Ads 468x60px

Showing posts with label Wanita. Show all posts
Showing posts with label Wanita. Show all posts

Friday, October 16, 2015

KEPALSUAN CINTA |part 2

Kepalsuan Cinta | Gus Glory | Penulis
“Gus, seberapa besar sih cinta sampean kepada keluarga?”, pertanyaan kawan itu membuyarkan keasikan saya menikmati bulan purnama. “Ya besar dong, pokoknya ga bisa diukur”, jawabku sekenanya. “Kalau kepada Allah cinta nggak?”, usiknya lagi. Sayapun menjawab singkat: “Pasti”. Belum puas diapun melanjutkan: “Besar mana dengan cinta pada keluarga

Spontan saya ingin jawab besar kepada Allah, tapi nafas saya seolah tercekat. Karena saya rasa itu dusta. Lalu timbul jawaban lain, ya seimbang lah, tapi itupun tertahan, karena bahkan seimbangpun sepertinya belum.

Akhirnya jawaban yang muncul adalah penjelasan-penjelasan saya yang nggak jelas. Kumpulan logika, justifikasi dan penafsiran dangkal dari dalil-dalil, semuanya hanyalah upaya kamuflase saya menutupi kekurangan diri. Sebuah kesimpulan pahit justru saya peroleh dari jawaban jujur saya atas pertanyaan tersebut, setelah kawan itu pulang. Sederet kriteria kitab suci yang saya pakai untuk melakukan fit and proper test atas rasa cinta saya pada Allah. Jawaban jujur itu ternyata saya belum mencintaiNya.

Kira-kira apa yang sampean rasakan saat nama seseorang yang sedang sampean gandrung dan cinta disebut, berdesir ya? Jika saat namanya disebut seperti darah mengalir lebih laju, kala bertemu dengannya degup jantung berpacu tak menentu, waktu lama tak bersua ada perasaan rindu, berarti ada rasa cinta yang sedang bertamu. Kiriman sms dan panggilan telepon adalah hal yang sangat ditunggu dan pertemuan dengan kekasih adalah penyejuk kalbu.

Serindu itukah kita pada Allah? Kala mendengar adzan, apa yang muncul dalam benak kita; trengginas menyahuti ingin segera bertemu yang dirindu atau ogah-ogahan karena terganggu? Di luar bulan puasa saat sedang sibuk atau sedang asik bercengkerama, suara mana yang timbul: “kok belum adzan sih?”, sebuah ungkapan perasaan yang senantiasa menunggu-nunggu datangnya waktu sholat, atau karena waktu sholat dirasakan sebagai pemutus kesenangan atau jeda di waktu yang tak tepat, sehingga yang muncul “kok sudah adzan sih?”

Jika cinta sesama anak Adam dilukiskan dengan adanya getaran saat nama kekasih disebut, maka bergetarkah hati kita saat menyebut atau disebut nama Allah? “Orang-orang yang beriman, ialah mereka, yang apabila disebut Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayatNya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya, dan hanya kepada Tuhan mereka tawakkal” qs. 8:2. Coba jujur pada diri sendiri, itukah yang sampean rasa saat nama Allah disebut, bergetarkah? Katanya cinta?

Percintaan sering digambarkan dengan pelayanan dan kesediaan mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi demi mendapatkan hati yang dicintai. Apapun dilakukan atas nama cinta. Bahkan jika tengah malam ada panggilan dari sang pujaan hati, banyak yang tetap berjuang untuk datang. Kencan tengah malam, siapa yang bisa menolaknya? Itulah cinta, kadang sulit dicerna. Lalu bagaimana jika yang memanggil dan meminta sampean untuk datang dan berkencan tengah malam itu adalah Tuhan kita, Sang Robb, Allah Subhanahuwata’ala?

“Dan waktu malam, salat tahajudlah sebagai (ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat”. 17:79. Bayangkan kita tengah tidur lelap, hujan deras, hawa dingin menusuk tulang, relakah kita memutus tidur, menyibakkan selimut, melawan dinginnya malam bersentuhan air hanya untuk menemui Allah? Tertarikkah kita dengan janji balasan cinta dari-Nya dan pengangkatan derajat yang secara dhohir tidak bisa diukur dan dirasakan?

Pernahkah sampean selingkuh? Semoga tidak. Tapi pernahkah sampean memikirkan hal atau orang lain saat sedang berduaan dengan kekasih atau pasangan? Jika pernah, konon kata orang itu juga tanda-tanda selingkuh hati. Pun demikian halnya ketika kita berduaan dengan Allah dalam sholat. Bisakah kita saat sholat hanya fokus (khusyu) memikirkan dan berdialog dengan-Nya tanpa ingat dan memikirkan yang lain? Karena memang demikianlah semestinya sholat.

Tapi pernahkah kita saat sholat yang harusnya hanya intim dengan Allah, tapi pikiran kita melayang: “waduh, besok deadline kerjaan”, “komporku tadi udah ta matiin belum ya”, “besok presentasi produk?”, “kampanye di dapil sana harus sukses”, dan hal dunia lainnya, pernah? Atau malah sering. Jika itu yang terjadi berarti kita telah selingkuh. Itulah kenapa Allahpun tidak sudi menoleh pada kita. Ujungnya sholat kita tidak pernah memberi dampak pada perilaku sosial kita. Karena sholat yang tidak pernah sampai kepada-Nya. Di mana semestinya sholat bisa memberi perbedaan prilaku sesudah sholat lebih baik dibanding sebelum sholat.

Lagi, Nabi bersabda: Man la yarhamunnas, la yarhamuhullohu, barangsiapa yang tidak mencintai sesama manusia, maka Allahpun tidak mencintainya. Tiap rasa cinta tentu besar harapan berbalas. Demikian juga kalau kita mengaku cinta Allah, mengharap balasan dengan cintaNya. Padahal cinta Allah kepada kita sangat bergantung pada seberapa tulus dan terbuktinya cinta kepada sesama. Mampukah sampean membuktikan cinta dengan menyayangi sesama seperti menyayangi diri sendiri?

Bila sampean sedang berdekatan dengan penjual minyak wangi, tercium bau wangi bahkan tak jarang diolesi minyak wangi. Kalau memang benar-benar kita dekat kepada Allah seperti yang kita gembar-gemborkan, maka pasti kita jiwa kita akan penuh kasih akibat “tertular dan terolesi” sifat Allah Yang Ar Rahman dan Ar Rahim, Pengasih Penyayang. Dan bohong besar mengaku dekat dan cinta kepada Allah tapi jauh dari sifat kasih. Duduk nyaman dalam mobil mewah, cuek melewati sesamanya yang kelaparan.

Cinta Nabi Muhammad pada Allah dibuktikan dengan pengorbanan harta, waktu, pikiran bahkan taruhan nyawa. Sampai saking gandrung dan kedanen Allah, puja-puji pada sang kekasih tertuang dalam 99 nama asmaul husna. Itulah adalah ungkapan cinta sang Nabi menggambarkan sang kekasih. Demikian pula para sahabatnya. Sahabt Bilal memilih cinta Tauhid meski disiksa, Abu Bakar mengorbankan status sosial dan hartanya, Umar, Ali, Usman yang tak terhitung pengorbanannya semua demi cinta.

Gimana sekarang, masih mau dan sanggup mencintai Allah? Masih keukeuh merasa punya rasa cinta pada Allah? Baiklah, coba baca ayat berikut:

Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu atau kerabatmu; kekayaan yang kamu peroleh, peniagaan yang kamu khawatirkan akan mengalami kerugian dan tempat tinggal yang kamu sukai – lebih kamu cintai daripada Allah, atau RasulNya atau berjihad di jalanNya; maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (siksa)Nya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”, qs. 9:24.

Membaca ayat ini, sayapun diam tertunduk lesu, lidahpun kelu. Bak pedang tajam, ayat ini menusuk telak tepat di jantungku. Tidak ada lagi alasan-alasan yang bisa saya buat-buat. Mau bilang apa, lha wong memang saya kerap masih lebih mencintai hal-hal tersebut daripada Allah. Ingatan dan kenyamanan saya lebih banyak pada hal-hal yang diprediksi dalam ayat tersebut daripada Allah. Jawabannya sudah jelas: ternyata cintaku palsu! Bagaimana dengan sampean? Wallahu a’lam. Bismillah.

Penulis: Gus Glory

Wednesday, August 19, 2015

karena (bukan) karena

Karena Bukan Karena | Penulis Gus Adhim | SPMAA


"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan...."

Maka dwiwarna melambai Indonesia | oleh karena itu aku mau membawa sang saka berkelana | sebab demikian Merah Putih siap diriwayatkan....

"Adakah Merah Putih di dadamu?? Ada...ada..ada !!" Adakah Pancasila di hatimu? "Ada..ada..ada!" Mana dia? "Ini dia..ini dia..ini dia.!"

Karena Pangeran Diponegoro mengilhami jalan jihad ini | meski harus bertarung sendiri dan berdharma ikhlas bersih, tiada bekas pamrih.

Karena Panglima Sudirman menyatakan teladan, " Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi."

Bukan karena hendak berpunya tanda jasa bintang maha putra | bukan juga karena mimpi dibawa wisata ke istana | bukan karena ingin diimingi janji singgasana oleh raja mancanegara...

Karena Merah Putih itu jiwa raga bersenyawa | maka ia senantiasa hidup melegenda selama ada nusantara |

karena panji sakti ini bukan cuma jahitan perca dua segitiga | karena sang saka bukan hanya kain berenda bintang kejora | karena Merah Putih bukan besi bisu atau alat sambit seperti palu dan arit...

Karena Merah Putih, adalah cita-cita bangsa bermarwah bersih.. maka aku membawanya sepanjang ruas raya, mengiringi Indonesia bercerita, mensyukuri karunia surga kecilNYA..

Thursday, July 24, 2014

Liburan, Lebaran di Kampung Halaman

@ Gus Arsyis.
Beberapa hari lagi, kita mendapat jatah liburan dari pesantren selama 25 hari. Diberi waktu untuk bertemu keluarga dirumah, setelah sekian lama tak berjumpa.

Tentu sangat bahagia berjumpa bersama keluarga tercinta, rindu, canda, tawa bahkan sampai meneteskan air mata.

Itulah sedikit gambaran suasana liburan waktu Lebaran di kampung halaman, tentu anda sangat pengalaman. Karena tiap lebaran selalu melakukan hal yang demikian, sehingga sudah sejak jauh hari sebelum ramadhan sudah dipersiapkan agenda liburan di kampung halamanya.

Minimal di rembukin dengan teman se-CS kentel / sekampung halaman, “Kapan brangkatnya, naik apa, pulangnya gimana, bla-bla” Ironisnya, biasanya sebagian dari teman-teman kita pada beli kartu perdana. Kemudian saling tukar kartu dengan NON-MUKHRIM, astaqhfirlah... semoga liburan kali ini tidak ada kejadian yang sama / negatif lainya, amin.

Jangan sampai kita jadikan liburan sebagai ajang membebaskan hawa nafsu, yang selama ini dibatasi dipesantren. Seperti dawuh beliau Gus Khosyi’in pada pengajian Ahad kemaren.

Apapun keingin hati, Shopping, HP-An, nonton TV, Puaskan Makan , Kluyuran (jalan-jalan), Rekreasi, FB-An, dipuas-puaskan sesuai keinginan.

Harapan saya, kita bisa menghilangkan kebiasaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan tidak mencerminkan seorang santri, apalagi Santri SPMAA!
              “Yang biasa belum tentu benarnya, yang benar harus     ...........................................dibiasakan”

Kenapa kita tidak membiasakan kegiatan dipondok untuk dipraktekan dirumah? Mulai bangun sholat Malam sampai persiapan tidur.

Begitu juga adanya larangan-larangan untuk kita selama dipondok, knapa kita tidak berusaha untuk membentengi diri kita sendiri selama liburan dirumah? toh itu untuk kebaikan diri kita masing-masing.

Dirumah tapi tetap ngejalanin 8 Rukun Santri, dirumah tapi ngak nonton tipi, dirumah tapi ngak pakai hp,dirumah tapi ngak hura-huri, ngak pakai eF Bi dan menahan nafsu diri.

Masak ngak bisa? Katanya Santri SPMAA? Katanya Santri Sempurna? Katanya Ta’at + Cinta Komandan? Mana buktinya? Katanya Jiwa+Raga?

Jangan hanya berkata “Taat KOMANDO” tapi kerjakan sepenuh hati, jiwa raga ini, meski tanpa ada yang mengawasi.

Baru diuji seperti ini, bagaimana dengan ujian yang dialami  para Nabi, Sahabat dahulu, Bilal contohnya (yang ditindih dengan batu), Ibu Masyitoh (digodok hidup-hidup dengan putranya) hei santri putra-putri!

Seberat, sejenuh, sesuntuk, sengga’enak apapun kita di Pondok ini, tidak ada apa-apanya dengan ujian yang dialami para Nabi-Rasul & Para Sahabat dahulu.

Karena memang “Addunya Sijnul Mu’minin Wa Jannatul Kaffirin” Dunia penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang Kafir.

Sekarang tinggal terserah kita, memilih kenikmatan dan kebebasan di Dunia atau di Akhirat nanti.

Friday, April 25, 2014

SANTRI SAKTI

Sebelum santri masuk tahapan penggodokan Taruna TPU-PGA (Tenaga Penyayang Umat-Pegawai Gaji Akhirat) di Yayasan SPMAA, para mentor senior akan memberikan ujian kenaikan status kesantrian. Setiap santri calon Taruna TPU-PGA harus mampu membuktikan komitmen pengorbanan untuk kaul pelayanan keumatan serta “jati diri filantropi” yang dimiliki selama ia belajar beragama di ma’had Yayasan SPMAA.
Diantara ujian kenaikannya, santri harus pernah mengikuti beragam puasa sunnah yang diteladani Nabi. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Rajab, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa nisfu Sya’ban, dan puasa 6 hari Syawal. Selain itu harus sudah melaksanakan ikhtiar puasa  lainnya dan tirakat sehat sebagai bekal survival sosial saat tugas berangkat melayani umat.
Ujian kenaikan terberat adalah ketika santri diharuskan berpuasa selama 7 hari penuh. Di dalam proses berpuasa itu, kegiatan pembelajaran terus dilangsungkan secara padat jadwal, mulai dari jam 3 pagi hingga jam 11 malam.  Jeda sedikit hanya waktu sholat 5 fardlu, plus sholat dluha dan tahajjud. Pembelajaran maraton, ketat dan padat ini akan menguras energi fisik serta psikis santri.
Pada puasa hari ketujuh (hari terakhir), calon santri Taruna TPU diminta menuliskan menu makanan yang sangat mereka suka. Para mentor senior lalu menyediakan makanan pesanan tersebut. Saat jelang berbuka, menu yang masih dikemas tersembunyi itu dibaris di depan santri yang bersiap mengikuti prosesi upacara makan bersama.
Ketika adzan maghrib bergema, santri diperintahkan membuka kemasan makanannya. Sebelum makan terlebih dulu harus menemukan kertas pesan di dalamnya. Kemudian santri kudu baca pesan itu, dan harus segera melaksanakan isi perintahnya. Pesan di kertas ini berbunyi “TOLONG BERIKAN MAKANAN YANG PALING KAMU CINTAI INI, KEPADA ORANG YANG PALING KAMU BENCI”

Saat itulah santri-santri ini akan perang emosi dalam hatinya sendiri. Setelah diuji bersabar mengendali asupan makan, bertahan dalam aktifitas harian yang menguras mental dan kebugaran badan selama 7 hari penuh, kini menghadapi tes tidak biasa dalam hidupnya. 
Sebuah ujian menjadi “santri sakti” yang kudu berani memberikan makanan yang dicintainya kepada orang yang paling dibencinya di asrama. Peserta tes dipaksa menghadapi situasi perang antara dorongan memenuhi kebutuhan jasmani yang harus segera diasupi dan bergelut melawan bisikan kemarahan. 
Sebagai manusia basyar umumnya, dinamika hidup berdampingan di asrama, tentu macam-macam sifat yang dihadapi santri ini. Diantara komunikasi budaya mereka, pasti pernah bersinggungan rasa yang membuat tidak enak bicara dan hati kecewa.
Nah, potensi dendam hati antar santri ini yang harus dikikis habis. Walau proses pelaksanaannya bakal sangat menyakitkan perasaan, memunculkan ketidaknyamanan dan menghadapi keadaan serba kecanggungan.
Di tahapan ujian kesantrian inilah, para santri biasanya akan menangis karena harus memaksakan ketidaksiapan: perang melawan nafsu kebencian, membuang ego keakuan, melepaskan hirarki/senioritas kesantrian, dan mengalahkan setan kesombongan.
Para santri ini harus menihilkan rasa sebagai manusia biasa dan belajar meneladani figur Rasul/Nabi, di mana satu diantaranya adalah membalas kasih cinta kepada orang yang menyakiti hatinya.
Meski beberapa diantara mereka, awalnya menangis karena “terpaksa”, tangisan selanjutnya adalah karena kelegaan jiwa seiring turunnya rahmat taubat. Walau semula menyapa dengan kaku, rikuh dan malu, pada akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi secara cair, akrab dan terbuka.
Pelajaran yang didapat para santri adalah tentang betapa beratnya tuntutan menjadi figur santri yang sabar melayani sekaligus sosok penggembala umat yang harus kuat tirakat.
Inilah esensi sejatinya tirakat puasa menahan ego kemauan, bukan sekadar menahan haus dan lapar –seperti puasa fisik yang sudah jadi menu tradisi sehari-hari para santri. Itulah makna hakikat hadiah lebaran, dimana semua manusia saling bersalaman melepaskan ego perasaan dan mengalahkan nafsu kebencian yang dibisikkan musuh ghoib setan.
Pada tahap ini, santri baru belajar menapaki jalan menuju kawah penggodokan yang penuh ketidaknyamanan dan jauh dari kenikmatan profan. Kemenangan peperangan bagi para “santri sakti”, bukanlah “mengalahkan” sesama manusia, tapi “menyadarkan” ada musuh dalam hatinya. Musuh sejati adalah setan yang ghoib bersemayam di dalam hati dan pikiran semua manusia.
“Santri Sakti” adalah mereka manusia pembelajar agama yang mampu membukukan kemenangan melaui ujian memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang yang paling dibenci. Melalui uji kesantrian ini, kita semua yang mengaku manusia beragama harus berani berbagi sepiring makanan persaudaraan, segelas airmata permaafan, dan selangit bumi kasih ridho ampunan Tuhan.
Pembaca, hakikat Isro’ Mi’roj yang kita peringati kemarin, adalah menaikkan derajat iman ke posisi yang lebih berkelas lagi. Maka, bila kemarin kita masih suka makan enak hanya bersama keluarga, cobalah sekarang membagi makanan yang kita cintai kepada orang yang paling kita benci.
Saya harap kita semua bernyali mengikuti tes “Santri Sakti” ini dan kemudian lulus dengan hasil bagus. Semoga kita telah dicatat mencoba menapaktilasi peringatan Isro’ Mi’roj sungguhan.
Sebagaimana kita baca dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullaah Muhammad diperjalankan ke orbit mihrab langit, adalah sebagai “rekreasi ruhani” setelah beliau melewati ujian kepedihan yang sangat memprihatinkan.
Isro’ Mi’roj adalah kado kecil dari Allah SWT kepada Rasulullaah sebagai hadiah atas prestasi cintanya kepada manusia dan berani mengalahkan kepentingan pribadi beliau sendiri. Kita semua patut belajar menapaktilasinya, diantara ikhtiarnya  melalui uji nyali menjadi Santri Sakti.
110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
76 : 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
76 : 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Monday, April 21, 2014

Dhiror (Edisi Ramadhan)

Saat ini tadarus tafsir edisi Ramadhan kami sedang mengkaji Surat At-Taubah. Sejak mula ayat pertama, surat ini banyak bercerita tentang penegakan keadilan atas sikap musyrikin dan gambaran perilaku kaum munafiqin.
Ciri sifat munafiqin ini menjadi fokus keprihatinan para santri, karena sifat nifaq kerap hinggap menjangkiti komunitas muslim dan memecah belah persatuan iman. Diantara bukti upaya pengkhianatan munafiqin saat itu adalah membuat masjid tandingan.
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan Masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At Taubah : 107).
Di saat Rasulullaah Muhammad masih hidup, masjid dhiror dibikin oleh kaum munafiqin untuk menciptakan bencana kemudharatan, sebagai bentuk oposisi perlawanan, sekaligus pengembangbiakan virus jamaah ashobiyah. Namun alhamdulillaah seketika itu juga, atas bimbingan wahyu Allah dan waskita kepemimpinan Rasulullah, bahaya adu domba bisa dicegah secepatnya.
Empat belas abad sepeninggal Rasulullaah, ribuan masjid kini subur bersemi. Rumah ibadah ini menanti di tepi jalan arteri, di lurung-lurung kampung, di antara rumah-rumah warga desa, di belantara kota, di pinggir basement parkir, di sudut bantaran laut, di tengah gedung megah, didesain cetak biru nan mewah dan tegak berserak meliputi kolong bumi. Ada kala terasa bangga jika harganya dibangun bernilai sekian trilyun.
Untuk pembiayaannya, sebagian harus dimintakan proposal lewat acara amal, sebagiannya ditadahkan bantuan via sumbangan jalanan atau kotak Jum’atan. Sementara pembangunan masjid lainnya cukup menanti uluran dermawan uwak haji atau arisan tiban kaum politisi.
Seperti di negeri kita ini, masjid sudah menjadi bagian dari budaya identitas agama warganya. Di beberapa tempat, kita bisa tahu betapa pengamalan keislaman –seolah terlihat– tumbuh menguat. Begitu semangat hingga letak masjid dibangun berdampingan sangat dekat.
Saya dan para santri yang sedang mengaji tafsir masjid dhiror ini, hanya terbatas bisa membaca literasi terawangan mufassirin saja. Kami para santri, sebagaimana saya yakin pembaca juga, belum tahu di mana sesungguhnya lokasi masjid dhiror ini.
Namun logikanya, jika pada masa Rasulullaah hidup saja bangunan masjid dhiror itu sudah ada, maka saat ini keberadaannya mungkin ada. Karena kita tidak sedang dibimbing langsung oleh Rasulullah, maka untuk mengenali masjid dhiror ini, kita harus sangat teliti dan cerdas mendeteksi.
Pertanyaan yang berkelindan di seputar diskusi kami, diantaranya adalah “Apakah definisi dhiror itu berkaitan dengan ciri masjid yang gemar mengkhutbahkan perpecahan, berjamaah eksklusif ashobiyah, serta hanya berfungsi pewacana ritual agama tanpa bisa menyelesaikan persoalan fakta sosial umatnya?
Mungkinkah ciri masjid dhiror ini suka mencuci lantainya saat kita –yang bukan dicatat kelompoknya– tidak sengaja sholat di tempat mereka ??? ataukah masjid yang jamaahnya hobi memprovokasi telunjuk takfiri ???”
Sebagai pembanding benchmarking, saya mengajukan fakta kisah sejarah bahwa sewaktu Rasulullaah dulu, bangunan masjid Quba dibuat terbuka dan berbentuk sederhana. Masjid yang dibangun Rasulullaah pertama kali saat hijrah ke Madinah ini, atapnya pelepah daun kurma, berlantai pasir tanah, dan dindingnya cuma setengah.
Tapi walaupun konstruksi fisiknya bersahaja, manfaatnya serba guna dan barisan jamaah sholatnya terisi penuh dari dzuhur sampai Subuh. Masjid di jaman Rasulullah bermasyarakat sebagai tempat berlutut menangis sujud, mengikhlaskan kaul pelayanan, bukti totalitas iman ketauhidan, sarana penguatan mental spiritual, berbagi potensi amal sosial, dan penghuninya berlomba meraih derajat 99 % akhirat.
Kini kita dapat melihat sebagian masjid berkubah mewah, bernilai-jual mahal, dan berasitektur masyhur. Tetapi jamaah mentok setengah, berisi hanya sepekan sekali, penuh pas Idul Fitri atau hari Raya Haji.
Selebihnya, masjid sekarang kerap jadi perangkat kaum politis-oportunis untuk berebut pengikut, pamrih “amal sosial” modal electoral, menitipkan kepentingan pencitraan, atau sekadar wahana safari keagamaan untuk mendongkrak peluang keterpilihan. Masjid dialihfungsikan –oleh oknum cendekia agama kita– sebagai tempat uji kompetisi mengais rejeki 1 % duniawi.
Pembaca, tahukan Anda alasan kaum munafiqin membangun masjid dhiror di saat Rasulullah sudah punya masjid Quba? Ya, mereka bersumpah bahwa alasan pembangunan hanya untuk kebaikan. “In arodnaa illal-husnaa,”kata bualan mereka.
Sekalipun jelas bahwa efek dari masjid dhiror ini akan berdampak negatif, yakni perpecahan ikatan keimanan, mereka tetap ngotot berdalih demi kemaslahatan. Dan Allah menjadi saksi bahwa pendiri masjid dhiror ini sesungguhnya pendusta (QS. 9:107).
Bagaimana jika suatu saat kita mendengar selentingan kabar bahwa sebuah masjid dituduh dhiror? Tentu kita tidak boleh lekas percaya begitu saja, apalagi langsung terprovokasi menghakimi dengan tindakan perobohan. Karena selain kita harus menghormati tata hukum positif Indonesia, tidak ada yang betul-betul ahli memverivikasi identitas masjid dhiror ini.
Bahkan bisa jadi, pihak-pihak yang hobi memfatwa takfiri dan menyebar rumor masjid dhiror, justru jamaah masjid dhiror itu sendiri.
Sebatas kebolehan yang bisa kita lakukan adalah hati-hati dan mawas diri. Saya sampaikan pada para santri di akhir diskusi tadarrus surat At Taubah, bahwa kemungkinan definisi dhiror di jaman sekarang tidak hanya berupa fisik masjid saja. Tapi bisa jadi, dhiror telah bermutasi ke sikap pribadi-pribadi. Mereka para cendekia agama, saya dan juga para pembaca awam muslim semua, berpotensi tertular sebaran virus agitasi dhiror ini.
Diantara ciri perilaku pribadi dhiror yang patut kita prihatini, adalah membenarkan kekeliruan, ngotot ogah diingatkan, mengklaim monopoli satu-satunya keimanan, mudah menajis-kafirkan liyan, dan tingkah dakwahnya kerap memecah belah atau materi yang dibawa bertema propaganda SARA.
Peristiwa konflik sosial di Indonesia hingga intrik politik yang menggelora di Timur Tengah sana, menyisakan pelajaran bahwa peran masjid kini banyak berganti tupoksi. Masjid yang semula bermanfaat sebagai pengayom umat dan penyatuan iman, bermutasi menjadi pemecah belah akidah sekaligus pembibitan dendam kebencian antar keyakinan.
Saya dan pembaca semua tetap tidak tahu, yang mana masjid dhiror itu. Kita hanya bisa mengandalkan petunjukNYA dan berdoa semoga perilaku dhiror ini tidak menggerogoti kerukunan umat beragama di Indonesia serta persatuan muslim dunia.

Saturday, April 12, 2014

Aliyyaa

Tersebutlah sebuah nama di negara wilayah Afrika sana. Pemilik nama ini mengklaim sebagai pejuang kebebasan beragama dan persamaan hak wanita.

Misi yang diusungnya ialah ingin “membuat semua manusia setara derajatnya dengan tanpa membeda-bedakan jenis  keyakinan atau lekuk aurat badan”. Untuk aksi ini, ia kerap nekad bernyali telanjang tanpa sehelai benang dalam setiap unjuk rasa yang digelarnya.
Alia, demikian ia mengakui namanya. Secara nahwu bahasa, Alia ini memiliki makna “tinggi”. Saya percaya orang tuanya berkeinginan supaya Alia berderajat mulia sebagaimana arti namanya.

Tapi entah bagaimana, si Alia ini punya versi sendiri dalam mengeja kemuliaan namanya. Ia mungkin memahami, bahwa “ketinggian” nama derajatnya ada pada “kampanye kesetaraan” yang tidak dibatasi badan dengan cara bugil berunjuk rasa.

Pada kisah lainnya, Al Quran menceritakan tentang kekuatan, kesabaran, kemuliaan, kecerdasan dan keunggulan seorang Ibu Maryam. Beliau adalah orang tua tunggal  dari Rasulullaah Isa ‘alaissalaam.
Jauh sebelum ada teori single parent, Ibu Maryam sudah mempraktikannya melalui kelahiran dan pengasuhan putera satu-satunya. Rahmat hebat yang diberikan Allah SWT pada Ibu Maryam mengilhami kita semua tentang figur wanita teladan yang patut dipahlawankan.

Sebagaimana kita sering tadarus bersama, di dalam surat Maryam tertulis beberapa cerita keteladanan yang patriotik dan heroik. Diantara cerita itu ada nama Ibu Maryam, ibu kita semua, terutama ibu muslimah dunia.

Di surat Maryam inilah, Allah mengajarkan ta’alimuta’alim dalam menghormati para pahlawan ini. Kalimat yang tersurat di sana adalah, “wa rofa’naahu makaanan ‘aliyyaa (dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi)” ~QS. 19:57~

Dua nama yang saya tulis ini memiliki kesamaan kata, yakni “Aliya”.  Keduanya bermakna “tinggi”. Hanya saja, satu baru teraksara dalam nama yang berusaha dipopulerkannya.
Sedang satunya sudah sah ditetapkan oleh firman Tuhan dalam Al Quran dan diakui oleh umat beragama sedunia.

Terdapat perbedaan tajam antara kisah Ibu Maryam dan si Alia dari Afrika, walau keduanya diproyeksikan sebagai simbol pembela kaum beragama dan hak wanita.
Si Alia ngotot –katanya– memperjuangkan kebebasan pilihan untuk tidak beragama dan kesetaraan derajat wanita dengan cara menelanjangi badannya.

Ia mempersilakan dunia melihat kemaluannya secara cuma-cuma.
Agama diprotesnya sebagai aturan keterpaksaan yang terlalu membatasi hak badan.
Lewat demo bugilnya, si Alia seperti hendak berteriak kepada khalayak,  “Ya saya demonstran anti ketuhanan. Tanpa aturan agama, saya si Alia yang bermakna “tinggi” ini bisa terkenal jadi sosialita sedunia!”

Sebaliknya Ibu Maryam menjalani laku “nyepi” di dalam hijab mihrab. Beliau seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, khusyuk beribadah ruku’, dan bersuci dari godaan lelaki.

Ibu Maryam suka rela hidup beragama menjalankan kaul pelayanan Tuhan dan menikmati segala ujianNYA tanpa dipaksa-paksa. Beliau membuktikan kodrat kewanitaan bisa menghadirkan relasi keibuan yang penuh kasih sekaligus bakti ketuhanan secara berlebih.

Untuk prestasi Ibu Maryam ini, Allah memberikan ucapan selamat sholawat, “wa salaamun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yub’atsu hayyaa ( dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali) ~QS. 19:15~
Pembaca Lentera, saya berikan tawaran kepada kita semua untuk cerdas memahami dua pilihan “derajat tinggi” atau “Aliyyaa” ini.

Pilihan pertama bersirobok aksi sok keren aktifis femen si Alia dari Afrika yang ngakunya menyuarakan  aspirasi komunitas atheis dan feminis liberalis.

Tawaran kedua menemui Ibu Maryam yang mewakili representasi kaum ibu sekaligus mewartakan derajat mulia umat beragama. Mau memilih yang mana, itu hak kita.

Jika percaya suara Alia, berarti kita seiya untuk tidak beragama. Kita mendukung eksistensi sekte nudis ini yang hobi menelanjangi diri di tempat-tempat berkumpulnya masyarakat.

Kita bersepakat menyuarakan “pengusiran” Tuhan dari sendi-sendi kehidupan dunia ini.
Sekaligus kita juga yakin, bahwa derajat dan martabat kaum wanita semestinya diumbar saja kepada dunia lewat pertunjukan etalase kemaluan tanpa perlu malu-malu. Sebab menurut logika cekak Alia, agama terasa memenjara wanita dari kebebasan syahwatnya.

Jika kita lebih memilih ikut Ibu Maryam, tentu kita harus mau bersukarela beragama, walau aturannya kerap “memaksa”. Kita berhijab dalam mihrab dengan cara berpakaian rapat menutup aurat.
Kita bangun hubungan keintiman dengan Tuhan yang terejawantah dalam setiap amal aspek sosial dan lingkungan kemasyarakatan.

Kita tunjukkan marwah dan barokah kaum ibu beserta kodrat kewanitaannya sebagai rahim peradaban mulia insan. Sehingga ia perlu dijaga kehormatannya dari upaya penelanjangan dunia.

Ibu Maryam meneladankan kepada kita  bahwa kebebasan beragama justru diperolehnya ketika ia menjadi wanita, di mana ia bisa menjalani kodratnya sebagai manajer keluarga sekaligus mengepalai madrasah rumah.
Jika kita ikhlas menirunya dengan segala resiko tidak enak dan atau dicibir khalayak, berarti kita siap menempati derajat tinggi, sesuai makna “Aliyya” sesungguhnya.

Tentu saja saya bersepakat pada suara Ibu Maryam ‘alaihassalaam. Karena beliau terbukti sebagai “’Aliyyaa” sejati dengan melahirkan Al Mahdi, yakni Rasulullah Isa yang kita percaya sebagai utusanNYA.
Ibu Maryam patut kita turut sebagai figur wanita mulia dan teladan keluarga muslim/muslimah sedunia.
Sedangkan si Alia dari Afrika hanya bisa memamerkan kemaluan dan mendemonstrasikan protes kewanitaan lewat cara asusila.

Alih-alih percaya cita-cita mulia orang tuanya, Alia malah mendegradasi diri dengan mem-bully nama akhir “al mahdi” sebagai dagelan “iman” bersyahwat kebebasan dan pertunjukan budak spekulan kepentingan.
Ia gagal mencitrakan diri sebagai wanita merdeka yang bermartabat tinggi nan mulia di hadapan dunia dan penciptaNYA. Semoga saja kita semua tidak tertipu atau lugu meniru drama Alia versi XXX ini.
 

Pengikut