiwa, misalkan kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah sosial lainnya, maka menaggulangi semua ini harus didahulukan ketimbang melakukan haji sunnah / umrah. Artinya, dalam kondisi serba krisis, ongkos untuk berhaji sunnah (yang kedua dan seterusnya) jauh lebih baik disalurkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan sosial. Dalilnya, melayani urusan publik adalah fardlu kifayah (kewajiban sosial), sedangkan melakukan ibadah haji/umrah yang kedua dan seterusnya hanyalah sunnah.

Jika demikian pandangan fiqih, maka tak heran bila Abu Hayyan Al-Tauhid (w. 1025 M), seorang ahli sufi, filasafat dan sastra sampai merasa perlu mengarang sebuah kitab berjudul Al-Hajj Al-Aqli idza Daq Al-Fada ‘An Al-Hajj Al-Sary’I ( Haji Spiritual bila Tak Mungkin Melakukan Haji Formal? ); untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai haji spiritual sebagai ganti haji fisikal jika cukup terdapat uzur-uzur sosial. Tak heran pula bila Al-Ghazali samapi berani menyebut para hartawan yang berkali-kali berangkat haji sementara membiarkan tetangganya kelaparan sebagai “orang-orang yang terkelabui”.

Maka, adalah ironis bila kaum Muslim tanah air – terutama yang telah berhaji berkali-kali – terus begitu antusias berhaji sampe harus antri menunggu kuota bahkan harus sampai “adu demontrasi” umtuk memperebutkan kuota, sementara dibelakang mereka antrian kebodohan dan kemiskinan bahkan sampai harus “adu nyawa” saat memperebutkan prosesi pembagian sedekah maut semakin bertambah panjang. Tambahan biaya haji pun tak risau untuk kembali dikeluarkan meski sebatas untuk keperluan biaya jual beli kuota kepada oknum Depag di daerah-daerah.

Itulah kenapa dalam status sebuah jejaring sosial saya menulis: “Wahai saudara-saudara Muslim, bagaimana kalau sampean semua yang berencanan haji ke Arab ditunda dulu. Kemudian uang saudara2 dikumpulkan untuk pemberdayaan para TKI/TKW. Kalau tiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang berhaji dengan biaya sekitar @ 30 juta. Berarti ada dana sekitar 6 trilyun per tahun. Dan umat Muslim secara ikhlas me-moratorium haji selama 5 tahun ke depan”. Sentilan ini adalah bentuk keprihatinan saya menyaksi-rasakan berita dan penderitaan jutaan saudara yang menjadi TKI/TKW di jazirah Arab, jazirah di mana Arab Saudi negara tempat ibadah haji dilaksanakan.  

Si Emak dalam film di atas mirip dengan cerita sufi tentang tukang sol sepatu, yang lebih mendahulukan substansi daripada seremoni. Berpikir cerdas untuk meredam ibadah yang bisa ditunda dengan memenuhi kewajiban ibadah perlu segera. Dengan tanpa membuat dikotomi antar keduanya, si Emak berhasil secara ikhlas mengusahakan tertunaikannya ibadah ritual dengan memberikan ruh ibadah sosial. Usulan saya dalam status tersebut bukan usulan kepada pemerintah RI untuk dijadikan regulasi, namun kepada individu-individu untuk dijadikan renungan nurani dan rencana pribadi. Himbauan tersebut bukan dimaksudkan untuk membebankan tanggungjawab menolong sesama pada mereka yang akan berhaji saja, karena sesungguhnya tanggungjawab itu ada pada kita semua. Ingat, bahkan orang yang mengerjakan sholat dianggap pendusta agama dan diancam neraka, jika melalaikan kepedulian sosial memberi makan anak yatim dan menolong kaum miskin.

Saat si Emak merelakan tabungannya untuk menolong anak miskin membayar biaya operasi, bukan karena kurang besarnya keinginan menuju baitullah. Tapi lebih karena personifikasi “Emak” telah mencapai tingkatan iman yang memungkinkan dia melihat ibadah ritual dalam bingkai yang sesungguhnya, ibadah sosial. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ujar Emak penuh makna. Ini sebuah renungan, bukan usulan yang memaksakan, apalagi ego untuk diadu. Kita kalah dengan si Emak. Kita seharusnya malu dengan tukang sol sepatu. Karena belum mampu, saya malu. Bagaimana dengan bapak-ibu? Suwun.
 

Pengikut