Ads 468x60px

Showing posts with label Kebebasan. Show all posts
Showing posts with label Kebebasan. Show all posts

Wednesday, August 19, 2015

karena (bukan) karena

Karena Bukan Karena | Penulis Gus Adhim | SPMAA


"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan...."

Maka dwiwarna melambai Indonesia | oleh karena itu aku mau membawa sang saka berkelana | sebab demikian Merah Putih siap diriwayatkan....

"Adakah Merah Putih di dadamu?? Ada...ada..ada !!" Adakah Pancasila di hatimu? "Ada..ada..ada!" Mana dia? "Ini dia..ini dia..ini dia.!"

Karena Pangeran Diponegoro mengilhami jalan jihad ini | meski harus bertarung sendiri dan berdharma ikhlas bersih, tiada bekas pamrih.

Karena Panglima Sudirman menyatakan teladan, " Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi."

Bukan karena hendak berpunya tanda jasa bintang maha putra | bukan juga karena mimpi dibawa wisata ke istana | bukan karena ingin diimingi janji singgasana oleh raja mancanegara...

Karena Merah Putih itu jiwa raga bersenyawa | maka ia senantiasa hidup melegenda selama ada nusantara |

karena panji sakti ini bukan cuma jahitan perca dua segitiga | karena sang saka bukan hanya kain berenda bintang kejora | karena Merah Putih bukan besi bisu atau alat sambit seperti palu dan arit...

Karena Merah Putih, adalah cita-cita bangsa bermarwah bersih.. maka aku membawanya sepanjang ruas raya, mengiringi Indonesia bercerita, mensyukuri karunia surga kecilNYA..

Saturday, January 24, 2015

REKREASI UNTUK SANTRI


Selasa 30 Desember 2014, dimana hari beranjak libur tengah semester diponpes SPMAA, Panti Asuhan Pancasila mengadakan kegiatan rekreasi ke Jatim Park II yang bertempat di Kota Malang. Disana kita belajar dan mengenal binatang-binatang dan satwa liar dengan dekat, ternyata banyak binatang yg selama ini kita belum pernah lihat secara langsung dan belum tau namanya, pokoknya seru.

Kegitan-kegiatan seperti ini dilakukan hampir di setiap satu tahun sekali, kegiatan ini memang guna untuk mebahagiakan dan menambah pengalaman para santri.

Pagi itu keceriaan terlihat jelas diraut wajah para santri yg berseri-seri, ketika mau berangkat menuju tempat rekreasi, tak tanggung-tanggung rombongan yang berangkat kali ini menggunakan 4 Armada Bis gede  yang semuanya itu terdiri dari 2 bis untuk santri putra dan 2 bis yang lainya untuk santri putri.

Bis berangkat di pagi hari karena diharapkan nanti sampai tujuan tidak terlalu siang karena tempat yang akan dituju sangat begitu jauh.

Setibanya disana kami mengantri untuk mendapatkan gelang kertas sebagai syarat bisa memasuki pintu gerbang Jatim Park II itu. Tak kusangka gelang yg hanya terbuat dari kertas berwarna hitam dan bergambar monkey itu harganya lebih mahal dari sepatu yg kupakai.

Harga pergelang/tiket untuk 1 orang itu 100rb, sedangkan jumlah peserta yang mengikuti rekreasi kemarin berjumlah 300 orang lebih. Kira-kira habis berapa ya pengurus meng-rekreasikan kita? Coba kita kalikan 100rb x 300 berapa? Kalau gk salah 30jt, belom sewa bisnya konon katanya harga sewanya 1 bis 3jt sementara itu 4 bis brati berapa. Mari belajar menghitung!

Dan sangat mengharukanya dan sanggat wajib  di jadikan contoh, dan dijadikan pelajaran bagi para santri juga. Ternyata liburan ke Jatim Park II yang diadakan oleh pihak pengurus pondok pesantren SPMAA ini tidak memungut biaya sama sekali kepada para santrinya. Semuanya di tanggung oleh KOMANDAN kita, itu hanya salah satu gambaran pengorbanan beliau untuk kita.

Beliau  memikirkan kita, tentang keselamatan Akhirat kita, tentang kebutuhan didunia kita, bahkan memikirkan untuk rekreasi kita. Trus pertanyaan besar untuk kita “apakah kita juga memikirkan beliau?”

Lantas sudahkah kita berterimakasih ke KOMANDAN??? “Ayo belajar berterimakasih”…

Inilah kepedulian atau kasih sayang para pengurus terhadap para santrinya, hanyalah do'a dan ketaatan dan kesetiaan menjalankan ajaran BG, itulah yg diharapkan beliau kepada setiap para santri.

Hanya dengan do'a dan ketaatan kepada KOMANDAN sampai akhir hayatlah, yg bisa menjadikan santri yang tahu berterimakasih. Dan bisa menjadi harapan penerus, penyebar, pengamal Ajaran BG dimanapun nanti berada sampai akhir hayat tiba.

Mari ini dijadikan pelajaran bagi kita semua. Para Pengurus  PONPES SPMAA tidak hanya membahagiakan kehidupan Dunia kita, tetapi kebahagiaan Dunia-Akhirat.

Ayo SADAR…

Karena hanya dengan ketaatan & keloyalan terhadap komandan, kesetiaan menjalankan ajaran BG kita bisa bertemu bapak Guru MA. Muchtar di Akhirat nanti.

By: Taruna Nurwanto

Thursday, October 16, 2014

Bersedekah Tak Perlu Nunggu Kaya ala pesantren di Lamongan | SPMAA


Merdeka.com - Banyak orang berpikir harus punya banyak uang dahulu untuk bersedekah. Akibatnya, sedekah pun tak segera dilaksanakan lantaran belum juga kaya raya.

Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Uniknya, pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai. Bagaimana ceritanya?

"Ini soal prinsip, ideologi. Dulu founding father kami, guru kami mengajarkan kami sedekah jangan kaya dulu. Kemudian apa yang bisa kita sedekahkan kepada orang lain meski kita gak punya," kata Gus Naim, salah satu pengasuh Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Gus Naim bercerita, awalnya para santri di pesantren yang dia asuh memiliki kebiasaan mengotak atik barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak dan akhirnya bisa dihidupkan kembali. Sehingga akhirnya tercetuslah ide untuk memanfaatkan lampu-lampu yang sudah tak terpakai, di otak atik kembali dan akhirnya bisa dimanfaatkan dan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga.

"Di sini semua kerusakan bisa diselesaikan sendiri, misalnya sanyo, lampu dan lain-lain," kata Gus Naim.

"Jadi apa yang bisa kita berikan, termasuk skill ya kita sedekahkan," imbuhnya.

Gus Naim berbagi cerita soal bagaimana menghidupkan kembali lampu yang sudah rusak dan tak terpakai. Lampu-lampu yang didapatkan dari door to door rumah warga dan diambil dari tempat-tempat sampah tersebut dibongkar kembali, kemudian dilihat onderdilnya yang rusak di bagian mana. Jika ada onderdil yang gak bisa dipakai, dibelikan penggantinya dengan harga yang sangat murah, antara Rp 500-700 saja.

"Kalau yang rusak tabungnya, kami belum mampu membuat teknologinya atau pun menyervisnya," ungkap Gus Naim.

Setelah diperbaiki, lampu tersebut dibagikan kepada para warga sekitar yang membutuhkan. Gratis, tis, tis.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya-ala-pesantren-di-lamongan.html

Wednesday, October 15, 2014

Sedekah tidak menunggu kaya, pengasuh ponpes sebut demi NKRI! | Merdeka.com

Santri Pesantren Yayasan SPMAA. ©facebook.com/Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA)

Merdeka.com - Sebuah pesantren di Lamongan, Jawa Timur sejak dini mengajarkan kepada para santrinya untuk bersedekah kepada sesama. Bukan cuma uang yang disedekahkan, apa saja yang dimiliki demi untuk membantu sesama bisa disedekahkan, keahlian sekali pun.

Pesantren yang berada di Desa Turi, Kecamatan Turi, Lamongan ini kerap membagi-bagikan lampu bekas kepada warga sekitar, tentunya yang masih bisa dipakai.

Menurut Gus Naim, salah satu pengasuh pesantren Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), dari 300 santrinya, para santri putra ditugaskan untuk memperbaiki lampu-lampu yang mati, sementara santri putri yang bertugas membagikannya kepada warga sekitar.

"Jadi ada pembagian tugas," kata Gus Naim kepada merdeka.com, Kamis (27/2).

Tak cuma fokus bagi-bagi lampu saja, yayasan tempat Gus Naim bernaung juga aktif di bidang sosial. Misalnya saat Gunung Kelud meletus beberapa waktu lalu, Gus Naim mengirimkan santrinya untuk membantu para korban letusan Gunung Kelud.

Adapun Yayasan SPMAA menaungi sekolah menengah pertama dan atas, atau di pesantren biasa disebut Madrasah Tsanawiyah (MtS) dan Madrasah Aliyah (MA). Yayasan SPMAA ini juga memiliki puluhan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, baik yang sudah dalam bentuk sekolahan, atau pun misalnya cuma sebatas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saja.

"Santri-santri kami bukan dari nonmuslim saja, bahkan santri kami ada yang pastur, pendeta dan biarawati," ujar pria yang ditugasi untuk mengelola Madrasah Aliyah Ruhul Amin, yang masih berada dalam naungan Yayasan SPMAA ini.

Dia menambahkan, pesantren yang dia kelola ini tidak memiliki afiliasi dengan kekuatan partai mana pun, atau organisasi Islam mana pun.

"Kami tidak berafiliasi dengan partai politik atau organisasi Islam mana pun. Santri kami ada yang NU, Muhammadiyah. Kami ini NKRI," tutupnya.

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT : http://spmaakita.blogspot.com/2014/10/bersedekah-tak-perlu-lebih-dulu-kaya.html

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/sedekah-tanpa-menunggu-kaya-pengasuh-ponpes-sebut-demi-nkri.html

Di Share juga di:
http://www.satuislam.org/nasional/ponpes-di-lamongan-ajarkan-santrinya-sedekah-sejak-dini-demi-nkri/

Sunday, September 28, 2014

NAMAKU TARUNA

TARUNA SPMAA
Namaku Taruna, suatu pangkat kebanggaanku dan orang mukmin lainnya, saudara ingin seperti saya? sungguh tidaklah mudah, silahkan saudara mencoba.
Menjalani  karir  yang hitungannya hanya 2-3 tahun pengabdian saja, untuk mengapai misi menuju TPU Sempurna sungguh rasanya  sangat lama dan alangkah banyak coba'annya.
           
Sebelum sukses menggapainya akan tiba kepada saudara cobaan darimana saja, cobaan suka maupun duka, dari orang tua, kelurga, tetangga ataupun teman sebaya. Agar kita segera keluar dari SPMAA.

Dari orang tua atau keluarga, disurunya saya segera pulang kerumah dengan alasan agar menjaga orang tua yang sedang sakit/tua. Atau disuruhnya kerja untuk menafkahi keluarga dirumah ( Tipe anak tulang punggung keluarga ) Ada juga yang disuruh untuk melanjutkan kuliah-sekolahnya ( Tipikal anak mama ).
           
Itu sedikit contoh cobaan dari keluarga, semua Taruna tidaklah sama ada yang lebih ringan ataupun lebih berat dari contoh saya ini.

Sekarang dari tetangga “kamu itu kenapa jadi Taruna, ngak dapat upah, luntang-lantung diasrama!” itu kata pedas mereka untuk saya Taruna, ada juga yang dengan halus, “boleh-boleh saja jadi Taruna, tapi kita juga harus membahagiakan orang tua dengan kuliah/cari kerja, kalau mau ini ada kerjaan untukmu gajinya gede loh”, seolah-olah benar kata tetangga tadi membahagiakan orang tua, padahal itu kata  setan! yang benar membahagiakan orang tua itu tak hanya didunia, tapi Dunia-Akherat. Bagaimana caranya? Jadilah anak yang sholeh / sholikha versi SPMAA itulah kado terindah untuk kedua orang tua.

Setelah ujian susah kini berganti ujian suka, sepanjang perjalanan kisah, yang ada ujian suka lebih berat dibanding ujian susah.

Contohnya ketika datang ujian susah kepada manusia lewat bencana / apa saja, manusia pasti akan kuat - kuat berdo'a, puasa dan ndepe - ndepe kepada Allah, bahkan yang sebelumnya sepanjang hidupnya tidak pernah sholat, apalagi puasa, ketika ada bencana jadi rajin sekali sholat dan puasanya.

Tapi nanti ketika sudah hilang bencananya, berganti ujian suka, maka mereka akan lupa dan mengkhufuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
           
Begitu juga dengak kita, ketika datang ujian suka dari sesama atau siapa saja kepada kita, kebanyakan dari kita akan lupa, dan ironisnya kita masih merasa santri SPMAA.
          
Namaku Taruna, sekali lirik banyak yang suka, hati terpana, senyumnya menggoda, banyak yang cinta kepada saya, suatu pagi si Jo datang menyapa mengaja'ku membuang sampah di sekolah putri dan piket di almakan putra, setibanya disana kulihat wanita cantik didepan mata, tak kusangka, sekali lirik dia terpana, kutambah senyum dia tergoda untuk membalasnya, senyumnya luar biasa, minum kopi pahitpun tak terasa saking manis senyumya.
          
Singkat cerita malampun tiba, entah dari mana selembar surat datang menyatakan cintanya kepada saya, padahal sebelumnya satupun tidak ada wanita di dunia ini yang suka pada saya, apalagi secantik dia.

Ujian suka sayapun lupa, jika saya terima dan melanjutkan hubungan degan dia, berarti saya gagal menjadi Taruna.

Biasanya masih merasa kalau saya Taruna, karena masih tinggal diasrama. Tapi hakekatnya kita gagal (Sudah tidak lagi jadi santri SPMAA) karena tidak bisa  menahan nafsu dunia.
          
Jika saya tolak dan tetap setia dalam garis komando SPMAA sampai akhir hayat saya, maka keberhasilan luar biasa dan syurga menanti kita. Amiiinnn….
          
Ini kisah bukan hanya karangan fiktif belaka, tapi kisah nyata, wanita sungguh mengoda untuk melanggar system SPMAA, kata salah satu Band ternama di Indonesia The Changcuters “ Wanita Racun Dunia ”.
Itu salah satu penggalan lagunya.
          
Tapi saya tidak sepakat dengan dia, bagi saya wanita adalah orang yang sangat mulia (Jika dia bisa menjaganya) sampai-sampai dalam Al-Qur'an ada surat An-nisa' (Wanita) ditambah lagi disebutkan dalam Hadist “Syurga dibawah kaki ibu” ibu tidak lain adalah seorang wanita, sekali lagi “Jika dia bisa menjaganya” kalau tidak bisa, maka dia akan menjadi hina.
  
Makanya disebutkan Nabi Muhammad bahwasanya “Penghuni neraka paling banyak adalah Wanita” kita semua ngak takut ta? Meskipun anda Pria, ibu sampean ngak wanita kah! Apalagi sampean yang statusnya wanita, harusnya prihatin, nangisi dosa-dosa pribadi sebelum mati, outputnya nanti sampean ngak sempat itu nge-gosip, ngerumpi, ngebahas salahnya siapa saja kesana-kemari.

Apalagi menjadi sumber, pencari, penyebar dan pemercaya fitnah.

Untuk itu mari menjadi manusia mulia, wanita-wanita yang mulia, ayo menjauhi hal-hal yang membuat  drajat kita hina, jangan jadi wanita penggoda dan penyebar fitnah.

Ayo jadi Santri, Taruni setia dalam komando SPMAA.
          
Begitu juga santri laki-laki, jangan cenga-ngasan mencari wanita, ayo bersama jadi Taruna yang setia menjalankan komando SPMAA.
          
Namaku Taruna ingin selalu setia dalam bahtera SPMAA sampai ajal tiba.

Keterangan : Kisah cerita diatas tidak hanya dari 1 orang Taruna saja melainkan pengalaman dari beberapa orang Taruna, dan masih banyak kisah yang belum tertuliskan dalam edisi ini,semoga bisa menyambungkan lagi jika allah memberikan kesempatan.
         
Penulis: Gus Arsyis           

Thursday, June 12, 2014

Gelora, Cerita Adu Dogma

by 

Potret karya anak-anak pengungsi yang diterapi psikososial. Pada kertas mereka bercerita tentang tangis derita atas nasib rumah dan keluarga mereka.
Foto & Teks: Gus Adhim
“Perang !” teriak kedua kubu yang berseteru itu. Mereka menyeruput dogma serupa, tentang sejumput kesalahan yang harus dikafirkan. Lupa mengkafirkan dosa dirinya. Katanya semangat jihad, enggan mengaku keliru. Mudah mengintip kuman di seberang lautan, luput melihat gajah yang menempel di dekat jidat.
Pada akhirnya tidak ada yang jadi pemenang, karena keduanya berlumuran tangis derita korban. Tinggallah, musuh ghoib syetan yang kini bertepuktangan karena sukses mengadu nyawa manusia.
Relawan SANTANA-SPMAA menghela terapi trauma untuk survival anak, wanita dan ibu lanjut usia.
Anak, wanita dan ibu lanjut usia adalah survival rentan yang kerap mengundang keprihatinan. Mereka terpaksa menanggung lara trauma akibat pilihan dogma keluarga dan provokasi para cendekia. Pada coretan visual dan gambar mural, mereka tumpahkan unjuk emosional yang sentimental.
Husin ingin bergembira lewat cerita gambarnya
“Namaku Husin,” karya mural anak psikososial
“Namaku Husin,” tulis anak ini yakin. Mungkin ia tidak sekadar menulis, tetapi ia ingin mengurai detil cerita tentang sebuah dogma, tentang keluarganya yang menamainya seperti sang idola. Di sampingnya, merah putih bendera kita melirik penuh tanya, “ada apa dengan nusantara? Kenapa hanya karena beda nama dan hasutan kepentingan, semua saling tawuran?”
Di sudut tangis dan tawa mereka, merah putih tetap hadir menyapa.
Seorang nenek renta mengecap bencana akibat pilihan dogma yang diyakini keluarganya
Di hamparan arena gelanggang olahraga, mereka saling bertindih perih, mengecap resiko madzhab yang dianggap berbeda dengan arus utama. Tertidur membujur, seorang nenek melepaskan kepenatan setelah bertahan dari ancaman pengusiran dan pembunuhan. Di sudut lain, seorang ibu bersama anaknya melamun nasib.
Apakah mereka sengaja diadu dogma kaum cendekia?
Ibu ini, suaminya turut jadi korban meninggal dunia.
Para pengungsi lesehan ini beralaskan kesemrawutan di antara spanduk bertuliskan “Selamat Bertanding”, “Fair Play”, “Junjung Sportifitas”. Seolah nasib mereka memang sedang diadu nyawa, dijadikan alat niaga, diperalat waralaba agama oleh para cendekia.
Bocah kecil setengah bugil membersihkan kotoran di kamp pengungsian.
Prasasti nama & petugas bhayangkara, apakah mereka melindungi hak asasi anak ini?
Nampak bocah kecil setengah bugil berlari menenteng pengeruk sampah. “Ayo nak bersihkan negeri ini dari jelaga politisi dan makelar ideologi,” bisik saya di kupingnya.
Sementara di luar arena, anak kecil lainnya sedang bersandar meraba sebuah prasasti nama yang mestinya bisa mengayominya. Tetapi, ia belum mendapati hak dasarnya ini.
Ibu dan anak, survival rentan dari korban kebencanaan.
Menjadi pengungsi di negeri sendiri, mengiba derma dunia
Guyonan satir sebagian (besar) rekan-rekan cendekia agama (baca: nadliyin) di madura jika ditanya, “Masyarakat madura agamanya apa?”, maka mereka akan jawab, “99 % muslim.” Misalnya kita kejar, “Lha yang 1 % itu agamanya apa?” “Muhammadiyah !” jawab mereka mantap.
anekdot kita bikin tertawa, tetapi buat mereka bisa jadi petaka dan kehilangan nyawa keluarga
Meski anekdot itu bisa membuat
mural warna dan cerita dogma.
kita sejenak tertawa, tapi di tingkat masyarakat bawah sana, ejawantah guyonan itu bisa bikin putus kepala, carok antar keluarga dan tawuran sesama desa. Mirisnya, ini kerap dipicu para cendekia yang harusnya berkompeten menggembala konstituen.
Di rumah Indonesia yang berasas Pancasila dan Berketuhanan Yang Maha Esa, perbedaan bisa memicu perselisihan hingga konflik pertempuran. Sedihnya, semua diatasnamakan membela kebenaran, mempertahankan keimanan. Sementara kita berlaga penuh peluh dan bersimbah darah, di luar sana, media manca negara menertawakan Indonesia. Mereka gunjingkan parodi dan anomali kekerdilan bangsa ini, menyoraki perang saudara serumpun kita.
Rumah Indonesia berkelir bersih merah putih
media mancanegara menggunjing budaya warta kita yang melulu berumus “bad news is good news”.
Sengaja saya menulis “korban bencana”, dan bukan “korban konflik agama”. Karena saya tak berani berspekulasi di sini. Cukuplah saya tahu, bahwa mereka awalnya dari satu bacaan sholawatan, serumpun rukun cara tahlil dan norma sub-kulturnya. “Agama” mereka nyaris serupa. Hanya, karena disulut “sesuatu”, mereka dikondisikan berjibaku. Mereka, adalah korban bencana adu dogma.
Pada tulisan ini, saya berusaha imparsial dan netral sebagai konsekwensi pekerjaan sukarelawan yang saya emban. Saya membela manusia, tidak hanya memihak satu saja diantara mereka. Karena bagi saya, mereka semua adalah serumpun bangsa tanpa sekat sektarian SARA.
Silakan dicatat, “isyhaduu bi anna muslimiin.” Saya warga Indonesia pembelajar muslimNYA yang pasrah menyembah dan berupaya tidak terbelah dikotomi madzhab sunni-syiah. Saya hanya kepingin melihat manusia seluruh dunia –khususnya Indonesia– dalam sebentuk tubuh utuh, bukan ceceran organ yang saling tarik menarik dan mencerai-beraikan.
Akhirnya, memang perlu intensifikasi doa plus pendekatan ProvoKasiH & MotivAsiH kita semua kepada para cendekia supaya mereka tidak loba dalam berbisnis “waralaba agama”.
Sekaligus diprioritaskan aksi pencerdasan kaum bawahan, agar mereka tidak lagi menjadi korban penipuan “pecah belah ibadah” , “undian ganjaran” dan “karapan iman”.
Demikian kilas pengalaman saya dari hasil berdinamika dengan sedulur seIndonesia, plus Rabu (29/8) kemarin sempat “macak relawan+wartawan”, menengok keadaan pengungsi bencana dikotomi syiah-sunni di arena gelanggang olahraga (Gelora) kota Sampang-Madura.
Semoga dogma tidak beralih fungsi menciptakan dikotomi besi yang memecah belah kesatuan beribadah.

Tuesday, June 3, 2014

17 TAHUN HIDUP TANPA UANG

www.spmaakita.blogspot.com - Uang, uang dan uang..(bahagia tanpa uang)
Sebuah benda yang membuat banyak orang ingin memilikinya. Uang bisa membuat manusia jadi tamak. Uang bisa membuat seseorang 'menginjak-injak' orang lain. Bahkan uang bisa membuat seseorang membunuh orang lain. Ya.. itulah sisi gelap uang. Hampir tidak ada yang gratis di dunia ini, semua butuh uang. Kadang uang menekan hidup, karena itulah wanita ini memutuskan untuk hidup tanpa uang.

Aneh memang, di zaman yang serba gila kekayaan dan silau harta, Heidemarie Schwermer yang hampir berusia 70 tahun justru memutuskan untuk meninggalkan hidup mewahnya. Wanita yang berasal dari Jerman ini memulai petualangan saat usianya masih 50 tahun. Heidemarie meninggalkan pekerjaan sebagai psikoterapis dan yakin bisa hidup tanpa uang. Kisahnya bahkan dibuat film dengan judul Living Without Money, dilansir dari situs Business Insider.
Keluargaku Kaya, Tetapi Miskin


Kisah ini bermula saat keluarga Heidemarie mengalami kebangkrutan di Perang Dunia II sekitar tahun 1940. Dengan jerih payah ayahnya yang seorang pengusaha kopi, keluarga mereka kembali berjaya dan kaya raya. Tetapi.. ada pergolakan batin saat keluarga Heidemarie mempertahankan kekayaan sekuatnya. Heidemarie muda berpikir, apakah keluarganya sungguh kaya atau sebenarnya miskin secara batin?

Heidemarie akhirnya meninggalkan kehidupannya yang bergelimang harta, dia bergabung dalam perkumpulan penduduk lokal. Perkumpulan itu akan membuat seseorang bekerja untuk mendapatkan barang, bukan uang. Heidemarie bekerja sebagai pengasuh anak hingga tukang bersih-bersih. Semua dia lakukan dengan gembira. Heidemarie bahkan tidak keberatan memberikan rumahnya secara cuma-cuma pada kerabatnya.
"Saya rasa itulah saat yang tepat, saya memberikan rumah dan semua yang saya miliki," ujar Heidemarie. Semua barang diserahkan, kecuali barang pribadi yang memiliki kenangan, semua dimasukkan dalam koper kecil.

Bahagia Hidup Dalam Kesederhanaan

Walaupun hanya mendapatkan bayaran berupa barang, Heidemarie tidak keberatan menyumbangkan baju yang didapat untuk orang lain. Sementara itu orang lain secara ajaib sering membantu Heidemarie, dia menyebutnya mukjizat, bukan sumbangan semata. "Setiap hari saya melihat banyak keajaiban di dalam hidup saya," ujarnya.
Banyak memberi, banyak menerima, itulah kata-kata yang sering diucapkan Heidemarie. Bertahun-tahun hidup tanpa uang tidak selalu mulus, kadang Heidemarie harus mencari sisa sayur segar di pasar. Walau begitu, Heidemarie tidak mau disebut tunawisma, karena dia bahagia dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Perjuangan hidup Heidemarie membuatnya dipercaya untuk melatih mahasiswa ahli lingkungan BUND Youth dari Muenster. Ada beberapa orang yang mengkritik gaya hidup Heidemarie, tetapi baginya, kritikan itu bisa diterima walaupun menyakitkan. Ada juga yang memberi respon positif bahwa uang tidak selalu memberi kebahagiaan, ada orang yang banyak uang tetapi miskin hati.
Dalam kesederhanaan, selalu ada kebahagiaan. Bagaimana dengan Anda ?

Sumber: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/28387-hidup-tanpa-uang-selama-16-tahun-wanita-ini-bahagia.html

Tuesday, May 27, 2014

Difficult to gain TRUST


Dulu...ketika Q diamanahi sesuatu oleh seseorang, aku menganggapnya mudah. Dari hari ke hari Q selalu berfikir nanti dan nanti...

hingga hari ini tiba tak sedikitpun yang kulakukan... Dan akhirnya penyesalan Q tiba... dan ketakutan itu hadir...hingga mulut Q tak dapat berkata “maaf " karena itu terlalu gampang terucap tak sebanding dengan kesalahanku...

Kini Q kehilangan kepercayaan...
sedang kepercayaan itu sulit tuk didapat...
dan hanya karena “syetan” Q menjadi benda mati
yang mau disuruh apapun yang menyesatkan...

Sekarang...

Aku sadar semua ini menjadi cambukan untuk Q dan semua.
Agar selalu wirai dan bisa menjaga kepercayaan..
dan bisa taat komando meski melawan keinginan...
dan bisa menjadi santri yang siap pakai..
denagan bercita-cita menjadi seorang yang bertubuh agama.

Ayo terus menumbuhkan semangat agar bisa bertahan
Dan setia sampai Akhir Hayat
Bersama Bahtera Keselamatan SPMAA

Go on spirit in a problem because
A problem is a change for you so the best.

By: M2

Monday, May 19, 2014

INGAT MATI, HIDUP BAHAGIAKU

Kegemaranku akan hidup dan ketakutanku paranoid akan mati, 
sampailah pada puncak ketakutan ambang batas manusia. 
Megap-megap dan lemas terkulai
Melambungnya isak tangis dan jerit yang tak berdaya

Hilang suara dan kempis tak bertenaga
Semeleh dan hanya pada yang Kuasa
Subhaanallah 
Kuasa Kasih Allah SWT datang dan memberi jawaban.

Ada keinginanmu yang berumur panjang tanpa mati itu
Kemudahannya melebihi kemudahan sebelum kau masuk dalam rahim ibumu
Diakhirat setelah kau dimetamorfosiskan dalam liang lahat matikuburmu
Hanya bisa kau gapai dengan amalan sholeh kasih sesamamu

Sejak saat itu, apapun tipuan dunia berupa kemewahan, kekayaan, kedudukan, yang berakhir mati tak mampu menggodaku
Karena chip perasaan pasti mati, selalu membersamai dengus nafas-fikirku
Hanya linangan air mata bersimpuh sujud padaNya
Agar terus tidak terputus jalinan petunjuk hidayah dan Kasih SayangNya

Agar bisa sampai pada alam surga yang dijanjikanNya
Tanpa mati hidup bahagia sejahtera selama bersamaNya. Bismillah


By: Gus Hafid

Sunday, May 18, 2014

Praktik Pancasila Tanpa Kata


Di pesantren kami, ada beberapa fenomena istimewa yang patut disyukuri bulan Juni ini. Selain persiapan maraton untuk acara milad 50 tahun ma’had, banyak tamu datang bergantian hampir setiap hari. Diantaranya kami kerawuhan serombongan mahasiswa pasca sarjana perguruan tinggi negeri ternama dari Jakarta. Mereka bermaksud live in mengikuti tradisi santri selama sepekan dalam kegiatan bertitel “Belajar Mentoring Bersama Santri & Mahasiswa”. Hari kedua, bakda sholat subuh berjamaah. Seperti biasa jadwal rutin pesantren adalah pengajian tafsir Al Quran. Keenam belas calon magister yang berasal dari beragam budaya itu pun turut mengikuti majelis. Kebetulan kajian materi Al Quran sampai pada surat Al Maidah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim1-300x199.jpg
Menjadi istimewa dan khas Indonesia suasana majelis di pagi hari itu karena pesertanya bukan hanya santri, tapi diikuti juga oleh rekan-rekan mahasiswa yang berbeda-beda agama dan budaya tadi.  Dengan duduk bersila baris tertata, pengajian yang diikuti anak-anak, mbah lansia, remaja, pemuda dan mahasiswa S2, bersatu dalam majelis yang setara. Alhamdulillah selama hampir  90 menit semua peserta majelis pengajian dapat saling guyub berbagi pertanyaan dan jawaban.  Tanpa banyak retorika, wajah ramah Indonesia tersaji sesungguhnya. Di pagi itu, kesadaran kami seperti dilahirkan kembali oleh ibu pertiwi. Bahwa sesungguhnya awal muasal semua manusia adalah saudara sebangsa tanpa imbuhan SARA.

Indonesia, sebagai kumpulan ribuan bangsa dan budaya, nampak akur bertutur di pengajian pagi itu. Seorang santri yang duduk di sebelah saya berbisik, “Gus tahukah sampean, hari ini Indonesia memperingati kelahiran Pancasila?” Saya pun spontan melirik kalender yang menempel di dinding masjid. Ternyata memang iya, kalender menandai hari itu 1 Juni.  Tanggal yang dipercayai sejarawan sebagai lahirnya Pancasila di bumi Indonesia. “Alhamdulillaah,” bisik hati saya berkali-kali.

Mungkin inilah yang disebut ayyaamillaah. Hari-hari Allah yang pasti terjadi.  Tanpa direncana sebelumnya, kajian ayat tentang keadilan itu diikuti oleh wakil-wakil kaum Indonesia. Kami para santri mewakili mayoritas, dan rekan-rekan mahasiswa itu delegasi minoritas. Selain itu, para santri yang memang asalnya dari Aceh sampai Irian Jaya. Sungguh miniatur keberagaman Indonesia yang membersyukurkan potensi nusantara. Pasnya lagi, kami peringati Pancasila langsung praktiknya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim2-300x225.jpgLebih khusus menjadi renungan buat kami kaum santri yang mengaku beriman. Ayat 8 surat Al Maidah itu memberikan peringatan tegas atas perilaku sosial kita pada kelompok lain yang berbeda. Kajian tafsir yang diampu Gus Glory hari itu, mengurai makna keadilan dari sisi kemanusiaan. Berbicara fakta kritis keIndonesiaan dan refleksi kekinian. Sering, ketika tidak suka kepada madzhab yang berbeda atau identitas SARA lainnya, maka sikap negatif gebyah uyah menjadi lumrah. Di pihak kita selalu merasa benar saja, sementara mereka salah bahkan najis selamanya.

 Hingga pada norma sosial dan praktik kehidupan komunal, laku ketidakadilan kita paksakan berjalan.
Nalar sehat dikalahkan naluri jahat. Emosi dan benci lebih menguasai daripada kebaikan budi dan kejernihan nurani. Di satu moment kita meneriakkan keadilan, tapi di waktu lain kita menanamkan benih rasisme berlebihan. Kembali merenungi momen penuh rahmat di pagi hari itu. Kami para santri yang mewakili mayoritas kaum beriman nusantara, ditunjukkan kenyataan bahwa nilai adiluhung Pancasila sudah pas untuk mengelola dan menyatukan potensi raksasa bernama Indonesia.  Maka akan jadi anomali jika kami para santri belum bisa adil pada kelompok yang berbeda keyakinan. Karena perlaku tidak adil itu sama saja dengan penolakan terhadap kebenaran ajaran Al Quran.


Meski masih diramaikan perdebatan, saya meyakini kesesuaian ajaran Al Quran dan Pancasila beriring pada jalur cita-cita yang sama.  Al Quran mengajarkan ketauhidan, Pancasila menyahutinya di sila pertama. Al Maidah ayat 8 menyuruh kita kaum beriman berbuat adil dan Pancasila mengamininya di sila kedua. Seterusnya ayat tentang persatuan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial juga termuat di sila Pancasila berikutnya. Pagi itu, tanpa terasa kami telah belajar mempraktikkan ajaran Al Quran sekaligus sila kedua dan terakhir Pancasila. Belajar memaknai nilai kemanusiaan dan keadilan melalui aksi kecil yang riil. Praktik menyikapi secara adil kehidupan Indonesia yang dilahirkan berbeda-beda rupa karakter dan keyakinannya.

http://netsains.net/wp-content/uploads/2011/06/gus-adhim3-300x207.jpgMelalui kegiatan sederhana dan bisa diikuti oleh semua, Pancasila bisa dipraktikkan kapan saja bila ada keseriusan niat menjalankannya.  Jangan sampai terjadi negara dan bangsa lain mulai meniru filosofi Pancasila, sementara kita justeru bergegas melupakannya. Berangkat dari pengalaman pagi itu, saya mengajak Anda untuk praktik pengalaman serupa. Memperingati kelahiran Pancasila tanpa buih kata, tanpa genit langgam retorika, tanpa riuh dihipnotis gegap gempita media. Tapi langsung praktik kehidupan sosial di lingkungan terdekat kita.
Karena jika tidak dengan cara demikian, maka Pancasila akan tertutup pelan-pelan di buku kenang-kenangan peradaban. Mungkin hanya akan dibaca sekali saat rangkaian upacara tujuh belasan. Teronggok maya dalam formalitas belaka tanpa makna.


By: Gus Adhim

Thursday, May 1, 2014

HAJI DAN ELEGI PARA TKI

SEBUAH RENUNGAN
Gus Glory


Tampak seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju teller sebuah bank syariah. Dari caranya berinteraksi dengan teller, terlihat si nenek belum pernah berhubungan dengan bank sebelumnya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Sambil menuangkan isi keresek yang penuh berisi uang receh dan beberapa lembar ribuan, bibir si nenek gemetaran menyampaikan niat membuka rekening. Ya, si nenek sedang mulai menabung ONH untuk berangkat haji. Total uang receh tersebut sebesar 5 juta rupiah. Si teller dengan senyum sabar melayani.



Dengan buku tabungan ONH di tangan, si nenek berjalan pulang dengan gembira. Wajahnya bersinar penuh harapan cita-citanya akan segera terwujud. Doa yang dibarengi usaha banting tulang sebagai pembantu itu akan segera terkabul. Bayangan ka’bah seperti lukisan dinding yang dibuat anaknya secara slow motion bergantian muncul dalam pikirannya. Sebuah tabungan, sebuah langkah awal hasil dari kerja bertahun-tahun sebagai pembantu rumah tangga di rumah Wak Haji kaya. Si nenek tinggal di rumah reot bersama anak laki-lakinya, seorang pelukis. Anaknya baru saja cerai karena istrinya memilih hidup dan menikah dengan laki-laki lain.  Sang anak yang berubah sayang pada ibunya dan sangat ingin mewujudkan mimpi ibunya, naik haji.

Selang beberapa waktu setelah hari penuh harapan itu, seorang wanita datang bertamu ke rumahnya. Mata nenek menatap redup wanita yang datang tersebut. Sambil menangis sesenggukan wanita itu bercerita bahwa anaknya divonis mengidap penyakit kronis yang harus segera dioperasi. Kesedihan semakin bertambah karena dia tidak mampu membiayai operasi yang sebesar 5 juta. Sambil mengelus lembut pundak wanita itu, si nenek berujar: “Sudahlah jangan sedih, insya Allah nenek bantu. Akan nenek ambil tabungan nenek”.

Mendengar itu anak laki-lakinya yang berada dalam kamar sontak datang, “Tidak! Aku tidak rela. Itu tabungan emak selama bertahun-tahun untuk tujuan suci, haji”. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ucap si nenek sambil memakai pedang ikhlas untuk memenangkan perang batin yang bergelora dalam batinnya. Sang anakpun hanya bisa menunduk lesu, perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya.

Hari berganti hari, si nenekpun mulai menabung kembali. Disusunnya puzle harapan bersujud di depan ka’bah yang sempat buyar karena menolong orang yang sakit. Pagi itu, si nenek sedang menjemur pakaian ketika dilihatnya dua orang anak yatim yang tinggal di sebelah rumahnya sedang memakan daging. Si nenek heran karena dengan kondisi ekonomi ayah mereka yang sangat kurang, jangankan makan daging, untuk makan sehari-hari saja sering meminta-minta. “Daging dari mana nduk?” tanya nenek. Si anak diam. Wah, jangan-jangan. “Itu daging bangkai ayam yang nenek kubur kemarin?” tanya nenek khawatir. Si anak hanya bisa mengangguk.

Segera si nenek menyuruh membuang dan menuntun mereka ke rumahnya. Perang batin berkecamuk hebat, ketika nenek menyingkap kasur di mana dia menaruh receh dan lembar uang yang hanya berjumlah beberapa puluh ribu, yang disimpannya untuk naik haji. Dia membeli ayam dengan uang tersebut dan memasakannya untuk anak tetangganya. “Makanlah nak..”. Sejurus kemudian uang di bawah kasur yang tersisa 50 ribu pun diberikan pada anak yatim, sambil berpesan “ini pakai untuk kebutuhan keluarga kalian..” Subhanallah.

Kejadian tersebut saya sarikan dari beberapa scene dalam film EMAK INGIN NAIK HAJI yang dimainkan secara luar biasa bagus oleh Aty Kanser (si nenek) dan Reza Rahardian (pelukis). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa seorang nenek sederhana, lebih mampu mengartikulasikan apa yang dikehendaki oleh Allah daripada kita yang pandai ber-retorika. Saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah film, karena kejadian yang nyaris persis saya temukan di lingkungan kami. Bahwa masih ada hamba-hamba terpilih Allah yang mampu mengejawantahkan makna sesungguhnya dari haji. Mereka yang begitu tajam penglihatan batinnya dan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menentukan skala prioritas dalam pengabdian kepada Allah.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang yang begitu bernafsu masuk surga. Lalu di tengah jalan menuju surga ditanya Tuhan: “Apa modalmu masuk surga?”. Dia menjawab: “Hamba ketika hidup di dunia rajin sholat, puasa tidak pernah bolong, zakat dan haji kutunaikan”. “Itukah modalmu masuk surga?”, tanya Tuhan lagi. “Bukankah itu sudah cukup, ya Tuhan?”, jawab orang tersebut dengan yakin dan sombong. Tuhanpun murka dan menghardiknya: “Ya, kamu sholat tapi ketika AKU sakit dan sekarat menengokpun kau tak sempat. Kamu haji, tapi ketika AKU kelaparan kau tidak bersimpati. Kamu pandai mengaji tapi ketika AKU tinggal di bantaran kali, kau tidak peduli”. Orang itupun dilarang masuk surga. Dalam hal ini Tuhan memakai kata “AKU” untuk mewakili kaum papa di dunia.  

Muchtar Sadili pernah menulis bahwa dalam ilmu fikih dikenal istilah penarikan hikmah dari satu ibadah (hikmah at-Tasyri’), sama pentingnya dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Haji Mabrur yang diinformasikan oleh syari’at`, secara bahasa dan istilah mempunyai relasi kuat dengan kepedulian sosial. Kata mabrur yang berasal dari kata bir dalam bahasa arab diartikan sebagai kebaikan. Nah, dalam al-Qur’an makna itu dilebarkan bahwa kebaikan hanya diperoleh jika menafkahkan harta yang kita cintai untuk meringankan beban hidup orang lain di sekitar kita (QS ‘Ali Imran:9).

Begitu juga jika ditilik ibadah lainnya dalam rukun Islam setelah syahadat sebagai pengakuan akan Tuhan dan Nabi, seperti shalat, puasa dan zakat. Pelaksanaan shalat akan dianggap sebagai pendustaan agama, jika pelakunya tidak peduli terhadap penderitaan anak yatim dan para fakir-miskin (al-Ma’un:1-5). .Puasa sengaja didisain untuk melatih diri dengan biasa merasakan lapar-dahaga di siang hari, agar merasakan derita kaum papa (hadits bukhari-muslim). Secara tegas, kita temukan dalam zakat, yakni dengan mengeluarkan sebagian dari harta yang telah mencapai jumlah tertentu (nishab), untuk kaum dhu’afa (Qs at-Taubah 9:60).

Spirit komunalitas Haji setidaknya menyimpulkan kekaguman, sekaligus kekagetan. Di tengah negeri yang masih terlilit krisis ekonomi, jumlah kuota haji tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tahun ini grafiknya cenderung naik – terlepas dari adanya waiting list. Anehnya, problem kemiskinan tidak berbanding lurus dengan spirit komunalitas tadi. Sejatinya, secara organik dan fungsional ibadah haji memerankan dirinya dalam usaha untuk menuntaskan problem kemiskinan bangsa.

Sementara C. Ramli Bihar Anwar dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam iIbadah haji mengenal apa yang disebut halangan atau uzur sosial, yakni peristiwa atau masalah-masalah sosial (kemanusiaan) yang bisa menggugurkan kewajiban haji seseorang, meski mungkin hanya bersifat sementara. Kewajiban haji yang bias dikalahkan oleh kemungkinan uzur-uzur sosial bukan saja ditekankan oleh penghayatan sufistik tetapi juga oleh tradisi fiqih. Penekanan secara tasawuf sangat memungkinkan, karena tasawuf dikenal sebagai disiplin batin yang lebih bersifat humanis dan relatif “longgar” secara legal-formal. Tapi, bila hal ini diterima secara fiqih – yang dalam banyak kasus sering terlalu “rigid, dogmatis dan kering“ – maka jelas ini mendakan adanya pancaran sifat humanis yang tak terbendung dari ibadah haji. Dr. Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Aulawiyyat, Fiqih Prioritas, “ kewajiban yang pelaksanaannya harus sesegera mungkin (genting) harus didahulukan di atas kewajiban yang harus ditunda. Dan, haji adalah kewajiban yang bisa ditunda“.

Sementara bila uzurnya tak sampai mengancam jiwa, misalkan kemiskinan, kebodohan dan masalah-masalah sosial lainnya, maka menaggulangi semua ini harus didahulukan ketimbang melakukan haji sunnah / umrah. Artinya, dalam kondisi serba krisis, ongkos untuk berhaji sunnah (yang kedua dan seterusnya) jauh lebih baik disalurkan untuk berbagai kegiatan pemberdayaan sosial. Dalilnya, melayani urusan publik adalah fardlu kifayah (kewajiban sosial), sedangkan melakukan ibadah haji/umrah yang kedua dan seterusnya hanyalah sunnah.

Jika demikian pandangan fiqih, maka tak heran bila Abu Hayyan Al-Tauhid (w. 1025 M), seorang ahli sufi, filasafat dan sastra sampai merasa perlu mengarang sebuah kitab berjudul Al-Hajj Al-Aqli idza Daq Al-Fada ‘An Al-Hajj Al-Sary’I ( Haji Spiritual bila Tak Mungkin Melakukan Haji Formal? ); untuk mempromosikan apa yang disebutnya sebagai haji spiritual sebagai ganti haji fisikal jika cukup terdapat uzur-uzur sosial. Tak heran pula bila Al-Ghazali samapi berani menyebut para hartawan yang berkali-kali berangkat haji sementara membiarkan tetangganya kelaparan sebagai “orang-orang yang terkelabui”.

Maka, adalah ironis bila kaum Muslim tanah air – terutama yang telah berhaji berkali-kali – terus begitu antusias berhaji sampe harus antri menunggu kuota bahkan harus sampai “adu demontrasi” umtuk memperebutkan kuota, sementara dibelakang mereka antrian kebodohan dan kemiskinan bahkan sampai harus “adu nyawa” saat memperebutkan prosesi pembagian sedekah maut semakin bertambah panjang. Tambahan biaya haji pun tak risau untuk kembali dikeluarkan meski sebatas untuk keperluan biaya jual beli kuota kepada oknum Depag di daerah-daerah.

Itulah kenapa dalam status sebuah jejaring sosial saya menulis: “Wahai saudara-saudara Muslim, bagaimana kalau sampean semua yang berencanan haji ke Arab ditunda dulu. Kemudian uang saudara2 dikumpulkan untuk pemberdayaan para TKI/TKW. Kalau tiap tahun ada sekitar 200 ribu orang yang berhaji dengan biaya sekitar @ 30 juta. Berarti ada dana sekitar 6 trilyun per tahun. Dan umat Muslim secara ikhlas me-moratorium haji selama 5 tahun ke depan”. Sentilan ini adalah bentuk keprihatinan saya menyaksi-rasakan berita dan penderitaan jutaan saudara yang menjadi TKI/TKW di jazirah Arab, jazirah di mana Arab Saudi negara tempat ibadah haji dilaksanakan.  

Si Emak dalam film di atas mirip dengan cerita sufi tentang tukang sol sepatu, yang lebih mendahulukan substansi daripada seremoni. Berpikir cerdas untuk meredam ibadah yang bisa ditunda dengan memenuhi kewajiban ibadah perlu segera. Dengan tanpa membuat dikotomi antar keduanya, si Emak berhasil secara ikhlas mengusahakan tertunaikannya ibadah ritual dengan memberikan ruh ibadah sosial. Usulan saya dalam status tersebut bukan usulan kepada pemerintah RI untuk dijadikan regulasi, namun kepada individu-individu untuk dijadikan renungan nurani dan rencana pribadi. Himbauan tersebut bukan dimaksudkan untuk membebankan tanggungjawab menolong sesama pada mereka yang akan berhaji saja, karena sesungguhnya tanggungjawab itu ada pada kita semua. Ingat, bahkan orang yang mengerjakan sholat dianggap pendusta agama dan diancam neraka, jika melalaikan kepedulian sosial memberi makan anak yatim dan menolong kaum miskin.

Saat si Emak merelakan tabungannya untuk menolong anak miskin membayar biaya operasi, bukan karena kurang besarnya keinginan menuju baitullah. Tapi lebih karena personifikasi “Emak” telah mencapai tingkatan iman yang memungkinkan dia melihat ibadah ritual dalam bingkai yang sesungguhnya, ibadah sosial. “Nak, menolong mereka yang membutuhkan lebih utama. Mimpi nenek untuk berangkat haji bisa ditunda. Kalaupun nenek meninggal sebelum bisa ke sana, percayalah hati nenek sudah lama ada di sana”, ujar Emak penuh makna. Ini sebuah renungan, bukan usulan yang memaksakan, apalagi ego untuk diadu. Kita kalah dengan si Emak. Kita seharusnya malu dengan tukang sol sepatu. Karena belum mampu, saya malu. Bagaimana dengan bapak-ibu? Suwun.
 

Pengikut