Ads 468x60px

Saturday, July 18, 2015

"Terima Kasih" telah kalian bakar.

    Penulis : Gus Glory Islamic


Dulu, tahun 1965, ketika awan gelap menyelimuti negeri di mana kelompok agamis menyembelihi atheis, suatu hari hendak membakar rumah para komunis/atheis, Abi/ayah saya menolak aksi itu. Di saat keluarga korban tak berani ditempati, Abi menyediakan rumahnya untuk menampung mereka. Hasilnya, Abi saya masuk dalam list orang-orang yg harus disembelih. Pertolongan Allah datang pada detik-detik akhir eksekusi.

Hari ini masjid dibakar, tempo hari gereja dibom, di tempat lain rumah ibadah disegel. Apa yang kalian cari? Percayalah, Nabi Muhammad gak akan bertepuk tangan pada anda karena sudah mengebom gereja, sadarlah Yesus gak akan menyelamati sampean karena sudah mmbakar masjid, lihat saja Sang Hyang Widi Wasa ga akan memberkati kita hanya karena melarang agama lain beribadah dan sang Budha Gautama ga akan sudi melihat sampean bertindak sadis dan barbar. Karena ketahuilah, yang akan bersorak dan menyalami anda atas aksi anda itu adalah setan dalam diri anda.

Hampir seluruh hidup Abi saya mati-matian berkampanye lewat lisan, tulisan dan tindakan damai mengusung terma "latihan mengetahui musuh ghoib setan". Karena Abi saya percaya bahwa ketika kita bertindak seperti itu, yg kita bela seolah-olah agama kita, padahal sesungguhnya kita hanya membela ego sempit kita sendiri. Bahkan lebih jauh kita hanya sedang membela setan yg sedang bersarang dalam hati kita. Kampanye beliau berteriak lantang: musuh kita itu ghoib, setan, dan mereka ada dan bekerja di hati kita, virus dalam motherboard kehidupan kita!

Beliau mengajak kita untuk menyatukan diri sebagai satu spesies yg bernama human being, tyang, manusia, itu saja! Membangun kesadaran dan menjadikan setan sebagai musuh bersama. Arahkan jari telunjuk koreksi dan reformasi ke dadamu, dirimu. Ulurkan telapak tangan bantuan dan doa serta persaudaraan penuh kasih ke orang lain, kelompok lain, karena mereka membutuhkan pertolongan dan perahu keselamatan, bukan kebencian, cacian apalagi diskriminasi dan penindasan.

Kenapa saya bilang terima kasih ? Karena kejadian2 smcam ini smakin membuktikan dan mnbuat kami yakin akan terma dan ideologi yg diajarkan guru kami, Abi Muchtar, bahwa musuh kami adalah setan yang ghoib, bukan anda atau mereka! Abi, Insya Allah I'll try to continue your legacy, in entire of my life. Let's be part of us, not you nor me!

Salam Damai Fitri.

Bersihkan Hati | Idul Fitri 1436H di SPMAA

Bersihkan diri, mulai dari hal yg paling kecil hingga urusan hati.
di hari yg fitri ini, mari teguhkan hati dalam barisan SPMAA sampai akhir hayat kita nanti dulurku kabeh. #‎SelamatIdulfitri1436H‬

Tuesday, July 14, 2015

7 Ciri Taqwa

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yg beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yg dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yg dalam perjalanan (musafir) peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yg melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, orang-orang yg menepati janji apabila berjanji, dan orang yg bersabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pad masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yg ‪#‎bertakwa‬. Qs.Al-baqarah 177

Monday, June 1, 2015

PANCASILA


"PANCASILA sudah pas sebenarnya untuk bangsa kita INDONESIA," kata Bapak Guru Muchtar dulu.
Pas bagi kita yang mau siap sedia, riang gembira dan ikhlas sukarela dikelola sebagai manusia mulia beradiluhung nusantara.
Tetapi ia akan tersisa jadi seonggok aksara di museum pustaka tua bagi kita yang terobsesi pesta citra dan hobi upacara tahunan belaka.
Bahkan sampeyan tidak meyakinkan saat memaklumat orasi huwebat mengaku penjaga PANCASILA, meski secara biologi, sampeyan ternyata keluarga pencetusnya.
PANCASILA, menurut saya, hendaknya digelora bersenyawa dalam keseharian aktifitas kita, mulai dari skala keluarga. Diikhtiari dengan kesadaran berteladan sifat2 Rohman Rohim Tuhan...
Jangan perkosa keluhuran PANCASILA demi memuaskan ambisi kerakusan berkuasa seterusnya, ingin jadi mahadewa sampai lupa sampeyan sudah berusia renta dan tiba masa mendekat kepadaNYA..
PANCASILA, Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa | itu sudah baku
Makanya sampeyan jangan sugih kendel pamrih mencoba menjadi tuhan kedua dengan merekayasa "sabda pandita media" sebagai olok2 PANCASILA kita....

Saturday, February 21, 2015

Sama-sama Bahagia Tetapi Berbeda Rasa

Kenikmatan yang dimiliki Allah ada 100 %, kalau di prosentasikan. Lalu dari kenimatan 100% tersebut semua adalah untuk makhluknya. Ada cerita Nabi Muhammad dalam Hadis: saat beliau berada di lautan, beliau mencelupkan jari telunjuk ke dalam laut lalu beliau menggangkat jari tersebut, ada air yang menempel dijari beliau, air tersebut menetes jatuh ke dalam lautan yang sangat luas. Lalu beliau bersabda : tetesan air dari jariku tadi ibarat dunia sedangkan air laut adalah akhirat.

Dari cerita yang terbukukan dalam hadis tersebut diatas maka sebenarnya prosentasi akhirat dan dunia sangat timpang, tidak sebanding dan tidak bisa diprosentasikan dalam angka, tetapi untuk memudahkan hitungan dari 100% kenimatan yang di miliki Allah: maka 99 % adalah akherat dan 1% ditaruh didunia.

Qs. Ar-Ra'd (13) : 26  “ Allah meluaskan rezeki dan menyempitkanya bagia siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akherat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”

Kenikmatan 1 % yang di taruh di dunia ini, pun tidak hanya untuk manusia saja melainkan harus di bagi rata antara manusia, hewan dan tumbuhan. Dan lagi, yang perlu dicatat dengan huruf besar dalam otak kita, sesungguhnya setelah di bagi rata, bagian untuk manusia juga dibagi lagi!!!. Untuk siapa lagi ?, lalu kita (Orang beriman) dapat seberapa???

Al-Baqoroh (2) 126
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negri ini, negri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Pertama, jatah manusia tersebut dibagi antara : 1. Manusia yang (ngakunya) beriman, 2. Manusia beriman, 3. Manusia yang kafir,  4. Manusia yang tidak mengakui  adanya tuhan  5. Manusia yang memplokamirkan dirinya tanpa agama, dls. Kemudian pertanyaan Kedua, kita dapat berapa? kita dapat 99%.

Iya, kita di jatah dari Allah 99% tapi diakerat. Tapi jangan terlalu risau dan bersedih hati dulu, karena di duniapun kita sebenarnya juga memiliki jatah rasa bahagia/ketentraman yang sama dengan orang kafir, tetapi kebahagiaan/ketentraman dunia yang kita rasakan itu berbeda dengan milik orang kafir. Sehingga kalau di total maka 100% semua menjadi milik kita

Seperti apa bentuk kebahagian tersebut?. Iya, orang mukmin mendapat kenikmatan Allah 100%, di dunia 1% dan 99% di akherat. Lho, bukannya dunia adalah penjara/neraka bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir??? Benar, itu memang tidak salah

Al-An'am (6) : 44 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka sekonyong-konyong, maka ketika itu ia terdiam putus asa.”

Salah memaknai Bahagia/kesenangan

Ali-Imran (3) : 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Al-An'am (6) : 53 “Dan demikianlah telah kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidaklah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)”.

Bentuk kebahagian/ketentraman yang dirasakan orang mukmin tersebut adalah dengan bisa merasakan nikmatnya bertugas, mensyukuri dan menikmati* setiap rizki yang diberikan Allah dengan bersedekah dan tanpa rasa memiliki harta/rizki tersebut, ketenangan/ketentraman dengan berdzikir, klimaks beribadah dan enjoy menjalani masa-masa ujian. Merujuk pada beberapa kisah dan FirmanNya berikut:

Ar-ra'd (13) : 28 “(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Lagi, ingat bagaimana saudara kita Kakak Bilal, masih tetap merasa bahagia tentram dengan cambukan yang bertubi-tubi dalam tindihan batu besar dalam tubuhnya.

Itulah kenimatan yang dirasakan orang mukmin selama didunia, bukan tentram/bahagia dengan menuruti hawa nafsu bejat, membebaskan kepuasan obesi duniawi dengan bermewah rumah, menumpuk harta, koleksi property, berlimpah makanan dan buah, tentram dengan anak-anaknya yang ganteng cantik mapan duniawinya, tamasya bersama keluarga tiap bulanya, dll.
Setelah bisa “menikmati” hidup berat dalam perjuangan dan merasa bahagian dalam “penjara” dunia (sekalipun dimata orang tampak berat, tidak terhormat di masayarakat, tidak enak, tidak memiliki masa depan). Kemudian di akherat mendapat 99 % nikmatNya. Amin

At-Taubah (9) : 20-22  “Orang2 yang beriman & berhijrah di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan…Tuhan mereka mengembirakan mereka dengan memberi rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal…Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yg besar.”

Kalau pembaca ingat dengan istilah : fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah. Begitulah sebenarnya penafsiran yang bisa dibilang tepat sasaran. Dunia bisa bahagia dan akherat semakin bahagia. Tidak seperti yang di pahami banyak orang selama ini dalam memaknai ayat tersebut. Dengan memaknai dunia enak menuruti hawa nafsu, puas bermewah dunia (hanya dengan shadat, sholat, puasa, zakat, haji) & merasa mendapat surga. hehehehe, penak tenen!!!

Sunguh tidak begitu, karena teladan dan cerita-cerita orang terdahulu begitu berat dan sakit penuh pengorbanan dalam mengapai ridho Allah dan surga. Harus dilalui dengan : siap dibakar seperti Nabi Ibrahim tetapi beliau tetap bahagia sekalipun berat, tidak pernah tenang karena hidupun selalu dalam kejaran musuh kisah Nabi Isa, hudup penuh siksa dalam kisah Nabi  Yahya, siap kekurangan harta dan makan, dicaci dimaki tetap sabar dan menikmati setiap ujian tantangan itulah Nabi Muhammad. Tetapi beliau-beliau tidak pernah mengeluh bahkan tetap merasa bahagia.

Al-Baqoroh (2) : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Kembali pada titik awal, bagaimana bisa?, lalu bagaimana cara untuk mendapat bahagia dunia versi para nabi menikmati masa “penjara” dunia ini??

Bisa karena : Kebahagian, kesusahan, kesedihan, kegembiraan, itu semua adalah urusan rasa hati dan perasaan. Sedangkan perasaan dan rasa hati adalah milikNya. Allah menjadikan orang beriman tetap merasa bahagia sekalipun dalam pandangan kebanyakan orang; berat untuk dijalan lalui. Sekalipun para Nabi dan syuhadak terdahul tampak dalam lahir berat, pedih, susah, sakit tetapi suasana dalam hati di isi dan diganti Allah dengan kesejukkan, kebahagiaan dan ketentraman…. Allah Yaa Karimm…

Begitulah arah jalan bagi santri-santri SPMAA dalam pengamalan perintah Agama, sekalipun tampak dari luarnya begitu berat dan susah (seperti hidup yg ndak mungkin dijalani zaman ini) tetapi bagi yang benar-benar santri SPMAA tetap enjoy dan bahagia, karena dalam hatinya sudah dipasang rasa tersebut.


By: Gus Arbi

* baca juga tulisan berjudul : Memaknai Syukur Fersi SPMAA

Saturday, January 24, 2015

REKREASI UNTUK SANTRI


Selasa 30 Desember 2014, dimana hari beranjak libur tengah semester diponpes SPMAA, Panti Asuhan Pancasila mengadakan kegiatan rekreasi ke Jatim Park II yang bertempat di Kota Malang. Disana kita belajar dan mengenal binatang-binatang dan satwa liar dengan dekat, ternyata banyak binatang yg selama ini kita belum pernah lihat secara langsung dan belum tau namanya, pokoknya seru.

Kegitan-kegiatan seperti ini dilakukan hampir di setiap satu tahun sekali, kegiatan ini memang guna untuk mebahagiakan dan menambah pengalaman para santri.

Pagi itu keceriaan terlihat jelas diraut wajah para santri yg berseri-seri, ketika mau berangkat menuju tempat rekreasi, tak tanggung-tanggung rombongan yang berangkat kali ini menggunakan 4 Armada Bis gede  yang semuanya itu terdiri dari 2 bis untuk santri putra dan 2 bis yang lainya untuk santri putri.

Bis berangkat di pagi hari karena diharapkan nanti sampai tujuan tidak terlalu siang karena tempat yang akan dituju sangat begitu jauh.

Setibanya disana kami mengantri untuk mendapatkan gelang kertas sebagai syarat bisa memasuki pintu gerbang Jatim Park II itu. Tak kusangka gelang yg hanya terbuat dari kertas berwarna hitam dan bergambar monkey itu harganya lebih mahal dari sepatu yg kupakai.

Harga pergelang/tiket untuk 1 orang itu 100rb, sedangkan jumlah peserta yang mengikuti rekreasi kemarin berjumlah 300 orang lebih. Kira-kira habis berapa ya pengurus meng-rekreasikan kita? Coba kita kalikan 100rb x 300 berapa? Kalau gk salah 30jt, belom sewa bisnya konon katanya harga sewanya 1 bis 3jt sementara itu 4 bis brati berapa. Mari belajar menghitung!

Dan sangat mengharukanya dan sanggat wajib  di jadikan contoh, dan dijadikan pelajaran bagi para santri juga. Ternyata liburan ke Jatim Park II yang diadakan oleh pihak pengurus pondok pesantren SPMAA ini tidak memungut biaya sama sekali kepada para santrinya. Semuanya di tanggung oleh KOMANDAN kita, itu hanya salah satu gambaran pengorbanan beliau untuk kita.

Beliau  memikirkan kita, tentang keselamatan Akhirat kita, tentang kebutuhan didunia kita, bahkan memikirkan untuk rekreasi kita. Trus pertanyaan besar untuk kita “apakah kita juga memikirkan beliau?”

Lantas sudahkah kita berterimakasih ke KOMANDAN??? “Ayo belajar berterimakasih”…

Inilah kepedulian atau kasih sayang para pengurus terhadap para santrinya, hanyalah do'a dan ketaatan dan kesetiaan menjalankan ajaran BG, itulah yg diharapkan beliau kepada setiap para santri.

Hanya dengan do'a dan ketaatan kepada KOMANDAN sampai akhir hayatlah, yg bisa menjadikan santri yang tahu berterimakasih. Dan bisa menjadi harapan penerus, penyebar, pengamal Ajaran BG dimanapun nanti berada sampai akhir hayat tiba.

Mari ini dijadikan pelajaran bagi kita semua. Para Pengurus  PONPES SPMAA tidak hanya membahagiakan kehidupan Dunia kita, tetapi kebahagiaan Dunia-Akhirat.

Ayo SADAR…

Karena hanya dengan ketaatan & keloyalan terhadap komandan, kesetiaan menjalankan ajaran BG kita bisa bertemu bapak Guru MA. Muchtar di Akhirat nanti.

By: Taruna Nurwanto

Friday, November 28, 2014

Berkebun Bibit Baik


oleh: Gus Adhim

Anak kecil itu biasa dipanggil Al. Nama lengkapnya Alfa Alfin Salvatore. Usianya belum genap 5 tahun. Saat itu ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Al senormal anak seusianya yang suka bermain dan menjalani dunia kecilnya. Bedanya mungkin pada pilihan Al dalam memaknai kehidupan dan ketika bicara cita-cita.

Misalnya saja pada usia sedini itu, ia sudah memulai puasa sunnah Nabi Dawud (sehari puasa, sehari jeda), puasa Senin-Kamis, dan bahkan puasa terusan. Pada bulan Rajab seperti sekarang ini, Al akan ikut puasa tiga puluh hari penuh. Ramadhan sudah pasti tunai full sebulan tanpa dipaksa-paksa.

Saat saya tanya tentang perilaku uniknya itu, ia menjawab dengan kalimat sepotong-sepotong. Intinya, Al ingin mengikuti jejak sunnah para Nabi sebagaimana dongeng yang ia dengar dari Abi dan Ummi. Juga seperti yang sering ia lihat di film animasi Islami. “Aku mau ikut Nabi Dawud,” katanya dengan wajah berbinar.

Kisah para Nabi, terutama Nabi Dawud yang suka berpuasa ternyata mengilhaminya. Sebagaimana dikisahkan, atas pertolongan Allah, Nabi Dawud yang saat itu anak-anak berhasil mengalahkan raja Jalut yang tubuhnya jauh lebih perkasa.

Selain istiqomah berpuasa sunnah, sholat tahajjud dan dluha juga rutin dilakukannya. Menariknya, tirakat itu ia lakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena disuruh orang tuanya. Saya berfikir pastilah fenemona Salvatore ini karena pola pendidikan yang dikelola oleh keluarga.

Ternyata memang benar. Selama Al masih dalam kandungan, Abi dan Ummi hampir setiap hari berpuasa. Ditambah bacaan rutin Al Quran dan Shirah Nabawiyah. Plus amalan seperti tahajjud, dluha, dan terutama banyak-banyak bersedekah melayani sesama manusia. Masa kandungan Al ini total ditirakati.

Galibnya ibu hamil, umumnya akan diasupi sepenuh-penuhnya gizi ragawi. Supaya bayi yang lahir nanti sehat dan bersalin normal. Tapi ibu Al berbeda. Ummi Nuriyati, demikian beliau dipanggi, justru mempuasai kandungannya. Gerakan “senam hamil” beliau tempuh melalui rutinitas amalan sholat fardlu dan sholat sunnah.

Semua tips hamil sehat yang Ummi Nuriyati pilih, berbalik dari kebanyakan ibu-ibu hamil lainnya. Ummi memilih tirakat yang bagi orang mungkin sangat berat. Ikhtiar Ummi nyatanya sukses. Salvatore kini jadi generasi rabbani. Selain terus menjaga amalamal sunnahnya, prestasi di sekolah juga membersyukurkan. Beberapa waktu lalu ia sudah bisa demo instalasi Linux Sabily duet bersama Onno W. Purbo pada acara Seminar Nasional Madrasah Open Source yang digelar sekolahnya.

Fenomena Al dan ibunya yang memulai proses pembelajaran kehidupan sejak dini seperti berkebun bibit baik. Untuk menghasilkan tanaman bermutu dibutuhkan bibit yang bermutu juga. Prosesnya mesti dijalani dengan teliti, susah dan penuh keprihatinan.

Ummi Nuriyati ingin Al menjadi anak yang baik di tengah anomali dunia saat ini. Ketika pemberitaan kerusakan moral bangsa yang kian mengkhawatirkan, keluarga Al optimis sekuatnya. Diantaranya berikhtiar melalui pembibitan generasi yang waras di tengah dunia yang makin gila.

Salvatore, Ummi Nuriyati dan pola pembibitan keluarganya mungkin aneh dan asing bagi kita. Karena cara yang ditempuhnya tidak umum. Tapi justru saya melihat itu sebagai penyimpangan positif yang perlu ditiru. Maka melalui tulisan ini, saya juga mengajak para keluarga Indonesia mulai ikhtiar berkebun bibit baik. Jadikan rumah sebagai pendidikan madrasah. Keluarga adalah sekolah sesungguhnya.

Namun yang perlu diingat, proses berkebun juga banyak gangguan. Ada ulat, hama, dan tanaman pengganggu lainnya yang berkerumun di sekitar dan bisa merusak bibit itu. Berkebun bibit generasi rabbani yang berciri jujur dan berani, pun beresiko. Bisa jadi di tengah jaman edan sekarang, pilihan berkebun itu dianggap lucu. Karena tidak serupa arus utama.

Bahkan mungkin dalam prosesnya, kita akan diasingkan dan terusir sebagai martir. Sebagaimana kasus yang dialami Ibu Siami dan anaknya, Al, di Surabaya. Keluarga ini membibitkan sikap jujur tapi malah hancur karena anomali masyarakatnya.

Sebagaimana para Nabi yang menjadi agen pembibitan “positive deviance” di tengah umatnya yang rusak total, kita mungkin akan mengalami perlawanan dan resistensi yang menggegiriskan dari arus utama jaman. Mungkin kita yang waras justeru dianggap gila. Di sini konsistensi dan ketahanan fisik mental keluarga kita diuji. Kekuatan doa menjadi penguat semangat sekaligus benteng penahan tekanan.

Inspirasi dari kesuksesan Ummi Nuriyati memproses bibit-bobot-bebet Salvatore, akan menjaga kita tetap berharap. Seburuk apapun kondisi umat saat ini, tetap harus ada usaha yang optimis kita ikhtiari. Pilihan yang ideal adalah melalui pendidikan keluarga.

Jadikanlah keluarga rumah kita sebagai kebun pembibitan anak-anak yang kita persiapkan untuk mengubah peradaban, sesulit apapun tantangannya. Jika dunia masih lama usianya, akan tetap dibutuhkan kehadiran Ummi Nuriyati, Salvatore, Ibu Siami dan Alif yang dapat memupuk asa kebangkitan negeri ini.

Berkebun bibit baik akan jadi asing dan aneh. Kita yang baik mungkin akan terkucil jadi minoritas karena itu berbeda dari pilihan mayoritas yang buruk. Setidaknya itu terbukti kondisi dunia saat ini.

Pesan saya, Bismillaah bertahan dan bersiaplah dari segala intimidasi, tekanan dan perlawanan jaman. Ketika berbuat baik dan kita malah dikucilkan, ingatlah penghiburan sabda Nabi, “beruntung dan berbahagialah wahai orang yang asing”. Fa tuba lil ghurabaa.

I want to be the minority,
I don’t need your authority,
down with the moral majority
cause I want to be the minority
(Minority, Greenday)

Sumber:
http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=2de68a7c5e3db6a836ab8f5f109416b8&jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e
 

Pengikut