Ads 468x60px

Showing posts with label SPMAA. Show all posts
Showing posts with label SPMAA. Show all posts

Saturday, August 19, 2017

MERDEKA TUNTAS, PILAR TUJUH BELAS.

Indonesia kita, mari bersama kita jaga. 
Bersama kerabat menyusuri jalan jalan di Singapura, pikiran saya bercabang dua. Pertama membandingkan suasana perayaan Hari Negara negeri jiran yang hanya ditandai seremoni sehari di panggung Marina plus satu dua bendera kecil yang menempel di jendela apartemen. Kontras dengan kemeriahan masyarakat kita yang kibaran merah putih menghiasi setiap sudut negeri plus suguhan lomba dan kegiatan di setiap gang kota dan desa.

Kedua, saat mengamati arsitektur gedung yang cantik ikonik, saya teringat gedung sekolah kami yang sedang dalam tahap pembangunan. Jika selama ini sekolah mewah hanya bisa dirasakan mereka yang berkantong tebal, maka memaknai kemerdekaan ini kami ingin bangun gedung megah full fasilitas tapi terjangkau untuk semua kalangan termasuk mereka yang miskin.

Gedung ini memang belum jadi. Bangunan ini memang belum indah. Masih banyak puing dan bahan bangunan berserakan. Meski demikian pantang bagi kami menengadahkan tangan meminta sumbangan. Silahkan mengulurkan tangan asal jangan suruh kami merubah bentuk bangunan. Silahkan ikut membangun sejauh tidak memberi syarat kami menggadaikan gedung ini untuk kepentingan kalian.

Negeri kami memang belum sempurna. Masih banyak kekurangan berserak di sana sini. Meski demikian, pantang buat kami merendahkan diri mengemis hutangan. Kami tidak alergi bantuan tapi jangan coba merubah ideologi bangsa ini. Pancasila filosofi suci nenek moyang kami. Silahkan tawarkan pinjaman tapi jangan coba beri kami syarat harus menggadaikan sejengkalpun tanah warisan para pejuang. Monggo saja bekerjasama asal tidak dalam relasi bos dan jongos, tuan dan budak belian. Kita berdiri setara antar bangsa berharga diri dalam bingkai ta'awanu yang berkeadilan dan saling membutuhkan.

Entah kapan gedung kami ini selesai. Tapi kami yakin itu sebentar lagi. Dengan ijin dan pertolongan Allah, kami akan terus berjuang dengan keringat kami sendiri. Pertolongan Allah itu dekat. Entah kapan negeri ini akan makmur dan berdikari. Tapi kami yakin itu akan terjadi. Tekad kita untuk hidup maju, beriman, berswadaya dan ber dignity. Mencapai itu mungkin kami akan berdarah dan tertatih. Kami siap asal rakyat berdaulat dan berkeadilan sosial.

Insya Allah, saat gedung ini jadi, akan lahir dari dalamnya, generasi merdeka pelanjut visi para pejuang. Yang cerdas, berilmu dan berkepribadian luhur bangsa dan beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa. Insya Allah, saat bangunan negeri ini sudah merdeka hakiki, akan lahir dari perut bumi ibu pertiwi, pemimpin sejati yang diridloi Ilahi. Yang shidiq (benar) amanah (terpercaya) tabligh (penyampai dan pelaksana amanah rakyat) dan fathonah (cerdas).

Ada tujuh belas tiang di gedung ini. Menyahuti seruan tafakur dan dzikir 17 17 2017 ini, kami tancapkan tujuh belas merah putih di atasnya. Menandai awal kemerdekaan sejati. Meninggalkan kemerdekaan semu ragu dan penuh tipu, menuju kemerdekaan yang tuntas. Berkibarlah tujuh belas benderaku. Jadikan kerasnya angin sebagai penambah anggun pelambai merah putihmu. Jayalah negeriku. Jadikan kerasnya serangan topan berbagai persoalan kebangsaan sebagai ujian kekuatan pondasi kemajuan.

Gedung ini nantinya bertingkat dan mungkin tampak megah. Tapi siswanya tetaplah campuran antara anak keluarga mampu dan kalangan ekonomi lemah. Negeri ini nantinya akan hebat dan mungkin beranjak maju sejahtera. Tapi takkan kami biarkan hanya dinikmati oleh segelintir komprador wakil penjajah. Seluruh anak ibu pertiwi dari Sabang sampai Merauke berhak atas kemakmuran dan sumber daya negeri. Merekalah pemilik sah tanah air Indonesia. MERDEKA!
Bismillah.

Tuesday, June 27, 2017

Air Mata Tuhan, Teguran Lebaran


Lama tak lebaran di kampung halaman, tahun ini bersyukur bisa mudik ke Lamongan Jatim. Sampai rumah ingin ajak anak anak menikmati pagi menyusuri pematang sawah. Menyapa hijau padi, bercengkerama dengan bumi. Baru saja hendak berangkat, langkah seperti ada yang menahan saat melewati klinik pesantren kami.

Menjenguk masuk. Ternyata ada satu pasien yang kondisinya sudah sangat payah. Rumah sakit telah angkat tangan. Selain staf klinik, tampak dia ditunggui dua anak kecil, satu kelas 2 SMP satunya lagi kelas 3 SD. "Gimana keadaannya pak?", saya sentuh kakinya. "Sulit bernafas dan badan sakit semua..", terengah jawaban bibirnya bergetar di antara selang oksigen dan infusnya.

Darmono namanya, umur 62 tahun, bekas pegawai kontrak PTP di Jember. Klien di panti werdha kami. Seminggu sebelumnya ada yang antar ke tempat kami karena sudah beberapa bulan terlantar bersama dua anaknya, Krisna dan Wisnu. Kerabatnya berjauhan. Istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu. Tidak memiliki rumah. Tinggal di rumah kosong di pinggir perkebunan bersama 2 anak kecilnya.

Malam sebelumnya, staf kami yang di Denpasar kirim foto 2 anak kecil. Vanesa, 6 tahun dan Rasya, 3 tahun. "Siapa mereka?". "Siap gus. Mereka diserahkan bapaknya. Seorang pria asal Papua. Bercerai dengan istrinya. Hidup nomaden karena sulit mendapat kerjaan. Berharap agar SPMAA BALI bisa merawat dan mengasuh mereka". "Apakah anaknya mau dan tampak nyaman?". "Langsung akrab dan tampak ceria bersama anak asuh kita yang lain kok gus". "Kalian sendiri siap menerima amanah?". "Insya Allah gus. Bismillah".

Pagi ini, saya saliman ke ibu karena hendak ke Surabaya. Mau belanja kebutuhan penghuni asrama yang tidak mudik. Edisi tebar kegembiraan lebaran ceritanya. Saya suruh adik untuk menanyakan satu persatu apa yang mereka ingin beli. Termasuk dua anak dari pasien klinik tadi, Krisna dan Wisnu. Ternyata ibu saya, bunda Masyrifah, juga sedang menyuruh adik saya yang lain untuk menyiapkan makanan pagi bagi pak Darmono.

Adik saya datang dengan sepiring nasi, lauk ikan dan sebuah pisang. Saya tegur, "Dik.. dulu Abi kita ngajari kita mencintai diri lain seperti mencintai diri sendiri. Coba bayangkan kalau nanti di akhirat kita ditanya Allah 'hai fulan apa kamu minta makan' 'iya gusti' 'lha kamu dulu sewaktu di dunia Aku sakit saja kamu kasih makan seadanya maka sekarang makan nih seadanya'. Dik.. orang sakit yang bukan siapa siapa kita itulah wakil Tuhan di bumi. Apa yang kita berikan itulah yang kita terima di akhirat". Adik saya diam. Digantinya dengan lauk lebih lengkap dan lebih lezat. Lalu diantarkannya.

Baru beberapa menit setelah makanan di antar, staf klinik datang tergopoh. "Gus.. pak Darmono meninggal!". Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Anaknya tampak terisak di sampingnya. Hati saya teriris. Sesak saya bertanya, "Tadi gimana meninggalnya?". Sesenggukan Krisna jawab, "Tadi bapak panggil kami mendekat. Lalu peluk kami erat dan bilang sudah ga kuat. Lalu pelukannya melemah dan ga ada lagi..". Saya tak mampu lagi melanjutkan pertanyaan. Saya ajak anak dan istri mendekat lalu minta maaf karena takut nanti di hadapan Allah tercatat kurang perhatian.

Jenasah kami makamkan hari itu juga. Gerimis turun. Krisna dan adiknya duduk di depan nisan. Tangan tangan kecil yang lemah itu membelai makam ayahnya. Pusara itu basah. Oleh rintik hujan dan oleh air mata dua yatim piyatu itu. Di kejauhan sayup suara tadarus masih mengalun. Lebaran tinggal beberapa hari. Tapi dua anak ini harus kehilangan ayahnya. Saat banyak orang menyambut kegembiraan, dua anak ini harus sendirian menerima nestapa. Ibu tempat mengadu sudah berpulang dahulu, ayah tempat bermanja kini telah tiada.

Dulur.. saya sampaikan hal ini untuk pelajaran saya dan sampean semua. Bahwa kita perlu meningkatkan rasa simpati dan empati. Hiduplah sambil melihat kehidupan orang lain. Utamanya yang secara duniawi di bawah kita. Masih banyak anak negeri yang kesusahan. Masih banyak nikmat Ilahi yang kita terima dengan keluh kesah. Padahal masih banyak "Darmono" lain. Masih banyak kisah pilu Krisna, Wisnu, Vanesa dan Rasya lainnya yang membutuhkan irisan hati kita.

Insya Allah, Krisna dan Wisnu akan kami rawat di SPMAA Lamongan. Sementara Vanesa dan Rasya akan kami asuh dan sekolahkan di SPMAA Bali. Tapi kami tidak bisa sendiri. Ibu pertiwi membutuhkan lebih banyak lagi savior. Bukan sekedar orator, tapi the true mentor. Butuh lebih banyak lagi pelayan kehidupan. Kita perlu membangun persaudaraan. Perlu menambah kuantitas dan kualitas saudara. Darmono ternyata punya banyak saudara kandung. Sayangnya, ikatan darah tidak menjamin adanya simpati dan empati.

SPMAA didirikan Pak Guru Muchtar untuk wadah penyuburan bibit saudara sejati meski bukan famili. Agar lebih banyak lagi simpul persaudaraan sejati di muka bumi yang semata dilandasi cinta suci, cinta sesama insani, wakil Ilahi di bumi ini.
Bagaimana dengan sampean, dulur ? Mau jadi saudara sejati saya ?
Salam seduluran temenan. Bismillah

Thursday, October 13, 2016

SPMAA Laksanakan WORKSOP TK, PAUD dan TPQ Nasional di Bali


Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Pusat Lamongan, Jawa Timur, menggelar Workshop Nasional Taman Kanak-kanan (TK),  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) Cabang SPMAA Se-Indonesia, di Bali, selama lima hari mulai 12 - 17 Oktober 2016.

Pembina Yayasan SPMAA Pusat Hj. Masyrifah Muchtar saat membuka workshop mengata-kan, Usia 2-6 tahun adalah usia terbaik pendidikan. Disebut juga golden age. Di usia ini, pilihan pilihan pandangan hidup dan prilaku ditentukan. Karakter dibentuk. Hitam putihnya akhlak digambar.

"Mendidik anak adalah pondasi dasar dalam mengembangkan pribadi anak," katanya saat membuka Workshop di Gedung GOR Dewara, Sanggulan, Tabanan, Bali, Rabu (12/10/2016)

Terkait hal itu, Masyrifah menambahkan, SPMAA sebagai lembaga pengembangan masyarakat, yang sudah berpengalaman lebih dari 50 tahun di bidang pendidikan, melihat bahwa penanaman ajaran hidup sangat penting diperhatikan di usia emas ini.

Pada kesempatan tersebut Masrifah juga mengingatkan kepada para pendidik TK, PAUD dan MTQ Cabang SPMAA Seluruh Indonesia agar bisa memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada anak didiknya dengan nilai-nilai Islami seperti yang pernah diajarkan dan dicontohkan pendiri SPMAA, Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar.

Sebelumnya, Ketua Yayasan SPMAA Cabang Bali Gus Glory Islamic selaku Ketua Penyelenggara Workshop melaporkan, ada lebih dari 70 cabang SPMAA di seluruh Indonesia yg memiliki pendidikan anak usia dini. 


"Terkait hal itu dirasa perlu untuk menyatukan pandangan tentang apa dan bagaimana praktek terbaik TK, PAUD diimlementasikan," katanya.

Gus Glory juga melaporkan, Workshop dilaksanakan di dua lokasi di Tabanan selama dua hari dan di Denpasar selama tiga hari." Workshop diikuti 120 orang peserta yang berasal dari Cabang SPMAA seluruh Indonesia," paparnya.

Menurut Gus Glory tujuan dilaksanakan workshop ini adalah  menyusun muatan lokal untuk isian kurikulum yg merujuk pada kurikulum Pendidiakan Nasional. Selain itu juga untuk menentukan standar TPP, isi proses, evaluasi dan penilaiain untuk TK, PAUD dan TPQ di lingkungan SPMAA.

"Tujuan yang tak kalah pentingnya adalah untuk menentukan standar guru yang berkualifikasi, mencetak anak didik yang cerdas, terampil dan berakhlak selamat dunia akhirat," ujarnya.

Sementara out put dilaksanakannya workshop ini adalah adanya keseragaman visi dan misi tentang pendidikan anak usia dini di lingkungan SPMAA dan adanya kurikulum yang bernuannsa akhlak mulia, berwawasan bhineka tunggal ika serta berprestasi dunia akhirat. (Gus Glory)

Sumber: http://www.kabarnusa.com/2016/10/spmaa-gelar-workshop-tk-paud-dan-tpq.html?m=1

Tuesday, January 12, 2016

Ibu Pertiwi Aku Berdiri


Ibu, ijinkan aku | menyudahi diam ini | berilah aku titah | sekelebatan berdiri meneguhkan kaki | bersiap menjemput sekejap harap di tengah asa yang kian langka.

Sebab Ibu, lihatlah itu | mereka anak-anakmu menghela nestapa di tegalan sawah, di perairan tanah dan ketinggian lembah | mereka kelaparan perhatian dan kehausan penghidupan..

Lalu aku hanya mampu menyepi seperti yang ibu selalu kehendaki | tidakkah ibu iba kepada wajah sendu mereka ? Kalau tidak sekarang kita bergerak datang, mereka mati berkalang bumi..

Ibu, restui aku | Ijin kubawa angin | untuk mengibarkan myelin kebangkitan | serentak kutiup hak hidup pada pusara mereka, anak-anak pribumi yang terusir pergi dari rahim pertiwi |

Do'akan aku Ibu | pada setiap derap ayunan langkah kaki ini nanti | ada restu ampunan ilahi yang selalu berkelimpahan mendampingi..

INDONESIA


Aku kan berdiri menegakkan dwi warna sang panji | tidak lagi duduk menanti merutuk disini | ijinkan aku turun bersama embun dan halimun |

Ibu pertiwi, aku mesti berdiri | Merah Putih ini harus kembali membumi | mengangkasa semua jengkal persada tanah air kita | tak bisa dan tak rela jika ia diganti kepala naga, bintang kejora, dua segitiga atau rupa bendera manca lainnya...

~ suara paskibra ~
#GA9

Friday, October 16, 2015

KEPALSUAN CINTA |part 2

Kepalsuan Cinta | Gus Glory | Penulis
“Gus, seberapa besar sih cinta sampean kepada keluarga?”, pertanyaan kawan itu membuyarkan keasikan saya menikmati bulan purnama. “Ya besar dong, pokoknya ga bisa diukur”, jawabku sekenanya. “Kalau kepada Allah cinta nggak?”, usiknya lagi. Sayapun menjawab singkat: “Pasti”. Belum puas diapun melanjutkan: “Besar mana dengan cinta pada keluarga

Spontan saya ingin jawab besar kepada Allah, tapi nafas saya seolah tercekat. Karena saya rasa itu dusta. Lalu timbul jawaban lain, ya seimbang lah, tapi itupun tertahan, karena bahkan seimbangpun sepertinya belum.

Akhirnya jawaban yang muncul adalah penjelasan-penjelasan saya yang nggak jelas. Kumpulan logika, justifikasi dan penafsiran dangkal dari dalil-dalil, semuanya hanyalah upaya kamuflase saya menutupi kekurangan diri. Sebuah kesimpulan pahit justru saya peroleh dari jawaban jujur saya atas pertanyaan tersebut, setelah kawan itu pulang. Sederet kriteria kitab suci yang saya pakai untuk melakukan fit and proper test atas rasa cinta saya pada Allah. Jawaban jujur itu ternyata saya belum mencintaiNya.

Kira-kira apa yang sampean rasakan saat nama seseorang yang sedang sampean gandrung dan cinta disebut, berdesir ya? Jika saat namanya disebut seperti darah mengalir lebih laju, kala bertemu dengannya degup jantung berpacu tak menentu, waktu lama tak bersua ada perasaan rindu, berarti ada rasa cinta yang sedang bertamu. Kiriman sms dan panggilan telepon adalah hal yang sangat ditunggu dan pertemuan dengan kekasih adalah penyejuk kalbu.

Serindu itukah kita pada Allah? Kala mendengar adzan, apa yang muncul dalam benak kita; trengginas menyahuti ingin segera bertemu yang dirindu atau ogah-ogahan karena terganggu? Di luar bulan puasa saat sedang sibuk atau sedang asik bercengkerama, suara mana yang timbul: “kok belum adzan sih?”, sebuah ungkapan perasaan yang senantiasa menunggu-nunggu datangnya waktu sholat, atau karena waktu sholat dirasakan sebagai pemutus kesenangan atau jeda di waktu yang tak tepat, sehingga yang muncul “kok sudah adzan sih?”

Jika cinta sesama anak Adam dilukiskan dengan adanya getaran saat nama kekasih disebut, maka bergetarkah hati kita saat menyebut atau disebut nama Allah? “Orang-orang yang beriman, ialah mereka, yang apabila disebut Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayatNya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya, dan hanya kepada Tuhan mereka tawakkal” qs. 8:2. Coba jujur pada diri sendiri, itukah yang sampean rasa saat nama Allah disebut, bergetarkah? Katanya cinta?

Percintaan sering digambarkan dengan pelayanan dan kesediaan mengalahkan keinginan dan kepentingan pribadi demi mendapatkan hati yang dicintai. Apapun dilakukan atas nama cinta. Bahkan jika tengah malam ada panggilan dari sang pujaan hati, banyak yang tetap berjuang untuk datang. Kencan tengah malam, siapa yang bisa menolaknya? Itulah cinta, kadang sulit dicerna. Lalu bagaimana jika yang memanggil dan meminta sampean untuk datang dan berkencan tengah malam itu adalah Tuhan kita, Sang Robb, Allah Subhanahuwata’ala?

“Dan waktu malam, salat tahajudlah sebagai (ibadah) tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji dan terhormat”. 17:79. Bayangkan kita tengah tidur lelap, hujan deras, hawa dingin menusuk tulang, relakah kita memutus tidur, menyibakkan selimut, melawan dinginnya malam bersentuhan air hanya untuk menemui Allah? Tertarikkah kita dengan janji balasan cinta dari-Nya dan pengangkatan derajat yang secara dhohir tidak bisa diukur dan dirasakan?

Pernahkah sampean selingkuh? Semoga tidak. Tapi pernahkah sampean memikirkan hal atau orang lain saat sedang berduaan dengan kekasih atau pasangan? Jika pernah, konon kata orang itu juga tanda-tanda selingkuh hati. Pun demikian halnya ketika kita berduaan dengan Allah dalam sholat. Bisakah kita saat sholat hanya fokus (khusyu) memikirkan dan berdialog dengan-Nya tanpa ingat dan memikirkan yang lain? Karena memang demikianlah semestinya sholat.

Tapi pernahkah kita saat sholat yang harusnya hanya intim dengan Allah, tapi pikiran kita melayang: “waduh, besok deadline kerjaan”, “komporku tadi udah ta matiin belum ya”, “besok presentasi produk?”, “kampanye di dapil sana harus sukses”, dan hal dunia lainnya, pernah? Atau malah sering. Jika itu yang terjadi berarti kita telah selingkuh. Itulah kenapa Allahpun tidak sudi menoleh pada kita. Ujungnya sholat kita tidak pernah memberi dampak pada perilaku sosial kita. Karena sholat yang tidak pernah sampai kepada-Nya. Di mana semestinya sholat bisa memberi perbedaan prilaku sesudah sholat lebih baik dibanding sebelum sholat.

Lagi, Nabi bersabda: Man la yarhamunnas, la yarhamuhullohu, barangsiapa yang tidak mencintai sesama manusia, maka Allahpun tidak mencintainya. Tiap rasa cinta tentu besar harapan berbalas. Demikian juga kalau kita mengaku cinta Allah, mengharap balasan dengan cintaNya. Padahal cinta Allah kepada kita sangat bergantung pada seberapa tulus dan terbuktinya cinta kepada sesama. Mampukah sampean membuktikan cinta dengan menyayangi sesama seperti menyayangi diri sendiri?

Bila sampean sedang berdekatan dengan penjual minyak wangi, tercium bau wangi bahkan tak jarang diolesi minyak wangi. Kalau memang benar-benar kita dekat kepada Allah seperti yang kita gembar-gemborkan, maka pasti kita jiwa kita akan penuh kasih akibat “tertular dan terolesi” sifat Allah Yang Ar Rahman dan Ar Rahim, Pengasih Penyayang. Dan bohong besar mengaku dekat dan cinta kepada Allah tapi jauh dari sifat kasih. Duduk nyaman dalam mobil mewah, cuek melewati sesamanya yang kelaparan.

Cinta Nabi Muhammad pada Allah dibuktikan dengan pengorbanan harta, waktu, pikiran bahkan taruhan nyawa. Sampai saking gandrung dan kedanen Allah, puja-puji pada sang kekasih tertuang dalam 99 nama asmaul husna. Itulah adalah ungkapan cinta sang Nabi menggambarkan sang kekasih. Demikian pula para sahabatnya. Sahabt Bilal memilih cinta Tauhid meski disiksa, Abu Bakar mengorbankan status sosial dan hartanya, Umar, Ali, Usman yang tak terhitung pengorbanannya semua demi cinta.

Gimana sekarang, masih mau dan sanggup mencintai Allah? Masih keukeuh merasa punya rasa cinta pada Allah? Baiklah, coba baca ayat berikut:

Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu atau kerabatmu; kekayaan yang kamu peroleh, peniagaan yang kamu khawatirkan akan mengalami kerugian dan tempat tinggal yang kamu sukai – lebih kamu cintai daripada Allah, atau RasulNya atau berjihad di jalanNya; maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan (siksa)Nya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”, qs. 9:24.

Membaca ayat ini, sayapun diam tertunduk lesu, lidahpun kelu. Bak pedang tajam, ayat ini menusuk telak tepat di jantungku. Tidak ada lagi alasan-alasan yang bisa saya buat-buat. Mau bilang apa, lha wong memang saya kerap masih lebih mencintai hal-hal tersebut daripada Allah. Ingatan dan kenyamanan saya lebih banyak pada hal-hal yang diprediksi dalam ayat tersebut daripada Allah. Jawabannya sudah jelas: ternyata cintaku palsu! Bagaimana dengan sampean? Wallahu a’lam. Bismillah.

Penulis: Gus Glory

Wednesday, August 19, 2015

karena (bukan) karena

Karena Bukan Karena | Penulis Gus Adhim | SPMAA


"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan...."

Maka dwiwarna melambai Indonesia | oleh karena itu aku mau membawa sang saka berkelana | sebab demikian Merah Putih siap diriwayatkan....

"Adakah Merah Putih di dadamu?? Ada...ada..ada !!" Adakah Pancasila di hatimu? "Ada..ada..ada!" Mana dia? "Ini dia..ini dia..ini dia.!"

Karena Pangeran Diponegoro mengilhami jalan jihad ini | meski harus bertarung sendiri dan berdharma ikhlas bersih, tiada bekas pamrih.

Karena Panglima Sudirman menyatakan teladan, " Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi."

Bukan karena hendak berpunya tanda jasa bintang maha putra | bukan juga karena mimpi dibawa wisata ke istana | bukan karena ingin diimingi janji singgasana oleh raja mancanegara...

Karena Merah Putih itu jiwa raga bersenyawa | maka ia senantiasa hidup melegenda selama ada nusantara |

karena panji sakti ini bukan cuma jahitan perca dua segitiga | karena sang saka bukan hanya kain berenda bintang kejora | karena Merah Putih bukan besi bisu atau alat sambit seperti palu dan arit...

Karena Merah Putih, adalah cita-cita bangsa bermarwah bersih.. maka aku membawanya sepanjang ruas raya, mengiringi Indonesia bercerita, mensyukuri karunia surga kecilNYA..

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Bersihkan Hati | Idul Fitri 1436H di SPMAA

Bersihkan diri, mulai dari hal yg paling kecil hingga urusan hati.
di hari yg fitri ini, mari teguhkan hati dalam barisan SPMAA sampai akhir hayat kita nanti dulurku kabeh. #‎SelamatIdulfitri1436H‬

Monday, June 1, 2015

PANCASILA


"PANCASILA sudah pas sebenarnya untuk bangsa kita INDONESIA," kata Bapak Guru Muchtar dulu.
Pas bagi kita yang mau siap sedia, riang gembira dan ikhlas sukarela dikelola sebagai manusia mulia beradiluhung nusantara.
Tetapi ia akan tersisa jadi seonggok aksara di museum pustaka tua bagi kita yang terobsesi pesta citra dan hobi upacara tahunan belaka.
Bahkan sampeyan tidak meyakinkan saat memaklumat orasi huwebat mengaku penjaga PANCASILA, meski secara biologi, sampeyan ternyata keluarga pencetusnya.
PANCASILA, menurut saya, hendaknya digelora bersenyawa dalam keseharian aktifitas kita, mulai dari skala keluarga. Diikhtiari dengan kesadaran berteladan sifat2 Rohman Rohim Tuhan...
Jangan perkosa keluhuran PANCASILA demi memuaskan ambisi kerakusan berkuasa seterusnya, ingin jadi mahadewa sampai lupa sampeyan sudah berusia renta dan tiba masa mendekat kepadaNYA..
PANCASILA, Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa | itu sudah baku
Makanya sampeyan jangan sugih kendel pamrih mencoba menjadi tuhan kedua dengan merekayasa "sabda pandita media" sebagai olok2 PANCASILA kita....

Saturday, February 21, 2015

Sama-sama Bahagia Tetapi Berbeda Rasa

Kenikmatan yang dimiliki Allah ada 100 %, kalau di prosentasikan. Lalu dari kenimatan 100% tersebut semua adalah untuk makhluknya. Ada cerita Nabi Muhammad dalam Hadis: saat beliau berada di lautan, beliau mencelupkan jari telunjuk ke dalam laut lalu beliau menggangkat jari tersebut, ada air yang menempel dijari beliau, air tersebut menetes jatuh ke dalam lautan yang sangat luas. Lalu beliau bersabda : tetesan air dari jariku tadi ibarat dunia sedangkan air laut adalah akhirat.

Dari cerita yang terbukukan dalam hadis tersebut diatas maka sebenarnya prosentasi akhirat dan dunia sangat timpang, tidak sebanding dan tidak bisa diprosentasikan dalam angka, tetapi untuk memudahkan hitungan dari 100% kenimatan yang di miliki Allah: maka 99 % adalah akherat dan 1% ditaruh didunia.

Qs. Ar-Ra'd (13) : 26  “ Allah meluaskan rezeki dan menyempitkanya bagia siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akherat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”

Kenikmatan 1 % yang di taruh di dunia ini, pun tidak hanya untuk manusia saja melainkan harus di bagi rata antara manusia, hewan dan tumbuhan. Dan lagi, yang perlu dicatat dengan huruf besar dalam otak kita, sesungguhnya setelah di bagi rata, bagian untuk manusia juga dibagi lagi!!!. Untuk siapa lagi ?, lalu kita (Orang beriman) dapat seberapa???

Al-Baqoroh (2) 126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negri ini, negri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Pertama, jatah manusia tersebut dibagi antara : 1. Manusia yang (ngakunya) beriman, 2. Manusia beriman, 3. Manusia yang kafir,  4. Manusia yang tidak mengakui  adanya tuhan  5. Manusia yang memplokamirkan dirinya tanpa agama, dls. Kemudian pertanyaan Kedua, kita dapat berapa? kita dapat 99%.

Iya, kita di jatah dari Allah 99% tapi diakerat. Tapi jangan terlalu risau dan bersedih hati dulu, karena di duniapun kita sebenarnya juga memiliki jatah rasa bahagia/ketentraman yang sama dengan orang kafir, tetapi kebahagiaan/ketentraman dunia yang kita rasakan itu berbeda dengan milik orang kafir. Sehingga kalau di total maka 100% semua menjadi milik kita

Seperti apa bentuk kebahagian tersebut?. Iya, orang mukmin mendapat kenikmatan Allah 100%, di dunia 1% dan 99% di akherat. Lho, bukannya dunia adalah penjara/neraka bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir??? Benar, itu memang tidak salah

Al-An'am (6) : 44 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong, maka ketika itu ia terdiam putus asa.”

Salah memaknai Bahagia/kesenangan

Ali-Imran (3) : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Al-An'am (6) : 53 “Dan demikianlah telah kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidaklah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)”.

Bentuk kebahagian/ketentraman yang dirasakan orang mukmin tersebut adalah dengan bisa merasakan nikmatnya bertugas, mensyukuri dan menikmati* setiap rizki yang diberikan Allah dengan bersedekah dan tanpa rasa memiliki harta/rizki tersebut, ketenangan/ketentraman dengan berdzikir, klimaks beribadah dan enjoy menjalani masa-masa ujian. Merujuk pada beberapa kisah dan FirmanNya berikut:

Ar-ra'd (13) : 28 “(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Lagi, ingat bagaimana saudara kita Kakak Bilal, masih tetap merasa bahagia tentram dengan cambukan yang bertubi-tubi dalam tindihan batu besar dalam tubuhnya.

Itulah kenimatan yang dirasakan orang mukmin selama didunia, bukan tentram/bahagia dengan menuruti hawa nafsu bejat, membebaskan kepuasan obesi duniawi dengan bermewah rumah, menumpuk harta, koleksi property, berlimpah makanan dan buah, tentram dengan anak-anaknya yang ganteng cantik mapan duniawinya, tamasya bersama keluarga tiap bulanya, dll.
Setelah bisa “menikmati” hidup berat dalam perjuangan dan merasa bahagian dalam “penjara” dunia (sekalipun dimata orang tampak berat, tidak terhormat di masayarakat, tidak enak, tidak memiliki masa depan). Kemudian di akherat mendapat 99 % nikmatNya. Amin

At-Taubah (9) : 20-22  “Orang2 yang beriman & berhijrah di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan…Tuhan mereka mengembirakan mereka dengan memberi rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal…Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yg besar.”

Kalau pembaca ingat dengan istilah : fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah. Begitulah sebenarnya penafsiran yang bisa dibilang tepat sasaran. Dunia bisa bahagia dan akherat semakin bahagia. Tidak seperti yang di pahami banyak orang selama ini dalam memaknai ayat tersebut. Dengan memaknai dunia enak menuruti hawa nafsu, puas bermewah dunia (hanya dengan shadat, sholat, puasa, zakat, haji) & merasa mendapat surga. hehehehe, penak tenen!!!

Sunguh tidak begitu, karena teladan dan cerita-cerita orang terdahulu begitu berat dan sakit penuh pengorbanan dalam mengapai ridho Allah dan surga. Harus dilalui dengan : siap dibakar seperti Nabi Ibrahim tetapi beliau tetap bahagia sekalipun berat, tidak pernah tenang karena hidupun selalu dalam kejaran musuh kisah Nabi Isa, hudup penuh siksa dalam kisah Nabi  Yahya, siap kekurangan harta dan makan, dicaci dimaki tetap sabar dan menikmati setiap ujian tantangan itulah Nabi Muhammad. Tetapi beliau-beliau tidak pernah mengeluh bahkan tetap merasa bahagia.

Al-Baqoroh (2) : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Kembali pada titik awal, bagaimana bisa?, lalu bagaimana cara untuk mendapat bahagia dunia versi para nabi menikmati masa “penjara” dunia ini??

Bisa karena : Kebahagian, kesusahan, kesedihan, kegembiraan, itu semua adalah urusan rasa hati dan perasaan. Sedangkan perasaan dan rasa hati adalah milikNya. Allah menjadikan orang beriman tetap merasa bahagia sekalipun dalam pandangan kebanyakan orang; berat untuk dijalan lalui. Sekalipun para Nabi dan syuhadak terdahul tampak dalam lahir berat, pedih, susah, sakit tetapi suasana dalam hati di isi dan diganti Allah dengan kesejukkan, kebahagiaan dan ketentraman…. Allah Yaa Karimm…

Begitulah arah jalan bagi santri-santri SPMAA dalam pengamalan perintah Agama, sekalipun tampak dari luarnya begitu berat dan susah (seperti hidup yg ndak mungkin dijalani zaman ini) tetapi bagi yang benar-benar santri SPMAA tetap enjoy dan bahagia, karena dalam hatinya sudah dipasang rasa tersebut.


By: Gus Arbi

* baca juga tulisan berjudul : Memaknai Syukur Fersi SPMAA

Saturday, January 24, 2015

REKREASI UNTUK SANTRI


Selasa 30 Desember 2014, dimana hari beranjak libur tengah semester diponpes SPMAA, Panti Asuhan Pancasila mengadakan kegiatan rekreasi ke Jatim Park II yang bertempat di Kota Malang. Disana kita belajar dan mengenal binatang-binatang dan satwa liar dengan dekat, ternyata banyak binatang yg selama ini kita belum pernah lihat secara langsung dan belum tau namanya, pokoknya seru.

Kegitan-kegiatan seperti ini dilakukan hampir di setiap satu tahun sekali, kegiatan ini memang guna untuk mebahagiakan dan menambah pengalaman para santri.

Pagi itu keceriaan terlihat jelas diraut wajah para santri yg berseri-seri, ketika mau berangkat menuju tempat rekreasi, tak tanggung-tanggung rombongan yang berangkat kali ini menggunakan 4 Armada Bis gede  yang semuanya itu terdiri dari 2 bis untuk santri putra dan 2 bis yang lainya untuk santri putri.

Bis berangkat di pagi hari karena diharapkan nanti sampai tujuan tidak terlalu siang karena tempat yang akan dituju sangat begitu jauh.

Setibanya disana kami mengantri untuk mendapatkan gelang kertas sebagai syarat bisa memasuki pintu gerbang Jatim Park II itu. Tak kusangka gelang yg hanya terbuat dari kertas berwarna hitam dan bergambar monkey itu harganya lebih mahal dari sepatu yg kupakai.

Harga pergelang/tiket untuk 1 orang itu 100rb, sedangkan jumlah peserta yang mengikuti rekreasi kemarin berjumlah 300 orang lebih. Kira-kira habis berapa ya pengurus meng-rekreasikan kita? Coba kita kalikan 100rb x 300 berapa? Kalau gk salah 30jt, belom sewa bisnya konon katanya harga sewanya 1 bis 3jt sementara itu 4 bis brati berapa. Mari belajar menghitung!

Dan sangat mengharukanya dan sanggat wajib  di jadikan contoh, dan dijadikan pelajaran bagi para santri juga. Ternyata liburan ke Jatim Park II yang diadakan oleh pihak pengurus pondok pesantren SPMAA ini tidak memungut biaya sama sekali kepada para santrinya. Semuanya di tanggung oleh KOMANDAN kita, itu hanya salah satu gambaran pengorbanan beliau untuk kita.

Beliau  memikirkan kita, tentang keselamatan Akhirat kita, tentang kebutuhan didunia kita, bahkan memikirkan untuk rekreasi kita. Trus pertanyaan besar untuk kita “apakah kita juga memikirkan beliau?”

Lantas sudahkah kita berterimakasih ke KOMANDAN??? “Ayo belajar berterimakasih”…

Inilah kepedulian atau kasih sayang para pengurus terhadap para santrinya, hanyalah do'a dan ketaatan dan kesetiaan menjalankan ajaran BG, itulah yg diharapkan beliau kepada setiap para santri.

Hanya dengan do'a dan ketaatan kepada KOMANDAN sampai akhir hayatlah, yg bisa menjadikan santri yang tahu berterimakasih. Dan bisa menjadi harapan penerus, penyebar, pengamal Ajaran BG dimanapun nanti berada sampai akhir hayat tiba.

Mari ini dijadikan pelajaran bagi kita semua. Para Pengurus  PONPES SPMAA tidak hanya membahagiakan kehidupan Dunia kita, tetapi kebahagiaan Dunia-Akhirat.

Ayo SADAR…

Karena hanya dengan ketaatan & keloyalan terhadap komandan, kesetiaan menjalankan ajaran BG kita bisa bertemu bapak Guru MA. Muchtar di Akhirat nanti.

By: Taruna Nurwanto
 

Pengikut