Ads 468x60px

Showing posts with label Merdeka. Show all posts
Showing posts with label Merdeka. Show all posts

Saturday, August 19, 2017

MERDEKA TUNTAS, PILAR TUJUH BELAS.

Indonesia kita, mari bersama kita jaga. 
Bersama kerabat menyusuri jalan jalan di Singapura, pikiran saya bercabang dua. Pertama membandingkan suasana perayaan Hari Negara negeri jiran yang hanya ditandai seremoni sehari di panggung Marina plus satu dua bendera kecil yang menempel di jendela apartemen. Kontras dengan kemeriahan masyarakat kita yang kibaran merah putih menghiasi setiap sudut negeri plus suguhan lomba dan kegiatan di setiap gang kota dan desa.

Kedua, saat mengamati arsitektur gedung yang cantik ikonik, saya teringat gedung sekolah kami yang sedang dalam tahap pembangunan. Jika selama ini sekolah mewah hanya bisa dirasakan mereka yang berkantong tebal, maka memaknai kemerdekaan ini kami ingin bangun gedung megah full fasilitas tapi terjangkau untuk semua kalangan termasuk mereka yang miskin.

Gedung ini memang belum jadi. Bangunan ini memang belum indah. Masih banyak puing dan bahan bangunan berserakan. Meski demikian pantang bagi kami menengadahkan tangan meminta sumbangan. Silahkan mengulurkan tangan asal jangan suruh kami merubah bentuk bangunan. Silahkan ikut membangun sejauh tidak memberi syarat kami menggadaikan gedung ini untuk kepentingan kalian.

Negeri kami memang belum sempurna. Masih banyak kekurangan berserak di sana sini. Meski demikian, pantang buat kami merendahkan diri mengemis hutangan. Kami tidak alergi bantuan tapi jangan coba merubah ideologi bangsa ini. Pancasila filosofi suci nenek moyang kami. Silahkan tawarkan pinjaman tapi jangan coba beri kami syarat harus menggadaikan sejengkalpun tanah warisan para pejuang. Monggo saja bekerjasama asal tidak dalam relasi bos dan jongos, tuan dan budak belian. Kita berdiri setara antar bangsa berharga diri dalam bingkai ta'awanu yang berkeadilan dan saling membutuhkan.

Entah kapan gedung kami ini selesai. Tapi kami yakin itu sebentar lagi. Dengan ijin dan pertolongan Allah, kami akan terus berjuang dengan keringat kami sendiri. Pertolongan Allah itu dekat. Entah kapan negeri ini akan makmur dan berdikari. Tapi kami yakin itu akan terjadi. Tekad kita untuk hidup maju, beriman, berswadaya dan ber dignity. Mencapai itu mungkin kami akan berdarah dan tertatih. Kami siap asal rakyat berdaulat dan berkeadilan sosial.

Insya Allah, saat gedung ini jadi, akan lahir dari dalamnya, generasi merdeka pelanjut visi para pejuang. Yang cerdas, berilmu dan berkepribadian luhur bangsa dan beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa. Insya Allah, saat bangunan negeri ini sudah merdeka hakiki, akan lahir dari perut bumi ibu pertiwi, pemimpin sejati yang diridloi Ilahi. Yang shidiq (benar) amanah (terpercaya) tabligh (penyampai dan pelaksana amanah rakyat) dan fathonah (cerdas).

Ada tujuh belas tiang di gedung ini. Menyahuti seruan tafakur dan dzikir 17 17 2017 ini, kami tancapkan tujuh belas merah putih di atasnya. Menandai awal kemerdekaan sejati. Meninggalkan kemerdekaan semu ragu dan penuh tipu, menuju kemerdekaan yang tuntas. Berkibarlah tujuh belas benderaku. Jadikan kerasnya angin sebagai penambah anggun pelambai merah putihmu. Jayalah negeriku. Jadikan kerasnya serangan topan berbagai persoalan kebangsaan sebagai ujian kekuatan pondasi kemajuan.

Gedung ini nantinya bertingkat dan mungkin tampak megah. Tapi siswanya tetaplah campuran antara anak keluarga mampu dan kalangan ekonomi lemah. Negeri ini nantinya akan hebat dan mungkin beranjak maju sejahtera. Tapi takkan kami biarkan hanya dinikmati oleh segelintir komprador wakil penjajah. Seluruh anak ibu pertiwi dari Sabang sampai Merauke berhak atas kemakmuran dan sumber daya negeri. Merekalah pemilik sah tanah air Indonesia. MERDEKA!
Bismillah.

Tuesday, January 12, 2016

Ibu Pertiwi Aku Berdiri


Ibu, ijinkan aku | menyudahi diam ini | berilah aku titah | sekelebatan berdiri meneguhkan kaki | bersiap menjemput sekejap harap di tengah asa yang kian langka.

Sebab Ibu, lihatlah itu | mereka anak-anakmu menghela nestapa di tegalan sawah, di perairan tanah dan ketinggian lembah | mereka kelaparan perhatian dan kehausan penghidupan..

Lalu aku hanya mampu menyepi seperti yang ibu selalu kehendaki | tidakkah ibu iba kepada wajah sendu mereka ? Kalau tidak sekarang kita bergerak datang, mereka mati berkalang bumi..

Ibu, restui aku | Ijin kubawa angin | untuk mengibarkan myelin kebangkitan | serentak kutiup hak hidup pada pusara mereka, anak-anak pribumi yang terusir pergi dari rahim pertiwi |

Do'akan aku Ibu | pada setiap derap ayunan langkah kaki ini nanti | ada restu ampunan ilahi yang selalu berkelimpahan mendampingi..

INDONESIA


Aku kan berdiri menegakkan dwi warna sang panji | tidak lagi duduk menanti merutuk disini | ijinkan aku turun bersama embun dan halimun |

Ibu pertiwi, aku mesti berdiri | Merah Putih ini harus kembali membumi | mengangkasa semua jengkal persada tanah air kita | tak bisa dan tak rela jika ia diganti kepala naga, bintang kejora, dua segitiga atau rupa bendera manca lainnya...

~ suara paskibra ~
#GA9

Wednesday, August 19, 2015

karena (bukan) karena

Karena Bukan Karena | Penulis Gus Adhim | SPMAA


"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan...."

Maka dwiwarna melambai Indonesia | oleh karena itu aku mau membawa sang saka berkelana | sebab demikian Merah Putih siap diriwayatkan....

"Adakah Merah Putih di dadamu?? Ada...ada..ada !!" Adakah Pancasila di hatimu? "Ada..ada..ada!" Mana dia? "Ini dia..ini dia..ini dia.!"

Karena Pangeran Diponegoro mengilhami jalan jihad ini | meski harus bertarung sendiri dan berdharma ikhlas bersih, tiada bekas pamrih.

Karena Panglima Sudirman menyatakan teladan, " Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi."

Bukan karena hendak berpunya tanda jasa bintang maha putra | bukan juga karena mimpi dibawa wisata ke istana | bukan karena ingin diimingi janji singgasana oleh raja mancanegara...

Karena Merah Putih itu jiwa raga bersenyawa | maka ia senantiasa hidup melegenda selama ada nusantara |

karena panji sakti ini bukan cuma jahitan perca dua segitiga | karena sang saka bukan hanya kain berenda bintang kejora | karena Merah Putih bukan besi bisu atau alat sambit seperti palu dan arit...

Karena Merah Putih, adalah cita-cita bangsa bermarwah bersih.. maka aku membawanya sepanjang ruas raya, mengiringi Indonesia bercerita, mensyukuri karunia surga kecilNYA..

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Saturday, February 21, 2015

Sama-sama Bahagia Tetapi Berbeda Rasa

Kenikmatan yang dimiliki Allah ada 100 %, kalau di prosentasikan. Lalu dari kenimatan 100% tersebut semua adalah untuk makhluknya. Ada cerita Nabi Muhammad dalam Hadis: saat beliau berada di lautan, beliau mencelupkan jari telunjuk ke dalam laut lalu beliau menggangkat jari tersebut, ada air yang menempel dijari beliau, air tersebut menetes jatuh ke dalam lautan yang sangat luas. Lalu beliau bersabda : tetesan air dari jariku tadi ibarat dunia sedangkan air laut adalah akhirat.

Dari cerita yang terbukukan dalam hadis tersebut diatas maka sebenarnya prosentasi akhirat dan dunia sangat timpang, tidak sebanding dan tidak bisa diprosentasikan dalam angka, tetapi untuk memudahkan hitungan dari 100% kenimatan yang di miliki Allah: maka 99 % adalah akherat dan 1% ditaruh didunia.

Qs. Ar-Ra'd (13) : 26  “ Allah meluaskan rezeki dan menyempitkanya bagia siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akherat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”

Kenikmatan 1 % yang di taruh di dunia ini, pun tidak hanya untuk manusia saja melainkan harus di bagi rata antara manusia, hewan dan tumbuhan. Dan lagi, yang perlu dicatat dengan huruf besar dalam otak kita, sesungguhnya setelah di bagi rata, bagian untuk manusia juga dibagi lagi!!!. Untuk siapa lagi ?, lalu kita (Orang beriman) dapat seberapa???

Al-Baqoroh (2) 126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negri ini, negri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Pertama, jatah manusia tersebut dibagi antara : 1. Manusia yang (ngakunya) beriman, 2. Manusia beriman, 3. Manusia yang kafir,  4. Manusia yang tidak mengakui  adanya tuhan  5. Manusia yang memplokamirkan dirinya tanpa agama, dls. Kemudian pertanyaan Kedua, kita dapat berapa? kita dapat 99%.

Iya, kita di jatah dari Allah 99% tapi diakerat. Tapi jangan terlalu risau dan bersedih hati dulu, karena di duniapun kita sebenarnya juga memiliki jatah rasa bahagia/ketentraman yang sama dengan orang kafir, tetapi kebahagiaan/ketentraman dunia yang kita rasakan itu berbeda dengan milik orang kafir. Sehingga kalau di total maka 100% semua menjadi milik kita

Seperti apa bentuk kebahagian tersebut?. Iya, orang mukmin mendapat kenikmatan Allah 100%, di dunia 1% dan 99% di akherat. Lho, bukannya dunia adalah penjara/neraka bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir??? Benar, itu memang tidak salah

Al-An'am (6) : 44 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong, maka ketika itu ia terdiam putus asa.”

Salah memaknai Bahagia/kesenangan

Ali-Imran (3) : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Al-An'am (6) : 53 “Dan demikianlah telah kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidaklah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)”.

Bentuk kebahagian/ketentraman yang dirasakan orang mukmin tersebut adalah dengan bisa merasakan nikmatnya bertugas, mensyukuri dan menikmati* setiap rizki yang diberikan Allah dengan bersedekah dan tanpa rasa memiliki harta/rizki tersebut, ketenangan/ketentraman dengan berdzikir, klimaks beribadah dan enjoy menjalani masa-masa ujian. Merujuk pada beberapa kisah dan FirmanNya berikut:

Ar-ra'd (13) : 28 “(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Lagi, ingat bagaimana saudara kita Kakak Bilal, masih tetap merasa bahagia tentram dengan cambukan yang bertubi-tubi dalam tindihan batu besar dalam tubuhnya.

Itulah kenimatan yang dirasakan orang mukmin selama didunia, bukan tentram/bahagia dengan menuruti hawa nafsu bejat, membebaskan kepuasan obesi duniawi dengan bermewah rumah, menumpuk harta, koleksi property, berlimpah makanan dan buah, tentram dengan anak-anaknya yang ganteng cantik mapan duniawinya, tamasya bersama keluarga tiap bulanya, dll.
Setelah bisa “menikmati” hidup berat dalam perjuangan dan merasa bahagian dalam “penjara” dunia (sekalipun dimata orang tampak berat, tidak terhormat di masayarakat, tidak enak, tidak memiliki masa depan). Kemudian di akherat mendapat 99 % nikmatNya. Amin

At-Taubah (9) : 20-22  “Orang2 yang beriman & berhijrah di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan…Tuhan mereka mengembirakan mereka dengan memberi rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal…Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yg besar.”

Kalau pembaca ingat dengan istilah : fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah. Begitulah sebenarnya penafsiran yang bisa dibilang tepat sasaran. Dunia bisa bahagia dan akherat semakin bahagia. Tidak seperti yang di pahami banyak orang selama ini dalam memaknai ayat tersebut. Dengan memaknai dunia enak menuruti hawa nafsu, puas bermewah dunia (hanya dengan shadat, sholat, puasa, zakat, haji) & merasa mendapat surga. hehehehe, penak tenen!!!

Sunguh tidak begitu, karena teladan dan cerita-cerita orang terdahulu begitu berat dan sakit penuh pengorbanan dalam mengapai ridho Allah dan surga. Harus dilalui dengan : siap dibakar seperti Nabi Ibrahim tetapi beliau tetap bahagia sekalipun berat, tidak pernah tenang karena hidupun selalu dalam kejaran musuh kisah Nabi Isa, hudup penuh siksa dalam kisah Nabi  Yahya, siap kekurangan harta dan makan, dicaci dimaki tetap sabar dan menikmati setiap ujian tantangan itulah Nabi Muhammad. Tetapi beliau-beliau tidak pernah mengeluh bahkan tetap merasa bahagia.

Al-Baqoroh (2) : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Kembali pada titik awal, bagaimana bisa?, lalu bagaimana cara untuk mendapat bahagia dunia versi para nabi menikmati masa “penjara” dunia ini??

Bisa karena : Kebahagian, kesusahan, kesedihan, kegembiraan, itu semua adalah urusan rasa hati dan perasaan. Sedangkan perasaan dan rasa hati adalah milikNya. Allah menjadikan orang beriman tetap merasa bahagia sekalipun dalam pandangan kebanyakan orang; berat untuk dijalan lalui. Sekalipun para Nabi dan syuhadak terdahul tampak dalam lahir berat, pedih, susah, sakit tetapi suasana dalam hati di isi dan diganti Allah dengan kesejukkan, kebahagiaan dan ketentraman…. Allah Yaa Karimm…

Begitulah arah jalan bagi santri-santri SPMAA dalam pengamalan perintah Agama, sekalipun tampak dari luarnya begitu berat dan susah (seperti hidup yg ndak mungkin dijalani zaman ini) tetapi bagi yang benar-benar santri SPMAA tetap enjoy dan bahagia, karena dalam hatinya sudah dipasang rasa tersebut.


By: Gus Arbi

* baca juga tulisan berjudul : Memaknai Syukur Fersi SPMAA

Friday, November 28, 2014

Berkebun Bibit Baik


oleh: Gus Adhim

Anak kecil itu biasa dipanggil Al. Nama lengkapnya Alfa Alfin Salvatore. Usianya belum genap 5 tahun. Saat itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Al senormal anak seusianya yang suka bermain dan menjalani dunia kecilnya. Bedanya mungkin pada pilihan Al dalam memaknai kehidupan dan ketika bicara cita-cita.

Misalnya saja pada usia sedini itu, ia sudah memulai puasa sunnah Nabi Dawud (sehari puasa, sehari jeda), puasa Senin-Kamis, dan bahkan puasa terusan. Pada bulan Rajab seperti sekarang ini, Al akan ikut puasa tiga puluh hari penuh. Ramadhan sudah pasti tunai full sebulan tanpa dipaksa-paksa.

Saat saya tanya tentang perilaku uniknya itu, ia menjawab dengan kalimat sepotong-sepotong. Intinya, Al ingin mengikuti jejak sunnah para Nabi sebagaimana dongeng yang ia dengar dari Abi dan Ummi. Juga seperti yang sering ia lihat di film animasi Islami. “Aku mau ikut Nabi Dawud,” katanya dengan wajah berbinar.

Kisah para Nabi, terutama Nabi Dawud yang suka berpuasa ternyata mengilhaminya. Sebagaimana dikisahkan, atas pertolongan Allah, Nabi Dawud yang saat itu anak-anak berhasil mengalahkan raja Jalut yang tubuhnya jauh lebih perkasa.

Selain istiqomah berpuasa sunnah, sholat tahajjud dan dluha juga rutin dilakukannya. Menariknya, tirakat itu ia lakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena disuruh orang tuanya. Saya berfikir pastilah fenemona Salvatore ini karena pola pendidikan yang dikelola oleh keluarga.

Ternyata memang benar. Selama Al masih dalam kandungan, Abi dan Ummi hampir setiap hari berpuasa. Ditambah bacaan rutin Al Quran dan Shirah Nabawiyah. Plus amalan seperti tahajjud, dluha, dan terutama banyak-banyak bersedekah melayani sesama manusia. Masa kandungan Al ini total ditirakati.

Galibnya ibu hamil, umumnya akan diasupi sepenuh-penuhnya gizi ragawi. Supaya bayi yang lahir nanti sehat dan bersalin normal. Tapi ibu Al berbeda. Ummi Nuriyati, demikian beliau dipanggi, justru mempuasai kandungannya. Gerakan “senam hamil” beliau tempuh melalui rutinitas amalan sholat fardlu dan sholat sunnah.

Semua tips hamil sehat yang Ummi Nuriyati pilih, berbalik dari kebanyakan ibu-ibu hamil lainnya. Ummi memilih tirakat yang bagi orang mungkin sangat berat. Ikhtiar Ummi nyatanya sukses. Salvatore kini jadi generasi rabbani. Selain terus menjaga amalamal sunnahnya, prestasi di sekolah juga membersyukurkan. Beberapa waktu lalu ia sudah bisa demo instalasi Linux Sabily duet bersama Onno W. Purbo pada acara Seminar Nasional Madrasah Open Source yang digelar sekolahnya.

Fenomena Al dan ibunya yang memulai proses pembelajaran kehidupan sejak dini seperti berkebun bibit baik. Untuk menghasilkan tanaman bermutu dibutuhkan bibit yang bermutu juga. Prosesnya mesti dijalani dengan teliti, susah dan penuh keprihatinan.

Ummi Nuriyati ingin Al menjadi anak yang baik di tengah anomali dunia saat ini. Ketika pemberitaan kerusakan moral bangsa yang kian mengkhawatirkan, keluarga Al optimis sekuatnya. Diantaranya berikhtiar melalui pembibitan generasi yang waras di tengah dunia yang makin gila.

Salvatore, Ummi Nuriyati dan pola pembibitan keluarganya mungkin aneh dan asing bagi kita. Karena cara yang ditempuhnya tidak umum. Tapi justru saya melihat itu sebagai penyimpangan positif yang perlu ditiru. Maka melalui tulisan ini, saya juga mengajak para keluarga Indonesia mulai ikhtiar berkebun bibit baik. Jadikan rumah sebagai pendidikan madrasah. Keluarga adalah sekolah sesungguhnya.

Namun yang perlu diingat, proses berkebun juga banyak gangguan. Ada ulat, hama, dan tanaman pengganggu lainnya yang berkerumun di sekitar dan bisa merusak bibit itu. Berkebun bibit generasi rabbani yang berciri jujur dan berani, pun beresiko. Bisa jadi di tengah jaman edan sekarang, pilihan berkebun itu dianggap lucu. Karena tidak serupa arus utama.

Bahkan mungkin dalam prosesnya, kita akan diasingkan dan terusir sebagai martir. Sebagaimana kasus yang dialami Ibu Siami dan anaknya, Al, di Surabaya. Keluarga ini membibitkan sikap jujur tapi malah hancur karena anomali masyarakatnya.

Sebagaimana para Nabi yang menjadi agen pembibitan “positive deviance” di tengah umatnya yang rusak total, kita mungkin akan mengalami perlawanan dan resistensi yang menggegiriskan dari arus utama jaman. Mungkin kita yang waras justeru dianggap gila. Di sini konsistensi dan ketahanan fisik mental keluarga kita diuji. Kekuatan doa menjadi penguat semangat sekaligus benteng penahan tekanan.

Inspirasi dari kesuksesan Ummi Nuriyati memproses bibit-bobot-bebet Salvatore, akan menjaga kita tetap berharap. Seburuk apapun kondisi umat saat ini, tetap harus ada usaha yang optimis kita ikhtiari. Pilihan yang ideal adalah melalui pendidikan keluarga.

Jadikanlah keluarga rumah kita sebagai kebun pembibitan anak-anak yang kita persiapkan untuk mengubah peradaban, sesulit apapun tantangannya. Jika dunia masih lama usianya, akan tetap dibutuhkan kehadiran Ummi Nuriyati, Salvatore, Ibu Siami dan Alif yang dapat memupuk asa kebangkitan negeri ini.

Berkebun bibit baik akan jadi asing dan aneh. Kita yang baik mungkin akan terkucil jadi minoritas karena itu berbeda dari pilihan mayoritas yang buruk. Setidaknya itu terbukti kondisi dunia saat ini.

Pesan saya, Bismillaah bertahan dan bersiaplah dari segala intimidasi, tekanan dan perlawanan jaman. Ketika berbuat baik dan kita malah dikucilkan, ingatlah penghiburan sabda Nabi, “beruntung dan berbahagialah wahai orang yang asing”. Fa tuba lil ghurabaa.

I want to be the minority,
I don’t need your authority,
down with the moral majority
cause I want to be the minority
(Minority, Greenday)

Sumber:
http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=2de68a7c5e3db6a836ab8f5f109416b8&jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e

Thursday, October 16, 2014

Bersedekah Tak Perlu Nunggu Kaya ala pesantren di Lamongan | SPMAA


Merdeka.com - Banyak orang berpikir harus punya banyak uang dahulu untuk bersedekah. Akibatnya, sedekah pun tak segera dilaksanakan lantaran belum juga kaya raya.

Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Uniknya, pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai. Bagaimana ceritanya?

"Ini soal prinsip, ideologi. Dulu founding father kami, guru kami mengajarkan kami sedekah jangan kaya dulu. Kemudian apa yang bisa kita sedekahkan kepada orang lain meski kita gak punya," kata Gus Naim, salah satu pengasuh Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Gus Naim bercerita, awalnya para santri di pesantren yang dia asuh memiliki kebiasaan mengotak atik barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak dan akhirnya bisa dihidupkan kembali. Sehingga akhirnya tercetuslah ide untuk memanfaatkan lampu-lampu yang sudah tak terpakai, di otak atik kembali dan akhirnya bisa dimanfaatkan dan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga.

"Di sini semua kerusakan bisa diselesaikan sendiri, misalnya sanyo, lampu dan lain-lain," kata Gus Naim.

"Jadi apa yang bisa kita berikan, termasuk skill ya kita sedekahkan," imbuhnya.

Gus Naim berbagi cerita soal bagaimana menghidupkan kembali lampu yang sudah rusak dan tak terpakai. Lampu-lampu yang didapatkan dari door to door rumah warga dan diambil dari tempat-tempat sampah tersebut dibongkar kembali, kemudian dilihat onderdilnya yang rusak di bagian mana. Jika ada onderdil yang gak bisa dipakai, dibelikan penggantinya dengan harga yang sangat murah, antara Rp 500-700 saja.

"Kalau yang rusak tabungnya, kami belum mampu membuat teknologinya atau pun menyervisnya," ungkap Gus Naim.

Setelah diperbaiki, lampu tersebut dibagikan kepada para warga sekitar yang membutuhkan. Gratis, tis, tis.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya-ala-pesantren-di-lamongan.html

Wednesday, October 15, 2014

Sedekah tidak menunggu kaya, pengasuh ponpes sebut demi NKRI! | Merdeka.com

Santri Pesantren Yayasan SPMAA. ©facebook.com/Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA)

Merdeka.com - Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai.

Menurut Gus Naim, salah satu pengasuh pesantren Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), dari 300 santrinya, para santri putra ditugaskan untuk memperbaiki lampu-lampu yang mati, sementara santri putri yang bertugas membagikannya kepada warga sekitar.

"Jadi ada pembagian tugas," kata Gus Naim kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Tak cuma fokus bagi-bagi lampu saja, yayasan tempat Gus Naim bernaung juga aktif di bidang sosial. Misalnya saat Gunung Kelud meletus beberapa waktu lalu, Gus Naim mengirimkan santrinya untuk membantu para korban letusan Gunung Kelud.

Adapun Yayasan SPMAA menaungi sekolah menengah pertama dan atas, atau di pesantren biasa disebut Madrasah Tsanawiyah (MtS) dan Madrasah Aliyah (MA). Yayasan SPMAA ini juga memiliki puluhan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, baik yang sudah dalam bentuk sekolahan, atau pun misalnya cuma sebatas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saja.

"Santri-santri kami bukan dari nonmuslim saja, bahkan santri kami ada yang pastur, pendeta dan biarawati," ujar pria yang ditugasi untuk mengelola Madrasah Aliyah Ruhul Amin, yang masih berada dalam naungan Yayasan SPMAA ini.

Dia menambahkan, pesantren yang dia kelola ini tidak memiliki afiliasi dengan kekuatan partai mana pun, atau organisasi Islam mana pun.

"Kami tidak berafiliasi dengan partai politik atau organisasi Islam mana pun. Santri kami ada yang NU, Muhammadiyah. Kami ini NKRI," tutupnya.

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT : http://spmaakita.blogspot.com/2014/10/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya.html

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/sedekah-tanpa-menunggu-kaya-pengasuh-ponpes-sebut-demi-nkri.html

Di Share juga di:
http://www.satuislam.org/nasional/ponpes-di-lamongan-ajarkan-santrinya-sedekah-sejak-dini-demi-nkri/

Sunday, September 28, 2014

NAMAKU TARUNA

TARUNA SPMAA
Namaku Taruna, suatu pangkat kebanggaanku dan orang mukmin lainnya, saudara ingin seperti saya? sungguh tidaklah mudah, silahkan saudara mencoba.
Menjalani  karir  yang hitungannya hanya 2-3 tahun pengabdian saja, untuk mengapai misi menuju TPU Sempurna sungguh rasanya  sangat lama dan alangkah banyak coba'annya.
           
Sebelum sukses menggapainya akan tiba kepada saudara cobaan darimana saja, cobaan suka maupun duka, dari orang tua, kelurga, tetangga ataupun teman sebaya. Agar kita segera keluar dari SPMAA.

Dari orang tua atau keluarga, disurunya saya segera pulang kerumah dengan alasan agar menjaga orang tua yang sedang sakit/tua. Atau disuruhnya kerja untuk menafkahi keluarga dirumah ( Tipe anak tulang punggung keluarga ) Ada juga yang disuruh untuk melanjutkan kuliah-sekolahnya ( Tipikal anak mama ).
           
Itu sedikit contoh cobaan dari keluarga, semua Taruna tidaklah sama ada yang lebih ringan ataupun lebih berat dari contoh saya ini.

Sekarang dari tetangga “kamu itu kenapa jadi Taruna, ngak dapat upah, luntang-lantung diasrama!” itu kata pedas mereka untuk saya Taruna, ada juga yang dengan halus, “boleh-boleh saja jadi Taruna, tapi kita juga harus membahagiakan orang tua dengan kuliah/cari kerja, kalau mau ini ada kerjaan untukmu gajinya gede loh”, seolah-olah benar kata tetangga tadi membahagiakan orang tua, padahal itu kata  setan! yang benar membahagiakan orang tua itu tak hanya didunia, tapi Dunia-Akherat. Bagaimana caranya? Jadilah anak yang sholeh / sholikha versi SPMAA itulah kado terindah untuk kedua orang tua.

Setelah ujian susah kini berganti ujian suka, sepanjang perjalanan kisah, yang ada ujian suka lebih berat dibanding ujian susah.

Contohnya ketika datang ujian susah kepada manusia lewat bencana / apa saja, manusia pasti akan kuat - kuat berdo'a, puasa dan ndepe - ndepe kepada Allah, bahkan yang sebelumnya sepanjang hidupnya tidak pernah sholat, apalagi puasa, ketika ada bencana jadi rajin sekali sholat dan puasanya.

Tapi nanti ketika sudah hilang bencananya, berganti ujian suka, maka mereka akan lupa dan mengkhufuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
           
Begitu juga dengak kita, ketika datang ujian suka dari sesama atau siapa saja kepada kita, kebanyakan dari kita akan lupa, dan ironisnya kita masih merasa santri SPMAA.
          
Namaku Taruna, sekali lirik banyak yang suka, hati terpana, senyumnya menggoda, banyak yang cinta kepada saya, suatu pagi si Jo datang menyapa mengaja'ku membuang sampah di sekolah putri dan piket di almakan putra, setibanya disana kulihat wanita cantik didepan mata, tak kusangka, sekali lirik dia terpana, kutambah senyum dia tergoda untuk membalasnya, senyumnya luar biasa, minum kopi pahitpun tak terasa saking manis senyumya.
          
Singkat cerita malampun tiba, entah dari mana selembar surat datang menyatakan cintanya kepada saya, padahal sebelumnya satupun tidak ada wanita di dunia ini yang suka pada saya, apalagi secantik dia.

Ujian suka sayapun lupa, jika saya terima dan melanjutkan hubungan degan dia, berarti saya gagal menjadi Taruna.

Biasanya masih merasa kalau saya Taruna, karena masih tinggal diasrama. Tapi hakekatnya kita gagal (Sudah tidak lagi jadi santri SPMAA) karena tidak bisa  menahan nafsu dunia.
          
Jika saya tolak dan tetap setia dalam garis komando SPMAA sampai akhir hayat saya, maka keberhasilan luar biasa dan syurga menanti kita. Amiiinnn….
          
Ini kisah bukan hanya karangan fiktif belaka, tapi kisah nyata, wanita sungguh mengoda untuk melanggar system SPMAA, kata salah satu Band ternama di Indonesia The Changcuters “ Wanita Racun Dunia ”.
Itu salah satu penggalan lagunya.
          
Tapi saya tidak sepakat dengan dia, bagi saya wanita adalah orang yang sangat mulia (Jika dia bisa menjaganya) sampai-sampai dalam Al-Qur'an ada surat An-nisa' (Wanita) ditambah lagi disebutkan dalam Hadist “Syurga dibawah kaki ibu” ibu tidak lain adalah seorang wanita, sekali lagi “Jika dia bisa menjaganya” kalau tidak bisa, maka dia akan menjadi hina.
  
Makanya disebutkan Nabi Muhammad bahwasanya “Penghuni neraka paling banyak adalah Wanita” kita semua ngak takut ta? Meskipun anda Pria, ibu sampean ngak wanita kah! Apalagi sampean yang statusnya wanita, harusnya prihatin, nangisi dosa-dosa pribadi sebelum mati, outputnya nanti sampean ngak sempat itu nge-gosip, ngerumpi, ngebahas salahnya siapa saja kesana-kemari.

Apalagi menjadi sumber, pencari, penyebar dan pemercaya fitnah.

Untuk itu mari menjadi manusia mulia, wanita-wanita yang mulia, ayo menjauhi hal-hal yang membuat  drajat kita hina, jangan jadi wanita penggoda dan penyebar fitnah.

Ayo jadi Santri, Taruni setia dalam komando SPMAA.
          
Begitu juga santri laki-laki, jangan cenga-ngasan mencari wanita, ayo bersama jadi Taruna yang setia menjalankan komando SPMAA.
          
Namaku Taruna ingin selalu setia dalam bahtera SPMAA sampai ajal tiba.

Keterangan : Kisah cerita diatas tidak hanya dari 1 orang Taruna saja melainkan pengalaman dari beberapa orang Taruna, dan masih banyak kisah yang belum tertuliskan dalam edisi ini,semoga bisa menyambungkan lagi jika allah memberikan kesempatan.
         
Penulis: Gus Arsyis           

Thursday, July 24, 2014

Liburan, Lebaran di Kampung Halaman

@ Gus Arsyis.
Beberapa hari lagi, kita mendapat jatah liburan dari pesantren selama 25 hari. Diberi waktu untuk bertemu keluarga dirumah, setelah sekian lama tak berjumpa.

Tentu sangat bahagia berjumpa bersama keluarga tercinta, rindu, canda, tawa bahkan sampai meneteskan air mata.

Itulah sedikit gambaran suasana liburan waktu Lebaran di kampung halaman, tentu anda sangat pengalaman. Karena tiap lebaran selalu melakukan hal yang demikian, sehingga sudah sejak jauh hari sebelum ramadhan sudah dipersiapkan agenda liburan di kampung halamanya.

Minimal di rembukin dengan teman se-CS kentel / sekampung halaman, “Kapan brangkatnya, naik apa, pulangnya gimana, bla-bla” Ironisnya, biasanya sebagian dari teman-teman kita pada beli kartu perdana. Kemudian saling tukar kartu dengan NON-MUKHRIM, astaqhfirlah... semoga liburan kali ini tidak ada kejadian yang sama / negatif lainya, amin.

Jangan sampai kita jadikan liburan sebagai ajang membebaskan hawa nafsu, yang selama ini dibatasi dipesantren. Seperti dawuh beliau Gus Khosyi’in pada pengajian Ahad kemaren.

Apapun keingin hati, Shopping, HP-An, nonton TV, Puaskan Makan , Kluyuran (jalan-jalan), Rekreasi, FB-An, dipuas-puaskan sesuai keinginan.

Harapan saya, kita bisa menghilangkan kebiasaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak mencerminkan seorang santri, apalagi Santri SPMAA!
              “Yang biasa belum tentu benarnya, yang benar harus     ...........................................dibiasakan”

Kenapa kita tidak membiasakan kegiatan dipondok untuk dipraktekan dirumah? Mulai bangun sholat Malam sampai persiapan tidur.

Begitu juga adanya larangan-larangan untuk kita selama dipondok, knapa kita tidak berusaha untuk membentengi diri kita sendiri selama liburan dirumah? toh itu untuk kebaikan diri kita masing-masing.

Dirumah tapi tetap ngejalanin 8 Rukun Santri, dirumah tapi ngak nonton tipi, dirumah tapi ngak pakai hp,dirumah tapi ngak hura-huri, ngak pakai eF Bi dan menahan nafsu diri.

Masak ngak bisa? Katanya Santri SPMAA? Katanya Santri Sempurna? Katanya Ta’at + Cinta Komandan? Mana buktinya? Katanya Jiwa+Raga?

Jangan hanya berkata “Taat KOMANDO” tapi kerjakan sepenuh hati, jiwa raga ini, meski tanpa ada yang mengawasi.

Baru diuji seperti ini, bagaimana dengan ujian yang dialami  para Nabi, Sahabat dahulu, Bilal contohnya (yang ditindih dengan batu), Ibu Masyitoh (digodok hidup-hidup dengan putranya) hei santri putra-putri!

Seberat, sejenuh, sesuntuk, sengga’enak apapun kita di Pondok ini, tidak ada apa-apanya dengan ujian yang dialami para Nabi-Rasul & Para Sahabat dahulu.

Karena memang “Addunya Sijnul Mu’minin Wa Jannatul Kaffirin” Dunia penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang Kafir.

Sekarang tinggal terserah kita, memilih kenikmatan dan kebebasan di Dunia atau di Akhirat nanti.

Tuesday, June 3, 2014

17 TAHUN HIDUP TANPA UANG

www.spmaakita.blogspot.com - Uang, uang dan uang..(bahagia tanpa uang)
Sebuah benda yang membuat banyak orang ingin memilikinya. Uang bisa membuat manusia jadi tamak. Uang bisa membuat seseorang 'menginjak-injak' orang lain. Bahkan uang bisa membuat seseorang membunuh orang lain. Ya.. itulah sisi gelap uang. Hampir tidak ada yang gratis di dunia ini, semua butuh uang. Kadang uang menekan hidup, karena itulah wanita ini memutuskan untuk hidup tanpa uang.

Aneh memang, di zaman yang serba gila kekayaan dan silau harta, Heidemarie Schwermer yang hampir berusia 70 tahun justru memutuskan untuk meninggalkan hidup mewahnya. Wanita yang berasal dari Jerman ini memulai petualangan saat usianya masih 50 tahun. Heidemarie meninggalkan pekerjaan sebagai psikoterapis dan yakin bisa hidup tanpa uang. Kisahnya bahkan dibuat film dengan judul Living Without Money, dilansir dari situs Business Insider.
Keluargaku Kaya, Tetapi Miskin


Kisah ini bermula saat keluarga Heidemarie mengalami kebangkrutan di Perang Dunia II sekitar tahun 1940. Dengan jerih payah ayahnya yang seorang pengusaha kopi, keluarga mereka kembali berjaya dan kaya raya. Tetapi.. ada pergolakan batin saat keluarga Heidemarie mempertahankan kekayaan sekuatnya. Heidemarie muda berpikir, apakah keluarganya sungguh kaya atau sebenarnya miskin secara batin?

Heidemarie akhirnya meninggalkan kehidupannya yang bergelimang harta, dia bergabung dalam perkumpulan penduduk lokal. Perkumpulan itu akan membuat seseorang bekerja untuk mendapatkan barang, bukan uang. Heidemarie bekerja sebagai pengasuh anak hingga tukang bersih-bersih. Semua dia lakukan dengan gembira. Heidemarie bahkan tidak keberatan memberikan rumahnya secara cuma-cuma pada kerabatnya.
"Saya rasa itulah saat yang tepat, saya memberikan rumah dan semua yang saya miliki," ujar Heidemarie. Semua barang diserahkan, kecuali barang pribadi yang memiliki kenangan, semua dimasukkan dalam koper kecil.

Bahagia Hidup Dalam Kesederhanaan

Walaupun hanya mendapatkan bayaran berupa barang, Heidemarie tidak keberatan menyumbangkan baju yang didapat untuk orang lain. Sementara itu orang lain secara ajaib sering membantu Heidemarie, dia menyebutnya mukjizat, bukan sumbangan semata. "Setiap hari saya melihat banyak keajaiban di dalam hidup saya," ujarnya.
Banyak memberi, banyak menerima, itulah kata-kata yang sering diucapkan Heidemarie. Bertahun-tahun hidup tanpa uang tidak selalu mulus, kadang Heidemarie harus mencari sisa sayur segar di pasar. Walau begitu, Heidemarie tidak mau disebut tunawisma, karena dia bahagia dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Perjuangan hidup Heidemarie membuatnya dipercaya untuk melatih mahasiswa ahli lingkungan BUND Youth dari Muenster. Ada beberapa orang yang mengkritik gaya hidup Heidemarie, tetapi baginya, kritikan itu bisa diterima walaupun menyakitkan. Ada juga yang memberi respon positif bahwa uang tidak selalu memberi kebahagiaan, ada orang yang banyak uang tetapi miskin hati.
Dalam kesederhanaan, selalu ada kebahagiaan. Bagaimana dengan Anda ?

Sumber: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/28387-hidup-tanpa-uang-selama-16-tahun-wanita-ini-bahagia.html

Tuesday, May 27, 2014

Difficult to gain TRUST


Dulu...ketika Q diamanahi sesuatu oleh seseorang, aku menganggapnya mudah. Dari hari ke hari Q selalu berfikir nanti dan nanti...

hingga hari ini tiba tak sedikitpun yang kulakukan... Dan akhirnya penyesalan Q tiba... dan ketakutan itu hadir...hingga mulut Q tak dapat berkata “maaf " karena itu terlalu gampang terucap tak sebanding dengan kesalahanku...

Kini Q kehilangan kepercayaan...
sedang kepercayaan itu sulit tuk didapat...
dan hanya karena “syetan” Q menjadi benda mati
yang mau disuruh apapun yang menyesatkan...

Sekarang...

Aku sadar semua ini menjadi cambukan untuk Q dan semua.
Agar selalu wirai dan bisa menjaga kepercayaan..
dan bisa taat komando meski melawan keinginan...
dan bisa menjadi santri yang siap pakai..
denagan bercita-cita menjadi seorang yang bertubuh agama.

Ayo terus menumbuhkan semangat agar bisa bertahan
Dan setia sampai Akhir Hayat
Bersama Bahtera Keselamatan SPMAA

Go on spirit in a problem because
A problem is a change for you so the best.

By: M2

Monday, May 19, 2014

INGAT MATI, HIDUP BAHAGIAKU

Kegemaranku akan hidup dan ketakutanku paranoid akan mati, 
sampailah pada puncak ketakutan ambang batas manusia. 
Megap-megap dan lemas terkulai
Melambungnya isak tangis dan jerit yang tak berdaya

Hilang suara dan kempis tak bertenaga
Semeleh dan hanya pada yang Kuasa
Subhaanallah 
Kuasa Kasih Allah SWT datang dan memberi jawaban.

Ada keinginanmu yang berumur panjang tanpa mati itu
Kemudahannya melebihi kemudahan sebelum kau masuk dalam rahim ibumu
Diakhirat setelah kau dimetamorfosiskan dalam liang lahat matikuburmu
Hanya bisa kau gapai dengan amalan sholeh kasih sesamamu

Sejak saat itu, apapun tipuan dunia berupa kemewahan, kekayaan, kedudukan, yang berakhir mati tak mampu menggodaku
Karena chip perasaan pasti mati, selalu membersamai dengus nafas-fikirku
Hanya linangan air mata bersimpuh sujud padaNya
Agar terus tidak terputus jalinan petunjuk hidayah dan Kasih SayangNya

Agar bisa sampai pada alam surga yang dijanjikanNya
Tanpa mati hidup bahagia sejahtera selama bersamaNya. Bismillah


By: Gus Hafid

Sunday, May 18, 2014

Praktik Pancasila Tanpa Kata


Di pesantren kami, ada beberapa fenomena istimewa yang patut disyukuri bulan Juni ini. Selain persiapan maraton untuk acara milad 50 tahun ma’had, banyak tamu datang bergantian hampir setiap hari. Diantaranya kami kerawuhan serombongan mahasiswa pasca sarjana perguruan tinggi negeri ternama dari Jakarta. Mereka bermaksud live in mengikuti tradisi santri selama sepekan dalam kegiatan bertitel “Belajar Mentoring Bersama Santri & Mahasiswa”. Hari kedua, bakda sholat subuh berjamaah. Seperti biasa jadwal rutin pesantren adalah pengajian tafsir Al Quran. Keenam belas calon magister yang berasal dari beragam budaya itu pun turut mengikuti majelis. Kebetulan kajian materi Al Quran sampai pada surat Al Maidah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim1-300x199.jpg
Menjadi istimewa dan khas Indonesia suasana majelis di pagi hari itu karena pesertanya bukan hanya santri, tapi diikuti juga oleh rekan-rekan mahasiswa yang berbeda-beda agama dan budaya tadi.  Dengan duduk bersila baris tertata, pengajian yang diikuti anak-anak, mbah lansia, remaja, pemuda dan mahasiswa S2, bersatu dalam majelis yang setara. Alhamdulillah selama hampir  90 menit semua peserta majelis pengajian dapat saling guyub berbagi pertanyaan dan jawaban.  Tanpa banyak retorika, wajah ramah Indonesia tersaji sesungguhnya. Di pagi itu, kesadaran kami seperti dilahirkan kembali oleh ibu pertiwi. Bahwa sesungguhnya awal muasal semua manusia adalah saudara sebangsa tanpa imbuhan SARA.

Indonesia, sebagai kumpulan ribuan bangsa dan budaya, nampak akur bertutur di pengajian pagi itu. Seorang santri yang duduk di sebelah saya berbisik, “Gus tahukah sampean, hari ini Indonesia memperingati kelahiran Pancasila?” Saya pun spontan melirik kalender yang menempel di dinding masjid. Ternyata memang iya, kalender menandai hari itu 1 Juni.  Tanggal yang dipercayai sejarawan sebagai lahirnya Pancasila di bumi Indonesia. “Alhamdulillaah,” bisik hati saya berkali-kali.

Mungkin inilah yang disebut ayyaamillaah. Hari-hari Allah yang pasti terjadi.  Tanpa direncana sebelumnya, kajian ayat tentang keadilan itu diikuti oleh wakil-wakil kaum Indonesia. Kami para santri mewakili mayoritas, dan rekan-rekan mahasiswa itu delegasi minoritas. Selain itu, para santri yang memang asalnya dari Aceh sampai Irian Jaya. Sungguh miniatur keberagaman Indonesia yang membersyukurkan potensi nusantara. Pasnya lagi, kami peringati Pancasila langsung praktiknya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim2-300x225.jpgLebih khusus menjadi renungan buat kami kaum santri yang mengaku beriman. Ayat 8 surat Al Maidah itu memberikan peringatan tegas atas perilaku sosial kita pada kelompok lain yang berbeda. Kajian tafsir yang diampu Gus Glory hari itu, mengurai makna keadilan dari sisi kemanusiaan. Berbicara fakta kritis keIndonesiaan dan refleksi kekinian. Sering, ketika tidak suka kepada madzhab yang berbeda atau identitas SARA lainnya, maka sikap negatif gebyah uyah menjadi lumrah. Di pihak kita selalu merasa benar saja, sementara mereka salah bahkan najis selamanya.

 Hingga pada norma sosial dan praktik kehidupan komunal, laku ketidakadilan kita paksakan berjalan.
Nalar sehat dikalahkan naluri jahat. Emosi dan benci lebih menguasai daripada kebaikan budi dan kejernihan nurani. Di satu moment kita meneriakkan keadilan, tapi di waktu lain kita menanamkan benih rasisme berlebihan. Kembali merenungi momen penuh rahmat di pagi hari itu. Kami para santri yang mewakili mayoritas kaum beriman nusantara, ditunjukkan kenyataan bahwa nilai adiluhung Pancasila sudah pas untuk mengelola dan menyatukan potensi raksasa bernama Indonesia.  Maka akan jadi anomali jika kami para santri belum bisa adil pada kelompok yang berbeda keyakinan. Karena perlaku tidak adil itu sama saja dengan penolakan terhadap kebenaran ajaran Al Quran.


Meski masih diramaikan perdebatan, saya meyakini kesesuaian ajaran Al Quran dan Pancasila beriring pada jalur cita-cita yang sama.  Al Quran mengajarkan ketauhidan, Pancasila menyahutinya di sila pertama. Al Maidah ayat 8 menyuruh kita kaum beriman berbuat adil dan Pancasila mengamininya di sila kedua. Seterusnya ayat tentang persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial juga termuat di sila Pancasila berikutnya. Pagi itu, tanpa terasa kami telah belajar mempraktikkan ajaran Al Quran sekaligus sila kedua dan terakhir Pancasila. Belajar memaknai nilai kemanusiaan dan keadilan melalui aksi kecil yang riil. Praktik menyikapi secara adil kehidupan Indonesia yang dilahirkan berbeda-beda rupa karakter dan keyakinannya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim3-300x207.jpgMelalui kegiatan sederhana dan bisa diikuti oleh semua, Pancasila bisa dipraktikkan kapan saja bila ada keseriusan niat menjalankannya.  Jangan sampai terjadi negara dan bangsa lain mulai meniru filosofi Pancasila, sementara kita justeru bergegas melupakannya. Berangkat dari pengalaman pagi itu, saya mengajak Anda untuk praktik pengalaman serupa. Memperingati kelahiran Pancasila tanpa buih kata, tanpa genit langgam retorika, tanpa riuh dihipnotis gegap gempita media. Tapi langsung praktik kehidupan sosial di lingkungan terdekat kita.
Karena jika tidak dengan cara demikian, maka Pancasila akan tertutup pelan-pelan di buku kenang-kenangan peradaban. Mungkin hanya akan dibaca sekali saat rangkaian upacara tujuh belasan. Teronggok maya dalam formalitas belaka tanpa makna.


By: Gus Adhim

Thursday, May 1, 2014

HAJI DAN ELEGI PARA TKI

SEBUAH RENUNGAN
Gus Glory


Tampak seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju teller sebuah bank syariah. Dari caranya berinteraksi dengan teller, terlihat si nenek belum pernah berhubungan dengan bank sebelumnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Sambil menuangkan isi keresek yang penuh berisi uang receh dan beberapa lembar ribuan, bibir si nenek gemetaran menyampaikan niat membuka rekening. Ya, si nenek sedang mulai menabung ONH untuk berangkat haji. Total uang receh tersebut sebesar 5 juta rupiah. Si teller dengan senyum sabar melayani.



Dengan buku tabungan ONH di tangan, si nenek berjalan pulang dengan gembira. Wajahnya bersinar penuh harapan cita-citanya akan segera terwujud. Doa yang dibarengi usaha banting tulang sebagai pembantu itu akan segera terkabul. Bayangan ka’bah seperti lukisan dinding yang dibuat anaknya secara slow motion bergantian muncul dalam pikirannya. Sebuah tabungan, sebuah langkah awal hasil dari kerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wak Haji kaya. Si nenek tinggal di rumah reot bersama anak laki-lakinya, seorang pelukis. Anaknya baru saja cerai karena istrinya memilih hidup dan menikah dengan laki-laki lain.  Sang anak yang berubah sayang pada ibunya dan sangat ingin mewujudkan mimpi ibunya, naik haji.

Selang beberapa waktu setelah hari penuh harapan itu, seorang wanita datang bertamu ke rumahnya. Mata nenek menatap redup wanita yang datang tersebut. Sambil menangis sesenggukan wanita itu bercerita bahwa anaknya divonis mengidap penyakit kronis yang harus segera dioperasi. Kesedihan semakin bertambah karena dia tidak mampu membiayai operasi yang sebesar 5 juta. Sambil mengelus lembut pundak wanita itu, si nenek berujar: “Sudahlah jangan sedih, insya Allah nenek bantu. Akan nenek ambil tabungan nenek”.

Mendengar itu anak laki-lakinya yang berada dalam kamar sontak datang, “Tidak! Aku tidak rela. Itu tabungan emak selama bertahun-tahun untuk tujuan suci, haji”. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ucap si nenek sambil memakai pedang ikhlas untuk memenangkan perang batin yang bergelora dalam batinnya. Sang anakpun hanya bisa menunduk lesu, perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya.

Hari berganti hari, si nenekpun mulai menabung kembali. Disusunnya puzle harapan bersujud di depan ka’bah yang sempat buyar karena menolong orang yang sakit. Pagi itu, si nenek sedang menjemur pakaian ketika dilihatnya dua orang anak yatim yang tinggal di sebelah rumahnya sedang memakan daging. Si nenek heran karena dengan kondisi ekonomi ayah mereka yang sangat kurang, jangankan makan daging, untuk makan sehari-hari saja sering meminta-minta. “Daging dari mana nduk?” tanya nenek. Si anak diam. Wah, jangan-jangan. “Itu daging bangkai ayam yang nenek kubur kemarin?” tanya nenek khawatir. Si anak hanya bisa mengangguk.

Segera si nenek menyuruh membuang dan menuntun mereka ke rumahnya. Perang batin berkecamuk hebat, ketika nenek menyingkap kasur di mana dia menaruh receh dan lembar uang yang hanya berjumlah beberapa puluh ribu, yang disimpannya untuk naik haji. Dia membeli ayam dengan uang tersebut dan memasakannya untuk anak tetangganya. “Makanlah nak..”. Sejurus kemudian uang di bawah kasur yang tersisa 50 ribu pun diberikan pada anak yatim, sambil berpesan “ini pakai untuk kebutuhan keluarga kalian..” Subhanallah.

Kejadian tersebut saya sarikan dari beberapa scene dalam film EMAK INGIN NAIK HAJI yang dimainkan secara luar biasa bagus oleh Aty Kanser (si nenek) dan Reza Rahardian (pelukis). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa seorang nenek sederhana, lebih mampu mengartikulasikan apa yang dikehendaki oleh Allah daripada kita yang pandai ber-retorika. Saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah film, karena kejadian yang nyaris persis saya temukan di lingkungan kami. Bahwa masih ada hamba-hamba terpilih Allah yang mampu mengejawantahkan makna sesungguhnya dari haji. Mereka yang begitu tajam penglihatan batinnya dan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menentukan skala prioritas dalam pengabdian kepada Allah.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang yang begitu bernafsu masuk surga. Lalu di tengah jalan menuju surga ditanya Tuhan: “Apa modalmu masuk surga?”. Dia menjawab: “Hamba ketika hidup di dunia rajin sholat, puasa tidak pernah bolong, zakat dan haji kutunaikan”. “Itukah modalmu masuk surga?”, tanya Tuhan lagi. “Bukankah itu sudah cukup, ya Tuhan?”, jawab orang tersebut dengan yakin dan sombong. Tuhanpun murka dan menghardiknya: “Ya, kamu sholat tapi ketika AKU sakit dan sekarat menengokpun kau tak sempat. Kamu haji, tapi ketika AKU kelaparan kau tidak bersimpati. Kamu pandai mengaji tapi ketika AKU tinggal di bantaran kali, kau tidak peduli”. Orang itupun dilarang masuk surga. Dalam hal ini Tuhan memakai kata “AKU” untuk mewakili kaum papa di dunia.  

Muchtar Sadili pernah menulis bahwa dalam ilmu fikih dikenal istilah penarikan hikmah dari satu ibadah (hikmah at-Tasyri’), sama pentingnya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Haji Mabrur yang diinformasikan oleh syari’at`, secara bahasa dan istilah mempunyai relasi kuat dengan kepedulian sosial. Kata mabrur yang berasal dari kata bir dalam bahasa arab diartikan sebagai kebaikan. Nah, dalam al-Qur’an makna itu dilebarkan bahwa kebaikan hanya diperoleh jika menafkahkan harta yang kita cintai untuk meringankan beban hidup orang lain di sekitar kita (QS ‘Ali Imran:9).

Begitu juga jika ditilik ibadah lainnya dalam rukun Islam setelah syahadat sebagai pengakuan akan Tuhan dan Nabi, seperti shalat, puasa dan zakat. Pelaksanaan shalat akan dianggap sebagai pendustaan agama, jika pelakunya tidak peduli terhadap penderitaan anak yatim dan para fakir-miskin (al-Ma’un:1-5). .Puasa sengaja didisain untuk melatih diri dengan biasa merasakan lapar-dahaga di siang hari, agar merasakan derita kaum papa (hadits bukhari-muslim). Secara tegas, kita temukan dalam zakat, yakni dengan mengeluarkan sebagian dari harta yang telah mencapai jumlah tertentu (nishab), untuk kaum dhu’afa (Qs at-Taubah 9:60).

Spirit komunalitas Haji setidaknya menyimpulkan kekaguman, sekaligus kekagetan. Di tengah negeri yang masih terlilit krisis ekonomi, jumlah kuota haji tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tahun ini grafiknya cenderung naik – terlepas dari adanya waiting list. Anehnya, problem kemiskinan tidak berbanding lurus dengan spirit komunalitas tadi. Sejatinya, secara organik dan fungsional ibadah haji memerankan dirinya dalam usaha untuk menuntaskan problem kemiskinan bangsa.

Sementara C. Ramli Bihar Anwar dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam iIbadah haji mengenal apa yang disebut halangan atau uzur sosial, yakni peristiwa atau masalah-masalah sosial (kemanusiaan) yang bisa menggugurkan kewajiban haji seseorang, meski mungkin hanya bersifat sementara. Kewajiban haji yang bias dikalahkan oleh kemungkinan uzur-uzur sosial bukan saja ditekankan oleh penghayatan sufistik tetapi juga oleh tradisi fiqih. Penekanan secara tasawuf sangat memungkinkan, karena tasawuf dikenal sebagai disiplin batin yang lebih bersifat humanis dan relatif “longgar” secara legal-formal. Tapi, bila hal ini diterima secara fiqih – yang dalam banyak kasus sering terlalu “rigid, dogmatis dan kering“ – maka jelas ini mendakan adanya pancaran sifat humanis yang tak terbendung dari ibadah haji. Dr. Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Aulawiyyat, Fiqih Prioritas, “ kewajiban yang pelaksanaannya harus sesegera mungkin (genting) harus didahulukan di atas kewajiban yang harus ditunda. Dan, haji adalah kewajiban yang bisa ditunda“.

Sementara bila uzurnya tak sampai mengancam jiwa, misalkan kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah sosial lainnya, maka menaggulangi semua ini harus didahulukan ketimbang melakukan haji sunnah / umrah. Artinya, dalam kondisi serba krisis, ongkos untuk berhaji sunnah (yang kedua dan seterusnya) jauh lebih baik disalurkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan sosial. Dalilnya, melayani urusan publik adalah fardlu kifayah (kewajiban sosial), sedangkan melakukan ibadah haji/umrah yang kedua dan seterusnya hanyalah sunnah.

Jika demikian pandangan fiqih, maka tak heran bila Abu Hayyan Al-Tauhid (w. 1025 M), seorang ahli sufi, filasafat dan sastra sampai merasa perlu mengarang sebuah kitab berjudul Al-Hajj Al-Aqli idza Daq Al-Fada ‘An Al-Hajj Al-Sary’I ( Haji Spiritual bila Tak Mungkin Melakukan Haji Formal? ); untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai haji spiritual sebagai ganti haji fisikal jika cukup terdapat uzur-uzur sosial. Tak heran pula bila Al-Ghazali samapi berani menyebut para hartawan yang berkali-kali berangkat haji sementara membiarkan tetangganya kelaparan sebagai “orang-orang yang terkelabui”.

Maka, adalah ironis bila kaum Muslim tanah air – terutama yang telah berhaji berkali-kali – terus begitu antusias berhaji sampe harus antri menunggu kuota bahkan harus sampai “adu demontrasi” umtuk memperebutkan kuota, sementara dibelakang mereka antrian kebodohan dan kemiskinan bahkan sampai harus “adu nyawa” saat memperebutkan prosesi pembagian sedekah maut semakin bertambah panjang. Tambahan biaya haji pun tak risau untuk kembali dikeluarkan meski sebatas untuk keperluan biaya jual beli kuota kepada oknum Depag di daerah-daerah.

Itulah kenapa dalam status sebuah jejaring sosial saya menulis: “Wahai saudara-saudara Muslim, bagaimana kalau sampean semua yang berencanan haji ke Arab ditunda dulu. Kemudian uang saudara2 dikumpulkan untuk pemberdayaan para TKI/TKW. Kalau tiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang berhaji dengan biaya sekitar @ 30 juta. Berarti ada dana sekitar 6 trilyun per tahun. Dan umat Muslim secara ikhlas me-moratorium haji selama 5 tahun ke depan”. Sentilan ini adalah bentuk keprihatinan saya menyaksi-rasakan berita dan penderitaan jutaan saudara yang menjadi TKI/TKW di jazirah Arab, jazirah di mana Arab Saudi negara tempat ibadah haji dilaksanakan.  

Si Emak dalam film di atas mirip dengan cerita sufi tentang tukang sol sepatu, yang lebih mendahulukan substansi daripada seremoni. Berpikir cerdas untuk meredam ibadah yang bisa ditunda dengan memenuhi kewajiban ibadah perlu segera. Dengan tanpa membuat dikotomi antar keduanya, si Emak berhasil secara ikhlas mengusahakan tertunaikannya ibadah ritual dengan memberikan ruh ibadah sosial. Usulan saya dalam status tersebut bukan usulan kepada pemerintah RI untuk dijadikan regulasi, namun kepada individu-individu untuk dijadikan renungan nurani dan rencana pribadi. Himbauan tersebut bukan dimaksudkan untuk membebankan tanggungjawab menolong sesama pada mereka yang akan berhaji saja, karena sesungguhnya tanggungjawab itu ada pada kita semua. Ingat, bahkan orang yang mengerjakan sholat dianggap pendusta agama dan diancam neraka, jika melalaikan kepedulian sosial memberi makan anak yatim dan menolong kaum miskin.

Saat si Emak merelakan tabungannya untuk menolong anak miskin membayar biaya operasi, bukan karena kurang besarnya keinginan menuju baitullah. Tapi lebih karena personifikasi “Emak” telah mencapai tingkatan iman yang memungkinkan dia melihat ibadah ritual dalam bingkai yang sesungguhnya, ibadah sosial. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ujar Emak penuh makna. Ini sebuah renungan, bukan usulan yang memaksakan, apalagi ego untuk diadu. Kita kalah dengan si Emak. Kita seharusnya malu dengan tukang sol sepatu. Karena belum mampu, saya malu. Bagaimana dengan bapak-ibu? Suwun.
 

Pengikut